No menu items!
2 C
Munich
Kamis, 3 Desember 20

Arung Palakka Dalam Panggung Sejarah

Must read

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan, semua peristiwa-peristiwa masa lampau yang menjadi inti cerita sejarah itu sungguh-sungguh terjadi dan dapat dibuktikan kebenarannya.

Peristiwa-peristiwa masa lampau menunjukkan proses perjuangan manusia untuk mencapai perikehidupan kemanusiaan yang lebih sempurna dan sebagai ilmu yang berusaha mewariskan pengetahuan tentang masa lalu suatu masyarakat tertentu.

Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lampau, yang dialami oleh manusia, disusun secara ilmiah meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan analisa kritis, sehingga mudah dimengerti dan dipahami.

Sejarah terpaut antara manusia dengan kekiniannya dan masa lampau dengan pertanggungjawabannya. Dapat dipahami bahwa suatu peristiwa harus ditempatkan, dianalisis dan ditafsirkan sesuai dengan jamannya.

Arung Palakka sebagai salah satu tokoh yang hidup pada abad ke-17 di Nusantara, merupakan tokoh yang sampai saat ini menarik untuk dikaji dan didiskusikan. Bagaimana tidak, sepak terjangnya di masa lampau yang dimata sebagian orang dianggap kontroversial.

Hal itu disebabkan karena ia bersahabat dengan Belanda dalam upaya membebaskan kerajaan Bone dan Kerajaan Soppeng dari kekuasaan kerajaan Gowa.

Persahabatan Arung Palakka dengan Belanda menyebabkan munculnya penafsiran terhadap dirinya sebagai sosok “Penghianat”.

Terkait dengan masalah di atas, maka dalam tulisan ini akan diuraikan serangkaian peristiwa disekitar abad ke-17 dengan menempatkan sosok Arung Palakka sebagai tokoh sentral, sekaligus mencoba menghadirkan fakta-fakta peristiwa yang bisa memberikan gambaran dalam menarik sebuah kesimpulan apakah Arung Palakka seorang “Pahlawan” ataukah sebaliknya sebagai seorang “Penghianat”?.

ARUNG PALAKKA DALAM PANGGUNG SEJARAH

Asal-Usul Arung Palakka

Arung Palakka lahir pada tahun 1635 di desa Lamatta (Marioriwawo, Soppeng). Ayahnya bernama La Pottobune (Arung Tana Tengnga dan Datu Lompulle). Ibunya bernama We Tenrisui (Datu Marioriwawo).

Berdasarkan garis ibu Arung Palakka merupakan Pangerang Bone, ibunya We Tenrisui puteri Raja Bone ke-11, La Tenrirua Sultan Adam Matinroe Ribantaeng. Hal tersebut menunjukkan kalau Arung Palakka juga berhak atas tahta kerajaan Bone.

Sebab Menurut tradisi Kerajaan Bone bahwa yang berhak menjadi raja di Palakka, berhak pula menjadi raja di Bone, namun tidak semua Raja Bone pernah menjadi raja di Palakka.

NAMA LAIN ARUNG PALAKKA

Nama Arung Palakka cukup banyak, sehingga bila dirangkaikan dalam satuan baris menjadi panjang.

Nama kecilnya La Tenritata To Appatunru, artinya tak dapat dibatasi kemauannya dan orang yang menundukkan. Gelarnya sebagai Raja Palili di Soppeng “Datu Marioriwawo”, diberikan oleh ibunya. semasa dalam pengasingan di Gowa, nama panggilannya Daeng Serang. Arung Palakka artinya raja di Palakka.

La Tenritata dinobatkan oleh Adat Tujuh Bone menjadi raja di Palakka pada tahun 1660, seusai berkonsultasi dengan Jennang Tobala untuk melakukan perlawanan terhadap Gowa.

Nama julukannya yang terkenal dikalangan masyarakat Bone ialah “ Malampe-e Gemme’na Petta Torisompae”, artinya yang panjang rambutnya dan raja yang disembah. Nama Islamnya adalah Sultan Saaduddin. Nama anumertanya Matinroe ri Bontoala.

Jadi nama lengkapnya “La tenritata To Appatunru Daeng Serang Datu Mario Riwawo Arung Palakka Malampee Gemme’na Petta Tori sompae Matinroe ri Bontoala”.

Ketika umurnya delapan tahun, Bone diperangi Gowa dan berhasil ditaklukkan. Sejak berumur 11 tahun Arung Palakka dan keluarganya dibawa sebagai sandera ke Istana Gowa. Mereka beruntung karena menjadi pelayan Karaeng Pattinggaloang, tokoh penting dan jenius di Kerajaan Gowa.

Di bawah asuhannya, Arung Palakka tumbuh menjadi pangerang yang mengesankan dalam olah otak maupun olahraga. Bahkan karena kelebihan yang dimiliki dan kedekatannya dengan Karaeng Karungrung sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa (1654), Arung Palakka yang saat itu telah berusia 25 tahun sering ditugaskan sebagai tentara pengawal Mangkubumi, dalam tugas ini banyak pula bergaul dengan pemuda-pemuda bangsawan Gowa.

Tugas Arung Palakka sebagai pengawal mangkubumi Kerajaan Gowa, memungkinkannya mengetahui situasi dan kondisi politik dan militer, serta mengidentifikasi sekutu-sekutu dan musuh-musuh Gowa. Kelak dikemudian hari pengetahuan tersebut sangat berguna bagi Arung Palakka dalam upayanya membebaskan Kerajaan Bone dan Kerajaan Soppeng dari cengkeraman penjajahan Kerajaan Gowa.

ARUNG PALAKKA SANG PEMBEBAS

Perlawanan rakyat Bone terhadap Kerajaan Gowa secara umum dapat dibagi kedalam dua babak atau periode, yaitu perlawanan tahun 1660 dan perlawanan yang berlangsung tahun 1666.

Peperangan antara dua kerajaan bersaudara yang melibatkan tokoh Arung Palakka tersebut tercatat sebagai perang terbesar dalam sejarah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan abad ke-17.

Perlawanan Kerajaan Bone dan sekutunya terhadap Kerajaan Gowa dan sekutunya tersebut bukanlah tanpa sebab. Penyebab secara umum perlawanan Bone dan Soppeng dibawah Arung Palakka, sebagai berikut:

1. Penaklukan Gowa atas Bone selam setengah abad lebih (1611-1667);
2. Penderitaan Sosia-kultural yang dialami rakyat Bone dan Soppeng, yang mereka rasakan sebagai warga daerah takluk Gowa;
3. Perlakuan sewenang-wenang dan penghinaan atas diri tawanan perang Bone dan Soppeng oleh Mangkubumi Gowa, Karaeng Karungnrung dan raja Gowa, sultan Hasanuddin;
4. Pada saat itu muncul tokoh patriotik dan heroik, yang mendapat dukungan dari rakyat Bone dan Soppeng, yakni Arung Palakka.

Kemudian penyebab secara khusus adanya pengerahan tenaga kerja paksa (rodi) rakyat Bone-Soppeng dalam rangka perampungan pembangunan benteng-benteng pertahanan Gowa (1660).

Lebih jauh dijelaskan, bahwa sebab khusus dari perlawanan ini antara lain penggunaan tenaga-tenaga rakayat Bone dan daerah sekitarnya sebanyak 10.000 orang yang dipekerjakan untuk perampungan pembuatan benteng-benteng dibawah tekanan kerja keras.

Tentang pengerahan tenaga kerja paksa rakyat Bone-Soppeng ini, diuraikan dalam sejarah Bone sebagai berikut:

“Tahun 1660. Pada pertengahan tahun itu Jennang Tobala mendapat perintah dari Karaeng Karungnrung ….. mengumpulkan 10.000 laki-laki untuk ke Gowa menggali parit dan membangun kubu-kubu pertahanan di sepanjang pantai sekitar somba Opu……

Pada akhir bulan Juli tibalah Arungng Tanete dengan 10.000 orang Bone di Gowa…..mereka membawa bekal, pacul dan linggis sendiri….
Datu Mario dan tawanan perang Bone yang lain datang melihat orang senegerinya itu…..Datu Mario sendiri sering mengawal Karaeng Karungnrung bila pergi memeriksa kemajuan pekerjaan membangun parit dan kubu-kubu pertahanan tersebut.

Iba hati pangerang ketika melihat penderitaan senegerinya. Mereka bekerja dari pagi sampai petang, ….. celaka bagi yang dianggap malas mereka didera dengan cambuk oleh mandur-mandur yang tak kenal perikemanusiaan.

Yang dikhawatirkan akan membangkang kakinya dipasung…. banyak pekerja yang melarikan diri. Mangkubumi karaeng Karungrung amat murka akan hal itu.

Untuk menggantikan pelarian yang tidak tertangkap kembali, diperintahkan supaya semua tawanan perang yang ada di ibu kota ikut serta dalam pekerjaan itu”.

Sementara itu, dalam majalah Bingkisan tahun I, No. 20 Tahun 1968, dijelaskan:
“Pada suatu hari di awal bulan September 1660 Datu Mario pulang dari pekerjaan menggali parit. Didapatinya ayahnya telah tiada lagi, beliau telah dibunuh pada hari itu dengan ngeri, karena ia mengamuk dihadapan Sri Sultan, disebabkan bermata gelap, melihat beberapa orang Bone disiksa.

Kedua peristiwa di atas telah membakar jiwa dan semangat patriotik rakyat Bone dan Soppeng, baik tawanan perang maupun pekerja paksa Bone-Soppeng di Somba Opu serta rakyat Bone di daerah Bone di bawah Tobala.

Berdasarkan uraian dan kutipan-kutipan di atas, maka dapatlah dimaklumi kalau pada akhirnya Arung Palakka dan para pengikutnya kemudian melakukan perlawanan terhadap kerajaan Gowa, demi menegakkan harga diri dan martabat rakyat dan bangsawan Bone-Soppeng yang telah dikoyak-koyak oleh para panguasa di Kerajaan Gowa.

Setelah melalui perhitungan yang matang dan mendapatkan momen yang tepat, maka kesempatan yang ditunggu untuk memulai perlawanan kembali terhadap kerajaan Gowa akhirnya datang juga.

Momentum yang dimaksudkan, yaitu pada September 1660 diadakan pestapora di Tallo, yang dihadiri oleh para pembesar kerajaan Gowa, sehingga penjagaan terhadap para tawanan perang Bone-Soppeng tidak diperhatikan lagi.

Momentum yang tepat itu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Arung Palakka untuk melanjutkan perjuangan merebut kemerdekaan Bone-Soppeng dari Gowa.

Perlawanan yang sudah direncanakan tersebut ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Arung Palakka, ketika para pembesar kerajaan Gowa telah larut dalam suatu pestapora di Tallo pada pertengahan september 1660 tersebut.

Sebagai mana dijelaskan:
“….Dalam sekejap mata ramailah tong-tong bersahut-sahutan sepanjang beberapa kilo meter di tepi pantai itu. Itulah tanda pemberontakan, perjuangan besar, pembebasan, dan kemerdekaan telah dimulai. Para pekerja segera mengeroyok mandur-mandurnya, memukul dengan linggis dan pikulan.

Peristiwa tersebut menunjukkan meletusnya kembali perlawanan Bone dan Soppeng terhadap Gowa. Dengan aba-aba memukul kentongan, para tawan perang Bone-Soppeng dan para kekerja paksa tersebut segera berkumpul di Bontoala (kediaman Arung Palakka), di mana mereka mendapat perintah untuk segera berangkat ke Bone dan empat hari kemudian mereka harus ketemu kembali di Lamuru.

Setelah empat hari sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya, maka mereka ketemu di Lamuru dan segera Arung Palakka mengirim kurir kilat kepada Jennang Tobala dan Datu Soppeng untuk melaporkan peristiwa besar itu dan mengajak untuk mengadakan pertemuan di Attapangnge dekat Gunung Mampu, untuk membicarakan hal selanjutnya.

Pada saat bertemu dengan Datu Soppeng, La Tenribali untuk meminta doa restu dan bekal materil, yang rencanya akan digunakan sebagai bekal dalam perjuangan selanjutnya menuju Batavia guna mendapatkan bantuan dari VOC (Belanda).

Maka pada tanggal 25 Desember 1660, bertolak di Cempalagi bersama dengan pengikut-pengikutnya Arung Palakka kemudian meninggalkan Bone menyeberang ke Buton untuk menjalin persekutuan.

Setelah tiga tahun berada di Buton kemudian pada tahun 1663 Arung Palakka dan pengikut-pengikutnya yang setia menuju ke Batavia guna menjalin persekutuan dengan VOC guna menyerang kerajaan Gowa.

Akhirnya setelah melalui proses yang panjang, maka pada bulan Desember 1666 Armada VOC berlayar meninggalkan Batavia untuk menyerang Gowa.

Dalam peperangan antara Gowa melawan VOC yang dibantu oleh Arung Palakka tahun 1667 itu menyebabkan kerajaan Gowa mengalami kekalahan, yang diakhiri dengan penandatangan Perjanjian Bungaya 18 November 1667.

Setelah kekalahan Gowa yang ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya 18 November 1667, maka sejak saat itu Bone melepaskan diri dari kekuasaan Gowa.

“Pandangan Orang Bugis dan Orang Makassar Terhadap Arung Palakka”

Membahas ketokohan Arung Palakka dalam sejarah, khususnya bagi orang Bugis dan Makassar merupakan suatu hal yang menarik, karena tokoh ini selalu diperhadapkan dan dipertentangkan dengan tokoh lain yaitu Sultan Hasanuddin yang justru telah diterima dan diakui sebagai Pahlawan Nasional.

Olehnya itu, sebelum menarik sebuah kesimpulan tentang dimana posisi Arung Palakka “Pahlawan atau Penghianat” maka ada baiknya terlebih dahulu memperhatikan pandangan-pandangan umum tentang Tokoh ini:

1. Pandangan Orang Bugis Terhadap Arung Palakka

Di mata orang Bugis khususnya Bone dan Soppeng, Arung Palakka merupakan sosok yang sangat dihargai dan ditempatkan pada posisi yang sangat mulia, yaitu Pahlawan.

Alasannya, sikap dan tindakan Arung Palakka dalam memilih jalan kerja sama dengan Kompeni Belanda (VOC), tidak lain adalah untuk membebaskan negeri leluhurnya, yaitu Bone dan Soppeng dari cengkeraman penjajahan kerajaan Gowa.

Alasan di atas, sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Taufik Abdullah (1990), bahwa pada waktu itu hanyalah Kompeni Belanda satu-satunya yang dapat diharapkan oleh Arung Palakka untuk segera mewujudkan cita-citanya, membebaskan kerajaan Bone dan Soppeng dari penindasan kerajaan Gowa.

2. Pandangan Orang Makassar Terhadap Arung Palakka

Berbeda dengan pandangan umum yang ditemukan pada masyarakat Bugis. Dalam pandangan umum orang Makassar, Arung Palakka sering ditemukan pendapat yang nadanya mencemooh bahwa Arung Palakka tidak lain adalah seorang penghianat Bangsa Indonesia.

Alasannya adalah Arung Palakka telah menjalin hubungan kerja sama dengan Kompeni Belanda (VOC) dalam menghancurkan perlawanan Sultan Hasanuddin (Raja Gowa XVI) yang kemudian hari diakui oleh pemerintah Republik Indonesia (RI) sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Pemerintah RI tanggal 6 September 1973.(Sagimun, 1985).

Bertolak dari pandangan kedua kelompok etnis di atas, maka sangatlah sulit menarik sebuah kesimpulan terutama di dalam menentukan posisi Arung Palakka sebagai tokoh sentral dalam tulisan ini.

Untuk menempatkan Arung Palakka pada posisi yang tepat sesuai dengan sepak terjangnya pada abad ke-17 itu, sangat dibutuhkan sikap yang arif dan bijaksana dengan menempatkan peristiwa itu sesuai dengan zamannya, yaitu:

1. Pada abad ke-17 di mana tokoh Arung Palakka muncul dalam sejarah, peperangan yang terjadi antara kerajaan Gowa melawan Bone dan Soppeng masing-masing merupakan kerajaan yang berdaulat, merdeka, dan menjalankan politik pemerintahan sendiri sesuai dengan konteks zamannya.

2. Pada abad ke-17 di mana Arung Palakka hidup dalam menyejarah, nasionalisme Indonesia seperti yang dihayati sekarang belum ada, nasionalisme Indonesia sendiri nanti muncul pada abad ke-20 ketika Budi Utomo didirikan (1908). Di mana rasa nasionalisme baru mulai tampak dalam bentuk regional dan akhirnya dipertegas dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Terkait dengan uraian di atas, maka tidaklah tepat jika ada pandangan yang mengatakan, bahwa Arung Palakka merupakan seorang “Penghianat” bangsa Indonesia, karena yang dilakukan tidak lain adalah untuk memerdekakan negeri/kerajaannya dari penjajahan kerajaan Gowa. Terlepas apakah ia menjalin kerja sama dengan Kompeni Belanda (VOC).

Walaupun demikian, tidaklah mudah untuk menempatkan Arung Palakka sebagai seorang Pahlawan Nasional, karena Sultan Hasanuddin sendiri yang sering diperhadapkan dengan Arung Palakka sudah terlanjur ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Namun Arung Palakka tetaplah “pahlawan” bagi rakyat kerajaan Bone dan Soppeng, bahkan tidaklah berlebihan kalau dianggap sebagai “pahlawan kemanusiaan” karena dalam usahanya memerdekakan kerajaan Bone dan Soppeng juga membawa dampak pada kemerdekaan kerajaan-kerajaan lain yang pernah berada dalam pengaruh kekuasaan kerajaan Gowa.

Dalam panggung sejarah, Arung Palakka menjadi buruan para penulis dan peneliti hal ini disebabkan ia memiliki watak dan pandangan yang prinsipil. Sehingga ia menjadi salah satu tokoh yang kontrovensial bagi sebagian kalangan.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...