No menu items!
0.7 C
Munich
Senin, 30 November 20

Sejarah Penetapan Hari Jadi Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

HARI JADI BONE

Hari Jadi Bone diperingati tanggal 6 April setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan Perda Kabupaten Bone Nomor 1 Tahun 1990. Penetapan ini diawali dengan kegiatan seminar yang dihadiri Pakar Sejarah dan Budayawan Bone.

Tanggal dan Bulan penetapan Hari Jadi Bone diambil berdasarkan Pelantikan raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka pada tanggal 6 April 1696. Masa Pemerintahannya (1696-1714). Sementara penetapan tahunnya berdasarkan sejak Tahun 1330 masa pemerintahan Raja Bone ke-1 yaitu Manurungnge ri Matajang (1330-1358).

Dengan demikian, tahun 2010 Bone memperingati hari jadinya ke-680 yaitu , Tanggal 6 April 2010 yang terhitung sejak pemerintahan Manurungnge ri Matajang sebagai raja Bone pertama tahun 1330).

Peringatan Hari Jadi Bone walaupun hitungan tahunnya sejak 1330 namun proses pelaksanaannya baru dimulai tahun 1990.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam peringatan Hari Jadi Bone di antaranya sebagai berikut :

1. Mattompang Arajang

Merupakan kegiatan menyucikan benda-benda Pusaka Kerajaan Bone yang terdiri dari : Keris Lamakkawa, Pedang (Alameng), Latea riduni, dan, senjata perang lainnya serta Salempang Emas (Sembang Pulaweng). Penyucian ini dilaksanakan secara adat, dengan pelaksana para Empu Keris Pusaka yang disertai tata cara adat lainnya meliputi Sere Bissu yang diiringi musik Gendrang Balisumange, Ana’ Beccing, dan Kancing.

Di masa masa lampau, kegiatan ini sebagai bagian upacara ritual untuk menghadapi hal-hal tertentu seperti ketika akan menghadapi perang, menghadapi wabah penyakit yang melanda kerajaan, dan guna mendatangkan hujan ketika terjadi kemarau panjang.

2. Kirab Kerajaan

Kirab kerajaan Bone adalah serangkaian prosesi adat yang digelar pada peringatan Hari Jadi Bone. Dalam prosesi adat ini dipergelarkan sejumlah jenis dan susunan pasukan kerajaan Bone masa lampau, yang terdiri dari: Pasukan Petta Ponggawae (Panglima Perang), Pasukan Raja dan Permaisuri, Pasukan Bissu Kerajaan, Pasukan Laskar (Prajurit Kerajaan), Pasukan Ade Pitu (Tujuh Petinggi kerajaan), serta Pasukan Tokoh-tokoh Masyarakat.

3. Sendratari Manurungnge

Merupakan Sendratari yang menyajikan kisah sejarah awala terjadinya Pengangkatan dan Pelantikan Raja (Mangkau), yang sekaligus merupakan babakan awal terciptanya tata pemerintahan kerajaan I di abad ke-13 tahun 1330 di Tana Bone. Sendratari ini mengisahkan bahwa Tanah Bone pada masa itu, kehidupan masyarakat serba tidak menentu.

Di antara kelompok masyarakat adat yang ketika itu masing-masing dipimpin oleh seorang ketua adat atau disebut Matoa, saling menjatuhkan dan memerangi satu sama lain. Sehingga suasana kehidupan menjadi karut-marut, di mana-mana para warga saling bermusuhan. Tidak Ada lagi tatanan yang dapat mempersatukan rakyat Bone, kemiskinan terjadi, keterpurukan terjadi pada semua sendi kehidupan.

Peristiwa demi peristiwa terjadi tanpa terkendali, sehingga suatu saat terjadi satu keajaiban di mana bumii diliputi hujan lebat dan petir menyambar-nyambar dengan sangat dahsyat dan menyilaikan mata.

Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian putih yang tidak diketahui asalnya (dalam kisah lontara ia disebut dsebagai PUA CILAO), hujan dan petirpun reda.

Mengalami peristiwa ajaib ini para warga yang berperangpun menghentikan aktivitasnya melihat kedatangan seorang yang dianggap turun dari langit. Para wargapun kemudian memberikan salam hormat.

Namun sang pendatang ini menolak untuk diberi penghormatan dan bahkan ia menyampaikan pesan bahwa manusia yang pantas bagi mereka untuk diberi penghormatan buakanlah ia, melainkan ada seseorang yang lain yang kelak akan menjadi pemimpin mereka di Tanah Bone. Dialah yang akan menjadi raja (Mangkau) I di Tanah Bone.

Jelang beberapa lama muncullah seseorang dengan berpakaian lengkap yang didampingi oleh para pengapitnya berikut sejumlah Bissu sebagai pasukan pengawal.

Dialah Sang Manurungnge ri Matajang bergelar Mattasi Lompo’e. Dan setelah duduk bersama para Tokoh Pemimpin Rakyat (Matoa), maka para Matoa bersepakat mengangkat Manurungnge ri Matajang sebagai Mangkau I di tanah Bone. Sehingga sejak itu pada tahun 1330 berdirilah Kerajaan Bone.

4. Tari Alusu

Tari yang digelar untuk penjemputan tamu kehormatan dari kerajaan lain. Awalnya diperagakan para Bissu kerajaan pada abad ke-16 masa pemerintahan ratu Bone ke-10 We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng. Tari ini biasa juga disebut Sere Bissu.

Kemudian pada masa berikutnya dipergakan dalam bentuk tari yang disebut Tari Alusu yang diperagakan oleh dara-dara di lingkungan bangsawan.

5. Tari Pajaga Andi

Tari ini diciptakan oleh We Fatima Banri ratu Bone ke-30. We Fatimah Banri juga pencipta pakaian “Waju Ponco atau Waju Tokko” yang dikenakan bagi para andi-andi seperti sekarang ini.

Tari ini diperagakan pada saat “Majjaga” di Saoraja untuk menciptakan suasana hiburan bagi raja ketika sedang beristirahat.

f. Tari Maraneng Songkok To Bone

Merupakan tari kreasi baru diciptakan Komunitas Sanggar  Arung Palakka dalam tahun 90-an yang menggambarkan cara menganyam Songkok To Bone mulai dari pengambilan bahan (dari ure’ Ca/Serat pohon lontar) sampai menjadi bentuk songkok.

Tarian ini diperagakan para anak dara dan Kallolona Bone. Biasa juga dipertunjukkan dihadapan para tamu kehormatan daerah. Diiringi instrumen seperti gendang, gong, kecapi, suling, dan peralatan lainnya.

7. Gendrang Sanro

Genrang Sanro diciptakan oleh ratu Bone ke-28 We Tenriawaru Besse Kajuara, (1857-1860). Ia dikenal memiliki kemampuan mengobati. Diciptakannya ketika beliau berada di sebuah kampung yang disebut “Ujung” yang terletak tidak jauh dari Unynyi.

Pada waktu berdiam di Wanua Ujung banyak melatih warga setempat hingga wanua sekitarnya. Ia memainkan gendrang sanro dari alat-alat yang dibawa dalam perjalanannya seperti gendang, ana’ beccing, kancing, mangkok porselin, dan sinto (dari bahan daun lontar).

Genrang Sanro dibawakan oleh para sanro (dukun) untuk meminta restu dewa guna menolak bencana yang diperkirakan akan menimpa kerajaan. Selain itu juga dipakai dalam upacara adat seperti: Acara Menre’ Bola (menempati rumah baru), Mappakkulawi (Maruwwaelawi) yaitu selamatan anak yang baru lahir. Selanjutnya kegiatan seperti ini berlanjut menggantikan peranan Bissu di lingkungan kerajaan Bone.

Para Sanro ini bisa dari laki-laki maupun perempuan. Alat yang digunakan : gendang, anak beccing, kancing, mangkok porselin, dan sinto (dari bahan daun lontar).

8. Genrang Bajo

Diperagakan oleh komunitas suku Bajo, yang memberikan gambaran situasi kehidupan suku Bajo di pesisir pantai. Genrang Bajo sering disebut juga sebagai Genrang Pabbiring (pesisir). Komunitas Genrang Bajo saat ini terdapat di Bajoe dan sudah menyebar ke seluruh kabupaten Bone.

9. Gendrang Balisumange

Diperagakan oleh rumpun bangsawan dalam acara adat pernikahan di lingkungan Saoraja. Genrang Balisumange biasa juga digelar pada acara perkawinan antar rumpun bangsawan, mulai dari mappettu ada, tudang penni, sampai hari perkawinan (esso botting), genrang selalu diiringi anak baccing dan kancing.

10. Gendrang Pangampi

Dibunyikan saat warga menjaga padi, jagung, dan sejenisnya agar hama dan burung pengganggu tanaman menjauh dari kebun, ladang atau sawah.

Adapun alat yang dipakai terdiri dari alat bambu dan kayu pilihan, biasanya diiringi dengan ” katiting ” (dari batang padi).

HARI JADI KABUPATEN BONE

Tidak seperti hari Jadi Bone yang selalu diperingati tiap tahunnya. Seingat penulis Hari Jadi Kabupaten Bone belum pernah dirayakan. Karena perlu dipahami, bahwa BEDA HARI JADI BONE DENGAN HARI JADI KABUPATEN BONE.

Kabupaten Bone terbentuk sejak Tahun 1959 bersarkan Undang-Undang Nomor 29 Tanggal 4 Juli Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi. Sehingga apabila Hari Jadi Kabupaten Bone dirayakan maka perhitungannya dimulai Tanggal 4 Juli 1959.

Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, untuk Hari Jadi Bone terhitung mulai tahun 1330, maka penyebutan yang benar adalah Hari Jadi Bone bukan Hari Jadi Kabupaten Bone. Sementara Hari Jadi Kabupaten Bone terhitung mulai tahun 1959 maka penyebutannya yang benar adalah Hari Jadi Kabupaten Bone.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...