No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Arung Palakka Bukan Penghianat

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Kala itu suasana tegang masih menyelimuti hati setiap orang di Benteng Somba Opu. Sebuah perjanjian yang sangat penting bagi Kerajaan Gowa-Tallo baru saja ditandatangani sebulan sebelumnya, tepatnya pada 18 November 1667 Masehi.

Perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Bungaya itu terpaksa disetujui oleh pihak Kerajaan Gowa-Tallo setelah berkonflik dengan VOC selama setengah abad.

Paruh pertama abad ke-17, berbagai perlawanan yang dilancarkan oleh Kerajaan Gowa-Tallo di Kepulauan Maluku dianggap sebagai ancaman serius. Saat itu Kompeni melakukan berbagai cara untuk memantapkan monopoli perdagangan di kawasan timur Nusantara tersebut.

Kompeni yang melihat banyaknya daerah palili atau kerajaan bawahan yang dimiliki Gowa, serta dengan mempertimbangkan suasana politik yang panas antara palili dan Sultan Hasanuddin sebagai Raja Gowa, akhirnya menemukan celah dengan menjalin koalisi tak terduga dengan Arung Palakka, seorang bangsawan cerdas dari Bone yang dibawa sebagai tawanan ke Gowa pada akhir 1644 Masehi.

Meskipun Arung Palakka pernah menjadi pelayan Karaeng Pattingngalloang, Tumabbicara Butta atau semacam Perdana Menteri Kerajaan Gowa-Tallo, tetapi kekuasaan dan kesewenangan Gowa atas Bone merupakan siri atau harga diri baginya.

Suatu masa antara Juni dan Agustus 1660, Arung Palakka, Arung Kaju, Arung Maruangeng, Daeng Pabila, dengan dibantu oleh Tobala merupakan penguasa Bone yang ditunjuk oleh Gowa yang memutuskan melarikan diri dan pulang ke kampung halaman mereka.

Ini terjadi setelah Karaeng Karunrung memerintah 10.000 orang Bugis Bone untuk menggali kanal di dekat Benteng Panakkukang karena benteng tersebut berhasil dikuasai oleh Kompeni.

Pelarian itu segera menggagas persekutuan dengan mengajak Kerajaan Soppeng untuk bersekutu dengan Bone. Di tengah ketidaksetujuan sebagian bangsawan Soppeng, akhirnya terbentuk juga persekutuan tersebut melalui Pincara Lopie ri Attapang, yaitu Perjanjian atas Rakit di Attapangnge.

Kerajaan Wajo sebagai salah satu palili Gowa yang diajak oleh Arung Palakka dalam persekutuan tersebut menolak bergabung. Meski akhirnya setelah itu persekutuan tersebut kalah dalam beberapa perang melawan Gowa yang mengakibatkan Arung Palakka menyeberang ke Butung dan Batavia,

Pelan tapi pasti, ketika api telah membakar sumbu yang akan menghancurkan Gowa dan memaksanya menandatangani Perjanjian Bungaya enam tahun kemudian.

Setelah tiga tahun Buton, Arung Palakka ke Batavia atas bantuan Kompeni, kemudian Kompeni minta bantuan Arung Palaka untuk memadamkan pemberontakan orang Minangkabau di pantai barat Sumatera.

Arung Palakka setuju dan berangkat bersama Toangke, julukan bagi sekitar 400 orang Bugis yang berdiam bersama Arung Palakka di sekitar Sungai Angke.

Pada 30 Agustus 1666, Arung Palakka tiba di Padang bersama dengan Kapten Joncker yang memimpin tentara Ambon. Ini adalah medan pembuktian bagi Arung Palakka agar Kompeni semakin yakin bahwa dirinya bisa diandalkan.

Kemenangan diraih oleh Arung Palakka, bahkan ia digelari sebagai ‘Raja Ulakan’ oleh orang-orang Ulakan karena keberaniannya di sana. Keyakinan Kompeni bahwa Arung Palakka merupakan kunci untuk mengalahkan musuhnya di timur, yaitu Gowa, semakin menguat ketika pasukan Aceh dikalahkan oleh Arung Palakka di Pariaman.

Tidak lama setelah itu, Dewan Hindia di Batavia mengeluarkan resolusi untuk mengirimkan ekspedisi ke Makassar dan kawasan timur pada Tanggal 2 November 1666 dengan tujuan mengumumkan perang kepada orang Makassar.

Meski begitu, sebenarnya Kompeni masih berharap masalah dengan Gowa masih bisa diselesaikan dengan jalan damai.

Bagaimanapun Kompeni sangat sadar bahwa Gowa adalah kerajaan terbesar di bagian timur Nusantara.

Selama setengah abad konfrontasi antara Gowa dan Kompeni tidak menghasilkan kemenangan signifikan bagi Kompeni.

Memerangi Gowa sekali lagi adalah jalan pintas menuju kehancuran bagi Kompeni dan semua kepentingannya di timur.

Namun, mau tidak mau akhirnya Kompeni berangkat ke Gowa dan menunjuk Cornelis Janzoon Speelman, seorang pegawai Kompeni yang kontroversial, untuk memimpin ekspedisi tersebut.

Cornelis berangkat bersama dua pemimpin perang yang baru saja sukses di pantai barat Sumatera yakni Arung Palakka dan Kapten Joncker.

Tugas utama Speelman adalah mengupayakan perdamaian dan meminta Gowa untuk meminta maaf, terutama atas kasus terbunuhnya orang-orang Belanda di Pulau Don Duango dan pembajakan terhadap kapal Leeuwin yang karam. Meskipun tidak menutup kemungkinan melancarkan perang jika Gowa menolak.

Ekspedisi ke Makassar yang dipimpin Speelman itu berlayar pada Tanggal 24 November 1666 dengan membawa dua puluh kapal yang mengangkut 1870 orang.

Pada Tanggal 17 Desember 1666, armada kompeni tiba di sekitar Pulau Tana keke dan sampai di pantai Makassar dua hari kemudian.

Tuntutan yang diajukan oleh Kompeni dibalas dengan kunjungan dua bangsawan penting Gowa bersama dua penerjemah sambil membawa 1056 koin emas dan 1435 coprijksdaalders sebagai ganti rugi atas kejadian Don Duango dan kapal Leeuwin.

Semua barang ini ditolak oleh Speelman. Dua hari kemudian, utusan Belanda telah datang kembali dari Somba Opu, istana Kerajaan Gowa, dengan membawa kegagalan.

Namun tuntutan Belanda ditolak oleh Sultan Hasanuddin, olehnya itu, sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal, Speelman mendekati pelabuhan Makassar hingga setengah kilometer dari pantai dan mulai membombardir wilayah tersebut. Peristiwa tersebut menandai dimulainya Perang Makassar.

Perlawanan sengit dilancarkan oleh Gowa yang tidak menyangka adanya serangan tiba-tiba, bukan hanya dari armada Kompeni yang menyerang dari laut, tapi juga oleh serbuan darat pasukan Bugis di bawah komando Arung Palakka yang menyerang dari arah selatan.

Pertempuran terjadi selama 11 bulan sebelum akhirnya kedua pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Selanjutnya mereka bertemu pada Tanggal 13 November 1667 untuk menyepakati sebuah paket perjanjian damai di Bungaya dekat Barombong.

Pertemuan pun dilaksanakan di sebuah tanah lapang di Bungaya. Para pemimpin penting seperti Speelman, Arung Palakka, Sultan Hasanuddin dan Karaeng Karunrung hadir di sana.

Awalnya mereka berkomunikasi melalui perantara penerjemah, tetapi karena cara ini dianggap tidak efektif, maka Karaeng Karunrung sebagai orang yang paling pandai dalam soal bahasa menjadi juru runding Gowa.

Perundingan antara Speelman dan Karaeng Karunrung itu berlangsung dalam bahasa Portugis. Hasil dari perundingan yang tidak selesai dalam waktu sehari ini disebut sebagai Perjanjian Bungaya.

Perjanjian Bungaya mengubah total arah sejarah yang seharusnya terjadi di Sulawesi Selatan. Perjanjian yang terdiri dari 26 pasal ditambah tiga pasal tambahan ini bukan hanya menjadi momentum jatuhnya Kerajaan Gowa, tetapi juga menandai awal kekuasaan penuh dari Kompeni di bagian timur Nusantara.

Empat bulan sebelumnya, berakhirnya Perang Kedua Inggris-Belanda membuat Belanda mendapatkan Pulau Run, penghasil utama pala di Kepulauan Banda, setelah menukarkannya dengan New Amsterdam yang kelak menjadi New York.

Perjanjian Bungaya juga menimbulkan kerugian besar bagi kelompok pedagang internasional lain yang telah lama berdagang di Somba Opu, terutama pedagang Inggris.

Perjanjian tersebut memutuskan bahwa semua pedagang Eropa kecuali pedagang Belanda, India/Moor, Jawa, Melayu, Aceh dan Siam dilarang berdagang di Makassar.

Sehari setelah poin-poin Perjanjian Bungaya akhirnya disepakati pada Tanggal 18 November 1667, para pedagang dari berbagai bangsa, terutama Inggris dan Portugis, mulai meninggalkan Somba Opu. Dua hari setelahnya, Speelman memasuki Benteng Jumpandang yang kelak diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.

Bagi pihak kerajaan kembar Gowa-Tallo sendiri, perjanjian ini seolah menjadi penutup kejayaan Makassar sebagai kekuatan paling besar di bagian timur Nusantara sejak awal abad ke-17.

Perjanjian Bungaya mengharuskan agar semua benteng yang dimiliki oleh kerajaan tersebut, kecuali Somba Opu dan Jumpandang, dihancurkan.

Pada 24 Juni 1669, Sompa Opu yang menampung istana Kerajaan Gowa ikut jatuh akibat kekalahan perang susulan yang diinisiasi oleh Karaeng Karunrung setelah Perjanjian Bungaya.

Dengan begitu jatuhlah seluruh benteng Kerajaan Gowa-Tallo ke bawah kekuasaan Kompeni. Kenyataan ini digunakan oleh Kompeni untuk menguatkan kembali isi Perjanjian Bungaya yang telah disepakati dua tahun sebelumnya.

Pada Tanggal 15 Juli 1669, perwakilan Tallo datang ke Fort Rotterdam untuk mengakui kembali perjanjian tersebut, disusul dengan perwakilan Gowa yang datang pada 27 Juli 1669. Mereka menaruh senjata dan bersumpah dengan Al-Quran, meminum air serta menghunus keris untuk mengakui kembali perjanjian itu.

Arung Palakka tidak butuh waktu terlalu lama untuk menjadi pemimpin baru di Sulawesi dan seluruh bagian timur Nusantara. Speelman menempati Fort Rotterdam dan menjadikannya sebagai kantor Kompeni dan rumah tinggalnya sendiri.

Sementara itu Arung Palakka tinggal di istana Bontoala, sekitar dua kilometer dari Fort Rotterdam. Beberapa tahun kemudian, kedua orang ini mencapai puncak karirnya, yakni Speelman diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pada 1680, dan Arung Palakka diangkat menjadi Raja Kerajaan Bone pada 1672.

Dalam bentangan peristiwa selama abad ke-17 di Sulawesi Selatan, banyak sekali ditemukan paradoks yang kadang menimbulkan kebingungan bagi pembaca sejarah.

Ini merupakan kombinasi dari sifat dan karakter yang dimiliki oleh orang-orang Bugis dan Makassar misalnya kecintaan pada ilmu, toleransi kepada perbedaan, keinginan untuk bebas merdeka, dengan ambisi politik yang mengharuskan konflik, perang atau bahkan penaklukan kepada saudara sendiri.

Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Gowa-Tallo sebelum kekalahan itu begitu terbuka kepada bangsa lain. Puluhan kantor perwakilan dagang dari berbagai bangsa terdapat di Somba Opu.

Demikian juga dengan berbagai tempat ibadah yang dimiliki bangsa-bangsa Eropa bebas berdiri atas izin penguasa Gowa. Hal ini menunjukkan kecintaan pada ilmu dan toleransi kepada perbedaan.

Namun pada saat yang sama, perintah Karaeng Karunrung agar 10.000 orang Bugis Bone dan Soppeng dijadikan kerja paksa berupa penggalian kanal di dekat Benteng Panakkukang merupakan hal paradoks dari sifat toleransi. Dan hal inilah yang membuat Arung Palakka dan beberapa bangsawan Bugis lain melarikan diri dari Gowa.

Paradoks dalam sejarah di Sulawesi Selatan ini tidak hanya pada hal di atas. Keinginan Arung Palakka untuk bebas merdeka itu mengantarkannya untuk menerima tawaran Kompeni untuk bersama-sama memerangi Gowa. Tentu, di saat mengalami penindasan siapapun dipastikan hendak melakukan perlawanan

Ketika Kompeni dan Arung Palakka mengalahkan Gowa, paradoks terjadi lagi, yaitu keputusan Kompeni untuk mengusir berbagai bangsa yang berdagang di Makassar. Di sini, bukan hal yang sederhana untuk bisa memisahkan antara sifat dan karakter orang-orang Bugis dan Makassar dengan ambisi politik mereka masing-masing.

Kehancuran Kerajaan Gowa-Tallo akibat dari koalisi Kompeni dan Arung Palakka ini sering dijadikan bukti oleh banyak orang untuk mengatakan bahwa orang-orang Bugis adalah kawan dan hamba penjajah.

Harus diakui, ada beberapa pihak yang ingin terus mengobarkan perang antara orang-orang Makassar dan Bugis. Namun dengan membaca sejarah, kita bisa memperbaiki pandangan kita kepada Arung Palakka.

Arung Palakka meninggal pada Tanggal 6 April 1696 dan dikebumikan di Gowa. Makam Arung Palakka tersebut kini terletak di tengah pemukiman warga yang hampir seluruhnya adalah orang-orang Makassar.

Sejarah telah membuktikan makam Arung Palakka tersebut dijaga dengan baik oleh orang-orang yang dulu ditaklukkan olehnya.

Setelah ia meninggal, Ade Pitu Bone memilih sendiri pengganti Arung Palakka, yaitu La Patau Matanna Tikka dan segera berangkat ke Rotterdam untuk melaporkan keputusan tersebut.

Van Thije, perwakilan Kompeni di sana, menyambut dan memberitahu bahwa keputusan itu akan dikirim ke Batavia agar disetujui Dewan Hindia. Ade Pitu itu bergeming, dan juru bicaranya mengatakan: “Kami datang ke sini bukan untuk membicarakan tentang pemilihan. Kami datang ke sini untuk memberitahu Anda tentang apa yang telah kami putuskan.”

Itulah kelumit perjuangan Arung Palakka membebaskan bangsanya dari cengkeraman negeri lain (Gowa). Sehingga tidak ada alasan saat ini untuk menyebut Beliau sebagai penghianat. NKRI Saat itu Belum Ada Bung!!!

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...