No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Jenderal Jusuf dalam Riwayat

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Nama lengkapnya adalah Andi Muhammad Jusuf Amir, lahir di Kajuara, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1928 dan wafat di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 September 2004 pada usia 76 tahun. Masa kecilnya dikenal dengan Andi Momang.

Andi Muhammad Jusuf Amir ayahnya bernama Andi Amir Tappu yang bergelar Arung Kajuara dan ibunya bernama Petta Bunga yang bergelar Permaisuri Arung Kajuara.

MASA KECIL :

Andi Muhammad Jusuf Amir masa kecilnya kerap bermalam di Masjid. Ia kerap bermalam di masjid bersama imam. Tokoh kharismatik M. Yusuf juga dikenal seorang pemberani yang tidak takut kepada penjajah Belanda saat itu.

Muhammad Jusuf muda yang bergabung dengan tentara pelajar sering membawa bendera merah putih dan suka membagikan bendera ke pemuda di Kampung, Kajuara, Salomekko, dan sekitarnya.

Karena ulahnya itu, ia kerap berurusan dengan tentara Belanda. Kadang-kadang ditangkap tentara Belanda gara-gara Bendera Merah Putih.

Diketahui, Andi Muhammad Jusuf Amir menghabiskan masa kecil di kampung halamannya Kajuara, Bone. Kemudian pindah ke Kota Watampone, dan merantau ke Yogyakarta saat berusia remaja.

PERNIKAHAN :

Andi Muhammad Jusuf Amir menikahi Maesaroh, yang merupakan cicit dari pendiri Muhammadiyah Ahmad Dahlan. Dari pernikahan itu, Andi Muhammad Jusuf Amir memperoleh satu anak perempuan tapi berakhir dengan perceraian.

Jusuf kemudian menikah lagi dengan Elly Saelan hingga akhir hayatnya pada 2004 itu. Dari ikatan itu, ia beroleh satu anak, Jaury Jusuf Putra, yang meninggal ketika masih bocah. Dengan dasar inilah sehingga beliau membangun Rumah Sakit Akademik ” JAURY JUSUF PUTRA” yang terletak di Jalan Gunung Bulusaraung Makassar.

Al-kisah ketika putranya Jaury Jusuf Putra mengalami kecelakaan, di mana kakinya tertusuk terali sepeda mengakibatkan luka dan penyakit tetanus dan menyebabkan nyawanya tidak tertolong. Oleh karena itu, Pak Jusuf berniat suatu hari ia akan mendirikan rumah sakit.

PINDAH KE WATAMPONE

Dari kampung halamannya Kajuara, Andi Muhammad Jusuf Amir kemudian pindah ke Kota Watampone, dan selanjutnya merantau ke Yogyakarta saat berusia remaja.

Selama di Yogyakarta, Andi Muhammad Jusuf Amir (Andi Momang) mulai dikenal Sukarno. Bersama mertuanya, Jusuf sering mendatangi Istana Gedung Agung Yogyakarta, tempat tinggal Presiden Sukarno kala itu.

Menurut Andi Mattalata dalam memoarnya ” Meniti Siri dan harga Diri ” perangai Kapten Andi Mo’mang (Andi Muhammad Jusuf Amir) sopan dan halus, sangat menarik simpati Presiden. Akhirnya, Kapten Andi Mo’mang dianggap sebagai anak tertua dari Bung Karno.

Setelah terlibat dalam ekspedisi militer ke Indonesia Timur, Andi Muhammad Jusuf Amir menginjakkan lagi kakinya di tanah leluhurnya, Sulawesi Selatan. Dengan pangkat kapten, dia melanjutkan karier militernya meski Belanda sudah angkat kaki.

Dia (Andi Muhammad Jusuf) berdinas di Sulawesi Selatan yang penuh gejolak pemberontakan yang dilakukan bekas atasannya, Kahar Muzakkar. Dia sempat juga jadi Komandan Resimen Infantri (RI) ke-24 di Manado.

Andi Muhammad Jusuf Amir pun tercatat sebagai penandatangan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) pada 1957. Namun, dia tak ikut arus pemberontakan. Dia hanya berpikir sebagai tentara : melaksanakan apa yang ditugaskan oleh atasan dan ikut kata pemerintah. “Karir Jusuf menanjak ketika teman-temannya di Permesta akhirnya menjadi pemberontak yang ditumpas TNI,” tulis Salim Said.

Menurut catatan Barbara Sillar Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi Ke DI/TII (1989), dari Sulawesi pada “bulan September Andi Muhammad Jusuf Amir pergi ke Jawa dengan perahu.” Jusuf kala itu jadi bagian dari proyek ekspedisi militer Republik ke Sulawesi, Tentara Rakyat Indonesia Persiapan Sulawesi (TRI-PS) pertama.

Ekspedisi yang dipimpin Andi Muhammad Jusuf berangkat sekitar Juni 1946. Sialnya, ia tertangkap tentara Belanda Pantai Bali selanjutnya beliau ditawan di Surabaya selama setahun.

Beruntung, Andi Gappa, abangnya yang anggota Parlemen dari Negara Indonesia Timur (NIT), mengurus pembebasannya. Setelah bebas, dia kembali ke Yogyakarta, dan sempat jadi ajudan Kahar Muzakkar. Ketika itu, pangkat pemuda yang pernah sekolah di Hollandsche Inlandsche School (HIS) Watampone itu, adalah kapten.

Menjelang Belanda angkat kaki, Andi Muhammad Jusuf Amir mengikuti latihan Corps Polisi Militer pada 1949. Sebelum revolusi betul-betul kelar, laki-laki dengan nama asli Andi Momang ini disuruh kawin.

Menurut AM Fatwa, seorang sepupu Andi Muhammad Jusuf, bahwa Kaharlah yang mendesak Jusuf untuk segera kawin,” tulis Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otorites Soeharto (2016).

Masih menurut Salim, kawan seperjuangan yang sama-sama berasal dari Sulawesi Selatan, Andi Mattalatta, yang kemudian hari jadi Panglima di Sulawesi Selatan juga seperti Jusuf yang bertindak sebagai pemimpin panitia perkawinan Jusuf.

Akhirnya, Jusuf menjadi Panglima Kodam di Sulawesi Selatan dengan pangkat kolonel. Hampir lima tahun dia menjadi Panglima Kodam dengan masalah berat yang sulit diatasi pendahulu-pendahulunya sebagai panglima di daerah itu: meredakan pemberontakan Kahar Muzakkar. Di masanya, berkat bantuan pasukan pemukul dari Kodam Siliwangi, Kahar Muzakkar berhasil ditembak mati oleh para prajurit maung pada 3 Februari 1965.

Beberapa bulan kemudian, setelah Kahar tertembak, Jusuf ditarik Sukarno menjadi Menteri Perindustrian Ringan. Sampai 14 tahun kemudian, dia tak berkarier di militer meski pangkatnya terus naik. Sebagai menteri, pangkatnya menjadi Brigadir Jenderal. Ketika Sukarno jatuh, dia termasuk jenderal yang menemui sang presiden bersama Basuki Rahmad dan Amir Machmud.

Mereka bertiga menjadi tokoh penting di balik Surat Perintah 11 Maret 1965 (Supersemar). Setelahnya, dia terus jadi menteri sampai gebrakan tangannya di meja Soeharto.

PENDIDIKAN UMUM :

1. HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Watampone (sekolah Belanda sederajat SD).
2. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) (sekolah Belanda sederajat SMP).
3. SMA

PENDIDIKAN MILITER :

1. Kursus Atase Militer
2. SSKAD (Sekolah Staf & Komando AD) sekarang Seskoad di Bandung (1952-1953)
3. US Army Infantry Officers Advanced Course di Fort Benning, Amerika Serikat 1955-1956
4. Kursus Lintas Udara / Airborne Course di Amerika Serikat
5. Kursus Singkat Khusus Angkatan IV
6. Seskoad 1969

KARIER MILITER :

1. Perang Kemerdekaan di satuan Sulawesi (KRIS) di Yogyakarta
2. Ajudan Letkol Kahar Muzakkar di staf Komando Markas ALRI Pangkalan X di Yogyakarta
3. Kapten dalam Corps Pilisi Militer (CPM) (Desember 1949)
4. Anggota Staf Komisi militer untuk Indonesia Timur (Desember 1949–1950)
5. Ajudan Panglima TT-VII/TTIT Kolonel Alex Kawilarang (April 1950)
6. Kepala Staf Resimen Infanteri (RI)-24 di Manado (1953–1954)
7. Asisten II (Operasi) TT-VII/TTIT di Makassar (1955–1956)
8. Kepala Komando Reserve Umum (KRU) dgn pangkat Mayor (Oktober 1956)
9. Kepala Staf Resimen Hassanudin (RI-Hasanuddin) di Pare-pare Sulsel (ex KRU)
10. Menandatangani Naskah Piagam Permesta (no.24) (1 Maret 1957)
11. Pangkat Letkol (Februari 1958)
12. Kepala Staf Komando Daerah Militer Sulawesi Selatan dan Tenggara (KDMSST) di Makassar (Februari 1959)
13. Panglima KDMSST (Oktober 1959)
14. Pangkat Kolonel (Juli 1960)
15. Panglima Kodam XIV/Hasanuddin di Makassar (1960–1964)
16. Menhankam/Panglima ABRI dalam Kabinet Pembangunan III (29 Maret 1978–19 Maret 1983).

JABATAN DALAM SIPIL PEMERINTAHAN :

1. Menteri Perindustrian Ringan di Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964–21 Februari 1966)
2. Menteri Perindustrian Dasar di Kabinet Dwikora II (24 Februari 1966–28 Maret 1966)
3. Menteri Perindustrian Dasar di Kabinet Dwikora III (28 Maret 1966–25 Juli 1966)
4. Menteri Perindustrian Dasar & Menengah di Kabinet Ampera I (25 Juli 1966–17 Oktober 1967)
5. Menteri Perindustrian di Kabinet Pembangunan I (6 Juni 1968–28 Maret 1973)
6. Menteri Perindustrian di Kabinet Pembangunan II (28 Maret 1973–28 Maret 1978)
7. Menteri Pertahanan dan Keamanan di Kabinet Pembangunan III (28 Maret 1978–19 Maret 1983)
8. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (1983–1988 dan 1988–1993)

MENDIRIKAN MASJID :

Jenderal Andi Muhammad Jusuf Amir sulit dilupakan khususnya bagi warga Sulawesi Selatan. Hal tersebut disebabkan karena jasa-jasanya terhadap pembangunan Sulawesi Selatan.

Di mana masa-masa akhir hidup beliau membangun Masjid Al-Markaz Al-Islami yang terletak di Makassar. Masjid ini dibangun pada tahun 1994 dan selesai pada tahun 1996. Saat ini berkembang menjadi pusat pengembangan ibadah agama Islam terbesar dan termegah di Asia Tenggara, terletak di Jalan Masjid Raya Makassar. Bangunan Masjid tersebut, terdiri atas 3 lantai yang terbuat dari batu granit.

Seperti yang dikatakan Ketua Umum Pengurus Yayasan Islamic Center Al-Markaz Al-Islami, Prof Dr. Basri Hasanuddin, Beliau adalah sosok yang kita semua kagumi, tanpa beliau Al Markaz tidak akan ada. Jenderal Muhammad Jusuf ternyata memiliki sejarah atas berdirinya masjid Al Markaz yang saat ini digunakan sebagai tempat beribadah para umat muslim Kota Makassar.

PENDIRIAN MUSEUM JENDERAL JUSUF :

Rencana pembangunan museum Jenderal Jusuf bertujuan untuk megedukasi para generasi serta masyarakat mengenai sosok Jenderal Jusuf yang dikenal tegas dan berani. Dengan Sumange Teallara Teguh dalam Keyakinan kukuh dalam kebersamaan telah terpatri dalam hidupnya sejak kecil.

Di museum tersebut, nantinya akan dilengkapi dengan berbagai story line Jenderal M Jusuf mulai dari masa kecil-nya di Kecamatan Kajuara, Bone hingga mencapai puncak karir di Milter hingga akhirnya menduduki jabatan penting lainnya di era President Soekarno dan Soeharto.

PENUTUP :

Andi Muhammad Jusuf Amir (Andi Momang) adalah seorang sosok putra Bugis Bone di mana dalam masa-masa hidupnya banyak mengalami penderitaan. Namun masa-masa hidupnya yang susah itu dilaluinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Beliau seorang muslim yang taat beribadah dan senantiasa memohon petunjuk kepada Allah SWT dalam setiap hendak memulai dan melangkah. Ia berjiwa sosial dan suka membantu sesama tanpa memandang darimana dan siapapun jua.

Di masa pergolakan hingga berdirinya NKRI banyak menghabiskan waktu dan pikirannya demi kepentingan Negara dan umat. Meskipun ia hanya dibesarkan di sebuah kampung, tidak menyurutkan niatnya untuk meraih cita-citanya yang mulia.

Semangat hidup dan perjuangannya itu mampu mengharumkan kampung dan negaranya di mata dunia. Dalam memimpin, Andi Muhammad Jusuf tetap memegang prinsip leluhurnya. Dengan prinsip Taro Ada Taro Gau, artinya sama perkataan dengan perbuatan, apa yang terucap dari mulut haruslah seiring dengan perbuatan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya dan jasa-jasa pendahulunya. Sudah barang tentu sebagai anak bangsa di kekinian sepatutnya berterima kasih atas perjuangannya. Semangat perjuangan beliau dengan motto sumange teallara harus terpatri dan menjadi pembelajaran kepada kita semua.

Oleh : Dr.H.A.Fahsar M.Padjalabgi, M.Si.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...