No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Mengenal AGH Muhammad Yunus Martan

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Anre Gurutta Haji (AGH) Muhmammad Yunus Martan lahir di Wattang Desa Leppangeng Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo pada Jumat 1914 Masehi (28 Muharram 1332 H). Meninggal dunia di Makassar, Selasa 22 Juli 1986, setelah menjalani perawatan di rumah sakit Islam Faisal Makassar.

Ayahnya bernama H. Martan, Beliau adalah seorang ulama yang arif dan menguasai ilmu pengatahuan agama Islam, membuka pengajian untuk memberikan taushia kepada masyarakat Islam di Belawa. Saat itu H. Martan diangkat menjadi qadhi pertama di Wajo, artinya adalah seorang hakim yang membuat keputusan berdasarkan syariat Islam.

H. Martan menunaikan ibadah haji sebanyak delapan kali dan pernah tinggal di Makkah selama tujuh tahun dan selama itu Ia juga dengan tekun mempelajari ilmu pengatahuan Islam pada beberapa ulama besar di Masjid al-Haram Mekkah.

Setelah kembali ke tanah kelahirannya di Belawa Wajo, beliu menikah dengan seorang gadis bernama Isainah, dari pernikahannya itu dikaruniai seorang anak perempuan bernama I Dahalang, namun tidak berapa lama setelah kelahiran anak perempuannya itu, istrinya meninggal dunia.

Sepeninggal isterinya selanjutnya H. Martan menikah kembali dengan seorang janda bernama Hj. Tanripung ( Hj. Shafiah) yang berasal dari Kabupaten Soppeng pada tahun 1920 M. Dari hasil pernikahan inilah beliau dikaruniai dua orang putera yang bernama Muhammad Yunus Martan dan Abd. Halim, tidak lama kemudian istrinya yang kedua meninggal pula.

H. Martan kembali menikah dengan seorang gadis yang bernama Jamilah dari Kampung Lautan Desa Menge Kecamatan Belawa dan pernikahannya dikaruniai anak empat orang, yaitu Napisah, Subaedah, Abdullah (AGH. Abdullah Martan, Lc.) dan Asmah.

Beliau H. Martan menanamkan dasar-dasar pendidikan agama Islam bagi anak-anaknya, terbukti di antara anak-anaknya lahir ulama besar yaitu AGH. Muhammad Yunus Martan dan Abdullah Martan, Lc.

Anregurutta H. Muhammad Yunus Martan atau sering disapa dikalangan warga As’adiyah “Gurutta Yunus” mengikuti jejak ayahnya (H.Martan) yakni menjadi seorang Kiai. Sejak masa kecilnya beliau selalu ikut pada kedua orang tuanya dan bahkan diikutsertakan menuaikan ibadah haji sebelum masuk sekolah rakyat.

Beliau menuaikan ibadah haji sebanyak tujuh kali. Selama bermukim di Mekkah beliau mengikuti pendidikan di Madrasah Al-Falah, serta mengikuti pengajian khalaqah di Masjid Haram yang diberikan oleh para ulama dari berbagai penjuru dunia.

Setelah H. Muhmmad Yunus menyelesaikan pendidikannya pada Madrasah Al-Falah di Makkah dan melanjutkan pada pesantren di Masjid Al-Haram Makkah, Beliau kembali ke kampung halamannya Menge Belawa.

Tidak beberapa lama kemudian pada Tahun 1953 beliau menikah dengan Hajja Baru (H. Karitini) seorang gadis kembang desa muda belia berusia 12 Tahun. Dari pernikahannya ini dikaruniai putra putri sebanyak tujuh orang yakni Hj. Fatimah, Hj. Faridhah, Prof. Dr. H. Rafii Yunus Martan, M.A., Ph.D., Hj. Ruqaiyyah (Istri almarhum Prof. Dr. H. Abd. Rahman Musa), Hj. Zaenab BA., Dra. Hj. Ummu Kalsum M.Ag., (istri Prof. Dr. Abd. Karim Hafid, MA), dan Hj. Khusniah, BA (istri Drs. H. Muhammad Rum Nessa, S.H., M.H., Sekertaris Mahkama Agung 2005. Pada tahun 1965 istri Gurutta Yunus berpulang kerahmatullah.

Di tengah-tengah kesibukannya mengurus Perguruan As’adiyah dan melayani umat, beliau tidak meninggalkan tanggung jawabnya dalam mendidik anak-anaknya, beliau hanya membimbing dengan penuh kasih sayang untuk menghargai orang lain dan akhlakul karimah dan tutur kata yang santun dan sopan.

Setelah istri pertamanya meninggal dunia, Anregurutta H. Muhammad Yunus Martan menikah kembali dengan seorang gadis dari belawa yang bernama Hj. Husna (13 tahun) pada tahun 1966 dari perkawinannya tersebut mereka dikaruniai lima orang putra putri yaitu Warda (Istri Drs. H. Husain Malik), Kafrawi, Nurul Huda, Nur Fadillah (istri Dr. Mujahid, MA) dan Iqbal.

Hj. Husna yang setia mendampingi beliau dalam suka dan duka sejak tahun 1966 sampai beliau meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Faisal Makassar pada tanggal 22 Juli 1986.

AGH Muhammad Yunus Martan semasih hidupnya sering memberikan pengajian yang disiarkan langsung melalui radio As’Adiyah Sengkang dan siarannya menjangkau beberapa wilayah di Bone.

Sementara itu, Pesantren As’adiyah Sengkang didirikan oleh K.H Muhammad As’ad pada tahun 1928 telah membawa angin segar pada masyarakat Wajo, meskipun masih dalam bentuk pengajian kecil dengan metode pengajaran yang sederhana dengan murid yang masih sediki namun pesantren ini disambut
baik oleh masyarakat dan pemerintah.

Dan setelah As’adiyah berada di tangan
K.H. Muhammad Yunus Martan, kemajuan dalam berbagai bidang terus diperlihatkan, As’adiyah yang dulunya banyak tergantung pada pemerintah dan donatur kini mulai mandiri dengan membuka berbagai unit usaha seperti, pertanian, peternakan, badan wakaf, pertokoan dan koprasi, selain itu K.H Muhammad Yunus Martan juga terus membenahi pendidikan yang ada di As’adiyah dengan membuka jenjang pendidikan yang baru, menyesuaikan kurikulum dengan sekolah-sekolah pada umumnya dan membuka lebih banyak cabang As’adiyah di berbagai daerah, mengembangkan metode-metode dakwah.

Kemajuan yang dialami As’adiyah pada masa Kepemimpinan K.H. Muhammad Yunus Martan turut andil dalam pembangunan masyarakat melalui media pendidikan dan keagama yang bertujuan untuk membenahi moral-spritual masyarakat.

Berita sebelumyaLaskar Bone di Bulukumba
Berita berikutnyaLirik Tana Ugi
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...