No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Kunjungan Presiden Sukarno di Kerajaan Bone

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

BUNG KARNO, Beliau adalah salah satu The Founding Father Indonesia, Bapak Proklamator, Guru Bangsa, Negarawan Paripurna dan masih banyak lagi alasan mengapa Bung Karno patut dikenang.Untuk alasan kenang-mengenang masyarakat Bone secara khusus punya kenangan tersendiri dengan Presiden Pertama Indonesia ini.

Ketika Bung Karno datang ke Bone untuk pertama kalinya mengunjungi Kerajaan Bone diawal tahun 1950 untuk bertemu dengan Raja Bone ke-32  La Mappanyukki, Ade Pitu Kerajaan Bone, dan seluruh Rakyat Bone dengan satu tujuan mengajak Kerajaan Bone untuk bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti kebiasaan Bung Karno kalau berpidato. Di Bone pun saat itu beliau berpidato di depan Raja Bone, Ade Pitu kerajaan Bone dan rakyat Bone. Bung Karno berorasi politik di atas sebuah meja kayu sebagai panggung dadakan.

Tempat kejadian bersejarah itu di gedung Ade’ Pitu atau Dewan Adat Kerajaan Bone (Bola Subbi’e) segaligus sebagai bekas Istana Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Masyarakat Bone lebih mengenalnya dengan sebutan ‘Bola SubbiE’ atau Rumah yang dihiasi dengan ukiran khas Bone. Saat ini gedung bersejarah tersebut dijadikan gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bone di Jalan Merdeka Watampone.

Dalam foto hitam putih itu terlihat Putra Sang Fajar melepas jas kebesarannya, kemejanya dilipat sampai di bawah siku. Sebuah penampilan tak biasa bagi Bung Karno yang selalu bangga dengan jas jenderal kebesarannya.

Pertanyaan pun muncul apakah pada saat itu cuaca Kerajaan Bone begitu panasnya yang memaksanya harus melepas jas ataukah itu sebagai simbol bahwa dia tidak datang ke kerajaan Bone dengan nama besarnya sebagai Presiden Indonesia tapi sebagai manusia sebangsa yang ingin menggugah kesadaran persatuan bagi Kerajaan Bone.

Pemilihan tempat pertemuan di Bola SubbiE merupakan sebuah perhitungan tersendiri. Mengapa harus disitu? Bukan di istana Raja Bone H. Andi Mappanyukki. Karena Bola SubbiE adalah bekas istana Raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri yang memiliki nilai sejarah bagi Kerajaan Bone. Istana tersebut pernah dihancurkan oleh penjajah Belanda ketika Rumpa’na Bone atau Perang Bone tahun 1905.

Harapannya dengan mengingatkan kembali kenangan tersebut kesadaran patriotisme dan nasionalisme rakyat Bone akan semakin tergugah untuk mempertahankan kemerdekaannya dalam bingkai persatuan nasional.

Sukarno mengawali pidatonya dengan kata ” Yang Mulia Raja Bone beserta Ade’ Pitu atau Dewan Adat kerajaan Bone beserta seluruhnya Rakyat Bone yang saya cintai …”. Selanjutnya dia berterima kasih telah diperkenankan hadir di kerajaan Bone. Pidatonya runtun dengan nada agak pelan namun tetap menggugah seluruh hadirin yang ada pada saat itu.

Bung Karno memaparkan pentingnya persatuan bagi seluruh rakyat dan kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara khususnya Kerajaan Bone.

Jika kita bersatu padu dalam satu Negara Kesatuan Indonesia maka yakinlah bahwa Imperialisme dan Kolonialisme dapat kita singkirkan dari seluruh Bumi Nusantara.

Kita sekalian akan bersatu-padu, bergotong-royong memperkuat Indonesia kita tercinta yang merdeka, berdikari dan sejajar dengan Negara-negara besar lainnya. Pesan persatuan inilah kemudian yang berhasil menggugah Raja Bone dan Ade’ Pitu kerajaan Bone beserta seluruh rakyat Bone untuk bergabung kedalam Negara Kesatuan Indonesia.

Setelah kedatangan Presiden Soekarno tersebut, tidak berselang lama pertemuan kedua diadakan di Yogyakarta bertempat di Keraton Yogya. Kali ini pertemuan tersebut dihadiri oleh Raja-raja se-Nusantara termasuk Raja Bone Ke-32  La Mappanyukki, Datu Luwu Andi Jemma, dan Raja Gowa Imangimangi.

Dalam pertemuan tersebut dicapai kesepakatan bersejarah bahwa tiga kerajaan besar yang ada di Sulawesi yakni Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa (tiga kekuatan/kerajaan) menyatakan diri bersedia masuk dan bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menindak lanjuti kesepakatan ini maka Kerajaan Bone kemudian berganti status menjadi daerah Swapraja yang dikemudian hari menjadi Kabupaten Bone hingga saat ini. Sejarah pun mencatat La Mappanyukki sebagai Raja Bone sekaligus sebagai Kepala Daerah Bone. (La  Mappanyukki Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa (Kepala Daerah/Raja Bone) Tahun 1957-1960)

Jas Merah (Jangan Sekali-sekali melupakan sejarah) kata Bung Karno suatu ketika. Karena itu, Presiden Soekarno sangat pantas untuk selalu dikenang. Terlepas dari berbagai kontroversi yang sampai saat ini masih tetap melingkupinya.

Tahun 1967 diawal masa kejatuhannya Putra Sang Fajar berujar : ” Aku ini di puja bagai Bima dan sekaligus di benci layaknya Bandit “. Sebuah kenyataan miris dari seorang yang sangat mencintai Indonesia dengan setulus hati dan memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa kita layaknya berjihad.

Yang jelas, Satu Kesimpulan baik suka maupun tidak, mengapa Presiden Soekarno akan selalu dikenang untuk selamanya atau paling tidak selama Indonesia masih tetap tegak berdiri dalam semesta peradaban dunia karena Bung Karno adalah salah satu alasan Indonesia ada.

Berita sebelumyaLirik Tana Ugi
Berita berikutnyaLirik Lagu Ongkona Arumpone
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...