No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Aturan Pemakaian Songkok Recca di Masa Kerajaan

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Dahulu pada zaman Kerajaan Bone pemakaian songkok recca atau songkok pamiring diatur oleh pihak kerajaan tentang penggunaan emas pada songkok recca.

Hal itu disebabkan karena songkok recca dijadikan sebagai kopiah resmi kerajaan.

Songkok berhias emas sungguhan hanya digunakan oleh raja, pembesar kerajaan, dan keluarga bangsawan.

Rakyat biasa tidak boleh menggunakannya sekalipun punya uang untuk membuat atau membeli songkok berbalut emas.

Kalaupun ada orang kaya yang bukan keluarga raja atau bangsawan yang menggunakan songkok berbalut emas, kadar emasnya tak boleh melebihi kadar emas songkok yang dikenakan raja.

Dengan kata lain, susunan anyaman emas di bagian sekeliling songkok tak boleh lebih tinggi daripada yang dimiliki raja.

Menurut Andi Najamuddin Petta Ile Sekretaris Dewan Adat Bone mengatakan, dahulu itu songkok recca hanya digunakan oleh raja dan dilapisi oleh emas sungguhan yang berbentuk benang. Semakin banyak lapisan benang emasnya, semakin menunjukkan tingkat strata sosialnya.

Adapun aturan pemakaian songkok recca atau songkok pamiring pada zaman dahulu di keajaan Bone adalah sebagai berikut:

1) Bagi bangsawan tinggi atau berkedudukan sebagai raja dari kerajaan besar dan bagi anak raja yang berketurunan Maddara Takku (berdarah biru) anak Mattola, Anak Matase’ dapat menggunakan songkok pamiring yang seluruhnya terbuat dari emas murni (dalam bahasa bugis disebut “ulaweng bebbu/bubbu”).

2) Bagi Arung Mattola Menre, Anak Arung Manrapi, Anak Arung Sipuwe dan Anakkarung dapat memakai songkok pamiring dengan lebar emasnya 3/5 (tiga perlima) dari tinggi songkok.

3) Bagi golongan Rajeng Matasa, Rajeng Malebbi dapat memakai songkok pamiring dengan lebar emas 1/2 (setengah) dari tinggi songkok.

4) Golongan dari anak Arung Maddapi, dan anak Cera’ dapat memakai songkok pamiring dengan lebar emas 1/4 (seperempat) dari tinggi songkok pamiring.

5) Golongan Tau Deceng, Tau Maradeka, dan Tau Sama diperkenankan memakai songkok pamiring dengan pinggiran emas.

6) Golongan Ata, tidak diperkenankan sama sekali memakai songkok pamiring.

Itulah aturan pemakaian songkok pamiring pada zaman kerajaan.

Perlu diketahui, singkok recca ini sangat istimewa karena menunjukkan kharisma pemakainya.

Keistimewaan itu tampak jika songkok ini berada di atas kepala orang-orang atau tokoh penting dan terkenal, pejabat, keturunan bangsawan, orang-orang kaya, dan semacamnya. Hanya saja yang akan menjadi perbedaan adalah wibawa si pemakai.

Seiring perubahan zaman, dengan berakhirnya masa kerajaan di Bone, songkok recca saat ini sudah dapat digunakan oleh beragam kalangan tanpa memandang strata sosialnya.

Meski begitu, sebagian masyarakat masih ada yang mempertahankan kesakralannya dengan tak ingin sembarangan menggunakan songkok recca.

Saat ini selain masyarakat biasa, pengguna songkok juga para tamu mancanegara, pemda Bone biasanya memberikan cendera mata songkok recca yang memiliki hiasan warna benang warna-warni sebagai souvenir kepada para tamu asing.

Sekarang ini songkok recca/songkok pamiring atau songko to Bone banyak didapatkan di toko-toko souvenir dengan berbagai warna dan motif akan tetapi untuk yang memakai emas asli itu harus dipesan khusus.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...