No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Proses Pembuatan Songkok To Bone

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Songko To Bone yang biasa dikenal dengan nama songko recca yang berbahan baku pelepah pohon lontar

Pelepah daun lontar dalan bahasa Bugis disebut “pelepping”. Sementara kelopak yang menempel pada pohon lontar yang masih muda disebut “cedong-cedong”.

Pembuatan songkok To Bone terdiri beberapa tahapan, yaitu pengambilan bahan, pengolahan bahan, penganyaman, pewarnaan, dan pengayamanan.

Biasanya untuk membuat satu Songkok To Bone diperlukan waktu selama lima hari.

Diawali proses pengambilan bahan baku menentukan pelepah lontar (palepping) dan kelopak (cedong-cedong) yang yang akan diolah.

Proses pengolahan baku merupakan bagian terpenting karena ada dua bahan yang perlu dipersiapkan, yakni “recca” yang diambil dari “palepping” (serat dari pelepah lontar) dan “pakaje-kaje” yang diambil dari cedong-cedong (kelopak dari pohon lontar muda)

Pelepah pohon lontar (palepping) dibakar terlebih dahulu sampai mengeluarkan air, setelah dibakar secukupnya lalu dipukul-pukul agar serat yang ada di dalamnya dapat dipisahkan. Proses ini dinamakan ri recca (direcca).

Recca yang telah dipisahkan dari palepping belum bisa digunakan karena masih banyak ampas yang melekat pada recca.

Untuk memisahkan ampas tersebut, recca harus direndam selama kurang lebih enam jam.

setelah itu, recca diraut (diperhalus) dengan menggunakan bulo (jepitan bambu) yang telah dibuat khusus. setelah proses perautan recca baru bisa digunakan.

Setelah pengolahan recca, dilanjutkan dengan pengolahan pakkaje-kaje yang diambil dari cedong-cedong.

Proses pengolahan pakkaje-kaje tak jauh beda dengan pengolahan recca. Perbedaannya hanya terletak pada proses pembakaran.

Cedong-cedong tidak melalui proses pembakaran tetapi langsung dipukul-pukul untuk memisahkan antara cedong-cedong dengan pakkaje-kaje (rangka)

Setelah itu dilanjutkan dengan perautan dengan menggunakan bulo (jepitan bambu).

Pakkaje-kaje inilah yang akan menjadi tulang rangka songkok dan recca yang nantinya dianyam di sela-sela pakjaje-kaje.

Setelah proses dua bahan baku tersebut selesai, dilanjutkan proses penganyaman.

Pada proses pengayaman diperlukan Assareng (acuan) yang terbuat dari kayu (biasanya sejenis kayu nenas) yang dibentuk seperti songkok sebagai pola.

Dalam proses pengayaman ini akan dibentuk motif-motif songkok to bone.

Setelah proses penganyaman selesai, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.

Pewarnaan yang dipakai adalah pewarnaan yang bersifat alami, yaitu dengan cara merendam di dalam lumpur yang telah dicampur dengan kayu sepang/secang (bugis:aju seppang).

Proses perendaman dalam lumpur tersebut selama tiga hari sehingga songkok berubah warna menjadi hitam.

Setelah selama tiga hari direndam, selanjutnya di jemur di bawah terik matahari sampai kering. Setelah kering dilanjutkan penganyaman dengan bahan benang emas.

Dalam tahap akhir ini, prosesnya sama dengan penganyaman recca tadi yang menggunakan assareng.

Setelah proses pengnyaman benang emas, maka jadilah Songkok To Bone dan siap digunakan atau dipasarkan. Harganya bermacam-macam tergantung kwalitas dan pesanan.

Baca Juga : Sejarah Songkok To Bone

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...