No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Bedah Lagu Palini Rewe Lopie

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

BEDAH LAGU ” PALINI REWE’ LOPIE ”

Budaya menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan budi, daya, akal, cipta, rasa, dan karsa manusia. Manusia menggunakan akal pikirannya menciptakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam bahasa Bugis, kebudayaan disebut Pangngadereng, yang berasal dari kata Ade’. Budaya atau Ade’ sehingga Pangngadereng ini merupakan adat kebiasaan Tetua Bugis masa lalu yang dijadikan pedoman untuk mewujudkan cita-citanya. Budaya atau Ade’ ini terbentuk dari banyak unsur yang meliputi sistem agama, dan politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, karya seni, perkakas, bangunan, dan lainnya.

Seperti halnya Seni Budaya merupakan sesuatu yang diciptakan manusia mengenai cara hidup berkembang secara bersama pada suatu kelompok yang mengandung unsur estetika (keindahan) secara turun temurun dari generasi ke generasi. Era globalisasi saat ini, budaya antar bangsa telah semakin menyatu satu sama lain. Dalam penyatuan itu, budaya yang kuat akan mewarnai peradaban baru dunia. Dalam konteks inilah Indonesia mau tidak mau harus mampu melawan derasnya pengaruh peradaban dunia baru tersebut.

Dalam Sintesa Budaya dan Peradaban Baru, Budaya yang lemah akan tergerus dan lenyap dari khazanah peradaban. Bangsa-bangsa yang berjaya, yang mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya, adalah bangsa-bangsa yang budayanya menguasai peradaban dunia. Semangat kebangsaan merupakan kunci untuk membangun dalam menghadapi peradaban baru dunia. Semangat itulah yang melahirkan sikap dan perilaku serempak bangsa Indonesia dalam berhadapan dengan bangsa-bangsa lain.

Negeri Sakura Jepang punya semangat bushido. Ketika kaisar menyatakan beras Jepang yang terenak dan terbaik, seluruh bangsa Jepang tidak menyentuh beras asing, sekalipun harganya jauh lebih murah. Bahkan produk-produknyapun berlabel kanji bahasa sendiri. Indonesia, harus menemukan jalannya sendiri untuk bangkit dan menjadi bangsa maju. Untuk itu, bangsa ini perlu segera membangun peradaban baru yang sesuai dengan kebutuhan masa depan, yang membuat masyarakatnya aktif, dinamis, serta berdaya saing tinggi dalam berhadapan dengan bangsa lain.

Indonesia membutuhkan budaya baru yang didasarkan pada nilai idealistik, yang dapat menghubungkan kepentingan mewujudkan harmoni serta kepentingan materi sekaligus. Artinya bagaimana bangsa ini mencari pola baru dengan kekuatan budaya sendiri agar dapat berkompetisi dengan budaya bangsa-bangsa lain.

Di Indonesia saat ini ada kesan masyarakat dipaksa untuk bereaksi cepat dan spontan. Salah satu akibatnya, masyarakat mudah tergiur mencari jalan pintas dan senang dengan segala sesuatu yang bersifat instan. Akibatnya hasilnyapun instan.

Kerajaan-kerajaan di Indonesia masa lalu bisa berjaya tanpa dukungan fasilitas memadai, mengapa saat ini didukung seabrek rupiah dengan dengan fasilitas lengkap belum bisa bersaing dengan negari jiran. Ini pasti ada sesuatu fundamental yang hilang. Benar juga lagu ” hilang permataku ” katanya Indonesia hilang permata tapi di Jiran pasir jadi permata.

Indonesia masih sering menggunakan cara-cara instan untuk mengatasi problem bangsa. Ibarat memperbaiki rumah yang rusak, kita mengecat saja, tetapi tidak membongkar fundasi yang sudah rusak. Ibarat muka bopeng terpoles bedak, jeleknya muncul jua. Memang bangsa ini perlu revolusi mental kata Jokowi.

Masyarakat Indonesia, termasuk politisinya, saat ini banyak yang sibuk berdemokrasi, tetapi melupakan kerja untuk membangun peradaban. Demokrasi hanya dilihat sebagai tata cara pemerintahan dan bukan bagian dari strategi kebudayaan.

Dalam berpolitikpun dibutuhkan ideologi. Tanpa kejelasan ideologi ini, kita menyaksikan bahwa semua partai politik hampir sama tidak ada kejelasan yang membedakan antar satu dengan yang lainnya. Rakyat Jadi Pusing, saya Juga Pusing, atau barangkali Anda juga jadi puyeng.

APA HUBUNGANNYA DENGAN LAGU PALINI REWE LOPIE ?

Dalam syair lagu Bugis ” PALINI REWE LOPIE ” Ciptaan Mursalim diartikan sebagai gerakan kembali ke awal, sedang Rewe Lopie berarti memutar haluan perahu untuk kembali ke demarga.

Hakikat makna lagu PALINI REWE LOPIE secara utuh adalah adanya rasa kekecewaan yang sangat mendalam pada pada situasi saat ini di mana tatanan adat budaya sudah banyak ditinggalkan di. Kekecewaan ini sebagai orang Bugis ibarat “Permata Yang Hilang” karena itu masalah ” Pangngadereng ” yang mulai tergerus harus dikembalikan harus dipertahankan dan dipelihara dengan baik.

Sulo mulawenni, mattappa rialangnge
Menre’ pallajareng sompe’na mabela
Lopi masagalae, lete ritengnga padang
Bombang silaju-laju, laona mabela

Refrein :
Oh angin palini rewe lopie
Mattaung mattimo uddani nasaung sunge
oh angin palini timpa’ lajae
Mangolo romai nasau sajang rennue

Ulaweng pabbisena, natuppu rilangkana
Poleni bosara enre’ki ribola

TERJEMAHAN :

Sulo mulawenni, mattappa rialangnge
(Obor mulai menyala diawal malam, cahayanya merambah keseluruh alam)
Menre’ pallajareng sompe’na mabela
(Layar terkembang, menuju rantau nun jauh)
Lopi masagalae, lete ritengnga padang
(Perahu keramat, berlayar meniti di tengah padang)
Bombang silaju-laju, laona mabela
(Ombak berkejaran, melaju pergi jauh)

Refrein :
Oh angin palini rewe lopie
(Oh angin putar kembali haluan kapal)
Mattaung mattimo uddani nasaung sunge
(Sekian lama rindu terpendam bertaruh nyawa)
oh angin palini timpa’ lajae
(Oh angin putarlah bubungan rumah, muka atap rumah, tebar layar)
Mangolo romai nasau sajang rennue
(Menghadap kemari agar terobati kekecewaan ini)

Ulaweng pabbisena, natuppu rilangkana
(Emas pengayuhnya, menuju istana)
Poleni bosara enre’ki ribola
(Disambut bosara, naiklah ke rumah)

ANALISIS MAKNA PALINI REWE LOPIE

Sastra merupakan ungkapan pribadi atau individu manusia berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan sarana bahasa. Tanpa bahasa, sastra tidak mungkin ada karena melalui bahasa, ia dapat diwujudkan, baik dalam bentuk sastra lisan maupun sastra tulis.

Salah satu bentuk sastra lisan yang mengedepankan refleksi evaluatif dan kritis terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti rasa cinta, baik cinta kepada kekasih, kepada orang tua, maupun kepada tanah airnya adalah lagu-lagu Bugis.

Karya sastra lisan berupa lagu Bugis tersebut perlu terus dilestarikan mengingat lagu-lagu daerah merupakan salah satu khazanah kebudayaan daerah yang dapat memperkaya kebudayaan nasional dan patut dibanggakan. Sampai sekarang, lagu Bugis masih diterima oleh masyarakat. Hal itu dapat dilihat di desa atau di kota, di warkop-warkop, kedai-kedai, angkutan umum, dan di mana saja terbuka kesempatan untuk bernyanyi atau mendengarkannya.

Salah satu Lagu-lagu Bugis yang sering didengarkan oleh masyarakat adalah karya Mursalim. Pria berdarah Bugis Bone ini adalah salah seorang pencipta lagu yang cukup dikenal di Kabupaten Bone. Beberapa lagunya yang pernah terkenal seperti Lojeng Pulaweng, Rumpa’na Bone, Unga ripalla Ati, Malaweng, Anri, Unga Tenrita, dan lain sebagainya. Salah satu lagu ciptaan Mursalim yang menarik untuk diteliti adalah lagu PALINI REWE LOPIE karena liriknya sangat estetis dan kosa katanya arkais.

Kata arkais berarti berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua; kemudian tidak lazim dipakai lagi ketinggalan zaman, sukar dipahami bagi kalangan umum. Arkais dari sebuah masa yang lebih awal dan tidak dipakai lagi atau sesuatu hal yang memiliki ciri khas kuno atau antik. Sesuatu hal dalam ilmu bahasa yang sudah lama dan tidak digunakan lagi sering kali disebut sebagai “arkaisme”.

Dalam lagu memang sering dijumpai hal-hal yang membingungkan, yang disebabkan oleh pelambangan-pelambangan yang dimunculkan pengarangnya. Lambat laun, pendengar dan penikmat lagu akan menganggap bahwa lagu sebagai karya sastra tidak lain hanyalah penjelmaan konsep-konsep imajinatif belaka dan hanya mengelabui pikiran pembaca dengan imajinasinya seperti halnya PALINI REWE LOPIE.

Beranjak dari ketidakpahaman terhadap suatu karya sastra, khususnya lagu, tersebut, maka salah satu jalan yang dapat ditempuh bagi peneliti untuk memahami dan mengungkap maknanya adalah dengan menganalisis teks liriknya dengan pendekatan hermeneutika. Pendekatan tersebut bertujuan memberikan penjelasan teks dengan jalan menerapkan “lingkaran hermeneutika”. Namun kali ini penulis tidak sedetail itu, melainkan hanya memberikan gambaran secara umum.

Lingkaran hermeneutika adalah menerangkan keseluruhan melalui bagian-bagian dan menerangkan bagian-bagian melalui keseluruhan. Pendekatan hermeneutika merujuk kepada proses penafsiran teks-teks (interpretasi). Salah satu aspek yang membuat penikmat karya sastra tidak dapat atau kurang dapat menikmati dan mengerti isinya adalah karena konteks lirik lagunya yang rumit dan tidak lazim. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan hermeneutika untuk memperjelas makna sebuah teks.

MAKNA LAGU ” PALINI REWE LOPIE “

Pada dasarnya, lagu PALINI REWE LOPIE mengisahkan tentang kekecewaan seorang pada pada situasi di mana Pangngadereng sebagai tatanan, norma dan adat budaya sudah banyak yang ditinggalkan. Sebagai orang Bugis kekecewaan ini muncul dianggapnya sebagai sesuatu “Permata Yang Hilang” karena itu harus dipertahankan.

PALINI REWE LOPIE menyangkut masalah Pangngadereng bagi orang Bugis sesuatu yang sangat fundamental. Hakikat pangngadereng hendaklah dilihat dari segi aspek nilai sebagai wujud kebudayaan yang menyangkut norma dan yang mengatur akan nilai dan martabat manusia dalam lingkungan hidup kemasyarakatan.

Bedah lagu PALINI REWE LOPIE ini merujuk pada pendekatan hermeneutika merujuk kepada proses penafsiran teks-teks. Salah satu aspek yang memengaruhi pembaca sehingga mereka tidak dapat atau kurang dapat menikmati dan mengerti isi suatu lagu Bugis karena rumitnya konteks teks lagu Bugis tersebut.

Oleh karena itu, di sinilah peranan hermeneutika untuk memperjelas makna simbolik sebuah teks dalam suatu karya sastra, terutama puisi atau lagu Makna lagu PALINI REWE LOPIE ciptaan Mursalim secara umum adalah
adanya rasa kekecewaan yang sangat mendalam pada pada situasi saat ini di mana tatanan adat budaya sudah banyak ditinggalkan di daerahnya.

Kekecewaan ini sebagai orang Bugis ibarat “Permata Yang Hilang” karena itu masalah ” Pangngadereng ” yang mulai tergerus harus dikembalikan harus dipertahankan dan dipelihara dengan baik. Kelima butir Pangngadereng (Pancanorma) yang dimaksud adalah : Ade, Bicara, Rapang, Wari, dan Sara.

Pertama, Ade merupakan komponen pangngadereng yang memuat aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat. Ade’ sebagai pranata sosial didalamnya terkandung beberapa unsur antara lain :
a. Ade’ pura Onro, yaitu norma yang bersifat permanen atau menetap dengan sukar untuk diubah.
b. Ade’ Abiasang, yaitu sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.
c. Ade’ Maraja, yaitu sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Kedua, Bicara adalah aturan-aturan peradilan dalam arti luas. Bicara lebih bersifat refresif, menyelesaikan sengketa yang mengarah kepada keadilan dalam arti peradilan bicara senantiasa berpijak kepada objektivitas, tidak berat sebelah.

Ketiga, Rapang adalah aturan yang ditetapkan setelah membandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan adat yang berlaku di negeri tetangga.

Keempat, Wari adalah suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap orang.

Kelima, Sara adalah suatu sistem yang mengatur di mana seorang raja dalam menjalankan roda pemerintahannya harus bersandar kepada Dewatae (Tuhan yang Maha Esa)

Di kalangan seorang raja Bugis dalam menjalankan roda pemerintahan harus memiliki 11 (sebelas) kriteria, antara lain raja harus bersifat :

1. LINO (BUMI) : Mempunyai watak BUMI, yaitu seorang pemimpin hendaknya mampu melihat jauh ke depan, berwatak murah hati, suka beramal, dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

2. LANGI (LANGIT) : Mempunyai watak LANGIT, yaitu langit mempunyai keluasan yang tak terbatas hingga mampu menampung apa saja yg datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan pengendalikan diri yang kuat, sehingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

3. WETTUING (BINTANG) : Mempunyai watak BINTANG, yaitu bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit sehingga dapat menjadi pedoman arah (Kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

4. MATAESSO (MATAHARI) :Mempunyai watak MATAHARI, yaitu matahari adalah sumber dari segala kehidupan, yang membuat semua mahluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya utk membangun negara dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya dan memamfaatkan cipta, rasa, dan karsanya.

5. MATAKETENG (BULAN) : Mempunyai watak BULAN, yaitu keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan sejuk yang indah mempesona. Seorang pemimpin hendaknya sanggup dan dapat memberikan dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyatnya, ketika rakyat sedang menderita kesulitan. Ketika rakyatnya sedang susah maka pemimpin harus berada di depan dan ketika rakyatnya senang pemimpin berada di belakang.

6. ANGING (ANGIN) : Mempunyai watak ANGIN, yaitu angin selalu berada disegala tempat tanpa membedakan daratan tinggi dan daratan rendah ataupun ngarai. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyatnya, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan & keinginan rakyatnya.

7. WARA API (API) : Mempunyai watak API, yaitu api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

8. TANA (TANAH) : Mempunyai watak TANAH, yaitu tanah merupakan dasar berpijak dan rela dirinya ditumbuhi. Seorang pemimpin harus menjadikan dirinya penyubur kehidupan rakyatnya dan tidak tidur memikirkan kesejahteraan rakyatnya.

9. RAUKKAJU (TUMBUHAN) : Mempunyai watak TUMBUHAN, yaitu tumbuhan/tanaman memberikan hasil yang bermamfaat dan rela dirinya dipetik baik daun,dan buahnya maupun bunganya demi kepentingan mahluk lainnya.

10.TASI’ (LAUT LUAS) : Mempunyai watak SAMUDRA, yaitu laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian ia dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

11. SAO/BOLA (RUMAH) : Mempunyai watak RUMAH, yaitu rumah senantiasa menyiapkan dirinya dijadikan sebagai tempat berteduh baik malam maupun malam. Seorang pemimpin harus memayungi dan melindungi seluruh rakyatnya.

Implementasi kesebelas kriteria di atas, menurut ajaran Lamellong Kajao Lalliddong mengenai pelaksanaan pemerintahan dan kemasyarakatan yang disebut ” Inanna Warangparangnge” yaitu sumber kekayaan, kemakmuran, dan keadilan antara lain :
1. Perhatian Raja terhadap rakyatnya harus lebih besar dari pada perhatian terhadap dirinya sendiri;
2. Raja harus memiliki kecerdasan yang mampu menerima serta melayani orang banyak;
3. Raja harus jujur dalam segala tindakan.

Palini Rewe Lopie :
Ciptaan Mursalim

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...