No menu items!
6.2 C
Munich
Selasa, 24 November 20

Filosofi Rumah Bugis

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Indonesia punya ragam budaya dan suku bangsa, yang mempunyai sisi keunikan tersendiri salah satunya adalah bentuk rumah adatnya. Rumah adat sebagai simbol dari setiap suku di Indonesia mempunyai konsep dan bentuk berbeda beda.

Seperti misalnya rumah panggung Suku Bugis yang ada di Sulawesi Selatan. Rumah Panggung Bugis umumnya berbentuk persegi empat memanjang ke belakang. Pada atap rumah Suku Bugis berbentuk prisma. Uniknya konstruksi bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat.

Bagi orang bugis rumah lebih dari sekadar tempat berteduh atau objek materil yang indah dan menyenangkan. Namun mereka memandang rumah adalah ruang sakral di mana orang lahir, kawin dan meninggal dan di tempat ini pula kegiatan-kegiatan sosial dan ritual tersebut diadakan.

Dari segi konstruksi bangunan rumah panggung orang Bugis tidak hanya memberi representatif terhadap karya seni manusia, tetapi juga membawa simbol-simbol kehidupan kosmologi manusia Bugis.
Bentuk rumah, susunan, ruang dalam rumah tidak hanya fungsional tapi juga memiliki makna simbolis dari setiap ruang dan susunan dari rumah tersebut.

Nah, berikut ini penulis merangkum simbol simbol konstruksi rumah panggung yang diyakini orang Bugis :

Sulapa Eppa (Empat Sisi)

Dalam budaya Bugis simbol Empat Sisi punya makna filosofis tersendiri. Konsep empat sisi ini menurut pandangan hidup masyarakat Bugis pada zaman dahulu yaitu berkenaan bagaimana memahami alam semesta secara universal. Dalam falsafah dan pandangan hidup Bugis terdapat istilah sulapa’ eppa’ yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia.

Jadi segala sesuatu baru dikatakan sempurna dan lengkap jika memiliki sulapa’ eppa’. Demikian pula pandangan mereka tentang rumah, yaitu sebuah rumah akan dikatakan bola genne’ atau rumah sempurna jika berbentuk segi empat, yang berarti memiliki empat kesempurnaan.

Tiga Tingkatan Alam (Makrokosmos)

Tiga Alam, Filosofi Bentuk Rumah Bugis
Rumah bagi orang Bugis tidak sekedar tempat tinggal atau obyek materiil yang indah dan menyenangkan, namun pendirian rumah tradisional Bugis lebih diarahkan kepada kelangsungan hidup manusia secara kosmis. Oleh karena itu, konstruksi rumah tradisional Bugis sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas struktur kosmos.

Menurut pandangan hidup masyarakat Bugis zaman dahulu, simbol alam raya (makrokosmos) tersusun atas tiga tingkatan, yaitu alam atas (botting langi), alam tengah (lino), dan alam bawah (uri liu).

1. Alam atas adalah tempat para dewa yang dipimpin oleh satu dewa tertinggi bernama Dewata SeuwaE (Dewa Tunggal).
2. Alam tengah adalah bumi yang dihuni oleh para wakil dewa tertinggi untuk mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi, serta mengatur jalannya tata tertib kosmos.
3. Alam bawah adalah tempat yang paling dalam yaitu berada di bawah air.

Berdasarkan pandangan hidup tersebut, maka konstruksi rumah tradisional Bugis harus terdiri tiga tingkatan, yaitu rakkeang (alam atas), ale bola (alam tengah), awa bola (alam bawah), di mana keseluruhan bagian tersebut masing-masing memiliki fungsi.

Dalam Filosofi Rumah Panggung Bugis sebenarnya ada 3 bagian rumah yang merupakan tambahan dari rumah induk, yaitu:
1. Tambahan dari rumah induk yang terletak bagian depan disebut Lego-lego. Berfungsi sebagai tempat untuk berangin-angin dan mengobrol termasuk bagi tamu yang datang. Tinggi lantainya ada yang setinggi lantai rumah induk dan ada juga lebih rendah dari rumah induk.

2. Tambahan dari rumah induk yang terletak bagian samping disebut Tamping. Berfungsi sebagai sirkulasi dari arah depan ke belakang. Biasa juga berfungsi sebagai tempat berdiskusi untuk memutuskan sesuatu perkara dalam lingkungan keluarga. Namun jika dilihat dari fungsi sebagai ruang tambahan, makna perbedaan lantainya biasanya lebih rendah dari rumah induk.

3. Tambahan dari rumah induk yang terletak bagian belakang disebut Jongke. Berfungsi sebagai dapur atau tempat memasak (annasuang) dan mencuci piring. Tinggi lantainya biasanya lebih rendah dari rumah induk.

Saoraja dan Bola

Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi bentuk rumah mereka, yang ditandai dengan simbol khusus. Berdasarkan pelapisan sosial tersebut, maka bentuk rumah tradisional orang Bugis dikenal dengan istilah Saoraja (Salassa) dan Bola.
Saoraja berarti rumah besar, yakni rumah yang ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan bola berarti rumah biasa, yakni rumah tempat tinggal bagi rakyat biasa.

Dari segi struktur dan konstruksi bangunan, kedua jenis rumah tersebut tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran rumah dan status sosial penghuninya. Pada umumnya, Saoraja lebih besar dan luas daripada Bola yang biasanya ditandai oleh jumlah tiangnya. Saoraja memiliki 40-48 tiang, sedangkan Bola hanya memiliki 20-30 tiang.

Timpa’  Laja

Sementara perbedaan status sosial penghuninya dapat dilihat pada bentuk tutup bubungan atap rumah yang disebut dengan timpa’ laja. Bangunan saoraja memiliki timpa’ laja yang bertingkat-tingkat, yaitu antara 3 hingga 5 tingkat, sedangkan timpa’ laja pada bangunan Bola tidak bertingkat alias polos. Jadi semakin banyak jumlah tingkat timpa’ laja sebuah saoraja, semakin tinggi pula status sosial penghuninya.

Lego-lego pada Rumah Panggung Bugis

Tamping pada Rumah Panggung Bugis

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...