No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Filosofi Rumah Bugis

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Indonesia punya ragam budaya dan suku bangsa, yang mempunyai sisi keunikan tersendiri salah satunya adalah bentuk rumah adatnya. Rumah adat sebagai simbol dari setiap suku di Indonesia mempunyai konsep dan bentuk berbeda beda.

Seperti misalnya rumah panggung Suku Bugis yang ada di Sulawesi Selatan. Rumah Panggung Bugis umumnya berbentuk persegi empat memanjang ke belakang. Pada atap rumah Suku Bugis berbentuk prisma. Uniknya konstruksi bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat.

Bagi orang bugis rumah lebih dari sekadar tempat berteduh atau objek materil yang indah dan menyenangkan. Namun mereka memandang rumah adalah ruang sakral di mana orang lahir, kawin dan meninggal dan di tempat ini pula kegiatan-kegiatan sosial dan ritual tersebut diadakan.

Dari segi konstruksi bangunan rumah panggung orang Bugis tidak hanya memberi representatif terhadap karya seni manusia, tetapi juga membawa simbol-simbol kehidupan kosmologi manusia Bugis.
Bentuk rumah, susunan, ruang dalam rumah tidak hanya fungsional tapi juga memiliki makna simbolis dari setiap ruang dan susunan dari rumah tersebut.

Nah, berikut ini penulis merangkum simbol simbol konstruksi rumah panggung yang diyakini orang Bugis :

Sulapa Eppa (Empat Sisi)

Dalam budaya Bugis simbol Empat Sisi punya makna filosofis tersendiri. Konsep empat sisi ini menurut pandangan hidup masyarakat Bugis pada zaman dahulu yaitu berkenaan bagaimana memahami alam semesta secara universal. Dalam falsafah dan pandangan hidup Bugis terdapat istilah sulapa’ eppa’ yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia.

Jadi segala sesuatu baru dikatakan sempurna dan lengkap jika memiliki sulapa’ eppa’.
Demikian pula pandangan mereka tentang rumah, yaitu sebuah rumah akan dikatakan bola genne’ atau rumah sempurna jika berbentuk segi empat, yang berarti memiliki empat kesempurnaan.

Tiga Tingkatan Alam (Makrokosmos)

Tiga Alam, Filosofi Bentuk Rumah Bugis
Rumah bagi orang Bugis tidak sekedar tempat tinggal atau obyek materiil yang indah dan menyenangkan, namun pendirian rumah tradisional Bugis lebih diarahkan kepada kelangsungan hidup manusia secara kosmis. Oleh karena itu, konstruksi rumah tradisional Bugis sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas struktur kosmos.

Menurut pandangan hidup masyarakat Bugis zaman dahulu, simbol alam raya (makrokosmos) tersusun atas tiga tingkatan, yaitu alam atas (botting langi), alam tengah (lino), dan alam bawah (uri liu).

1. Alam atas adalah tempat para dewa yang dipimpin oleh satu dewa tertinggi bernama Dewata SeuwaE (Dewa Tunggal).
2. Alam tengah adalah bumi yang dihuni oleh para wakil dewa tertinggi untuk mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi, serta mengatur jalannya tata tertib kosmos.
3. Alam bawah adalah tempat yang paling dalam yaitu berada di bawah air.

Berdasarkan pandangan hidup tersebut, maka konstruksi rumah tradisional Bugis harus terdiri tiga tingkatan, yaitu rakkeang (alam atas), ale bola (alam tengah), awa bola (alam bawah), di mana keseluruhan bagian tersebut masing-masing memiliki fungsi.

Saoraja dan Bola

Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi bentuk rumah mereka, yang ditandai dengan simbol khusus. Berdasarkan pelapisan sosial tersebut, maka bentuk rumah tradisional orang Bugis dikenal dengan istilah Saoraja (Salassa) dan Bola.
Saoraja berarti rumah besar, yakni rumah yang ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan bola berarti rumah biasa, yakni rumah tempat tinggal bagi rakyat biasa.

Rumah Bugis

Dari segi struktur dan konstruksi bangunan, kedua jenis rumah tersebut tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran rumah dan status sosial penghuninya. Pada umumnya, Saoraja lebih besar dan luas daripada Bola yang biasanya ditandai oleh jumlah tiangnya. Saoraja memiliki 40-48 tiang, sedangkan Bola hanya memiliki 20-30 tiang.

Timpa’  Laja

Sementara perbedaan status sosial penghuninya dapat dilihat pada bentuk tutup bubungan atap rumah yang disebut dengan timpa’ laja. Bangunan saoraja memiliki timpa’ laja yang bertingkat-tingkat, yaitu antara 3 hingga 5 tingkat, sedangkan timpa’ laja pada bangunan Bola tidak bertingkat alias polos. Jadi semakin banyak jumlah tingkat timpa’ laja sebuah saoraja, semakin tinggi pula status sosial penghuninya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...