No menu items!
0.6 C
Munich
Kamis, 26 November 20

Tuah Bugis Dua Temmassarang Tellu Temmallaiseng

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sangat banyak petuah-petuah berbahasa Bugis yang sering dituturkan leluhur kita. Sebagai warga yang tumbuh besar di kampung Bugis tepatnya salah satu desa di bilangan Bone Utara.

Sejak kecil saya banyak mendengar kata-kata bijak leluhur Bugis, dalam berhubungan sosial misalnya Siatting lima, Sitonra ola, tessibelleang, Tessipano, Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, Malilu Sipakainge, dan lain-lain.

Adapula tutur kata Bugis yang yang sifatnya sastra, misalnya Duami Riala Sappo Unganna Panasae Belona Kanukue yang bermakna Unganna Panasae disebut Lempu yang berarti lurus/jujur kemudian Belona kanukue yang bermakna Pacci/Paccing yang berarti Bersih. Sebelumnya adalah Duami Riala Sappo yang bermakna hanya dua yang dijadikan sebagai pagar (Sappo).

Jadi ada dua unsur yang melekat dalam diri orang Bugis dalam melakoni hidup yakni Lempu (lurus/jujur) dan Paccing (bersih). Pacci dalam bahasa Indonesia disebuat daun pacar yang biasa digunakan untuk pewarna kuku.

Selain itu ada juga ungkapan penyemangat hidup “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase dewata” dalam bahasa Indonesia adalah “hanya dengan kerja keras dan ketekunan akan mudah mendapatkan ridha Tuhan”. Hal ini bermakna dalam hidup ini untuk mendapatkan cita dan harapan haruslah bekerja keras dengan tekun, sabar, tabah, pantang menyerah.

Orang Bugis dikenal pantang menyerah dan gigih dalam berusaha. Pepatah inilah Resopa Temangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata yang selalu dipegang kuat sebagai pemicu semangat dalam meniti hidup. Ini juga dijadikan motivasi bagi mereka yang meninggalkan tanah Bugis ke tempat perantauan.

Tak jarang juga terdapat kata-kata bijak orang Bugis yang memiliki makna spiritual tinggi, misalnya Lima Temmassarang Asera Temmallaiseng selain itu ada juga kalimat seperti Dua Temmassarang Tellue Temmallaiseng dan lain sebagainya.

Tapi sayang sekali kearifan lokal Bugis di atas banyak ditinggalkan generasi Bugis sekarang jangankan mengetahui apalagi memahami terlebih makna yang terkandung di dalamnya.

Yang menjadi keprihatinan kita adalah dimasa mendatang bukan mustahil generasi penerus Bugis lebih memahami budaya luar dari pada budayanya sendiri, bahkan sudah tidak mampu lagi menuturkan bahasa Bugis.

Baik, mari kita memasuki pokok persoalan, saya hanya akan menguraikan sedikit makna tentang kalimat DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG sesuai yang sering saya dengar dari orang tua sejak kecil.

Ungkapan Bugis DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG dalam bahasa Indonesia adalah DUA TAK TERCERAIKAN TIGA TAK TERPISAHKAN. Kalimat ini memiliki makna yang sangat dalam yang bersifat spritual dan bisa menghasilkan beragam penafsiran.

Kata DUA TEMMASSARANG (dua yang tak terceraikan) ini adalah antara Pencipta dan yang diciptakan yakni antara TUHAN dengan HAMBA. Keduanya berbeda tapi tidak terceraikan dan tidak mungkin terpisahkan. Artinya, bahwa Hamba adalah bagian dari Tuhan, namun hamba bukanlah Tuhan.

Ketika tidak ada hamba siapa yang bertindak sebagai Tuhan?, dan ketika tidak ada Tuhan siapa selaku hamba? Oleh karena itu, Hamba adalah bagian dari Tuhan, akan tetapi hamba bukanlah Tuhan. ” Pajeppui Alemu Esseri Pawinrumu, Pajeppui Alemu Temmupada Pawinrumu”. Kenalilah Dirimu yakinlah yang menciptakanmu, Kenalilah Dirimu namun tidak sama yang menciptakanmu.

Kalimat selanjutnya TELLU TEMMALLAISENG yang berarti TIGA TAK TERPISAHAN yang artinya jika salah satunya mengalami masalah maka yang lainnya pun ikut bermasalah, salah satunya yang sakit maka yang lainnya pun turut sakit.

Jadi yang termaktub di dalam TELLU TEMMALLAISENG adalah Ininnawa (kata hati), Werekkada (ucapan), dan Pangkaukeng/Ampekedo (perbuatan). Maksudnya ketika kata hati/ininnawa selaras dengan ucapan/werekkada, maka perbuatan dan tindakan begitupun adanya.

Oleh karena itu, apabila dipadukan dengan makna kedua kalimat DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG yakni antara Tuhan dan Hamba tidak terpisahkan dan jalani hidup seiring niat, ucapan, dan perbuatan. Hal ini sejalan dengan konsep tuntunan kesempurnaan hidup manusia yaitu “Ininnawa mpinru sadda, kemudian sadda mpinru Ada, selanjutnya ada mpinru Gau, dan Gau mpinru Tau”. kemudian Tau mpinru Deceng (kebaikan).

Tuah-tuah Bugis ini telah mengakar dalam jiwa setiap orang bugis dan menjadi keyakinan orang Bugis sampai saat ini. Jadi konsep DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG merupakan suatu ajaran yang melihat masalah wujud dalam hal ini Tuhan, alam, dan manusia sebagai suatu kesatuan. Namun berada pada dimensinya masing-masing, dan Tuhan meliputi segala yang ada.

Begitu dalam sebenarnya makna dari kata DUA TEMMASSARANG TELLU TEMMALLAISENG namun sayangnya terkadang kita sebagai orang Bugis tidak tertarik untuk mengkaji kearifan dari leluhur kita.

Harus disadari, bahwa kearifan kita menyimpan begitu banyak nilai yang bisa dikaji kemudian diamalkan. Contoh di atas, baru secuil kalimat yang bisa dikemukakan di sini, sesungguhnya kalimat-kalimat di atas banyak tersimpan rapat di mulut para penutur Bugis itu sendiri.

Saya pun terheran-heran atas kecerdasan yang dimiliki para pendahulu Bugis yang mampu mengolong-golongkan antara kehidupan nyata dan tidak nyata kemudian dijadikannya sebagai SIMA’/Jimat hidup sehingga mampu memecahkan segala permasalahan hidupnya dan mampu menembus batas alam nyata dan tak nyata.

Terakhir, marilah kita jaga kearifan lokal kita agar bisa berkesinambungan, ambillah yang dianggap baik dan singkirkan yang kurang baik. Tentunya kembali kepada pembaca sendiri.

Sebagaimana petuah Bugis :

” Tenrinawa kessinna bunga sitakke rilipu tenritae, uni manu, gilittinro tengnga benni rilaleng nippi-nippie”.

“Ininnawa sumange bunga ripalla riwiring passiring, mattakke, madduang, mabbuah, mattappa unga ulaweng”.

Berita sebelumyaKumpulan Petuah Bugis
Berita berikutnyaPuisi Teluk Bone
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...