No menu items!
Senin, 13 Juli 20

Raja Bone Ke-2 La Ummasa, 1365-1368

LA UMMASA menggantikan Manurunge ri Matajang sebagai raja di Bone. Setelah La Ummasa meninggal maka digelarlah To Mulaiye Panreng (orang yang mula-mula dikuburkan). La Ummasa hanya dinaungi dengan kaliyao (tameng) kalau dia bepergian untuk melindungi diri dari teriknya matahari. Hal ini dilakukan karena tidak ada lagi payung di Bone.

La Ummasa digelar pula Petta Panre Bessie (pandai besi) karena dialah yang mula-mula menciptakan alat-alat dari besi di Bone. Di samping itu La Ummasa sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki berbagai kelebihan seperti daya ingatnya tajam, penuh perhatian, jujur, adil dan bijaksana. Saudara perempuannya yang bernama We Pattanra Wanuwa kawin dengan Arung Palakka yang bernama La Pattikkeng.

Konon La Ummasa pernah bermusuhan dengan iparnya selama tiga bulan dan tidak ada yang kalah. Akhirnya berdamai kembali dan keduanya menyadari bahwa permusuhan tidak akan membawa keuntungan. Untuk memperluas wilayah pemerintahannya, La Ummasa menaklukkan wilayah-wilayah sekitarnya, seperti ; Anro Biring, Majang, Biru, Maloi, dan Cellu.

La Ummasa tidak memiliki putra mahkota yang kelak bisa menggantikan kedudukannya sebagai Mangkau’ di Bone. Dia hanya memiliki anak perempuan,To Suwalle dan To Sulewakka dari isterinya yang berasal dari orang biasa atau bukan turunan bangsawan.

Oleh karena itu, setelah dia tahu bahwa We Pattanra Wanuwa akan melahirkan, La Ummasa menyuruh anaknya pergi ke Palakka ke rumah saudaranya We Pattanra Wanuwa yang diperisterikan oleh Arung Palakka yang bernama La Pattikkeng.

Kepada anaknya To Suwalle dan To Sulewakka, La Ummasa berpesan :

“Kalau Puammu telah melahirkan, maka ambil anak itu dan bawa secepatnya kemari. Nanti di sini baru dipotong ari-arinya dan ditanam tembuninya”

Tidak berapa lama setelah To Suwalle dan To Sulewakka tiba di istana We Pattanra Wanuwa, lahirlah anak laki-laki yang sehat dan memiliki rambut yang tegak ke atas (dalam bahasa Bugis disebut : korang) karena itu dinamakan Korampelua. Ketika anaknya dibawa ke Bone, Arung Palakka tidak ada di tempat dan tindakan itu menyakitkan hatinya.

Sesampainya di istana Arumpone, bayi tersebut barulah dipotong ari-arinya dan dicuci darahnya. Bayi itu dipelihara oleh saudara perempuan La Ummasa Arumpone yang bernama We Samateppa. Arumpone La Ummasa mengundang seluruh rakyatnya untuk datang berkumpul dan membawa senjata perang. Keesokan harinya berkumpullah seluruh rakyat lengkap dengan senjata perangnya.

Dikibarkanlah bendera Woromporonge dan turunlah La Ummasa Arumpone di Baruga menyampaikan :

“Saya undang kalian untuk mendengarkan, bahwa saya telah mempunyai anak laki-laki yang bernama La Saliyu Korampelua. Mulai hari ini saya menyerahkan kedudukan saya sebagai Arumpone”

” Dan kepadanya pula saya serahkan untuk melanjutkan perjanjian yang pernah disepakati antara Puatta Manurunge ri Matajang dengan orang Bone”.

Setelah mendengarkan pesan-pesan itu, maka pada waktu itu seluruh orang Bone serempak aklamasi menyetujui kemudian ia mangosong, yaitu mengucapkan sumpah setia).

Dilantiklah La Saliyu Korampelua menjadi Arumpone. Acara pelantikan itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dalam acara itu pula Nariule Sulolona, yautu selamatan atas lahirnya), dan ditanam tembuninya. Setelah itu dinaikkanlah La Saliyu Korampelua ke Langkanae ( Singgasana Istana).

Sejak dilantiknya La Saliyu Korampelua menjadi raja Bone, maka setiap La Ummasa akan bepergian selalu menyampaikan kepada pengasuhnya dalam hal ini saudaranya sendiri yang bernama We Samateppa. Jadi La Saliyu Korampelua adalah kemanakan dari La Ummasa.

Ketika La Ummasa sakit keras yang menyebabkan ia meninggal dunia, maka digelarlah La Ummasa Mulaiye Panreng, artinya orang yang mula-mula dikuburkan.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Attoriolong Naskah Kuno Bugis

Naskah Kuno Bugis yang biasa disebut "attoriolong" yang banyak memuat seluk beluk kehidupan Bugis di masa lampau. Naskah asli attorioling ditulis dalam huruf lontara....

Mantra Bugis

Mantra Bugis merupakan susunan kata-kata mengandung kekuatan gaib. Mereka sangat percaya akan adanya kekuatan gaib yang terkandung dalam mantra untuk merealisasikan tujuannya ke dalam...

Mengemas ”Cinta” Dalam Bahasa Bugis

Mengutarakan cinta adalah sesuatu yang wajar-wajar saja dalam kehidupan ini. Cinta merupakan aset dan milik asasi setiap mahluk hidup. Bayangkan kalau tidak ada rasa...

Aksara Lontara’ Bisa Masuk Program Legislasi Daerah

Aksara lontaraq, yang merupakan aksara khas masyarakat Sulawesi Selatan, bisa diusulkan untuk jadi program legislasi daerah (prolegda). Dengan catatan, perlu pengkajian mendalam dan melibatkan berbagai...