No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Imaniratu, Perempuan Bugis Berhati Baja

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Dalam lembaran sejarah Kerajaan Bone ditemukan banyak catatan yang memperlihatkan keberagaman sikap raja-raja yang memerintah di kerajaan tersebut. Sikap yang bernilai kejuangan baik dalam upaya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negerinya dari serangan musuh, maupun dalam tata cara pelaksanaan sistem pemerintahannya.

Interpretasi kesejarahan tentang Kerajaan Bone memang telah dilakukan oleh banyak pihak berupa rekaman masa silam melalui berbagai tulisan dan pemaparan. Namun sejumlah keterangan baik dalam lontarak maupun cerita lisan terasa masih sangat kurang, bahkan banyak yang sulit untuk dipahami dan hanya dapat dipandang sebagai mitologi belaka. Oleh karena itu penggalian data dan fakta sejarah selanjutnya dibutuhkan untuk menemukan mata rantai sejarah yang hilang utamanya pasa masa kedatangan bangsa asing dari Eropah (Inggris dan Belanda) dengan maksud penjajahannya.

Tulisan singkat yang mengangkat sedikit tentang We Maniratu Arung Data Raja Bone-25 (1823-1835) ini, pada dasarnya merupakan penelusuran eksistensi kejatidirian masyarakat Bone di masa lampau. Data yang sedikit ini diharapkan dapat member konstribusi sejarah lokal kerajaan Bone yang berhubungan dengan Penggalian nilai-nilai Kepahlawanan We Maniratu Arung Data Raja Bone ke-25.

Meskipun harus diakui bahwa materi diketengahkan dalam tulisan ini masih sangat kurang bahkan mungkin tidak terlalu penting, namun setidaknya dapat menjadi sekadar “ tanda baca “ dari untaian kalimat sejarah-sejarah Kerajaan Bone yang panjang dan berliku-liku.

Penuturan sejumlah rentetan peristiwa dalam rangka upaya mengungkapkan data dan fakta sejarah Kerajaan Bone, terutama pada masa kedatangan bangsa asing dengan maksud penjajahannya, memang sangat penting untuk dilakukan. Karena data dan fakta sejarah tersebut, tidak hanya memberikan dan mengungkapkan keterangan-keterangan yang objektif berhubungan sikap dasar orang Bugis yang dikenal dengan siri dan pesse’ Tetapi juga tentang nilai-nilai kejuangan yang dilakukan oleh seorang raja dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan wilayah kekuasaannya.

We Maniratu Arung Data merupakan salah satu dari enam raja perempuan yang pernah memerintah di Kerajaan Bone, yaitu: 1. We Banrigau Makkaleppie Mallajange ri Cina Ratu Bone ke-4 (1496-1516), 2. We Tenri Pattuppu Ratu Bone ke-10 (1602-1611), 3. Batari Toja Daeng Talaga Ratu Bone ke-17 (1714-1715), kemudian terpilih lagi sebagai Raja Bone ke-21 (1724-1749) 4. We Maniratu Arung Data Ratu Bone ke-25 (1823-1835), 5. Pancaitana Besse Kajuara Ratu Bone ke-28 (1857-1860), dan 6. Fatimah Banri Ratu Bone ke-30 (1871-1895).

Atas mufakat dari anggota Dewan Ade’ Pitu Kerajaan Bone dalam tahun 1823, We Maniratu Arung Data diangkat menjadi Raja Bone XXV menggantikan saudaranya yaitu To Appatunru Matinroe’ ri Ajang Benteng Raja Bone ke-24 (1812-1823). Pada masa pemerintahannya, We Maniratu Arung Data dikenal sebagai raja yang paling anti penjajahan Belanda.

Untuk lebih mengenal seseorang perlu ada upaya untuk mengorek lebih jauh tentang nama, gelar, dan atribut lain yang melekat pada dirinya. Bahkan lebih dari itu, perlu pula ditelusuri tentang asal-usulnya, nama kedua orang tuanya, tempat dan waktu kelahirannya. Seperti halnya Raja Bone-XXV yang memerintah dari tahun 1823-1835, kelihatannya ada beberapa versi tentang namanya.

Dari berbagai catatan ditemukan beberapa nama Raja Bone-XXV yang digelar Matonroe ri Kessi (Yang wafat di Kessi), di mana sejumlah penulis sejarah mencatatnya, antara lain ;

1. Abdurazak Daeng Patunru, dkk. Dalam “sejarah Bone “ yang diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Tahun 1989,menuliskan nama Raja Bone-XXV (1823-1835) adalah I Benni Arung Data Matinroe ri Kessi.

Catatan ; menurut berbagai sumber dari tokoh masyarakat setempat mengatakan bahwa nama I Benni Arung Data, ditemukan pada catatan-catatan Belanda yang berusaha untuk menguasai Bone pada masa pemerintahan Raja Bone-XXV tersebut. Kalau keterangan ini benar, maka kemungkinan nama I Benni Arung Data hanyalah mengikuti ucapan Belanda yang tidak terlalu pasih dalam menyebut We Maniratu Arung Data. Tentang hal ini, mungkin perlu untuk dilakukan penggalian dan penelusuran yang lebih mendalam.

2. Dalam lontara’ Akkarungeng Bone yang diterbitkan dengan biaya pemerintah Daerah Tkt. I Sulawesi Selatan Tahun 1985, tertulis nama Arungpone ke-25, adalah We Manneng Arung Data.

3. Dalam buku Bone Selayang Pandang yang ditulis oleh Andi Muhammad Ali (1986) menyebut nama Arungpone-XXV adalah I Mani Arung Data.

4. Dalam buku Arus Perjuangan di Sulawesi Selatan, tahun 1989 yang ditulis oleh Drs. Sarita Pawiloi, menyebutkan nama Raja Bone-XXV (1823-1835), adalah I Maning Arung Data.

5. Dalam naskah sejarah Bone yang ditulis oleh Andi Palloge Petta Nabba (tanpa tahun) menyebutkan nama Raja Bone-XXV (1823-1835), adalah I Maniratu Arung Data digelar Sultanah Rajituddin Matinroe’ ri Kessi.

6. Sedangkan dalam Sure’ Bilang (catatan harian) La Tenritappu Matinroe’ ri Rompegading Raja Bone ke-25 (1775-1812) yang tidak lain adalah ayah kandung Raja Bone ke-25, diketahui bahwa anak perempuannya itu bernama We Maniratu. Pada saat riulo sulolona (acara tradisional atas kelahiran seorang anak) dihadiahkan akkarungeng (wilayah kekuasaan) yaitu “Data”. Menurut sejumlah tokoh masyarakat, tempat itu berada dalam wilayah Lalebbata (Ibukota Kerajaan Bone). Dengan demikian anak perempuannya itu bernama lengkap We Maniratu Arung Data.

Tentang tempat yang bernama “Data” sampai saat sekarang juga masih menjadi kontraversi, sebab ada yang berpendapat bahwa Data berada dibagian selatan Kerajaan Bone.

Dalam Sure’ bilang La Tenritappu tersebut diketahui bahwa We Maniratu Arung Data lahir pada tanggal 14 Oktober 1776, seperti bunyi catatan sebagai berikut:

“14 Oktober 1776, purai 10 garagatae’ najaji ana’na Puanna Batara Tungke’ Makkunrai Ana’na-Alhamdu lillah” artinya; 14 oktober 1776, sesudah pukul sepuluh malam lahirlah anak Puanna Batari Tungke’ Perempuan anaknya, Alhamdulillah”.

“Upakuru sumange- I Puanna Batara Tungke seddi jemma- ana’na uwareng inungeng butung, karawik ulaweng” artinya; saya bangkitkan semangat Puanna Batara Tungke dengan memberinya orang satu, anaknya saya beri gelas minum butung- keramik emas”.

Selanjutnya pada tanggal 23 Desember 1776, La Tenritappu To kembali menulis catatan  sebagai berikut:

“Utudattudang ri Salassae mitaitai We Maniratu” artinya; saya duduk-duduk di saoraja menemui We Maniratu”

Menurut Sure’ Bilang tersebut, Batara Tungke Arung Timurung adalah anak pertama La Tenritappu dengan istrinya We Padauleng atau We Tenripada, yang lahir pada tanggal 12 April 1775, We Maniratu Arung Data Raja Bone ke-25 (1823-1835) adalah anak ke-2 yang lahir pada tanggal 14 Oktober 1776. Sedangkan La Mappasessu To Appatunru Arung Palakka Raja Bone-XXIV (1812-1823) adalah anak ke-3 yang lahir pada tanggal 12 Mei 1791.

Dalam Lontara Akkarungeng Bone diketahui bahwa La Tenritappu dengan isterinya We Tenripada melahirkan 13 orang anak, yaitu; 1. Batara Tungke Arung Timurung, 2. We Maniratu Arung Data, 3. La Mappasessu To Appatunru Arung Palakka, 4. La Mappaseling Arung Panyili, 5. La Tenrisukki Arung Kajuara, 6. We Kalaru Arung Pallengoreng, 7. La Tenribali Arung Ta’, 8. La Mappaewa Arung Lompu, 9. La Paremma Rukka Arung Karella, 10. La Temmu Page Arung Paroto, 11. La PAttuppu Batu Arung Tonra, 12. La Pawawoi Arung Timurung, dan 13. I Mamuncaragi.

Mungkin banyak yang berpendapat bahwa apalah apalah arti sebuah nama untuk dipermasalahkan, namun “nama” adalah identitas yang paling melekat pada diri seseorang sekaligus membuatnya abadi dalam lembaran sejarah kehidupannya.

Apalagi nama seorang ratu seperti We Maniratu Arung Data Raja Bone XXV yang pada masa hidupnya memiliki banyak aktivitas yang berorientasi kepada kemaslahatan negeri dan bangsanya dalam menghadapi penjajah Belanda.

Siapa itu We Maniratu Arung Data ?
Sebelum mengungkap lebih jauh tentang kisah-kisah heroiknya dalam mempertahankan Kerajaan Bone dari serbuan tentara Belanda pada masa pemerintahannya sebagai Raja Bone XXV (1823-1835), ada baiknya menelusuri sedikit tentang siapa sesungguhnya We Maniratu Arung Data itu.

Baginda I Maniratu adalah anak ke-2 dari La Tenritappu Matinroe’ ri Rompegading Raja Bone-XXIII (1775-1812) dengan isterinya Wepada Uleng Arung Timurung. Dalam lontara Akkarungeng Bone diketahui bahwa La Tenritappu adalah anak dari We Hamidah Arung Takalara’ yang juga dikenal dengan gelar Petta Matowae dengan isterinya La Mappapenning Daeng Makkuling sepupu satu kalinya yang bernama We Padauleng atau We Tenripada anak dari saudara laki-laki We Hamidah Arung Takalara’, yaitu La Baloso To Akkaottong Ponggawa Bone dengan isterinya Arung Lompeng.

Dari perkawinan tersebut, melahirkan 13 orang anak di antaranya adalah We Maniratu Arung Data yang kemudian menjadi Raja Bone-XXV (1823-1835).

La Tenri Tappu dan We Mahidah Arung Takalara’ adalah anak La Temmassonge To Raja Bone-XXII Matinroe ri Malimongeng (1749-1775) dengan isterinyan We Mommo Sitti Aisyah yaitu cucu Syekh Yusuf (Tuanta Salamaka ri Gowa).

Sedangkan La Temmassonge To Appaweling adalah anak dari La Patau Matanna Tikka Matinrore’ri Nagauleng Raja Bone ke-16 (1696-1714) dengan isterinya We Sundari Datu Baringeng (Soppeng).

Dari Sure Bilang (catatan harian) La Tenritappu diketahui, bahwa We Maniratu Arung Data lahir pada tanggal 14 Oktober 1776 di Lalebata (Watampone). Pada waktu itu La Tenritappu baru satu tahun memangku jabatan sebagai Arumpone (Raja Bone).

Cerita lisan yang terdapat dalam masyarakat Bone mengatakan bahwa sejak kecil We Maniratu telah memperlihatkan sikap pemberani yang melebihi sikap laki-laki. Walaupun dia seorang anak perempuan, tetapi keberaniannya senantiasa terlihat terutama dalam membela teman-temannya yang mendapat masalah dengan orang lain, termasuk dalam hal mempertahankan pendapat yang dianggapnya benar.

Keberaniannya dalam mempertahankan hak-hak yang dianggapnya benar semakin nampak ketika diangkat oleh Dewan Ade’ Pitu Kerajaan Bone menjadi Arumpone (Raja Bone)-XXV pada tahun 1823.

Pengangkatannya itu adalah untuk menggantikan saudaranya yaitu To Appatunru Raja Bone-XXIV yang juga dikenal sebagai raja yang sangat anti penjajahan.

Misalnya saja pada masa pemerintahannya We Maniratu Arung Data dikenal sebagai pelopor bagi sebagian raja-raja di Sulawesi Selatan dalam menolak pembaharuan perjanjian Bungaya (18 November 1667) yang dikehendaki oleh Belanda setelah memenangkan Perang Eropa dengan mengalahkan Inggris.

Sebagai akibat pembangkangan Raja Bone We Mani itu, maka pada tanggal 14 Maret 1824, Kerajaan Bone di bawah kepemimpinan We Mani diserang oleh pasukan Belanda yang dipimpin oleh jenderal Van Goen melalui Pantai Bajoe (Andi Muh. Ali, 1986 ; 60).

Kekuatan militer Belanda di Sulawesi Selatan di bawah pimpinan Jenderal Van Goen, memang kelihatan kewalahan untuk menghadapi perlawanan raja-raja yang menolak untuk menjalin kerja sama, terutama Raja Bone yang dengan tegas menyatakan tidak mau kerja sama dengan pihak Belanda.

Kedatangan bangsa asing dari Eropa (Inggris dan Belanda) di Sulawesi Selatan dimulai kembali pada tahun 1814. Ketika itu bangsa Inggris menggantikan Belanda menjajah Nusantara sejak tahun 1811.

Pada akhir tahun 1811, Inggris menduduki Makassar. Residen bangsa Inggris yang bernama Philips berkeinginan mengatur segala sesuatunya baik pemerintahan maupun perdagangan dan lain-lain sesuai dengan kemauannya semata.

Tetapi maksud tersebut ditolak oleh Raja Bone To Appatunru Arung Palakka yang merupakan saudara kandung We Maniratu Arung Data. Raja ini cukup keras dan anti penjajahan asing.

Setiap rencana penguasa Inggris ditolaknya dengan tegas, akhirnya pada tanggal 2 Juni 1814 penguasa Inggris mengirim pasukan ke Bone di bawah pimpinan Jenderal Mayor Nightingale untuk menyerang dan melumpuhkan pertahanan Raja Bone To Appatunru.

Karena kalah kuat, maka pasukan Bone mundur ke arah Maros dan tetap melakukan perlawanan dengan taktik perang gerilya. Dengan demikian, pasukan Inggris berhasil menduduki kota Watampone. Tetapi pasukan Inggris tidak menetap di kota Watampone dan kembali ke Makassar. Hal ini membuat pasukan Bone lebih bebas mengatur perlawanan yang dibantu oleh pasukan Maros dan kerajaan lainnya.

Pada tahun 1816 berdasarkan Comvention London, Belanda mengambil alih kekuasaan tersebut dari Inggris. Di Makassar penyerahan kekuasaan tersebut berlangsung pada bulan Oktober 1818. Selanjutnya pada tahun 1824 Gubernur Jenderal Van der Capellen datang ke Makassar.

Ia sangat khawatir dengan berkobarnya perlawanan yang makin hebat dari kalangan raja-raja di Selawesi Selatan. Untuk itu diundanglah raja-raja di Sulawesi Selatan ke Makassar guna diajak kerja sama. Sejumlah raja memang bersedia hadir untuk menandatangani perjanjian Ujung Pandang yang merupakan pembaharuan dari Perjanjian Bungaya. Akan tetapi raja Bone, Luwu, Wajo, Soppeng, Suppa dan raja-raja Mandar tidak hadir.

Di antara raja-raja yang tidak mau menjalin kerja sama dengan Belanda adalah Raja Bone yang pada waktu itu telah dijabat oleh We IvManiratu Arung Data Matinroe ri Kessi. Raja perempuan ini adalah saudara dari Raja Bone-XXIV To Appatunru Arung Palakka yang kelihatannya lebih anti penjajahan asing. We Maniratu Arung Data lebih tegas menyatakan penolakannya untuk kerja sama dengan pihak penjajah.

Menurut sumber-sumber lisan, untuk memperkuat pasukannya We I Maniratu Arung Data membentuk pasukan wanita yang dilengkapi dengan senjata “lawida“(semacam alat tenun yang runcing). Di samping itu, semakin ditingkatkan pula jumlah pasukan laki-laki yang ditempatkan diberbagai titik pertahanan. Lalu dengan jiwa kesatria We Maniratu Arung Data bersama pasukan wanitanya terjun langsung ke medan perang untuk menghadapi musuh.

Melihat kekuatan pasukan Bone dan Rajanya yang sangat anti penjajahan, membuat Belanda sangat khawatir. Apalagi setelah diketahui bahwa Raja Bone mengadakan kerja sama dengan kerajaan tetangganya seperti Maros, Sinjai, Pangkajenne, Soppeng, Wajo, Luwu dan lain-lain.

Oleh karena itu, colonel van Schelle selaku pimpinan Belanda di Makassar terpaksa meminta bantuan tambahan pasukan dan persenjataan dari Batavia. Untuk itu, dikirimlah dari Batavia pasukan di bawah pimpinan Kolonel Bischoff dan bertugas untuk merebut kembali Maros, Pangkajenne, dan Sigeri dari kekuasaan pasukan Bone yang telah lama mendudukinya.

Kemudian pada akhir tahun 1824 Jenderal Mayor J.J.Van Geen datang pula dari Batavia dengan tugas ekspedisi yang terdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, artileri, dan angkatan laut yang dipimpin Kapten Terzee Piterzen.

We Maniratu Arung Data selaku Raja Bone memang telah menyusun suatu strategi dan persiapan yang cukup matang untuk menghadapi ekpedisi Jenderal Mayor Van Geen tersebut.

Raja wanita yang berhati baja itu tidak henti-hentinya membakar semangat pasukan Bone untuk melawan pasukan penjajah Belanda. “ Jangan biarkan penjajah Belanda itu menginjakkan kakinya di Tana Bone“ demikian kalimat-kalimat yang selalu diserukan oleh We Maniratu Arung Data kepada pasukan Bone yang sedang berada di medan perang.

Menurut cerita lisan yang terdapat dalam masyarakat Bone diketahui bahwa We Maniratu Arung Data adalah seorang wanita yang keberaniannya melebihi keberanian sebahagian laki-laki.

Hal ini nampak pada saat memimpin pertempuran melawan Belanda di berbagai tempat. Masih menurut cerita lisan tersebut mengatakan bahwa We Maniratu Arung Data kemanapun ia pergi selalu membekali diri dengan keris dipinggang, walaupun ia tetap dijaga oleh pasukan kerajaan Bone.

Untuk memasuki wilayah kerajaan Bone, pasukan Belanda terlebih dahulu harus berhadapan dengan pasukan Maros, Bantaeng, Bulukumba dan Sinjai. Oleh karena itu ekpedisi van Geen baru berhasil menembus pertahanan pasukan Bone di Bajoe pada tanggal 24 Maret 1825, setelah membumihanguskan Sinjai pada tanggal 19 Maret 1825.

Kenyataan tersebut menandakan bahwa Raja Bone We Maniratu Arung Data mendapat dukungan kuat dari raja-raja tetangganya dalam melawan penjajah Belanda. Setelah pesisir selatan, seperti Bulukumba dan Bantaeng di bersihkan oleh tentara Belanda di bawah pimpinan Mayor Lobron de Vosela, melanjutkan perjalanan ke Kajang dan Sinjai dengan maksud bertemu dengan induk pasukan yang akan memasuki Bone (Abdurrazak Daeng Patunru, 1989 ; 247)

Kerajaan Bone di bawah kepemimpinan We Maniratu Arung Data melawan Belanda hingga akhir tahun 1835 yaitu setelah We Maniratu Arung Data wafat dan digantikan oleh saudaranya La Mappaseling Arung Panyili sebagai Raja Bone XXVI.

Dalam lontara akkarungen Bone disebutkan bahwa We Maniratu Arung Data wafat pada tahun 1835 di Kessi pada usia 59 tahun. Menurut berbagai sumber mengatakan bahwa tempat yang bernama Kessi itu berada dalam Lalebbata (Ibukota Kerajaan Bone).

Namun sampai hari ini belum ditemukan bukti akan keberadaan tempat tersebut, sehingga masih menjadi kontroversi di kalangan pemerhati sejarah lokal. Karena sebagian pula yang mengatakan bahwa Kessi berada dibagian selatan Kerajaan Bone. Mungkin perbedaan seperti itu perlu dilakukan penelusuran yang lebih jauh untuk menentukan tempat yang bernama Kessi divmana We Maniratu wafat.

Dikatakan pula bahwa We Maniratu Arung Data selama hidupnya tidak pernah menikah, sehingga tidak memiliki keturunan langsung.

Akhirnya, “Alai sedde’e’ narekko engkai mappedeceng – sampeyangngi maegae narekko engkai makkasolang” (ambillah yang sedikit kalau dapat berguna-tolaklah yang banyak kalau bakal menyulitkan).

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...