No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Desa Pongka dan Tradisi Sirawu Sulo

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Pongka salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattinge, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Asal usul masyarakat yang mendiami desa ini berasal dari kerajaan Baringeng yaitu salah satu kerajaan yang pernah ada di kabupaten Soppeng dimasa lalu.

Berawal dari kisah, Ada dua anak dari Raja Baringeng, Soppeng memiliki watak yang berbeda, yaitu kurang baik dan baik. Perilaku anaknya yang kurang baik bersikap semena-mena kepada rakyat dan suka mengganggu gadis-gadis atau anak dara di daerahnya.

Melihat kelakuan saudaranya tersebut, maka Petta Mabbaranie pergi meninggalkan Soppeng bersama dua orang penglima perang yaitu Petta Makkulli Dajangnge, dengan membawa gendang ajaib yang dijadikan pedoman untuk menentukan arah dan tempat yang akan dituju, sekaligus menjadi alat untuk menghibur dan menghilangkan lelah rombongan itu dalam petualangan dan pengembaraannya

Petta Mabbaranie berjalan ke arah timur dan setiap persinggahan yang yang dilalui gendang ajaib tersebut ditabuh, dan ternyata bunyi yang dikeluarkan gendang tersebut berbeda-beda disetiap tempat yang disinggahi.

Di suatu tempat persinggahan, tiba-tiba gendang tersebut berbunyi nyaring (macenno) dan untuk mengenang peristiwa tersebut, maka mereka sepakat bahwa tempat peristirahatan itu diberi nama ‘Lacenno’ (sekarang kampung Lacenno Desa Mario Kecamatan Dua Boccoe kabupaten Bone).

Petta Mabbaranie dan rombongan melanjutkan perjalannnya, dipersinggahan selanjutnya bunyi gendang tersebut meriuh atau ramai riuh bergerumuh (Mario – dalam bahasa Bugis) sehingga kampung tersebut diberi nama ‘Mario’.

Begitu seterusnya, sampai akhirnya tibalah rombongan tersebut di suatu tempat persinggahan, kembali gendang ditabuh dan mengeluarkan bunyi yang berbeda dan membawa suasana hati para rombongan menjadi tenang dan bahagia.

Perjalanan selanjutnya, rombongan itu dari kejauhaan mereka melihat sebuah pohon besar dalam bahasa Bugis (engka pong). Ketika sampai di dekat pohon itu, gendang ditabuh
dengan mengeluarkan bunyi yang unik, kang…kang…kang… yang berarti ‘engka’ dalam bahasa Bugis artinya ada. Kemudian rombongan itu menyebut daerah itu Pongka sampai sekarang. Kata ‘pongka’ diawal kata pong berarti pohon yang mempunya akar, batang, dan daun sebagai dasar kehidupan. Jadi kata Pongka diartikan sebagai dasar kehidupan.

Rombongan yang migrasi itu akhirnya menjadikan daerah itu sebagai perkampungan baru. Padahal daerah itu termasuk tandus dan kering, namun tanaman dapat tumbuh subur. Hal ini, berkat Yang Maha Kuasa dan isyarat yang diberikan gendang ajaib tersebut, dan memberi keyakinan kepada segenap rombongan bahwa di tempat itu ada dasar kehidupan yang akan menjanjikan harapan di masa depan yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman, sehingga mereka sepakat untuk menetap di tempat itu dan merekapun memberinya nama kampung ‘Pongka’ seperti sekarang ini.

Sejak saat itu, maka Petta Mabbaranie dan rombongannya sepakat untuk melaksanakan sumpah yang ditandai dengan melempar sebutir telur ke arah timur dan arah barat di perbatasan Desa Pongka dan Desa Ulo kecamatan Tellu Siattinge, maka sejak itulah dikenal adanya pesta adat dan tradisi Sirawu’ Sulo di Desa Pongka.

TRADISI SIRAWU SULO

Tradisi unik Sirawu’ Sulo yang banyak menarik perhatian warga bukan hanya dari tetangga kampung setempat, tapi juga dari daerah lain terutama di daerah perantauan warga Pongka, ini dilaksanakan secara turun temurun oleh warga Pongka dalam bentuk pesta rakyat, yang rangkaian kegiatannya biasanya berlangsung sekitar setengah sampai satu bulan lamanya, namun acara puncaknya hanya berlangsung selama tiga malam berturut-turut.

Kegiatan Sirawu’ Sulo ini, pertama kali dilaksanakan oleh rombongan Petta Makkuli Dajangnge dan Petta Mabbaranie sebagai bentuk rasa syukur mereka setelah menemukan daerah baru yakni Pongka sebagai daerah yang menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat tinggal penghidupan bagi anak cucu mereka.

Awanya, pelaksanaan pesta adat Sirawu’ Sulo ini dilaksanakan lima tahun sekali, namun demikian, meskipun belum cukup lima tahun tapi ketika sudah ada petunjuk atau bisikan yang mendatangi Sanro maka kegiatan ini sudah harus dilaksanakan karena warga tidak boleh melanggar perintah penguasa kampung sebab biasa mendatangkan bencana jika tidak dilaksanakan,

Konon menurut cerita masyarakat setempat, bencana yang terjadi biasanya akan ada warga yang sakit dan meninggal dunia, kemudian warga lain akan bernasib sama sehingga terjadi semacam peristiwa meninggal dunia yang berturut-turut.

Berdasarkan kesepakatan adat warga Pongka, saat ini kegiatan Sirawu’ Sulo sudah ditetapkan waktunya sekali dalam tiga tahun. Uniknya, setiap melaksanakan pesta adat warga setempat memotong 80-100 ekor kuda, yang merupakan sumbangan warga Pongka di perantauan. Sehingga setiap 3 tahun warga Pongka diperantauan semua pulang kampung sekaligus silaturahim dengan keluarga masing-masing.

Sebelum memulai ritual ini yang berlangsung di malam hari terlebih dahulu dua pemuka adat atau “Sandro” yang terdiri dari pria dan wanita melakukan ritual berserah diri atau “Mappangolo”. Sementara warga yang akan menjadi peserta perang api membasuh sekujur tubuhnya dengan minyak kelapa muda yang diserahkan oleh tokoh adat.

Hal ini merupakan hasil dari “Mappangolo”. Dengan diiringi arakan ratusan ekor ayam keliling kampung, mereka ingin menyimbolkan perjalanan nenek moyang mereka dikenal dengan Mabule Manu” (menggotong ayam). Arak-arakan ini berakhir di lapangan terbuka, untuk memulai tradisi perang api. Di lapangan terbuka inilah puluhan warga saling serang dengan menggunakan obor disaksikan ribuan warga yang sengaja datang dari berbagai pelosok tempat.

Saling lempar api hingga saling membakar lawan disertai sorakan bercampur tabuhan gendang mewarnai tradisi ini. Kalau ditanya rasanya yang memang sakit karena kulit melepuh tapi lukanya besok sudah sembuh karena sudah dikasih minyak kelapa tadi oleh Sandro.
Para peserta Sirawu Sulo harus asli warga Pongka, sebab kalau bukan warga asli, maka dipastikan ia terbakar api.

Sejatinya tradisi ini bermula dari nenek moyang mereka yang merupakan penduduk Kabupaten Soppeng. Dahulu kala, mereka mengungsi lantaran tidak sepakat dengan kebijakan salah seorang raja yang memerintah kerajaan Soppeng kala itu.

Mereka pun meninggalkan harta kekayaan dan kampung halamannya dengan hanya berbekal sejumlah ekor ternak ayam dengan menggunakan obor sebagai alat penerangan di malam hari. Setelah menempuh perjalanan beberapa hari, merekapun menemukan lahan hunian yang kini masuk dalan wilayah Kabupaten Bone.

Lahan itu mereka nilai layak untuk dihuni, dan tersembunyi dari kerajaan. Merekapun bersukacita dengan melemparkan obor mereka, sebagai luapan kegembiraan. Luapan kegembiraan inilah yang terus diperingati oleh anak cucu dari generasi ke generasi hingga sekarang.

Luapan kegembiraan inilah yang terus diperingati oleh anak cucu dari generasi ke generasi hingga sekarang. “Ini hanya cerita turun temurun tidak tahu betul atau tidak karena kisahnya tidak ada secara tertulis tapi memang kami laksanakan di sini selama tiga tahun sekali, konon nenek moyang kami adalah orang Soppeng yang satu kampung dulu mengungsi ke sini karena raja di sana sangat kejam,” kisah Warga Desa setempat.

MAKSUD DAN TUJUAN TRADISI SIRAWU SULO

1. Mengenang kembali perjuangan para leluhurnya, betapa menderitanya ketika ingin membebaskan diri dari belenggu kejahatan kemanusiaan.
2. Memberikan semangat kepada warga Pongka di manapun ia berada untuk bekerja dan mencari nafkah yang halal. Karena apabila ingin berhasil dalam hidup harus bekerja keras dan tekun
3. Sebagai momen bagi warga Pongka diperantauan untuk kembali melihat kampung halaman sekaligus silaturahmi bersama.
4. Membuktikan diri, bahwa warga Pongka memiliki kebersamaan yang kuat untuk membangun kampung halamannya.
5. Mengingatkan, bahwa warga Pongka di manapun ia berada harus menjaga sopan santun.

Hingga saat ini, rumah warga di desa Pongka, hampir 100 persen bentuknya sama dengan model rumah panggung.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...