No menu items!
17.9 C
Munich
Sabtu, 15 Agustus 20

Raja Bone ke-11 La Tenriruwa, 1611-1616

Must read

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs. Adapun faktor-faktor yang mendukung...

Yabelale Lagu Bugis Menidurkan Anak

Yabelale adalah lagu Bugis yang diciptakan oleh Mursalim. Lagu ini cocok dinyanyikan untuk menidurkan buah hati. Yabelale antinro no mai anakku Yabelale upakkuru sumangemu Buana buana atikku Engkalingani elokku Elong...

Matematika Rumit tapi Ajaib

Artikel seperti ini sudah banyak bertebaran di internet namun seperti biasanya ketika saya dapati hal yang bermanfaat tidak ada salahnya disebarkan. Nah, mari kita simak...

Perjanjian Bone dengan Buton

Didasari persamaan nasib dan cita-­cita telah mendorong kedua kerajaan yakni Bone dan Buton menjalin hubungan kerja sama. Hal ini diawali ketika Arung Palakka bersama pengikutnya...

LA TENRIRUWA, SULTAN ADAM, MATINROE RI BANTAENG, 1611-1616, La Tenriruwa adalah sepupu We Tenri Patuppu Matinroe ri Sidenreng.

Beliau dikenal Arung Palakka dan juga sebagai Arung Pattiro .

Ketika Arumpone meninggal dunia, orang Bone sepakat untuk mengangkat La Tenriruwa menjadi raja di Bone.

Belum cukup tiga bulan setelah menjadi raja, datanglah Karaenge dari Gowa membawa agama Islam ke Bone. Orang Gowa membuat benteng di Cellu dan Palette.

Berkatalah raja Bone kepada orang Bone:

“Kalian telah mengangkat saya menjadi Mangkau’ untuk membawa Bone kepada jalan yang baik.

Karaenge ri Gowa datang membawa agama Islam yang menurutnya adalah kebaikan.

Sesuai dengan perjanjian kita yang lalu, siapa yang mendapatkan kebaikan, dialah yang menunjukkan jalan.

Oleh karena itu saya mengajak kalian untuk menerima Islam”

Karaenge ri Gowa berkata:

“Menurutku Islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi kita.

Oleh karena itu saya berpegang pada agama Nabi.

Kalau engkau menerima pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada Dewata Seuwae (Allah SWT)”

Berkata lagi Raja Bone La Tenriruwa kepada orang banyak:

“Kalau kalian tidak menerima baik maksud Karaenge padahal dia benar, dia pasti masih memerangi kita dan kalau kita kalah berarti kita menjadi hamba namanya.

Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanji untuk berdamai. Kalau kita melawan, itu adalah wajar. Jangan kalian menyangka bahwa saya tidak mampu untuk melawannya”

Ketika itu semua orang Bone menolak Islam. Arumpone La Tenriruwa hanya diam, karena dia sudah tahu bahwa orang Bone berpendapat lain.

Maka pergilah La Tenriruwa ke Pattiro dan hanya diikuti oleh keluarga dekatnya. Sesampainya di Pattiro, ia mengajak lagi orang Pattiro untuk menerima agama Islam. Tapi ternyata orang Pattiro juga menolak.

Akhirnya La Tenriruwa naik ke Salassae (istana) bersama keluarga dan hambanya. Ketika La Tenripale ke Pattiro, orang Bone sepakat untuk menjatuhkan La Tenriruwa sebagai raja Bone.

Diutuslah La Mallalengeng To Alaungeng ke Pattiro untuk menemui La Tenriruwa.
Kemudian La Mallalengeng menyampaikan kepada raja Bone La Tenriruwa:

“Saya disuruh oleh orang Bone untuk menyampaikan bahwa bukan lagi orang Bone yang menolak engkau sebagai Mangkau’, tetapi engkau sendiri yang menolak kami semua, karena pada saat Bone menghadapi musuh besar, engkau lalu meninggalkannya”

La Tenriruwa menjawab:

“Saya menyangkal kalau saya meninggalkan orang Bone, saya hanya menunjukkan jalan kebaikan dan cahaya yang terang.

Tetapi kalian tidak mau mengikutinya dan lebih suka memilih jalan kegelapan.

Makanya saya pergi memilih jalan kebaikan dan cahaya yang terang itu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya”

Ketika To Alaungeng kembali ke Bone, raja Bone La Tenriruwa menyuruh salah seorang keluarganya ke Pallette untuk bertemu dengan Karaenge dari Gowa yang sementara berkedudukan di Pallette.

Begitu pula Karaenge menyuruh Karaeng Pettu ke Pattiro menemui La Tenriruwa.

Sesampainya Karaeng Pettu di Pattiro dan bertemu La Tenriruwa, tiba-tiba tempatnya bertemu itu dikepung oleh orang Pattiro bersama orang Sibulue.

Arumpone sekeluarga bersama Karaeng Pettu meninggalkan tempat menuju ke puncak gunung Maroanging.

Setelah itu, pergilah La Tenriruwa menemui Karaenge dari Gowa, sementara Karaeng Pettu tinggal menjaga Pattiro. Di Pallette Arumpone La Tenriruwa ditanya oleh Karaenge:

“Sampai di mana batas kekuasaanmu. Sebab saya tahu bahwa Bone adalah milikmu, sementara menurut berita bahwa akkarungeng telah berpindah di Bone”

Arumpone menjawab:

“Yang menjadi milikku adalah Palakka dan Pattiro begitu juga Awampone. Kalau Mario Riwawo adalah milik isteriku”

Berkata lagi Karaenge:

“Sekarang ucapkanlah syahadat, biar Palakka, Pattiro, dan Awampone saja yang menerima Islam. Untuk Bone biarkan saja tidak bertuan, Gowa tidak akan memperhambamu”

Raja Bone La Tenriruwa menjawab:

“Karena saya akan mengucapkan syahadat, sehingga saya kemari”

Selanjutnya Karaenge ri Gowa berkata:

“Saya juga tahu bahwa Pallette ini adalah milikmu, tetapi kebetulan tempat berdirinya bentengku.

Oleh karena itu saya menganggapnya sebagai milikku, namun saya berikan kembali kepadamu”

Kemudian Karaenge ri Gowa, Karaeng Tallo, dan Arumpone berikrar antara lain sebagai berikut:

Pertama diucapkan oleh Karaenge ri Gowa dan Karaeng Tallo:

“Inilah yang akan dipersaksikan kepada Dewata Seuwae bahwa bukanlah turunan Karaenge ri Gowa dan Karaeng Tallo yang kelak akan mengganggu hak-hakmu.

Kalau ada kesulitan yang engkau hadapi, bukalah pintumu untuk kami masuk pada kesulitan itu”

Lalu La Tenriruwa menjawab:

“Wahai Karaeng, ikat padiku tidak akan terbuka, tidak sempurna pula kehidupanku dan apa yang ada dalam pikiranku.

Kalau ada kesulitan yang menimpa Tana Gowa, biar sebatang bambu yang dibentangkan, kami akan melaluinya untuk datang membantumu sampai kepada anak cucumu dan anak cucuku, asalkan tidak melupakan perjanjian ini”.

Setelah ketiganya mengucapkan ikrar, kembalilah raja Bone La Tenriruwa ke Pattiro.

Lima hari setelah perjanjian itu diucapkan bersama, maka dibakarlah Bone oleh orang Gowa. Menyerahlah orang-orang Bone dan mengucapkan syahadat. Kemudian Karaenge ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya.

Sejak La Tenriruwa meninggalkan Bone dan berada di Pattiro, sejak itu pula orang Bone menganggapnya bahwa dia bukan lagi Mangkau/raja di Bone.

Kesepakatan orang Bone adalah mengangkat anak dari Matinroe ri Sapana na (addenenna) yang pada saat itu menjadi Arung Timurung yang bernama La Tenripale.

Adapun La Tenriruwa setelah Karaenge ri Gowa dan Karaeng Tallo kembali ke negerinya, diusir oleh orang Bone agar meninggalkan Bone.

La Tenriruwa inilah yang dianggap mula-mula menerima agama Islam dari Karaenge ri Gowa dan Karaeng Tallo.

La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng berangkat ke Su’ (Mangkasar) dan tinggal pada Dato’ ri Bandang. Ia pun diberi nama Arab yaitu La Tenriruwa Sultan Adam.

Disuruhlah memilih tempat oleh Dato’ dan Karaenge ri Gowa. Tempat yang dipilihnya adalah Bantaeng dan di Bantaenglah ia meninggal, oleh karena itu dinamakan Matinroe ri Bantaeng.

La Tenriruwa kawin dengan sepupunya yang bernama We Baji atau We Dangke Lebae ri Mario Riwawo yang kemudian disebut juga Datu’ Mario Riwawo.

Dari perkawinan ini lahirlah We Tenri Sui. Dan We Tenri Sui pernah juga kawin dengan To Lempe Arung Patojo saudara kandung Datu Soppeng yang mula-mula memeluk Islam yang bernama Beowe.

Dari perkawinannya lahirlah We Bubungeng yang berarti bersaudara kandung dengan We Tenri Sui.

We Tenrisui kawin dengan La Pottobune Arung Tana Tengnga Datu Lompulle, anak dari We Cammare Datu Lompengeng Mattendumpulawenge dari suaminya yang bernama To Wawo.

Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Tatta, We Tenri Abang, We Dairi (meninggal diwaktu kecil), We Tenri Wempeng Daunru (meninggal diwaktu kecil), La Tenri Garangi (meninggal diwaktu kecil).

Selanjutnya We Kacimpureng Daoppo Datu Marimari, tidak ada keturunannya.

We Bubungeng I Dasajo Arung Pattojo diangkat menjadi datu di Watu, kawin dengan La Tenri Bali Datu Soppeng MatinroE ri Datunna.

Dari perkawinan ini lahirlah La Tenri Senge’ To Wesang dan We Yada Matinroe ri Madello.

Arung Tana Tengnga kemudian kawin lagi dengan We Tenripada Datu Watu anak dari We Puampe dengan suaminya La Page Datu Mario Riwawo.

Adapun La Tenri Tatta diwariskan oleh ibunya untuk menjadi datu ri Mario Riwawo, sehingga digelar sebagai Datu Mario Riwawo.

La Tenritatta kawin dengan sepupunya yang bernama We Dadda atau We Yadda anak dari We Bubungeng I Dasajo dari suaminya Matinroe ri Datunna.

Dari perkawinannya ini tidak melahirkan seorang anak, akhirnya bercerai.

Isteri La Tenritatta yang paling dicintainya adalah I Mangkawani Daeng Talele, tetapi juga tidak ada keturunannya.

Oleh karena itu La Tenritatta sampai akhir hayatnya tidak memiliki keturunan.

Saudara kandung La Tenritatta yang bernama We Tenriwale Da Umpu Mappolo Bombange itulah yang menjadi Maddanreng ri Palakka.

Karena setelah La Tenritatta kembali dari Mangkasar, orang Bone menobatkannya menjadi Arung Palakka.

Mappolo Bombange kawin dengan La Pakokoe Arung Timurung yang juga Ranreng di Tuwa dan sebagai Arung di Ugi.

Dari perkawinan itu lahirlah seorang anak laki-laki La Patau Matanna Tikka Walinonoe To Tenribali Malae Sanrang Matinroe ri Nagauleng.

Sedangkan saudara kandung La Tenritatta yang lain yang bernama We Tenri Abang Da Eba, itulah yang mengikutinya sewaktu La Tenritatta pergi ke batavia (Jakarta).

Oleh karena itu, La Tenritatta menyerahkan kepada adiknya itu untuk menjadi Datu ri Mario Riwawo.

We Tenri Abang kawin dengan La Sule atau La Mappajanci Daeng Mattajang Karaeng Tanete, turunan Karaeng Tallo.

Dari perkawinannya itu lahir dua orang anak perempuan yang bernama We Pattekke Tana Daeng Tanisanga dan We Tenri Lekke’.

We Pattekke Tana kawin dengan Pajunge ri Luwu Matinroe ri Langkana na yang bernama La Onro To Palaguna.

Dari perkawinannya itu lahirlah We Batara Tungke dan We Fatimah Matinroe ri Pattiro.
We Fatimah MatinroE ri Pattiro kawin dengan sepupunya yang bernama La Rumpang Megga To Sappaile.

Dari perkawinan itu lahirlah We Tenri Leleang Datu Luwu dan La Oddang Riwu Daeng Mattinring atau La Tenri Oddang.

Inilah yang menjadi Arung Pattiro dan Datu Tanete. Selanjutnya melahirkan La Tenri Angke’ Datu Marimari.

Adapun anak Batara Tungke yang bernama We Tenri Lekke saudara kandung We Pattekke Tana, kawin dengan La Pasau Arung Menge yang juga sebagai Ranreng di Talotenre Wajo.

We Dangke Lebae ri Mario Riwawo dengan suaminya To Lempe Arung Pattojo melahirkan We Bubungeng I Dasajo.

Dan We Bubungeng I Dasajo inilah yang kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Tenribali Matinroe ri Datunna, anak dari La Maddussila Arung Mampu Mammesampatue.

Dari perkawinan itu lahirlah La Tenrisenge’ To Wesang dan We Yadda Matinroe ri Madello.

La Tenrisenge’ To Wesang kawin dengan We Pada Daeng Masennang di Pammana, anak dari La Tenrisessu To Timoe.

Dari perkawinannya lahirlah La Makkateru (meninggal dunia sewaktu kecil).

Selanjutnya lahir pula La Karidu yang kemudian menjadi Arung Sekkaili.

La Karidu kawin di Pammana dengan anak Watampanuwae ri Pammana. Dari perkawinan itu lahirlah La Mappassili Arung yang kemudian menjadi Arung Pattojo.

La Mappassili kawin di Tanete dengan Arung Lalolang yang kemudian melahirkan anak laki-laki yang bernama La Barahima.

Selanjutnya La Mappassili kawin lagi dengan We Tenri Leleang Pajunge ri Luwu Matinroe ri Soreang, anak We Fatimah Batara Tungke Matinroe ri Pattiro dengan suaminya La Rumpang Megga To Sappaile Matinroe ri Suppa.

Inilah yang melahirkan La Mappajanci Daeng Massuro Pollipue ri Soppeng Matinroe ri Laburaung.

Anak berikutnya adalah We Tenri Abang Datu Watu Arung Pattojo dan berikutnya bernama Janggo’ Panincong.

Inilah yang tewas dipenggal kepalanya oleh kemanakannya sendiri yang bernama Baso Tancung pada Perang Batu-batu.

Dalam peristiwa itu, La Mappassili tewas terbunuh oleh iparnya sendiri yang bernama La Oddang Riwu Daeng Mattinring Karaeng Tanete.

Kembali kita bicarakan La Pottobune’ dengan isterinya We Tenri Pasa Datu Watu. Melahirkan anak yang bernama La Page yang kemudian diwariskan untuk menjadi Datu di Lompulle.

La Page bersaudara dengan La Tenri Tatta dari ayahnya. La Page Datu Lompulle kawin dengan We Buka Datu Botto.

Dari perkawinan itu lahirlah La Malleleang To Panamangi Datu Lompulle dan juga Datu Mario Riwawo.

Selanjutnya La Panamangi kawin dengan We Mekko Datu Bakke, lahirlah We Tenri Datu Botto.

We Tenri Datu Botto kawin dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Temmu Page anak We Pattekke Tana Daeng Tanisanga dengan suaminya yang terakhir yang bernama To Baicceng.

We Tenri dengan La Temmu Page melahirkan anak laki-laki yang bernama La Mallarangeng To Samallangi, inilah yang kemudian menjadi Datu Lompulle dan Datu Mario Riwawo.

La Mallarangeng To Samallangi kawin dengan We Tenri Leleang janda dari La Mappassili. Dari perkawinannya itu lahirlah La Maddussila Karaeng Tanete.

La maddussila inilah yang kawin dengan We Seno Datu Citta, anak dari La Temmassonge Matinroe ri Malimongeng dengan isterinya yang bernama Sitti Habiba.

Selanjutnya We Tenri Leleang janda dari La Mappassili yang kawin dengan La Mallarangeng To Samallangi melahirkan We Panangareng Daeng Risanga Arung Cinennong Datu Mario Riwawo MatinroE ri Ujungtana.

We Panangareng Daeng Risanga kawin dengan La Sunra Datu Lamuru MatinroE ri Lamangile, anak dari La Tenri Sanga Petta Janggo’e Datu Lamuru.

Kemudian We Tenri Leleang dengan La Mallarangeng To Samallangi melahirkan La Tenrisessu Arung Pancana, inilah yang kawin dengan We Paddi Petta Punna Bolae anak dari Maddanreng Bone yang bernama La Sibengngareng.

Selanjutnya La Tenrisessu kawin lagi dengan We Tenrilawa Besse Peyampo di Wajo, saudara kandung dari Arung Belle La Sengngeng Matinroe ri Salawa’na.

We Tenri Leleang dengan La Mallarangeng melahirkan lagi We Pada Daeng Malele, Fatimah Ratu Daeng Tacowa Matinroe ri Sigeri, La Maggalatung To Kali Datu Lompulle yang juga sebagai Datu Botto dan Bataritoja We Akka Daeng Matana Opu Datu ri Bakke.

Inilah yang kawin dengan Pajunge ri Luwu yang bernama La Pattiware Matinroe ri Sabbamparu.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs. Adapun faktor-faktor yang mendukung...

Yabelale Lagu Bugis Menidurkan Anak

Yabelale adalah lagu Bugis yang diciptakan oleh Mursalim. Lagu ini cocok dinyanyikan untuk menidurkan buah hati. Yabelale antinro no mai anakku Yabelale upakkuru sumangemu Buana buana atikku Engkalingani elokku Elong...

Matematika Rumit tapi Ajaib

Artikel seperti ini sudah banyak bertebaran di internet namun seperti biasanya ketika saya dapati hal yang bermanfaat tidak ada salahnya disebarkan. Nah, mari kita simak...

Perjanjian Bone dengan Buton

Didasari persamaan nasib dan cita-­cita telah mendorong kedua kerajaan yakni Bone dan Buton menjalin hubungan kerja sama. Hal ini diawali ketika Arung Palakka bersama pengikutnya...

Makna Filosofi Bugis Ada Na Gau

Deretan filosofi Bugis yang dikenal selama ini sangat banyak yang mengandung pesan-pesan dengan makna sangat dalam. Pesan-pesan itu dilambangkan dalam bentuk ucapan dan kata-kata. Pesan...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...