No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Raja Bone ke-12 La Tenripale, 1616-1631

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

LA TENRIPALE, TO AKKEPPEANG, ARUNG TIMURUNG, 1616-1631, Ketika La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng diusir oleh orang Bone, maka yang menggantikannya adalah sepupu satu kalinya yang bernama La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung.

La Tenripale adalah anak dari La Inca Matinroe ri Addenenna.

La Tenripale inilah raja Bone Bone yang membangkitkan kembali semangat orang Bone untuk menolak masuknya agama Islam di Bone.

Oleh karena itu Karaenge kembali memerangi Bone, sehingga orang Bone kalah dan menyerah.

Atas kekalahan itu, diundanglah seluruh Palili (daerah bawahan) untuk disuruh mengucapkan syahadat sebagai tanda bahwa seluruh orang Bone telah menerima agama Islam. Setelah itu Karaenge ri Gowa kembali ke kampungnya.

La Tenripale To Akkeppeang dua bersaudara yaitu We Tenri Jello Makkalarue, kawin dengan Arung Sumaling yang bernama La Pancai To Patakka.

Dia juga digelar Lampe Pabbekkeng, anak dari La Mallalengeng To Alaungeng Arung Sumaling, dari isterinya yang bernama We Tenri Parola. Lahirlah La Maddaremmeng, diangkatlah Makkalarue menjadi Arung Pattiro.

Satu lagi adik La Maddaremmeng bernama We Tenri Ampareng, dia menjadi Arung Cellu. Sedangkan La Tenri Aji Tosenrima menjadi Arung di Awampone dan digelar Matinroe ri Siang.

We Tenri Sui kawin dengan La Pottobune Tobae Arung Tanatengnga, lahirlah La Tenri Tatta Tounru, tidak ada keturunannya. Anaknya yang kedua yaitu I Daunru.

Inilah yang kawin dengan Datu Citta yang bernama Todani yang menjadi Arung Eppae Ajattappareng yaitu:

Addatuang Sidenreng, Datu Suppa, Addattuang Sawitto dan Arung Alitta. Bahkan dia juga Karaeng di Galingkang.

Katika Todani memperisterikan saudara La Tenritatta, dia mempersatukan Citta dengan Bone.

Nanti setelah La Temmassonge To Appaweling Matinroe ri Malimongeng menjadi raja di Bone, barulah Citta dikembalikan ke Soppeng.

Namun akhirnya Todani disuruh bunuh oleh La Tenritatta karena dianggap menyalahi kasiwiang (persembahan) di Bone.

Sedangkan Saudara La Tenri Tatta yang bernama We Tenri Abang Daeba, dialah yang dinamakan We Tenri Wale Matinroe ri Bola Sadana. Digelar juga Mappolo Bombange dialah Maddanreng di Palakka.

Satu tahun setelah orang Bone menerima Islam, pergilah La Tenripale ke Mangkasar menemui Dato’ ri Bandang. Diberilah nama Arab yaitu La Tenripale Sultan Abdullah.

Ketika menjadi Mangkau/raja di Bone, La Tenripale dikenal sangat ramah dan merakyat. Dia sangat memperhatikan masalah pertanian.

La Tenripale inilah yang kawin dengan anak Matinroe ri Sidenreng dari suaminya yang bernama To Addussila bernama We Palettei Kanuwange Massao Bessie ri Mampu Riawa.

Dari perkawinan ini lahirlah anak perempuan yang bernama We Daba.

Selama menjadi Arumpone, La Tenri Pale selalu bolak balik ke Gowa untuk menemui KaraengE ri Gowa.

Ia meninggal di Tallo sehingga digelar La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...