No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng, 1631-1644

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

LA MADDAREMMENG, MATINROE RI BUKAKA, 1631-1644, menggantikan pamannya La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo menjadi raja Bone.

Ketika akan diangkat menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenripale dengan orang Bone berjanji bahwa:

La Tenri Pale berkata: Siapa yang mengingkari janji, dialah yang menanggung risiko buruknya”

Orang Bone berkata: Siapa yang berbuat kebaikan, dialah yang menerima imbalan kebaikan itu”

Setelah saling mengiyakan kesepakatan itu, maka diangkatlah La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung menjadi raja di Bone.

Setelah beberapa waktu menjadi Arumpone atau raja, diadakanlah penggalian bendungan di sebelah selatan Leppangeng.

Selama tiga tahun digali, ternyata airnya tak bakal naik. Dibawa lagi ke Sampano untuk membuat tiang rumah, tiba-tiba La Tenripale terkena penyakit. Kembalilah La Tenripale ke Bone.

Sesampainya di Bone, diundanglah seluruh orang Mampu dan menyampaikan bahwa: Berangkatlah ke Sidenreng untuk memanggil keluargaku untuk datang mengambil kembali miliknya.

Kemudian La Tenripale berangkat ke Mangkasar. Di Mangkasar (Tallo) ia meninggal dunia sehingga dinamakan Matinroe ri Tallo.

Ketika orang yang disuruh ke Sidenreng kembali, La Tenripale sudah tidak ada di Bone.

Maka diangkatlah La Maddaremmeng sebagai raja Bone, sebab dialah yang dipesan oleh pamannya untuk menggantikannya bila sampai ajalnya.

La Maddaremmeng inilah yang pertama membuat payung putih untuk dipakai bila bepergian.

La Maddaremmeng kawin di Wajo dengan perempuan yang bernama Hadijah I Dasenrima anak dari Arung Matowa Wajo yang bernama La Pakallongi To Ali dengan isterinya We Jai Ranreng Towa Wajo yang juga sebagai Arung Ugi.

Dari perkawinan La Maddaremmeng dengan We Jai, melahirkan seorang anak laki-laki bernama La Pakokoe Toangkone yang digelar Tadampalie. La Pakokoe Toangkone (Tadampalie) kemudian diangkat menjadi Arung Timurung.

La PakokoE Toangkone (Tadampalie) kawin dengan saudara perempuan La Tenritatta yang bernama We Tenriwale Mappolo Bombange Maddanreng Palakka. Anak dari We Tenrisui Datu Mario Riwawo dengan suaminya yang bernama La Pottobune Arung Tana Tengnga.

Dari perkawinannya itu lahirlah La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Nagauleng.

Masjid Tua Al Mujahidin Watampone merupakan saksi perkembangan agama Islam di Bone dibangun oleh La Maddaremmeng. Masjid Tua Al-Mujahidin ini juga lebih populer dengan nama Masjid Laungnge (Tua) dibangun tahun 1639.

Selanjutnya La Maddaremmeng kawin lagi dengan Arung Manajeng. Dari perkawinannya yang kedua itu lahirlah anak laki-laki yang bernama Toancalo Arung Jaling.

Inilah yang kawin dengan We Bunga Bau Arung Macege, anak dari Karaeng Massepe dengan isterinya yang bernama We Impu Arung Maccero.

Toancalo Arung Jaling dengan We Bunga Bau Arung Macege yang melahirkan Tobala Arung Tanete Riawang yang digelar Petta Pakkanynyarange.

Setelah La Maddaremmeng menjadi raja di Bone selama kurang lebih 13 tahun, Gowa kembali melakukan serangan terhadap Bone yang akhirnya menaklukkannya.

La Maddaremmeng meninggal dunia di Bukaka, sehingga dia dinamakan Matinroe ri Bukaka.

Isteri La Maddaremmeng yang lain bernama We Mappanyiwi Arung Mare, anak We Cakka Datu Ulaweng. Melahirkan seorang anak perempuan yang bernama We Daompo. Inilah yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo.

Kemudian La Uncu Arung Paijo dengan We Daompo melahirkan La Tenri Lejja Riwettae ri Pangkajenne. Inilah yang melahirkan To Sibengngareng Maddanreng Bone.

Perkembangan Islam di Bone sangat pesat berkat perjuangan La Maddaremmeng. Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone merupakan saksi perkembangan agama Islam di Bone.

Masjid Tua Al-Mujahidin ini juga lebih populer dengan nama Masjid Laungnge (Tua) dibangun tahun 1639.

Dahulu berfungsi sebagai pusat pembelajaran Islam. Di masjid inilah awal mula diajarkan agama Islam kepada keluarga kerajaan dan rakyat Bone saat itu.

Untuk memperkenalkan agama Islam secara mendalam saat itu, La Maddaremmeng mendatangkan ulama dari Kerajaan Gowa Tallo.

Ia mendatangkan Kadi atau ulama langsung dari Kerajaan Gowa Tallo yang lebih dahulu memeluk Islam.

La Maddaremmeng juga dikenal raja yang anti perbudakan, ia juga menghapuskan perbudakan di tanah Bugis.

Menurutnya dalam ajaran Islam semua manusia sama, yang membedakan adalah tingkat ketakwaan dan keimanannya kepada Allah SWT.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...