No menu items!
2 C
Munich
Kamis, 3 Desember 20

Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng, 1631-1644

Must read

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

LA MADDAREMMENG, MATINROE RI BUKAKA, 1631-1644, menggantikan pamannya La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo menjadi raja Bone.

Ketika akan diangkat menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenripale dengan orang Bone berjanji bahwa:

La Tenri Pale berkata: Siapa yang mengingkari janji, dialah yang menanggung risiko buruknya”

Orang Bone berkata: Siapa yang berbuat kebaikan, dialah yang menerima imbalan kebaikan itu”

Setelah saling mengiyakan kesepakatan itu, maka diangkatlah La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung menjadi raja di Bone.

Setelah beberapa waktu menjadi Arumpone atau raja, diadakanlah penggalian bendungan di sebelah selatan Leppangeng.

Selama tiga tahun digali, ternyata airnya tak bakal naik. Dibawa lagi ke Sampano untuk membuat tiang rumah, tiba-tiba La Tenripale terkena penyakit. Kembalilah La Tenripale ke Bone.

Sesampainya di Bone, diundanglah seluruh orang Mampu dan menyampaikan bahwa: Berangkatlah ke Sidenreng untuk memanggil keluargaku untuk datang mengambil kembali miliknya.

Kemudian La Tenripale berangkat ke Mangkasar. Di Mangkasar (Tallo) ia meninggal dunia sehingga dinamakan Matinroe ri Tallo.

Ketika orang yang disuruh ke Sidenreng kembali, La Tenripale sudah tidak ada di Bone.

Maka diangkatlah La Maddaremmeng sebagai raja Bone, sebab dialah yang dipesan oleh pamannya untuk menggantikannya bila sampai ajalnya.

La Maddaremmeng inilah yang pertama membuat payung putih untuk dipakai bila bepergian.

La Maddaremmeng kawin di Wajo dengan perempuan yang bernama Hadijah I Dasenrima anak dari Arung Matowa Wajo yang bernama La Pakallongi To Ali dengan isterinya We Jai Ranreng Towa Wajo yang juga sebagai Arung Ugi.

Dari perkawinan La Maddaremmeng dengan We Jai, melahirkan seorang anak laki-laki bernama La Pakokoe Toangkone yang digelar Tadampalie. La Pakokoe Toangkone (Tadampalie) kemudian diangkat menjadi Arung Timurung.

La PakokoE Toangkone (Tadampalie) kawin dengan saudara perempuan La Tenritatta yang bernama We Tenriwale Mappolo Bombange Maddanreng Palakka. Anak dari We Tenrisui Datu Mario Riwawo dengan suaminya yang bernama La Pottobune Arung Tana Tengnga.

Dari perkawinannya itu lahirlah La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Nagauleng.

Masjid Tua Al Mujahidin Watampone merupakan saksi perkembangan agama Islam di Bone dibangun oleh La Maddaremmeng. Masjid Tua Al-Mujahidin ini juga lebih populer dengan nama Masjid Laungnge (Tua) dibangun tahun 1639.

Selanjutnya La Maddaremmeng kawin lagi dengan Arung Manajeng. Dari perkawinannya yang kedua itu lahirlah anak laki-laki yang bernama Toancalo Arung Jaling.

Inilah yang kawin dengan We Bunga Bau Arung Macege, anak dari Karaeng Massepe dengan isterinya yang bernama We Impu Arung Maccero.

Toancalo Arung Jaling dengan We Bunga Bau Arung Macege yang melahirkan Tobala Arung Tanete Riawang yang digelar Petta Pakkanynyarange.

Setelah La Maddaremmeng menjadi raja di Bone selama kurang lebih 13 tahun, Gowa kembali melakukan serangan terhadap Bone yang akhirnya menaklukkannya.

La Maddaremmeng meninggal dunia di Bukaka, sehingga dia dinamakan Matinroe ri Bukaka.

Isteri La Maddaremmeng yang lain bernama We Mappanyiwi Arung Mare, anak We Cakka Datu Ulaweng. Melahirkan seorang anak perempuan yang bernama We Daompo. Inilah yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo.

Kemudian La Uncu Arung Paijo dengan We Daompo melahirkan La Tenri Lejja Riwettae ri Pangkajenne. Inilah yang melahirkan To Sibengngareng Maddanreng Bone.

Perkembangan Islam di Bone sangat pesat berkat perjuangan La Maddaremmeng. Masjid Tua Al-Mujahidin Watampone merupakan saksi perkembangan agama Islam di Bone.

Masjid Tua Al-Mujahidin ini juga lebih populer dengan nama Masjid Laungnge (Tua) dibangun tahun 1639.

Dahulu berfungsi sebagai pusat pembelajaran Islam. Di masjid inilah awal mula diajarkan agama Islam kepada keluarga kerajaan dan rakyat Bone saat itu.

Untuk memperkenalkan agama Islam secara mendalam saat itu, La Maddaremmeng mendatangkan ulama dari Kerajaan Gowa Tallo.

Ia mendatangkan Kadi atau ulama langsung dari Kerajaan Gowa Tallo yang lebih dahulu memeluk Islam.

La Maddaremmeng juga dikenal raja yang anti perbudakan, ia juga menghapuskan perbudakan di tanah Bugis.

Menurutnya dalam ajaran Islam semua manusia sama, yang membedakan adalah tingkat ketakwaan dan keimanannya kepada Allah SWT.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Sejarah Situs Gua Mampu

As.Al.Wr.Wb. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan tentang sejarah Gua Mampu yang berada di Dusun Aluppang Desa Cabbeng Kecamatan Dua Boccoe Kab.Bone Sulawesi Selatan. Saya akan...

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...