No menu items!
5.8 C
Munich
Sabtu, 26 September 20

Raja Bone ke-14, La Tenriaji Tosenrima, 1644-1672

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

La Tenriaji Tosenrima Matinroe ri Siang memerintah dalam tahun 1644-1672. Ia menggantikan saudaranya La Maddaremmeng menjadi raja di Bone.

Setelah menjadi raja kemudian melanjutkan perlawanan Bone terhadap Gowa, meskipun kenyataannya Bone kembali mengalami kekalahan.

Karena pada perang ini, Gowa ternyata dibantu oleh Luwu dan Wajo. Pertahanan terakhir raja Bone La Tenriaji Tosenrima adalah Pasempe, sehingga dikatakan Beta ri Pasempe (Kekalahan di Pasempe).

Sejak kekalahan di Pasempe, Bone menjadi milik Gowa, Luwu dan Wajo. Wilayahnya dibagi tiga, sebagian diambil oleh Gowa, sebagian diambil Luwu dan sebagian pula diambil oleh Wajo.

Ditawanlah semua anak bangsawan Bone, termasuk La Pottobune’ bersama isteri dan anak-anaknya. Selebihnya diberikan kepada Luwu dan Wajo.

Adapun yang menjadi milik Wajo tetap berada di Bone, sebab Wajo masih ingat perjanjian yang telah disepakati oleh Arung terdahulu, yaitu :

Rebba Sipatokkong Mali Siparappe artinya Yang rebah akan ditopang, yang hanyut akan diraih atau didamparkan. Hal itu sebagaimana isi perjanjian Tellumpoccoe ri Timurung antara Bone, Wajo, dan Soppeng.

Arung Matowa Wajo yang bernama La Makkaraka mengatakan:

“Bagian Wajo yang pergi ke Gowa, adalah milik Gowa, bagian Luwu yang pergi ke Wajo, tetap milik Luwu.

Kemudian bagian Wajo yang masih tinggal di Bone, tetap milik Bone. Kecuali dia sendiri yang datang ke Wajo, barulah milik Wajo”.

Permintaan ini akhirnya disetujui oleh Karaenge ri Gowa dan Datu Luwu.

Ketika La Tenriaji Tosenrima ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya.

Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan hamba.

Sementara La Tenriaji Tosenrima di tempatkan di Siang, sedangkan anak bangsawan lainnya dibagi-bagi kepada anggota Adat Gowa (Bate Salapange) untuk dijadikan hamba dan sebagainya.

Di antara anak bangsawan yang ditawan oleh Gowa, terdapat juga La Pottobune’ Arung Tanatengnga bersama isteri dan anak-anaknya.

Sebab yang tidak tertawan oleh Gowa hanyalah anak kecil, orang tua lanjut umur, kecuali atas permintaan orang tuanya.

La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan anak-anaknya tinggal di rumah Karaengnge. Ketika itu La Tenritatta (Arung Palakka) baru berusia 11 tahun.

Karena dia seorang anak yang cerdas, sehingga banyak yang menyukainya. Oleh karena itu, semua anggota Bate Salapangnge pernah ditempatinya.

Karena La Tenriaji Tosenrima diasingkan ke Siang, maka Karaenge ri Gowa menyuruh kepada orang Bone untuk mencari Arung (Mangkau’).

Tetapi orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang Mangkau’, sehingga orang Bone menyerahkan sepenuhnya kepada Karaengnge ri Gowa.

Oleh karena itu, Karaengnge ri Gowa menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan pemerintahan di Bone.

Tetapi karena Karaeng Summana tidak bisa menghadapi orang Bone yang kelihatannya tetap berusaha menghalang-halangi segala langkahnya.

Maka kembalilah Karaeng Summana ke Gowa. Kepada Karaengnge ri Gowa, Karaeng Summana melaporkan tantang ketidakmampuannya menghadapi orang Bone. Oleh karena itu terjadilah kevakuman pemerintahan di Bone saat itu.

Dalam pengasingannya La Tenriaji Tosenrima meninggal dunia di Siang, sehingga dinamakan Matinroe ri Siang (Kabupaten Pangkep sekarang).

Menurut catatan lontara’ La Tenriaji hanya mempunyai seorang anak yang bernama La Pabbele Matinroe ri Batubatu. Inilah yang melahirkan Daeng Manessa Arung Kading.

Selama beberapa waktu tidak ada pengganti La Tenriaji Tosenrima Matinroe ri Siang sebagai raja Bone. Orang Bone dan segenap anggota adat pun sudah tidak mau menunjuk seorang Mangkau’.

Sementara Karaengnge ri Gowa juga ragu untuk mengangkat seorang Arung kalau bukan yang diinginkan oleh orang Bone.

Oleh karena itu, Karaengnge ri Gowa hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang memiliki wewenang sebagai pengganti Mangkau’ di Bone.

Sepeninggal La Tenriaji Tosenrima, maka Bone seperti barang yang dibagi tiga oleh masing-masing Gowa, Wajo, dan Luwu.

Di mana pada masa itu harga diri orang Bone dan Soppeng tidak ada lagi apa-apanya. Inilah yang membuat Arung Palakka melanjutkan perjuangan La Tenriaji.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...