No menu items!
20.1 C
Munich
Sabtu, 15 Agustus 20

Raja Bone ke-15 La Tenritatta, Arung Palakka, 1672-1696

Must read

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs. Adapun faktor-faktor yang mendukung...

Yabelale Lagu Bugis Menidurkan Anak

Yabelale adalah lagu Bugis yang diciptakan oleh Mursalim. Lagu ini cocok dinyanyikan untuk menidurkan buah hati. Yabelale antinro no mai anakku Yabelale upakkuru sumangemu Buana buana atikku Engkalingani elokku Elong...

Matematika Rumit tapi Ajaib

Artikel seperti ini sudah banyak bertebaran di internet namun seperti biasanya ketika saya dapati hal yang bermanfaat tidak ada salahnya disebarkan. Nah, mari kita simak...

Perjanjian Bone dengan Buton

Didasari persamaan nasib dan cita-­cita telah mendorong kedua kerajaan yakni Bone dan Buton menjalin hubungan kerja sama. Hal ini diawali ketika Arung Palakka bersama pengikutnya...

La Tenritatta Arung Palakka memerintah di kerajaan Bone dalam tahun 1672-1696. Ia menggantikan La Tenriaji Tosenrima raja Bone ke-14.

La Tenritatta lahir tanggal 15 September 1634 di Marioriwawo Soppeng dan meninggal pada Jumat 6 April 1696 di Bontoala Gowa.

La Tenritatta adalah kemanakan dari La Maddaremmeng raja Bone ke-13.

La Tenritatta dikenal mempunyai banyak gelar di antaranya: La Tenri Tatta Daeng Serang, Petta Malampe’e Gemme’na, Datu Marioriwawo, Petta Torisompae, Sultan Sa’aduddin, Datu Tungke’na Tana Ugi, To Unru, dan Petta Matinroe ri Bontoala, itulah nama lengkap dan gelarannya.

La Tenritatta lahir dari pasangan We Tenrisui Datu Mario Riwawo dengan suaminya La Pottobune Arung Tana Tengnga Datu Lompulle.

Ibu kandung We Tenrisui adalah We Baji atau We Dangke Lebae ri Marioriwawo dengan suaminya La Tenriruwa raja Bone ke-11 Matinroe ri Bantaeng.

La Tenriruwa yang mula-mula menerima agama Islam dari Karaengnge ri Gowa yang juga dianggap sebagai orang pertama menerima agama Islam di Celebes Selatan.

Karena pada waktu itu orang Bone menolak agama Islam, maka La Tenriruwa pindah ke Bantaeng dan di sana ia meninggal dunia sehingga digelar Matinroe ri Bantaeng.

Ketika La Tenritatta baru berusia 11 tahun, Bone dipimpin oleh La Tenriruwa, kemudian Bone diserang dan dikalahkan oleh Gowa.

Orang tuanya La Pottobune ditangkap dan ditawan bersama La Tenriruwa serta beberapa anak bangsawan Bone lainnya oleh Karaenge ri Gowa dalam peristiwa yang disebut Beta ri Pasempe ( Kekalahan di Pasempe ).

Pasempe adalah sebuah kampung kecil yang dipilih La Tenri Ruwa untuk melakukan perlawanan dan disitulah dia dikalahkan. Semua tawanan Gowa termasuk orang tua La Tenritatta dibawa ke Gowa.

Sesampainya di Gowa, tawanan-tawanan itu dibagi-bagi kepada Bate Salapangnge ri Gowa.

La Pottobune dan isterinya We Tenrisui serta anaknya La Tenritatta diambil oleh Karaengnge ri Gowa.

La Tenritatta ditempatkan di Salassae atau istana Gowa sementara orangtuanya diberikan sebidang tanah untuk digarap guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Di atas tanah itulah orang tua La Tenritatta membuat pondok untuk ditempatinya.

Karena La Tenritatta dianggap masih anak-anak, maka ia selalu diikutkan oleh Karaengnge ri Gowa apabila bepergian.

La Tenritatta biasanya ditugasi untuk membawa tombak atau sebagai pakkalawing epu (pembawa perlengkapan) yang diperlukan oleh Karaengnge ri Gowa dalam perjalanan itu.

Sejak itu La Tenrutatta dikenal banyak kalangan, termasuk para anggota Bate Salapange ri Gowa.

La Tenritatta memiliki sifat-sifat yang baik, jujur, dan cerdas. Oleh karena itu ia diambil oleh Karaeng Patingalloang untuk diajari tentang adat-istiadat Makasar-Gowa.

Setelah Karaeng Patingalloang meninggal dunia, maka yang menggantikannya adalah saudaranya yang bernama Karaeng Karunrung.

Karaeng Karunrung terkenal sangat kejam terhadap orang-orang Bone yang menjadi tawanan Gowa.

Karaeng Karunrung pula yang memerintahkan kepada Tobala Jennang Bone untuk dikirimi sebanyak 10.000 orang Bone yang akan dipekerjakan sebagai penggali parit dan pembuat benteng di kerajaan Gowa.

Jumlah tersebut tidak bisa dikurangi, diganti atau dibayar. Meskipun seseorang yang telah ditunjuk itu ada yang bisa menggantikannya atau mampu untuk membayarnya, namun Karaeng Karunrung tidak membenarkannya.

Ketika orang Bone yang jumlahnya 10.000 itu tiba di Gowa langsung dipekerjakan sebagai penggali parit dan pembuat benteng.

Tiap-tiap 10 orang diawasi oleh seorang mandor dari orang Gowa sendiri.

Mereka dipekerjakan mulai pagi sampai malam dan hanya diberi kesempatan istirahat pada waktu makan.

Makanannya tidak ditanggung oleh Karaeng Karunrung, tetapi harus dibawa sendiri dari Bone.

Ketika itu La Tenritatta telah kawin dengan putri bangsawan Gowa yang bernama I Mangkawani Daeng Talele.

Pada saat orang Bone yang jumlahnya 10.000 itu bekerja, La Tenritatta menggabungkan diri dan bekerja juga sebagai penggali parit dan pembuat benteng.

Oleh karena itu, La Tenritatta juga merasakan bagaimana penderitaan orang-orang Bone disiksa oleh mandor-mandor Gowa yang mengawasi pekerjaan itu.

Suatu ketika, Karaengnge ri Gowa (Karaeng Karunrung) akan memperingati ulang tahun kelahirannya, maka diadakanlah perburuan rusa di Tallo.

Seluruh rakyat diharuskan mengikuti perburuan tersebut. Akan tetapi La Tenritatta yang biasa membawakan tombak Karaenge kebetulan tidak ikut berburu.

Oleh karena itu orang tuanya La Pottobune yang ditunjuk oleh Karaeng Karunrung untuk membawakan tombaknya yang menggantikan anaknya.

Tiba di lokasi perburuan di Tallo, berpencarlah para pemburu menelusuri hutan-hutan mencari rusa. Di antaranya ada yang menunggang kuda.

Namun kebetulan ada dua orang pekerja parit yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan, karena disangkanya dirinya yang dikepung.

Kedua orang tersebut ditangkap oleh pemburu dan dihadapkan kepada Karaeng Karunrung. Keduanya disiksa, dipukuli sampai meninggal dunia.

La Pottobune ayah La Tenritatta sangat prihatin menyaksikan penyiksaan itu, sehingga tidak dapat menahan perasaannya melihat saudaranya dari Bone dibunuh dengan kejam.

La Pottobune tidak mampu menahan emosinya dan pada saat itu juga ia mengamuk dengan menggunakan tombak Karaeng Karunrung yang dibawanya.

Setelah membunuh banyak orang Gowa, barulah ia ditangkap dan disiksa seperti layaknya pekerja parit yang melarikan diri tadi.

Karena La Pottobune memiliki ilmu kebal terhadap senjata tajam, maka barulah dia meninggal dunia setelah dimasukkan dalam lesung dan ditumbuk dengan alu.

Sejak kejadian itu, La Tenritatta tidak bisa lagi tidur. Setiap saat ia selalu berdoa kepada tuhan agar diberi jalan yang lapang untuk kembali menegakkan kebesaran Tanah Bone.

Suatu saat pagi-pagi sekali La Tenritatta tiba di tempat penggalian. Lalu dipanggilnya keluarga dekatnya, yaitu Arung Belo, Arung Pattojo, Arung Ampana dan lain-lain.

Semua keluarga dekatnya itu memang tidak pernah berpisah dengannya. Dalam kesempatan itu, dibuatnya suatu kesepakatan untuk membebaskan seluruh orang Bone dari penyiksaan orang Gowa di tempat penggalian tersebut.

Kesepakatan ini sangat dirahasiakan, tidak seorangpun yang bisa mengetahuinya termasuk kepada isteri mereka.

Pada waktu diadakan perburuan rusa terakhir di Tallo, rencana pembebasan yang akan dilakukan oleh La Tenritatta, Arung Belo, Arung Pattojo, dan Arung Ampana juga sudah cukup matang.

Semua keluarganya sudah dipersiapkan dan barang-barang bawaan sudah dikemas dengan rapi.

Saat itulah La Tenritatta memerintahkan kepada seluruh pekerja parit dan pembuat benteng untuk melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Para pekerja paksa dari Bone itu kemudian membunuh seluruh mandor Gowa lalu dirampas senjata dan perlengkapan lainnya.

Tiba di Bone La Tenritatta langsung menemui Jennang Tobala dan Datu Soppeng yang bernama La Tenribali yang tidak lain adalah pamannya sendiri.

Datu Soppeng La Tenribali dan Jennang Tobala memang telah membuat suatu kesepakatan untuk membangkitkan kembali semangat orang Bone melawan Gowa.

Kesepakatan antara Jennang Tobala dengan Datu Soppeng inilah yang kemudian dikenal dengan nama perjanjian Pincara Lopie ri Attapang.

Kepada pamannya Datu Soppeng, La Tenritatta minta bekal yang dibutuhkan dalam perjalanan, karena dia akan pergi jauh mencari teman yang bisa diajak kerja sama melawan Gowa.

Sebab menurut perkiraannya perjalanan ini akan memakan waktu yang lama dan akan menelan banyak pengorbanan.

Tidak berapa lama, datanglah orang Gowa dengan jumlah yang sangat besar lengkap dengan persenjataan perangnya mencari La Tenritatta.

Terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat antara La Tenritatta bersama pasukannya melawan orang Gowa di Lamuru.

Tetapi karena kekuatan Gowa ternyata lebih kuat, akhirnya La Tenritatta bersama pasukannya mundur ke arah utara.

Sementara orang Gowa yang merasa kehilangan jejak, melanjutkan perjalanan ke Bone.

Tiba di Bone orang Gowa betempur lagi melawan Tobala dengan pasukannya yang berakhir dengan tewasnya Jennang Tobala Petta Pakkanynyarangnge.

Setelah Jennang Tobala tewas dalam pertempuran, orang Gowa terus ke Soppeng untuk menangkap Datu Soppeng La Tenribali dan selanjutnya dibawa ke Gowa ( Mangkasar ). Sedangkan pencarian terhadap La Tenritatta Arung Palakka tetap dilanjutkan.

Tewasnya Jennang Tobala Arung Tanete, maka oleh Karaengnge ri Gowa yang bernama I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape atau Sultan Hasanuddin merasa perlu untuk mengangkat Jennang yang baru di Bone.

Ditunjuklah La Sekati Arung Amali sebagai pengganti Jennang Tobala, sementara Datu Soppeng La Tenribali ditawan di Gowa dan ditempatkan di Sanrangeng bersama La Maddaremmeng.

Karena merasa selalu diburu oleh orang Makasar-Gowa, maka La Tenritatta bersama seluruh pengikutnya semakin terjepit dan sulit untuk tinggal di tanah airnya sendiri yakni Tanah Ugi.

Oleh karena itu bersama Arung Belo, Arung Pattojo, dan Arung Ampana sepakat untuk menyeberang ke Butung Tanah Uliyo.

Hal itu dilakukan dengan pertimbangan siapa tahu nanti di Buton Tanah Uliyo bisa mendapatkan teman yang dapat diajak bekerja sama melawan Gowa.

Dipersiapkanlah sejumlah perahu yang akan digunakan berlayar ke Buton.

Kemudian La Tenritatta bersama seluruh pengikutnya bertolak dari pantai Cempalagi menuju Buton Tanah Uliyo, dan bekas kaki La Tenritatta sampai saat ini masih bisa disaksikan di sekitar Bukit Cempalagi.

Beberapa saat setelah meninggalkan Cempalagi, orang Gowapun datang mencari jejaknya. Tetapi La Tenritatta bersama pengikutnya telah berada di tengah laut menuju ke Buton.

Dengan demikian orang Gowa segera kembali untuk menyampaikan kepada Karaengnge ri Gowa, bahwa La Tenritatta To Unru bersama seluruh pengikutnya tidak berada lagi di daratan Tanah Ugi.

Besar kemungkinan ia menyeberang ke Buton untuk mengajak kerja sama kepada raja Buton.

Mendengar laporan itu, Karaengnge ri Gowa memerintahkan Arung Gattareng untuk menyusulnya. Kemudian Arung Gattareng berhasil bertemu La Tenritatta di tengah laut.

Setelah berbicara sejenak, Arung Gattareng lalu membelokkan perahunya dan kembali ke Gowa . Sementara La Tenritatta  bersama pengikutnya tetap melanjutkan perjalanan menuju Buton.

Tiba di Buton, La Tenritatta diterima baik oleh raja Buton dan diberikan tempat untuk istirahat bersama pengikutnya.

Kepada La Tenritatta, Raja Buton berkata: ”Tinggallah sementara di sini, nanti kalau kapal Belanda yang akan menuju ke Ambon dan Ternate singgah di sini, barulah saya pertemukan denganmu”

Karena saya sangat khawatir kalau nantinya orang Gowa yang disuruh oleh Karaengnge ri Gowa bisa menemukan tempatmu di sini.

” Karaengnge ri Gowa memang sangat marah kepada saya, karena kapal-kapal Belanda selalu singgah di sini apabila akan berangkat menuju ke Ambon dan Ternate” kata raja Buton.

Pada saat La Tenritatta akan bertolak ke Buton, ia singgah bernazar di gunung Cempalagi dekat Pallette.

Dalam nazarnya tersebut, La Tenritatta bertekad tidak akan memotong rambutnya sebelum dirinya bersama seluruh pengikutnya kembali dengan selamat di Tanah Ugi.

Sejak itulah rambutnya dibiarkan menjadi panjang dan digelarlah sebagai Petta Malampee Gemme’na.

Karaenge ri Gowa sudah mengetahui bahwa La Tenritatta Arung Palakka bersama pengikutnya telah berada di Buton.

Oleh karena itu disiapkanlah pasukan dengan jumlah besar yang diperlengkapi dengan senjata perang untuk menyerang Buton Tanah Uliyo.

Apalagi maksud untuk menyerang Buton memang telah lama direncanakan, karena  selalu menjadi tempat persinggahan kapal-kapal Belanda kalau akan berangkat ke Ambon dan Ternate.

Tidak lama kemudian utusan Karaenenge ri Gowa datang ke Buton untuk mencari La Tenritatta bersama pengikutnya.

Tetapi sebelum utusan itu naik ke darat, Raja Buton menyampaikan kepada La Tenritatta bersama pengikutnya untuk sementara menghindar disebuah sumur besar dan tidak berair tidak jauh dari istana Raja Buton.

Kepada La Tenritatta, Raja Buton berkata : ” Saya akan bersumpah nanti kalau utusan Karaengnge ri Gowa naik untuk menanyakan keberadaanmu, bahwa kamu dengan seluruh pengikutmu tidak berada di atas Tanah Buton “.

Sementara itu, utusan Karaengnge ri Gowa memang tidak melihat adanya tanda-tanda, bahwa orang yang dicarinya ada di tempat itu, maka utusan itupun pamit dan kembali ke Gowa.

Karaengnge ri Gowa rupanya tidak kehabisan akal, maka disusunlah strategi baru dengan memperbanyak pasukan dan diperlengkapi dengan persenjatan untuk menyerang Buton sampai ke Ternate.

Dipanggilah Datu Luwu La Setiaraja bersama Karaeng Bonto Marannu untuk memimpin pasukan ke Buton.

Menurut rencananya, setelah Buton kalah, serangan akan dilanjutkan ke Ternate untuk menangkap Raja Ternate.

Berita tentang rencana Karaengnge ri Gowa akan menyerang Buton dan Ternate telah sampai kepada Belanda di Jakarta.

Oleh karena itu, Belanda mempersiapkan sejumlah kapal dan perlengkapan perang untuk melawan Gowa.

Kepada La Tenritatta yang sementara berada di Buton dipesankan untuk memperlengkapi pasukannya dengan persenjataan.

Begitu pula kepada Raja Buton agar bersiap-siap menunggu kedatangan bantuan persenjataan dari Kompeni Belanda.

Atas perintah Karaengnge ri Gowa, Datu Luwu bersama Karaeng Bonto Marannu berlayar ke Buton membawa pasukan untuk menyerang Buton dan selanjutnya Ternate.

Sementara itu, berita tentang keberangkatan pasukan Kompeni Belanda bersama La Tenritatta ke Buton telah sampai pula pada Karaengnge ri Gowa.

Oleh karena itu, Karaengnge ri Gowa segera mengembalikan La Maddaremmeng ke Bone dan Datu Soppeng La Tenribali dikembalikan ke Soppeng.

Didudukkanlah Bone sebagai Palili (daerah bawahan) dari Gowa yang berarti Bone telah lepas dari penjajahan Gowa.

Adapun maksud Karaengnge ri Gowa mengembalikan La Maddaremmeng untuk menduduki kembali sebagai raja Bone, agar orang Bone tidak lagi melihat Gowa sebagai lawan.

Karena menurutnya Gowa sekarang bermusuhan dengan Kompeni Belanda.

Sementara La Tenribali Datu Soppeng yang tadinya ditempatkan di Sanrangeng dekat Sailong bersama  La Maddaremmeng sebagai tawanan, dikembalikan pula ke Soppeng.

Selanjutnya Soppeng didudukkan pula sebagai Palili dari Gowa sebagaimana halnya Bone. Sejak itu Soppeng bukan lagi sebagai jajahan Gowa melainkan sebagai daerah bawahan saja.

Kapal-kapal Kompeni Belanda yang memuat pasukan tempur dipimpin oleh Cornelis Speelman tiba di Buton.

Di atas kapal itu ada La Tenritatta bersama dengan seluruh pengikutnya.

La Tenritatta memperoleh informasi bahwa yang memimpin pasukan Gowa adalah Datu Luwu La Setiaraja dan Karaeng Bonto Marannu.

Oleh karena itu La Tenritatta berkata kepada Cornelis Speelman agar jangan melepaskan tembakan.

La Tenritatta memberi penjelasan kepada Cornelis Speelman bahwa Bone dengan Luwu sama-sama dijajah oleh Gowa. Bone dengan Luwu tidak pernah bermusuhan.

Begitu pula Karaeng Bonto Marannu tidak pernah terjadi selisih paham dengannya. Keduanya hanya disuruh oleh Karaengnge ri Gowa unuk menyerang orang Bone.

Selanjuitnya La Tenritatta mengajak  Cornelis Speelman untuk mengirim utusan ke darat guna menemui Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu.

Menurut La Tenritatta, siapa tahu ada jalan yang bisa ditempuh dan tidak saling bermusuhan sesama saudara.

Ajakan itu disetujui oleh Speelman dan diutuslah beberapa orang naik ke darat menemui Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu.

Sesampainya di tempat Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu, utusan itu menyampaikan bahwa La Tenritatta Arung Palakka bersama Cornelis Speelman mengharapkan Datu Luwu bersama Karaeng Bonto Marannu turun ke kapal dengan mengibarkan bendera putih untuk berbicara secara baik-baik.

Mendengar apa yang disampaikan oleh utusan itu, Datu Luwu La Setiaraja dan Karaeng Bonto Marannu sependapat bahwa lebih banyak buruknya daripada baiknya jika kita saling bermusuhan sesama saudara.

Kalau kita berdamai, hanyalah senjata kita yang diambil. Tetapi kalau kita bertahan untuk berperang, maka senjata beserta seluruh pasukan kita ikut diambil.

Setelah saling bertukar pendapat antara Datu Luwu dengan Karaeng Bonto Marannu yang mendapat persetujuan dari seluruh pasukannya

Maka turunlah ke kapal Belanda menemui La Tenritatta dan Cornelis Speelman.

Dari atas kapal ada Arung Belo, Arung Pattojo, Arung Ampana serta Arung Bila menjemput kedatangan Datu Luwu dan Karaeng Bonto Marannu beserta beberapa pengikutnya.

Datu Luwu La Setiaraja dan Karaeng Bonto Marannu menyatakan bergabung dengan La Tenritatta Arung Palakka, makanya keduanya minta perlindungan Kompeni Belanda.

Untuk mengamankan keduanya dari Karaengnge ri Gowa, is dibawa ke sebuah pulau oleh Cornelis Speelman. Nanti setelah perang selesai, barulah kembali ke negerinya.

Sedangkan pasukannya dinaikkan ke kapal untuk dibawa pulang ke kampungnya setelah dilucuti seluruh senjatanya.

Hal ini terjadi atas prakarsa dan strategi La Tenritatta yang dilakukan untuk menghindari pertumpahan darah antara sesama. Meskipun selanjutnya La Tenritatta balik menghantam Belanda.

Sementara itu, berita tentang dikembalikannya La Maddaremmeng ke Bone dan La Tenribali ke Soppeng oleh Karaengnge ri Gowa di mana Bone dan Soppeng didudukkan sebagai Palili (daerah bawahan), telah sampai kepada La Tenritatta Arung Palakka.

Lalu Arung Palakka mengirim utusan ke Bone dan Soppeng agar Arumpone La Maddaremmeng dan Datu Soppeng tetap mengangkat senjata untuk melawan Gowa yang dipimpin Sultan Hasanuddin.

La Tenritatta Arung Palakka bersama Cornelis Speelman dengan persenjatan yang lengkap meninggalkan Buton menyusuri daerah-daerah pesisir yang termasuk kekuasan Karaengnge ri Gowa.

Banyak daerah pesisir yang tadinya berpihak kepada Gowa, berbalik dan menyatakan berpihak kepada La Tenritatta Arung Palakka.

Melalui darat, Arung Bila, Arung pattojo, Arung Belo, dan Arung Ampana terus membangkitkan semangat orang Bone dan orang Soppeng untuk berperang melawan Gowa. Beberapa daerah di Tanah Pabbiring Barat berbalik pula melawan Karaengnge ri Gowa.

Dengan demikian keadaan Karaengnge Gowa Sultan Hasanuddin sudah terkepung.

Kompeni Belanda dibawah komando Cornelis Speelman menghantam dari laut, sementara La Tenritatta Arung Palakka dengan seluruh pasukannya menghantam dari darat.

Semua arung yang tadinya membantu Gowa kembali berbalik menjadi lawan, kecuali Wajo tetap membantu Gowa.

Karena merasa sudah sangat terdesak dan pertempuran telah banyak memakan korban dipihak Sultan Hasanuddin.

Maka pada Jumat, 21 November 1667  Karaeng Bonto Mangape atau Sultan Hasanuddin bersedia mengakhiri perang.

Kesediaannya itu ditandai dengan suatu perjanjian yang bernama Perjanjian Bungaya.

Perjanjian ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin dengan Cornelis Speelman Admiral kompeni Belanda.

Sementara perjanjian Sultan Hasanuddin dengan Arung Palakka adalah melepaskan Bone dan Soppeng sebagai jajahan Gowa.

Setelah perang berakhir, barulah La Tenritatta bersama pengikutnya masuk ke Bone. Sesampainya di Bone, dijemput oleh raja Bone La Maddaremmeng.

Keduanya saling mengucapkan selamat atas kemenangannya melawan Gowa. Berkatalah La Maddaremmeng kepada kemanakannya La Tenritatta:

”Saya sekarang sudah tua dan semakin lemah, walaupun saya telah dikembalikan oleh Karaengnge ri Gowa untuk menduduki Mangkau’ di Bone, namun hanyalah sebagai simbol.

Sebab Bone hanya ditempatkan sebagai daerah palili yang berarti harus tetap mengabdi kepada Gowa.

Oleh karena itu saya berpendapat sebaiknya engkaulah yang memangku Mangkau’ di Bone.

Sebab jabatan itu memang adalah hak dan warisanmu dari raja Bone La Tenriruwa, Matinroe ri Bantaeng.

Hanya karena orang Bone pada mulanya tidak mau menerima Islam, sehingga pamanmu La Tenriruwa meninggalkan Bone”.

La Tenritatta menjawab:

”Saya menjunjung tinggi keinginan Puatta, tetapi saya tetap berpendapat bahwa nantilah api itu padam baru dicarikan penggantinya, artinya nantilah Arumpone benar-benar sudah tidak ada baru diganti”.

Oleh karena itu, La Maddaremmeng tetap memangku Mangkau’ di Bone sampai ia meninggal dunia.

Akan tetapi yang melaksanakan roda pemerintahan adalah kemenakannnya yaitu La Tenritatta.

Bagi Kompeni Belanda hubungannya dengan arung-arung di Tanah Ugi harus melalui La Tenritatta.

Cornelis Speelman meminta kepada Gubernur Jenderal di Betawi agar La Tenritatta diangkat menjadi raja Bone.

Selain itu ia juga diangkat menjadi pimpinan bagi arung-arung di Tanah Ugi, karena itu digelarlah La Tenritatta Petta To Risompae.

Dalam tahun 1672  La Maddaremmeng meninggal dunia, barulah Arung Palakka resmi menjadi raja Bone.

Diseranglah Wajo pada bulan Agustus 1670 karena Arung Matowa Wajo yang bernama La Tenrilai belum mau mengalah pada saat diadakannya Perjanjian Bungaya.

La Tenrilai menyatakan kepada Karaengnge ri Gowa Sultan Hasanuddin bahwa perang antara Karaengnge dengan Kompeni Belanda telah berakhir, tetapi perang Wajo dengan Arung Palakka belum selesai.

Oleh karena itu Sultan Hasanuddin menganjurkan kepada La Tenrilai untuk kembali ke Wajo bersama seribu pengikutnya.

Sesampainya di Wajo, disusul kemudian oleh Arung Palakka bersama seluruh pengikutnya dan berperanglah selama empat bulan. Korban berjatuhan baik dari Bone, Soppeng, maupun Wajo.

Batal sudah Perjanjian Tellumpoccoe akhirnya Wajo kalah. Tosora terbakar, bobol sudah pertahanan Wajo.

Dalam peperangan yang dahsyat ini, Arung Matowa Wajo La Tenrilai To Sengngeng gugur terbakar, maka digelarlah Matinroe ri Salokona.

Dengan demikian datanglah utusan Pillae Patolae minta untuk diadakan gencatan senjata atau menghentikan perang kepada Bone dan Soppeng.

Permintaan itu dijawab oleh Arung Palakka bahwa hanya diberi kesempatan selama tiga hari untuk mengurus jenazah Arung Matowae ri Wajo.

Setelah itu, sepakatlah orang Wajo untuk mengangkat La Palili To Malu menggantikan La Tenrilai To Sengngeng sebagai Arung Matowa Wajo yang baru.

Arung Matowa Wajo inilah yang menyatakan diri kalah dari Bone dan Soppeng.

Pada tanggal 23 Sepetember 1670 La Palili To Malu naik ke Ujungpandang untuk menandatangani perjanjian dalam Benteng Rotterdam.

Arung Palakka, Arunge ri Bantaeng, Datu Soppeng, Arung Tanete serta beberapa petinggi lainnya yang mengantar Arung Matowa Wajo La Palili To Malu masuk ke Benteng Rotterdam.

Arung Matowa Wajo bersama dengan Pillae yang bernama La Pakkitabaja, Patolae yang bernama La Pangabo, Cakkuridie yang bernama La Padapi, inilah yang dinamakan ” Tellue Bate Lompo ri Wajo “.

Setelah selesai berperang dengan Wajo tahun 1671 La Tenritatta menikahkan adik perempuannya yang bernama We Mappolo Bombang yang juga diangkat menjadi Maddanreng di Palakka.

We Mappolo Bombang dinikahkan dengan La Pakokoe To angkone Arung Timurung yang juga Arung Ugi anak dari La Maddaremmeng Matinroe ri Bukaka dengan isterinya yang bernama We Hadijah I Dasaleng Arung Ugi.

Lima bulan setelah pernikahan adik perempuannya We Mappolo Bombange Maddanreng Palakka, dalam tahun 1671 M Arung Palakka MalampeE Gemme’na mengadakan keramaian untuk melepaskan nazarnya ketika hendak meninggalkan Tanah Ugi.

Nazarnya itu, adalah:

Kalau nantinya saya selamat kembali ke Tanah Ugi menegakkan kembali kebesaran Bone dan Soppeng, saya akan membuat Sokko tujuh macam SETINGGI GUNUNG CEMPALAGI.

Akan kusembelih SERATUS KERBAU CAMARA (belang) bertanduk emas, sebagai tebusan anak bangsawan Gowa, maddara takku (berdarah biru), dan sebagai ganti kepala Karaeng Mangkasara (bangsawan tinggi) di Gowa.

Tellabu Essoe ri Tengnga Bitarae (Takkan tenggeam matahari di tengah langit) Tuhan mengatur segalanya demikian makna sumpah yang terpatri di di lubuk hati La Tenritatta Arung Palakka.

Pada saat itulah La Tenritatta menyampaikan kepada pengikutnya bahwa ia memanjangkan rambutnya selama dalam perantauan dan nanti akan dipotong setelah kembali menegakkan kebesaran Bone.

Maka setelah melepaskan nazarnya di Cempalagi, ia lalu memotong rambutnya, kemudian mangosong (bernyanyi):

” MUASEGGI BELO-BELO WELUWA SAMPO GENOE, METTIPI NATTOWA WEWE, MUASEGGI CULE-CULE WELUWA SAMPO PALIPPALING, RIACCINAONGI AWANA ”

Ketika acara potong rambutnya yang diikuti oleh seluruh pengikutnya selesai, La Tenritatta melepaskan nazarnya dengan memotong 400 ekor kerbau di lereng gunung Cempalagi.

Seratus ekor kerbau camara (Bulu hitam dengan belang dibagian ekor dan kepala) bertanduk emas (ditaruh emas pada tanduknya). Tiga ratus ekor sebagai pengganti kepala bangsawan Gowa dan bangsawan Mangkasara.

Setelah itu, diseranglah seluruh negeri yang belum menyatakan diri takluk kepada Bone.

Negeri-negeri itu antara lain: Mandar, Palilina Tanah Luwu yang masih mengikut kepada Gowa.

Selanjutnya serangannya ditujukan kepada Pasuruan Jawa Timur, Galingkang dan Sangalla. Kesemua negeri tersebut dikalahkan dan terakhir adalah Letta.

Pada tanggal 3 November 1672 We Mappolo Bombang melahirkan anak laki-laki yang bernama La Patau Matanna Tikka. Anak ini lahir dari perkawinannya denga La Pakokoe Toangkone Arung Timurung.

Atas kelahiran La Patau Matanna Tikka membuat La Tenritatta sangat gembira.

Karena menurut pikirannya, sudah ada putra mahkota yang bisa melanjutkan akkarungeng di Tanah Bone.

La Tenritatta Arung Palakka yang tidak memiliki anak, menganggap bahwa anak dari adik perempuannya itulah yang menjadi ANA’ PATTOLA (generasi, putra mahkota).

Setelah La Maddaremmeng meninggal dunia dalam tahun 1672 sepakatlah anggota adat Bone yang didukung oleh seluruh orang Bone serta Pembesar Kompeni Belanda untuk mengangkat La Tenritatta Arung Palakka menjadi raja Bone menggantikan pamannya.

Agar dapat memperoleh keturunan La Tenritatta Arung Palakka kawin dengan We Yadda Datu Watu anak dari La Tenribali Datu Soppeng. Namun dari perkawinannya itu, tetap tidak memperoleh keturunan.

Adapun saudara perempuan La Tenritatta yang bernama We Kacimpureng yang kawin dengan To Dani juga tidak memiliki keturunan.

Saudara perempuaannya yang tua yang bernama We Tenri Abang, dialah yang diberikan Marioriwawo.

Dia pula yang diikutkan sewaktu La Tenritatta pergi ke Batavia di masa berperang dengan Gowa.

We Tenri Abang kawin dengan La Mappajanji atau biasa juga dinamakan La Sulo Daeng Matasa.

Dari perkawinannya itu lahir seorang anak perempuan yang bernama We Pattekke Tana Daeng Risanga.

Melihat bahwa tidak ada lagi musuh yang berarti, maka La Tenritatta Arung Palakka mengumpulkan seluruh Bocco (Akkarungeng Tetangga) di Baruga Tellue Coppo’na yang terletak di Cenrana.

Diadakanlah suatu pesta untuk disaksikan oleh arung-arung yang pernah ditaklukkannya, termasuk pembesar-pembesar Kompeni Belanda.

Dalam kesempatan itu, La Tenritatta Arung Palakka menyampaikan kepada semua yang hadir bahwa dirinya telah melepaskan nazar dan telah meletakkan Samaja (sesaji) dan juga telah memotong rambutnya.

Seluruh yang hadir pada pesta tersebut mendengarkan dengan baik tentang apa yang disampaikan oleh La Tenritatta.

“Dengarkanlah wahai seluruh orang Bone dan juga seluruh daerah passiyajingeng Tanah Bone, termasuk passiyajingeng keturunan Mappajungnge.

Besok atau lusa datang panggilan Allah kepadaku, hanyalah kemanakan saya yang dua bisa mewarisi milikku.

Yang saya tidak berikan adalah harta yang masih dimiliki oleh isteriku I Mangkawani Daeng Talele.

Sebab saya dengan isteriku I Mangkawani Daeng Talele tidak memiliki keturunan.

Adapun kemanakanku yang bernama La Patau Matanna Tikka, saya berikan akkarungeng atau sebagai raja di Bone.

Sedangkan kemanakanku yang satu anak Datu Marioriwawo, saya wariskan harta bendaku, kecuali yang masih ada pada isteriku I Mangkawani Daeng Talele”.

La Patau Matanna Tikka berkata:

“Saya telah mendengarkan pesan pamanku Petta To Risompae bahwa saya diharapkan untuk menggantikannya kelak sebagai Mangkau’ di Bone.

Namun saya sampaikan kepada orang banyak bahwa sebelum saya menggantikan Puatta selaku Arumpone, apakah merupakan kesepakatan orang banyak dan bersedia berjanji denganku?”

Seluruh anggota adat dan orang banyak berkata ; “Katakanlah untuk didengarkan oleh orang banyak”.

Berkata lagi La Patau Matanna Tikka ; “Saya akan menerima kesepakatan orang banyak dari apa yang dikatakan oleh Puatta To Risompae, apabila orang banyak mengakui dan mengetahui bahwa:

(1) Tidak akan ada lagi Mangkau’ di Bone kalau bukan keturunanku.

(2) Ketahui pula bahwa keturunanku adalah anak cucu Mappajungnge tidak akan dipilih dan didudukkan oleh keturunan Lilie, dan

(3) Begitulah yang saya sampaikan kepada orang banyak “.

Seluruh orang banyak berkata ; ”Angikko Puang kiraukkaju Riyao miri riyakeng mutappalireng-muwawa ri peri nyameng”

(Baginda angin dan kami semua daun kayu, di mana Baginda berembus, disanalah kami terbawa-menempuh kesulitan dan kesenangan).

La Tenritatta To Risompae, adalah Datu Marioriwawo, Arung di Palakka sebelum memangku Mangkau’ di Bone menggantikan Matinroe ri Bukaka.

Sesudah perjanjian Bungaya 18 November 1667 M dia menegakkan kembali kebesaran Bone, melepaskan dari jajahan Gowa.

Begitu pula Soppeng, Luwu, dan Wajo, semuanya dilepaskan dari jajahan Gowa.

Datu Luwu Matinroe ri Tompo’ Tikka yang menguasai Tanah Toraja sampai di pegunungan Latimojong yang ikut membantu Bone, diangkat sebagai daerah passiyajingeng (daerah sahabat).

La Tenritatta lalu membuat payung emas dan payung perak di samping Bendera Samparajae.

Oleh Kompeni Belanda diberinya selempang emas dan kalung emas sebagai tanda kenang-kenangan Kompeni Belanda atas jasa baiknya menjalin kerja sama.

Selaku Mangkau’ dari seluruh Mangkau’ di Celebes Selatan, La Tenritatta Petta To Risompae belum merasa puas kalau Tellue Cappa’ Gala yaitu Kerajaan Besar Bone, Gowa, dan Luwu tidak bersatu.

Oleh karena itu, ia mengawali dengan mengawinkan bakal penggantinya sebagai Arumpone kelak yaitu La Patau Matanna Tikka dengan anak Pajungnge ri Luwu La Setiaraja dari isterinya yang bernama We Diyo Opu Daeng Massiseng Petta I Takalara.

Anak Datu Luwu tersebut bernama We Ummung Datu Larompong.

We Ummung Datu Larompong kemudian diangkat menjadi Maddanreng Tellumpoccoe (Bone, Soppeng, dan Wajo) dan seluruh daerah sahabat Bone dalam tahun 1686.

Untuk Wajo diangkat dua orang berpakaian kebesaran, begitu pula Soppeng, Ajatappareng, Massenrempulu, Mandar Pitue Babanna Minanga tiga orang.

Sementara Kaili, Butung, Tolitoli masing-masing tiga orang. Sedangkan Ajangale dan Alau Ale’ masing-masing dua orang.

Adapun perjanjian La Tenritatta dengan Datu Luwu La Setiaraja, adalah :

” Apabila La Patau bersama We Ummung Datu Larompong melahirkan anak, maka anaknya itulah yang akan menjadi Datu di Luwu “.

Selanjutnya La Patau Matanna Tikka dikawinkan lagi di Tanah Mangkasara dengan perempuan yang bernama We Mariama Karaeng Patukangang.

We Mariama anak dari La Mappadulung Daeng Mattimung Karaenge ri Gowa yang juga dinamakan Sultan Abdul Jalil dengan isterinya Karaeng Lakiung.

Dalam acara pernikahan itu, hadir semua daerah sahabat Bone untuk menyaksikannya.

Adapun perjanjian La Tenritatta dengan Karaenfnge ri Gowa, pada saat dikawinkannya La Patau Matanna Tikka dengan We Mariama adalah:

”Kalau nantinya La Patau dengan We Mariama melahirkan anak laki-laki, maka anaknya itulah yang diangkat menjadi Karaeng ri Gowa”.

Oleh karena itu maka hanyalah anak We Ummung dari Luwu dan anak We Mariama dari Gowa yang bisa diangkat menjadi Mangkau’ di Bone.

Sementara yang lain, walaupun berasal dari keturunan bangsawan tinggi, tetapi dia hanya ditempatkan sebagai cera’ biasa (tidak berhak menjadi Mangkau’). Kecuali kalau anak We Ummung dan We Mariama yang menunjuknya.

Aturan yang berlaku di Tellumpoccoe dan Tellue Cappa’ Gala adalah: Tenri pakkarung cera’e-tenri attolang rajejgnge (Cera’ tidak bisa menjadi Arung dan rajeng tidak bisa menggantikan Arung). Kecuali semua putra mahkota telah habis dan tidak ada lagi pilihan lain.

Ketika kemanakan Arung Palakka yang bernama We Pattekke Tana Daeng Tanisanga Petta Majjappae Datu Tellue Salassana digeso’ (tradisi orang Bugis menggosok gigi dengan batu pada saat anak mulai dewasa).

Maka diundanglah seluruh Bocco dan seluruh Lili Passeliyajingeng Bone.

Pada saat itulah La Tenritatta memberikan kepada kemanakannya harta benda yang pernah dipersaksikan kepada orang banyak sesudah memotong rambutnya.

Selanjutnya We Pattekke Tana diberikan oleh ibunya Marioriwawo beserta isinya, dan ayahnya memberikan Tanete beserta isinya.

Pada acara maggeso’nya We Pattekke Tana, hadir semua Lili Passiyajingeng Bone, seperti Tellumpoccoe, Limae Ajattappareng, Pitue Babanna Minanga, Limae Massenreng Pulu, Tellue Batupapeng, Butung, Toirate, Bukie, Gowa, Cappa’galae dan petinggi-petinggi Kompeni Belanda.

Pada saat itu juga datang utusan Pajungnge ri Luwu untuk melamarkan putranya yang bernama La Onro To Palaguna kepada We Pattekke Tana.

La Latenritatta mengatakan kepada utusan Datu Luwu:

”Saya bisa menerima lamaranmu wahai orang Ware, tetapi dengan perjanjian We Tekke (Pattekke Tana) engkau angkat menjadi datu di Luwu.

Walaupun dia nantinya tidak memiliki anak dengan suaminya (La Onro To Palaguna), apalagi kalau dia berdua melahirkan anak, maka harus mewarisi secara turun temurun tahta sebagai Datu Luwu”.

Permintaan tersebut diakui oleh orang Ware, dibuatlah perjanjian antara La Tenritatta dengan Pajungnge ri Luwu untuk mengangkat We Pattekke Tana sebagai Datu Luwu sampai kepada anak cucunya. Kesepakatan ini disetujui oleh orang Ware yang disaksikan oleh Tellumpoccoe.

Dari pernikahan We Pattekke Tana dengan La Onro To Palaguna lahirlah Batara Tungke Sitti Fatimah.

Kemudian Sitti Fatimah kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Rumpang Megga To Sappaile Cenning ri Luwu.

Anak dari We Yasiya Opu Pelai Lemo-lemo dengan suaminya yang bernama La Ummareng Opu To Mallinrung.

We Fatimah melahirkan tiga orang anak, yaitu ; We Tenri Leleang, inilah yang menjadi pewaris Datu Luwu.

Yang kedua La Tenri Oddang atau La Oddang Riwu Daeng Mattinring, dialah yang menjadi pewaris Arung Tanete.

Sedangkan yang ketiga La Tenri Angke Datu WaliE, dialah Datu Mario Riwawo.

Merasa usianya semakin renta, La Tenritatta To Unru Petta To Risompae MalampeE Gemme’na memilih untuk menetap di Tanah Mangkasar.

Pada hari Jumat tanggal 6 April 1696 pukul 11.30 Wita Arung Palakka meninggal dunia di rumahnya di Bontoala, maka dinamakanlah Matinroe ri Bontoala.

La Tenritatta Arung Palakka yang juga digelar Sultan Saaduddin dikuburkan berdampingan dengan makam Sultan Hasanuddin di Bontoala.

Namun sebelumnya setumpuk kisah sejati La Tenritatta turut mewarnai perlawanan dan pemberontakannya kepada Tentara Belanda setelah menaklukkan kerajaan lainnya di Sulawesi.

Strategi dan taktik juang cooperative dan non-cooperative digunakannya untuk membebaskan orang Bone dan Soppeng dari cengkeraman Gowa, serta pembebasan orang Bugis-Makassar dari penjajahan Belanda.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs. Adapun faktor-faktor yang mendukung...

Yabelale Lagu Bugis Menidurkan Anak

Yabelale adalah lagu Bugis yang diciptakan oleh Mursalim. Lagu ini cocok dinyanyikan untuk menidurkan buah hati. Yabelale antinro no mai anakku Yabelale upakkuru sumangemu Buana buana atikku Engkalingani elokku Elong...

Matematika Rumit tapi Ajaib

Artikel seperti ini sudah banyak bertebaran di internet namun seperti biasanya ketika saya dapati hal yang bermanfaat tidak ada salahnya disebarkan. Nah, mari kita simak...

Perjanjian Bone dengan Buton

Didasari persamaan nasib dan cita-­cita telah mendorong kedua kerajaan yakni Bone dan Buton menjalin hubungan kerja sama. Hal ini diawali ketika Arung Palakka bersama pengikutnya...

Makna Filosofi Bugis Ada Na Gau

Deretan filosofi Bugis yang dikenal selama ini sangat banyak yang mengandung pesan-pesan dengan makna sangat dalam. Pesan-pesan itu dilambangkan dalam bentuk ucapan dan kata-kata. Pesan...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...