No menu items!
20.1 C
Munich
Sabtu, 15 Agustus 20

Raja Bone ke-20 La Panaongi Topawawoi, 1721-1724

Must read

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs. Adapun faktor-faktor yang mendukung...

Yabelale Lagu Bugis Menidurkan Anak

Yabelale adalah lagu Bugis yang diciptakan oleh Mursalim. Lagu ini cocok dinyanyikan untuk menidurkan buah hati. Yabelale antinro no mai anakku Yabelale upakkuru sumangemu Buana buana atikku Engkalingani elokku Elong...

Matematika Rumit tapi Ajaib

Artikel seperti ini sudah banyak bertebaran di internet namun seperti biasanya ketika saya dapati hal yang bermanfaat tidak ada salahnya disebarkan. Nah, mari kita simak...

Perjanjian Bone dengan Buton

Didasari persamaan nasib dan cita-­cita telah mendorong kedua kerajaan yakni Bone dan Buton menjalin hubungan kerja sama. Hal ini diawali ketika Arung Palakka bersama pengikutnya...

LA PANAONGI, TOPAWAWOI, ARUNG MAMPU, KARAENG BISEI, 1721-1724, Dengan diangkatnya La Panaongi To Pawawoi sebagai raja Bone menggantikan saudaranya, maka telah tiga bersaudara dari isteri La Patau Matanna Tikka yang bernama We Mariama Karaeng Patukangang yang menjadi raja di Bone dan juga Datu di Soppeng.

Ketika menjadi raja di Bone, La Panaongi To Pawawoi dikenal sebagai raja yang berhati jernih dan dicintai oleh rakyatnya.

La Panaongi kawin dengan We Sitti Hawang Daeng Masennang, anak dari To Ujama. Dari perkawinan itu, lahirlah La Page Arung Mampu yang juga sebagai Arung Malolo di Bone.

Ketika masih kecil, La Panaongi dipelihara oleh neneknya yang bernama La Pariusi Daeng Manyampa Arung Mampu yang juga sebagai Arung Matowa Wajo Matinroe ri Buluna.

Pada saat itulah dia diwariskan oleh neneknya Akkarungeng ri Mampu, Sijelling dan Amali. Oleh karena itu sebelum menjadi Arumpone La Panaongi To Pawawoi telah dikenal sebagai Arung Mampu, Arung Sijelling dan Arung Amali.

Anak La Panaongi To Pawawoi dari isterinya We Sitti Hawang yang bernama La Page Arung Mampu Arung Malolo bi Bone, kawin dengan We Cenra Arung Bakung.

Dari perkawinan itu lahirlah dua anak laki-laki, yang pertama bernama La Maddussila Arung Mampu, kedua bernama La Pasampoi Arung Kading.

Kemudian La Page Arung Mampu Arung Malolo di Bone kawin lagi dengan We Saloge Arung Weteng.

Dari perkawinan itu, lahirlah; pertama La Mappaware Arung Tompo’bulu, kedua La Mappangara Arung Sinri To Marilaleng Bone Pawelaiye ri Sessoe, ketiga We Masi Arung Weteng.

We Masi kawin dengan To Tenri To Marilaleng Pawelaiye ri Kaluku BodoE. Dari perlawinannya itu, lahir dua anak laki-laki; pertama bernama La Mappaware Arung Tompo’bulu, kedua La Mappangara Arung Sinri, inilah yang menjadi To Marilaleng Pawelaiye ri SessoE.

La Mappangara Arung Sinri, inilah yang melahirkan Haji Abdul Razak seorang ulama’ besar yang memiliki ilmu agama Islam yang sangat luas saat itu.

Untuk lebih memperdalam ilmu yang dimilikinya, Haji Abdul Razak mengunjungi seorang ulama’ ahli tasauf di Berru yang bernama Haji Kalula (Haji Muhammad Fadael). Tarekat yang dipelajari dari Haji Kalula tersebut adalah Tarekat Khalwatiyah.

Ketika ulama besar Tarekat Khalwatiyah yang bernama Haji Kalula meninggal dunia, digantikanlah oleh Haji Abdul Razak sebagai ulama’ besar (Anre Guru Lompo).

Selanjutnya setelah Haji Abdul Razak meninggal dunia, maka Anre Guru Lompo Tarekat Khalwatiyah beralih lagi kepada anaknya yang bernama Haji Abdullah.

Ketika Haji Muhammad Abdullah meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 1967 digantikan lagi oleh anaknya yang bernama Haji Muhammad Saleh Daeng Situru.

Kemudian digantikan oleh saudaranya yang bernama Haji Muhammad Amin Daeng Manaba.

Beralih kepada To Marilaleng Pawelaiye ri Kaluku Bodoe yang bernama To Tenri, anak dari We Maisuri dengan suaminya Petta Tobala, Petta Pakkanynyarange Jennang Bone.

Sementara We Maisuri adalah anak dari We Daompo dengan suaminya La Uncu Arung Paijo.Sedangkan Tobala Petta Pakkanynyarange adalah anak dari Ponggawa Dinrue ri Bone.

We Daompo dengan Ponggawa Dinrue ri Bone bersaudara kandung, keduanya adalah anak dari Matinroe ri Bukaka.

Dalam tahun 1724 La Panaongi meletakkan Akkarungenge ri Bone dan Soppeng, digantikan kembali oleh saudaranya dari Luwu yang bernama Bataritoja Daeng Talaga. Dengan demikian, Bataritoja Daeng Talaga menjadi Raja di Bone untuk kedua kalinya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Pongka Sebuah Perkampungan Kono

Pongka adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tellu Siattingnge Kabupaten Bone. Dari beberapa penelitian Pongka sebenarnya merupakan kawasan situs. Adapun faktor-faktor yang mendukung...

Yabelale Lagu Bugis Menidurkan Anak

Yabelale adalah lagu Bugis yang diciptakan oleh Mursalim. Lagu ini cocok dinyanyikan untuk menidurkan buah hati. Yabelale antinro no mai anakku Yabelale upakkuru sumangemu Buana buana atikku Engkalingani elokku Elong...

Matematika Rumit tapi Ajaib

Artikel seperti ini sudah banyak bertebaran di internet namun seperti biasanya ketika saya dapati hal yang bermanfaat tidak ada salahnya disebarkan. Nah, mari kita simak...

Perjanjian Bone dengan Buton

Didasari persamaan nasib dan cita-­cita telah mendorong kedua kerajaan yakni Bone dan Buton menjalin hubungan kerja sama. Hal ini diawali ketika Arung Palakka bersama pengikutnya...

Makna Filosofi Bugis Ada Na Gau

Deretan filosofi Bugis yang dikenal selama ini sangat banyak yang mengandung pesan-pesan dengan makna sangat dalam. Pesan-pesan itu dilambangkan dalam bentuk ucapan dan kata-kata. Pesan...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...