No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Raja Bone ke-31 La Pawawoi Karaeng Sigeri, 1895-1905

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

La Pawawoi Karaeng Sigeri Matinroe ri Bandung memerintah di kerajaan Bone tahun 1895-1905. La Pawawoi menggantikan saudaranya We Fatimah Banri sebagai raja Bone.

Di masa itu La Pawawoi Karaeng Sigeri sebenarnya sudah tua, tetapi karena memiliki hubungan baik dengan Kompeni Belanda, sehingga dirinya yang ditunjuk untuk menjadi raja di Bone.

Tahun 1859 La Pawawoi Karaeng Sigeri membantu Belanda memerangi Turate. Sekembalinya dari Turate pada tahun 1865  La Pawawoi diangkat sebagai Dulung Ajangale.

Sebelumnya Belanda berjanji kepada La Pawawoi untuk diangkat sebagai dulung setelah membantu memerangi Turate.

Keberanian dan kecerdasan La Pawawoi Karaeng Sigeri dalam berperang menjadi buah tutur sehingga namanya menjadi populer.

Ketika saudaranya We Fatimah Banri sebagai mangkau di Bone, La Pawawoi Karaeng Sigeri diangkat sebagai Tomarilaleng di Bone.

Setelah memerangi Turate, karena La Pawawoi dianggap berjasa dalam membantu Belanda, maka dimintalah untuk menjadi Karaeng di Sigeri.

Ketika Karaeng Bonto-bonto melakukan perlawanan terhadap Belanda, La Pawawoi Karaeng Sigeri dipanggil kembali untuk membantu meredakan perlawanan Karaeng Bonto-bonto tersebut.

Perlawanan Karaeng Bonto-bonto mulai tahun 1868 dan baru dapat dipadamkan perlawanannya tahun 1877.

Karena Pembesar kompeni Belanda merasa berutang budi atas bantuan La Pawawoi Karaeng Sigeri, maka diberikanlah penghargan berupa bintang emas besar dengan kalung yang dinamakan De Grote Gouden ster voor traun en verdienste.

Kesepakatan Adat Tujuh Bone dengan  Belanda dan Arumpone untuk mengusir Karaeng Popo dari Bone. Setelah Karaeng Popo kembali ke Gowa, anaknya yang bernama We Sutera Arung Apala meninggal dunia pada tahun 1903.

Pada tanggal 16 Februari 1895 terjadi lagi kesepakatan antara Belanda dengan Bone untuk memperbarui Perjanjian Bungaya.

Dengan demikian, Belanda bertambah yakin bahwa persahabatannya dengan Bone sudah sangat kuat.

Akan tetapi setahun setelah terjadinya kontrak persahabatan itu, Belanda melihat adanya tanda-tanda perjanjian yang pernah disepakati bakal diingkari oleh Arumpone.

Pada tanggal 16 Februari 1896 perjanjian itupun benar-benar dilanggar. Mulailah berlaku keras terhadap sesamanya Arung dan juga kepada orang banyak.

Tindakan itu, seperti diperanginya Sengkang dan Arung Peneki, La Oddang Datu Larompong, dengan alasan, bahwa Arung Peneki dan Datu Larompong menghalangi dagangan garamnya untuk masuk ke Pallime.

Untuk itu pembesar kompeni Belanda di Ujungpandang Tuan Krussen memperingatkan, tetapi La Pawawoi Karaeng Sigeri tidak mengindahkannya.

Selanjutnya tahun 1904 Gubernur Belanda meminta Sessung (bea) di Pelabuhan Ujungpandang tapi dihalangi oleh La Pawawoi.

Di samping itu, Belanda juga meminta untuk mendirikan loji di Bajoe dan Pallime, kemudian membayar kepada Arumpone sesuai dengan permintaannya.

Semua itu ditolak oleh La Pawawoi Karaeng Sigeri. Bahkan La Pawawoi memungut sessung (bea) bagi orang Bone yang ada di luar Bone.

Karena permintaan Kompeni Belanda merasa tidak diindahkan oleh La Pawawoi, maka pada tahun 1905 Bone diserang.

Penyerangan Belanda itu dipimpin oleh Kolonel van Loenen dengan persenjataan yang lengkap.

La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama putranya Abdul Hamid Baso Pagilingi mundur ke arah Palakka dan selanjutnya ke Pasempe.

Sementara tentara Belanda memburu terus, hingga akhirnya La Pawawoi dengan laskar serta sejumlah keluarganya mengungsi ke Lamuru, Citta, dan terus ke Pitumpanua Wajo.

Adapun panglima perang kerajaan Bone waktu itu adalah putranya sendiri, yaitu Abdul Hamid Baso Pagilingi.

Sebagai panglima perang Abdul Hamid dibantu oleh Ali Arung Cenrana, La Massikireng Arung Macege, La Mappasere Dulung Ajangale, La Nompo Arung Bengo, Sulewatang Sailong, La Page Arung Labuaja.

La Pawawoi Karaeng Sigeri bersama Baso Pagilingi yang lebih dikenal dengan sebutan Petta Ponggawae serta sejumlah laskar pemberaninya terakhir berkedudukan di Awo perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja.

Bone diserang oleh tentara Belanda mulai tanggal 30 Juli 1905 dan raja Bone La Pawawoi mengungsi ke Pasempe.

Tanggal 2 Agustus 1905 tentara Belanda menyerbu ke Pasempe, tetapi La Pawawoi bersama laskar dan keluarganya sudah meninggalkan Pasempe. Mereka mengungsi ke Lamuru dan selanjutnya ke Citta.

Dalam bulan September 1905 La Pawawoi dengan rombongannya tiba di Pitumpanua Wajo. Tentara Belanda tetap mengikuti jejaknya.

Selanjutnya pada tanggal 18 November 1905 laskar pemberani kerajaan Bone bertemu dengan tentara Belanda di bawah komando Kolonel van Loenen.

Pada peperangan itu, Baso Pagilingi Petta Ponggawae gugur terkena peluru Belanda. Sehingga La Pawawoi Karaeng Sigeri memilih untuk menyerah.

La Pawawoi memilih menyerah karena kondisi laskar yang semakin menurun dan gugurnya panglima perang Bone yang gagah perkasa itu.

La Pawawoi Karaeng Sigeri ditangkap dan dibawa ke Parepare, selanjutnya naik kapal ke Ujungpandang. Kemudian dari Ujungpandang dibawa ke Bandung.

Sepeninggal La Pawawoi Karaeng Sigeri, pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Adat Tujuh Bone.

Pada tanggal 2 Desember 1905 Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta menentukan bahwa Tellumpoccoe (Bone-Soppeng -Wajo) di Celebes Selatan disatukan dalam satu pemerintahan yang dinamakan Afdeling Bone.

Afdeling Bone pusat pemerintahannya berada di Pompanua Ajangngale. Di Pompanua inilah berkedudukan pembesar Afdeling yang disebut Asistent Resident.

Afdeling Bone dibagi menjadi lima bagian, yaitu tiap-tiap bagian disebut Onder Afdeling dan dipegang oleh seorang yang disebut Tuan Petoro.

Petoro itu dibagi lagi menjadi Petoro Besar yakni Asistent Resident. Sementara Petoro Menengah yakni Controleur. Kemudian Petoro Kecil yakni Aspirant Controleur.

Ketiga tingkatan petoro itu dipegang oleh orang Belanda, sedangkan tingkat di bawahnya bisa dipegang oleh orang pribumi kalau memiliki pendidikan yang memadai.

Tingkat petoro yang bisa dipegang oleh orang pribumi seperti Landshap atau Bestuur Assistent. Di bawanya disebut Kulp Bestuur Assistent yang biasa dipendekkan menjadi K.B.A.

Adapun bagian-bagian Afdeling Bone, adalah :

1. Onder Afdeling Bone Utara, ibukotanya Pompanua.
2. Onder Afdeling Bone Tengah, ibukotanya Watampone, diperintah oleh Petoro Tengah yang disebut Controleur.
3. Onder Afdeling Bone Selatan, ibukotanya di Mare diperintah oleh Aspirant Controleur.
4. Onder Afdeling Wajo, ibukotanya Sengkang diperintah oleh Controleur.
5. Onder Afdeling Soppeng, ibukotanya Watangsoppeng diperintah oleh Controleur.

Kembali kepada kedatangan La Pawawoi di Pitumpanua, karena pada saat itu memang termasuk di bawah kekuasaan Bone.

Disebut Pitumpana karena ada tujuh wanua yang berada di bawah pengaruh Bone. Ketujuh wanua tersebut yaitu Kera, Bulete, Leworeng, Lauwa, Awo, Tanete, dan Paselloreng.

Setelah Bone kalah yang dalam catatan sejarah disebut Rumpa’na Bone, barulah ketujuh daerah tersebut diambil oleh Belanda dan diserahkan kepada Wajo.

Akan tetapi hanyalah berbentuk Lili Passiajingeng artinya segala perintah tetap dikeluarkan oleh Kompeni Belanda.

Begitu pula di Bone, sejak ditawannya La Pawawoi Karaeng Sigeri segala perintah hanya dilakukan oleh Adat Tujuh Bone di bawah kendali kompeni Belanda.

Di Wajo tetap Arung Matowa Wajo yang menjadi penyambung lidah kompeni Belanda, sedang di Soppeng dilakukan oleh Datu Soppeng dan Bone dilakukan oleh Tomarilalengnge.

Pertama-tama dilakukan oleh Belanda setelah La Pawawoi diasingkan ke Bandung, adalah mengumpulkan semua sisa-sisa persenjataan dari laskar Arumpone yang masih tersimpan.

Dipungutlah sebbu kati (persembahan) dari masyarakat sebesar tiga ringgit untuk satu orang. Pungutan itu adalah pengganti kerugian Belanda selama berperang melawan raja Bone La Pawawoi.

Setelah pungutan yang diberlakukan di wilayah Tellumpoccoe selesai, Belanda mulai membangun jalan raya.

Seluruh laki-laki dewasa sampai kepada laki-laki yang berumur 60 tahun diwajibkan bekerja untuk membuat jalan raya tersebut. Bagi yang tidak mampu untuk bekerja dapat membayar sebesar tiga ringgit.

Ketika Belanda merasa tenang dan tidak ada lagi persoalan yang berat dihadapi, maka ibukota Afdeling Bone dipindahkan dari Pompanua ke Watampone. Assistent Resident Bone berkedudukan di Watampone.

La Pawawoi Karaeng Sigeri yang pada mulanya diasingkan di Bandung, akhirnya dipindahkan ke Jakarta.

Pada Tanggal 11 November 1911 La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia di Jakarta, maka digelarlah Matinroe ri Jakarta.

Tahun 1976 La Pawawou dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional, dan kerangka jenazahnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Setelah La Pawawoi Karaeng Sigeri meninggal dunia, tidak jelas siapa sebenarnya anak pattola (putra mahkota) yang bakal menggantikannya sebagai raja di Bone.

Baso Pagilingi sebagai putra mahkota, ternyata gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Awo. Pada saaat gugurnya Baso Pagilingi Petta Ponggawae, La Pawawoi Karaeng Sigeri langsung menaikkan bendera putih sebagai tanda menyerah.

La Pawawoi Karaeng Sigeri melihat bahwa putranya yang gugur itu adalah benteng pertahanan dalam perlawanannya terhadap Belanda.

Sehingga setelah melihat putranya gugur, spontan ia berucap Rumpa’ni Bone, artinya benteng pertahanan Bone telah bobol.

Putra kesayangannya itu lahir dari perkawinannya dengan We Karibo cucu dari Arung Mangempa di Berru.

Karena hanya itulah isterinya yang dianggap sebagai Arung Makkunrai (permaisuri) di Bone.

Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri menjadi Mangkau’ di Bone, diangkat pulalah putranya Baso Pagilingi Abdul Hamid sebagai Ponggawa (Panglima Perang).

Baso Pagilingi Abdul Hamid kawin dengan We Cenra Arung Cinnong anak dari La Mausereng Arung Matuju dengan isterinya We Biba Arung Lanca.

Dari perkawinannya itu, lahirlah La Pabbenteng Arung Macege.

Selanjutnya La Pawawoi Karaeng Sigeri kawin lagi dengan Daeng Tamene, yang juga cucu dari Arung Mangempa di Berru.

Dari perkawinannya itu lahirlah seorang anak perempuan yang bernama We Tungke Besse Bandong. Karena inilah isteri yang mengikutinya sewaktu diasingkan ke Bandung.

Kemudian We Tungke Besse Bandong kawin dengan La Maddussila Daeng Paraga anak dari Pangulu Jowae ri Bone. Ia adalah saudara kandung La Pawawoi dengan isterinya yang bernama We Saripa.

Ketika La Pabbenteng diangkat menjadi Arumpone, suami Besse Bandong yang bernama Daeng Paraga diangkat pula menjadi Makkedangnge Tana.

Karena Daeng Paraga meninggal dunia, maka Besse Bandong kawin lagi dengan sepupu dua kalinya yang bernama La Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sombae ri Gowa, anak dari I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo dengan isterinya Karaeng Tana-tana.

Adapun anak La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan isterinya We Patimah dari Jawa Sunda, ialah La Mappagau. Dan La Mappagau Inilah yang melahirkan La Makkulawu Sulewatang Pallime.

Anak selanjutnya bernama Arung Jaling, inilah yang kawin dengan Ali Arung Cenrana anak dari La Tepu Arung Kung dengan isterinya We Butta Arung Kalibbong.

Dari perkawinannya itu lahirlah pertama bernama We Manuare , kedua bernama Arase, ketiga bernama La Sitambolo.

Ketika La Pawawoi Karaeng Sigeri diasingkan ke Bandung, pemerintahan di Bone hanya dilaksanakan oleh Adat Tujuh Bone.

Adat Tujuh Bonelah yang melakukan pembaruan Perjanjian Bungaya dengan Kompeni Belanda.

Dengan demikian selama 26 tahun tidak ada raja/mangkau di Bone. Setelah Kompeni Belanda merasa tenang, baru mengangkat salah seorang putra mahkota untuk menjadi Mangkau di Bone.

Ketika Belanda berhasil mengalahkan Bone, istana raja Bone La Pawawoi yang disebut Saoraja disita oleh Belanda pada tahun 1907.

Kemudian tahun 1914, rumah tersebut dibawa Belanda ke Semarang Jawa Tengah mewakili Pameran Paviliun “Celebes” (Sulawesi).

Model istana raja dari Bone itu sangat menarik, terutama fakade (eksterior) bangunan, tangga, dan dinding tengah.

Setelah pameran, rumah itu dikembalikan ke Makassar dan ditempatkan di sudut Hospitalweg dan Marosweg, Makassar (sebelah Timur Lapangan Karebosi) yang kemudian ditempati kantor Kehutanan dan Museum Belanda.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...