No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Raja Bone ke-33 La Pabbenteng, 1946-1951

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

La Pabbenteng, Matinroe ri Matuju memerintah di Bone dalam tahun 1946-1951. La Pabbenteng adalah anak dari Abdul Hamid, Baso Pagilingi, Petta Ponggawae, Panglima Perang Bone.

Ayahnya itu gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Bulu Awo perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja dengan isterinya We Cenra Arung Cinnong.

La Pabbenteng adalah cucu La Pawawoi Karaeng Sigeri raja Bone ke-31. Sebelumnya ayahnyalah sebagai putra mahkota yang dipersiapkan untuk menjadi raja Bone ke-32. Namun ia gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Bulu Awo.

La Pabbenteng, Petta Lawa, Arung Macege menjadi raja di Bone diangkat oleh NICA (Nederland Indiche Civil Administration).

NICA adalah suatu organisasi yang dibentuk oleh Belanda dan sekutunya yang bertujuan untuk berkuasa kembali di Indonesia.

Padahal saat itu bangsa Indonesia sudah memperoklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Sukarno-Hatta.

Setelah La Mappanyukki berhenti menjadi raja di Bone, maka tidak ada lagi putra mahkota yang dapat menggantikannya kecuali La Pabbenteng Petta Lawa Arung Macege.

Oleh karena itu, NICA mengangkatnya menjadi raja Bone atas persetujuan anggota Ade’ Pitu Bone untuk mengganti La Mappanyukki.

Sebelum diangkat menjadi raja di Bone, La Pabbenteng memang selalu dekat dengan NICA dan selalu bersama-sama apabila NICA bepergian.

Oleh karena itu, La Pabbenteng diberi pangkat kemiliteran yaitu Kapten Tituler. Setelah diangkat menjadi raja Bone, pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel Tituler.

Pada waktu La Mappanyukki akan diangkat menjadi raja di Bone, salah seorang anggota Adat Tujuh Bone yang menolaknya adalah La Pabbenteng Arung Macege.

Karena menurutnya dirinyalah lebih berhak untuk menduduki akkarungenge ri Bone. Sebab dialah yang paling dekat dengan La Pawawoi Karaeng Sigeri raja Bone ke-31.

Akan tetapi sebelum Perang Dunia II La Pabbenteng membuat kesalahan di Bone yaitu membunuh sepupunya yang bernama Daeng Patobo.

Oleh karena itu, Gubernur Belanda bersama Adat Tujuh Bone memutuskan untuk mengasingkan La Pabbenteng.

Setelah Jepang datang, barulah La Pabbenteng kembali dari pengasingannya.

Ketika ia diasingkan, kedudukannya sebagai Arung Macege digantikan oleh La Pangerang Daeng Rani anak kandung La Mappanyukki raja Bone ke-32.

Namun kedudukan La Pangerang Daeng Rani berakhir setelah diasingkan oleh NICA ke Tanah Toraja bersama ayahnya La Mappanyukki.

Mereka berdua diasingkan karena pernyataannya yang tetap berdiri di belakang Republik Indonesia yang diproklamirkan Sukarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada saat La Pabbenteng menjadi raja ia melengkapi perangkat pemerintahannya dengan mengangkat To Marilaleng La Maddussila Daeng Paraga menjadi Makkedangnge Tana.

Kemudian La Sulolipu Sulewatang Lamuru diangkat menjadi To Marilaleng menggantikan La Maddussila Daeng Paraga.

La Pabbenteng kawin di Sidenreng dengan We Dala Uleng Petta Baranti, anak dari We Bunga dengan suaminya yang bernama La Pajung Tellu Latte Sidenreng.

We Dala Uleng Petta Baranti adalah Cucu langsung Addatuang Sidenreng dari ibunya dan cucu langsung Arung Rappeng Addatuang Sawitto dari ayahnya.

La Pabbenteng kemudian diperintahkan oleh NICA untuk mempersatukan arung-arung (raja-raja) di Celebes Selatan untuk membentuk organisasi yang bernama “Adat Tinggi”.

Organisasi ini diketuai sendiri oleh raja Bone La Pabbenteng dan wakilnya adalah La Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang.

Adat Tinggi itulah yang ditempati oleh Gubernur NICA untuk melaksanakan pemerintahannya di Celebes Selatan.

Pada masa pemerintahan La Pabbenteng, NICA mengadakan Konferensi Malino yang diprakarsai oleh Lt.G.Dj.Dr.H.J.van Mook, sekaligus sebagai pimpinan.

Konferensi itu dihadiri oleh wakil-wakil dari Celebes, Sunda Kecil, dan Maluku yang bertujuan membentuk suatu negara dalam negara Republik Indonesia yaitu Negara Indonesia Timur (NIT).

Pada tanggal 12 November 1948, Gubernur NICA di Ujungpandang menyerahkan kepada raja Bone La Pabbenteng untuk menjadi ketua Adat Tinggi dan memasukkan sebagai satu bagian dari Negara Indonesia Timur.

Namun bentukan NICA itu tidak berumur panjang, sebab pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia kepada Bangsa Indonesia.

Selanjutnya terbentuklah Republik Indonesia Serikat dan bubar pulalah Adat Tinggi bentukan NICA.

Dalam tahun 1950 La Pabbenteng mengundurkan diri sebagai raja Bone. Kemudian berangkat ke Jawa bersama isterinya.

Begitu pula anggota Adat Bone, semua meninggalkan kedudukannya sebagai anggota Adat Bone.

La Pabenteng menandatangani Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) di Watampone, Bone pada tanggal 18 Juni 1946.

Di hadapan pejabat NICA (Nederland Indiche Civil Administration) sebelum dilantik menjadi Raja Bone.

Setelah pelantikan, nama lengkapnya, Andi Pabenteng, Daeng Palawa, Sultan Muhammad Idris Alimuddin (18 Juni 1946 – Mei 1950).

Dengan berakhirnya masa pemerintahan La Pabbenteng, maka berakhir pulalah sistem kerajaan di Bone. Di mana La Pabbenteng sebagai raja Bone yang terakhir.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...