No menu items!
0.6 C
Munich
Kamis, 26 November 20

Raja Bone Ke-5 La Tenrisukki, 1510-1535

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

LA TENRISUKKI, 1510-1535, Inilah Mangkau’ di Bone yang diserang oleh Datu Luwu yang bernama Dewa Raja yang digelar Batara Lattu.

Mula-mula orang Luwu mendarat di Cellu dan disitulah membuat pertahanan. Sementara orang Bone berkedudukan di Biru-biru.

Adapun taktik yang dilakukan oleh orang Bone adalah memancing orang Luwu dengan beberapa perempuan.

Pancingan ini berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan tersebut.

Namun dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya. Dalam perang itu orang Bone berhasil merampas bendera orang Luwu.

Setelah perang selesai, La Tenrisukki dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Kemudian La Tenrisukki mengembalikan payung warna merah itu kepada Datu Luwu, tetapi Datu Luwu mengatakan:

“Ambillah itu payung sebab memang engkaulah yang dikehendaki oleh DewataE (Tuhan) untuk bernaung di bawahnya. Walaupun bukan karena perang engkau ambil, saya akan tetap berikan. Apalagi saya memang memiliki dua payung”

Mulai dari peristiwa itu , La Tenrisukki digelar Mappajunge (memakai payung).

Selanjutnya La Tenrisukki mengadakan lagi pertemuan dengan Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja dan lahirlah suatu perjanjian yang bernama “Polo MalelaE ri Unyi” (gencatan senjata di Unyi).

Dalam perjanjian ini raja Bone La Tenri Sukki berkata kepada Datu Luwu:

“Alangkah baiknya kalau kita saling menghubungkan Tana Bone dengan Tanah Luwu”

Dijawab oleh Datu Luwu:

“Baik sekali pendapatmu itu Arumpone”

Merasa ajakannya disambut baik, Arumpone La Tenrisukki berkata:

“Kalau ada yang keliru, mari kita saling mengingatkan;

kalau ada yang rebah mari kita saling menopang;

dua hamba satu Arung;

tindakan Luwu adalah tindakan Bone;

tindakan Bone adalah tindakan Luwu;

baik dan buruk kita bersama;

tidak saling membunuh;

saling mencari kebaikan;

tidak saling mencurigai;

tidak saling mencari kesalahan;

walaupun baru satu malam orang Luwu berada di Bone, maka menjadilah orang Bone;

walaupun baru satu malam orang Bone berada di Luwu, maka menjadilah orang Luwu;

bicaranya Luwu, bicaranya Bone;

bicaranya Bone, bicaranya Luwu;

adatnya Luwu, adatnya juga Bone, begitu pula sebaliknya;

kita tidak saling menginginkan emas murni dan harta benda;

barang siapa yang tidak mengingat perjanjiannya, maka dialah yang dikutuk oleh Dewata SeuwaE sampai kepada anak cucunya;

dialah yang hancur bagaikan telur yang jatuh ke batu”

Kalimat tersebut diiyakan oleh Datu Luwu To Serangeng Dewa Raja. Selanjutnya Perjanjian tersebut bernama “Polo Malelae ri Unyi” karena terjadi di Kampung Unyi (Kelurahan Unyi Kecamatan Dua Boccoe sekarang ini). Kemudian keduanya kembali ke negerinya.

Di masa pemerintahan La Tenrisukki, pernah pula terjadi permusuhan antara orang Bone dengan orang Mampu. Pertempuran terjadi di sebelah selatan Itterung, diburu sampai di kampungnya. Arung Mampu yang bernama La Pariwusi kalah dan menyerahkan persembahan kepada La Tenrisukki.

Arung Mampu berkata:

“Saya serahkan sepenuhnya kepada Arumpone, asalkan tidak menurunkan saya dari pemerintahanku”

Arumpone La Tenrisukki menjawab:

“Saya akan mengembalikan persembahanmu dan saya akan mendudukkanmu sebagai Palili (wilayah bawahan) di Bone. Akan tetapi engkau harus berjanji untuk tidak berpikir jelek dan jujur sebagai pewaris harta benda”

Sesudah itu, dilantiklah Arung Mampu memimpin kampungnya dan kembalilah La Tenrisukki ke Bone.

La Tenri Sukki menjadi raja/mangkau di Bone selama 20 tahun, akhirnya menderita sakit.
Dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan:

“Saya sekarang dalam keadaan sakit, apabila saya wafat maka yang menggantikan saya adalah anakku yang bernama La Uliyo”. Setelah pesan itu disampaikan, ia pun mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Anak La Tenrisukki dari isterinya We Tenrisongke, adalah ; La Uliyo Bote-e kawin dengan sepupunya yang bernama We Tenriwewang Denrae, anak saudara kandung La Tenrisukki yang bernama We Tenrisumange’ dengan suaminya yang bernama La Tenrigiling Arung Pattiro Maggadinge.

Dari perkawinan ini lahirlah La Tenrirawe Bongkange, La Inca, We Lempe, We Tenripakkuwa.

Selain La Uliyo, ialah: We Denra Datu, We Sida (tidak disebutkan dalam lontara’ yang digulung).

We Sida Manasa kawin dengan La Burungeng Daeng Patompo, anak dari La Panaongi To Pawawoi Arung Palenna dari isterinya yang bernama We Mappasunggu.

Dari perkawinan ini lahirlah anak laki-laki yang bernama La Paunru Daeng Kelli.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...