No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

Raja Bone ke-8 La Inca, 1564-1565

LA INCA, 1564-1565, Menggantikan saudaranya La Tenrirawe Bongkange sebagai Raja Bone. Kedudukan ini memang telah diserahkan ketika La Tenrirawe masih hidup. Bahkan La Tenrirawe berpesan kepadanya agar nanti kalau sampai ajalnya, La Inca dapat mengawini iparnya (isteri La tenrirawe),yaitu We Tenri Pakiu Arung Timurung.

Setelah menjadi La Inca menjadi raja Bone, Karaenge ri Gowa datang untuk menyerang Bone. Ternyata La Inca tidak mewarisi kepemimpinan yang telah dilakukan oleh saudaranya. Banyak langkah-langkahnya yang sangat merugikan orang banyak. Para Arung Lili dimarahi dan dihukumnya.

Salah seorang Arung Lili yang bernama La Patiwongi To Pawawoi diasingkan ke Sidenreng. Karena sudah terlalu lama berada di Sidenreng, maka ia pun kembali ke Bone untuk minta maaf.

Namun apa yang dialami setelah kembali ke Bone, dia malah diusir dan dibunuh.

Arung Paccing dan cucunya yang bernama La Saliwu, Maddanreng Palakka yang bernama To Saliwu Riwawo serta masih banyak lagi bangsawan Bone yang dibunuhnya.

Pada suatu hari dia melakukan tindakan yang sangat memalukan yaitu mengganggu isteri orang. Karena didapati oleh suaminya, ia lantas mengancam orang tersebut akan dibunuhnya, sehingga orang tersebut melarikan diri.

Untuk menutupi kesalahannya, isteri orang tersebut yang dibunuh. Ia pun membakar sebagian Bone sampai di Matajang dan Macege. Orang Bone pun mengungsi sampai ke Majang.

Melihat orang Bone pada datang, Arung Majang bertanya:

“Ada apa gerangan di Bone?”

Dengan ketakutan orang Bone berkata:

“Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, Puang. Silakan Puang melihat sendiri bagaimana Bone sekarang”

Mendengar laporan orang Bone, Arung Majang keluar melihat ke arah Bone. Disaksikanlah api yang melalap rumah-rumah penduduk yang dilakukan oleh La Inca. Arung Majang lalu menyuruh beberapa orang untuk pergi ke Palakka memanggil I Damalaka.

Tidak lama kemudian I Damalaka tiba di Majang. Sesampainya di rumah Arung Majang ia pun disuruh untuk ke Bone menghadapi La Inca.

I Damalaka menyuruh salah seorang untuk pergi menemui La Inca dan menyampaikan agar tindakannya itu dihentikan. Akan tetapi setelah orang itu tiba di depan La Inca, ia pun dibunuh. Setelah itu, La Inca kemudian membakar semua rumah yang ada di Lalebbata (Watampone sekarang). Maka habislah rumah di Bone.

Mendengar itu, Arung Majang pergi ke Bone disusul oleh I Damalaka untuk menghadapi La Inca yang tidak lain adalah cucunya sendiri.

“Mari kita menghadapi La Inca, dia bukan lagi sebagai raja Bone karena telah melakukan pengrusakan”

Berangkatlah semua orang mengikuti Arung Majang termasuk I Damalaka.

Didapatinya La Inca sendirian di depan rumahnya. Setelah melihat orang banyak datang, La Inca lalu menyerbu dan menyerang membabi buta. Banyak orang yang dibunuhnya pada saat itu dan kurang yang mampu bertahan, akhirnya La Inca kehabisan tenaga.
Karena merasa sangat payah, ia pun melangkah menuju tangga rumahnya. Ia bersandar dengan nafas yang terputus-putus.

Melihat cucunya sekarat, Arung Majang berlari mendekati dan memangku kepalanya. La Inca pun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Oleh karena itu La Inca digelar Matinroe ri Addenenna (meninggal di tangga rumahnya).

Adapun anak La Inca Matinroe ri Addenenna dari isterinya We Tenri Pakiu Arung Timurung Maccimpoe adalah: La Tenripale To Akkeppeang kawin dengan kemenakannya yang bernama We Palettei Kanuwange anak dari We Tenrituppu dengan suaminya To Addussila.

Kemudian La Tenripale kawin lagi dengan We Cuku anak Datu Ulaweng. Dari perkawinan ini lahirlah We Pakkawe kemudian melahirkan We Panynyiwi Arung Mare.

We Panynyiwi kawin dengan pamannya sepupu dari ibunya Matinroe ri Bukaka. Dari perkawinan ini lahirlah We Daompo yang kawin dengan La Uncu Arung Paijo. Lahirlah La Tenri Lejja. Inilah yang melahirkan La Sibengngareng yang kemudian menjadi Maddanreng di Bone.

Anak La Inca berikutnya adalah We Tenri Sello Makkalarue kawin dengan kemenakannya yang bernama La Pancai To Patakka Lampe Pabbekkeng, anak dari We Tenripala dengan suaminya To Alaungeng Arung Sumaling. Lahirlah La Maddaremmeng Matinroe ri Bukaka, kemudian lahir pula La Tenri Aji Matinroe ri Siang.

Selanjutnya lahir We Tenri Ampa Arung Cellu yang kawin dengan To Mannippie Arung Salangketo yang kemudian melahirkan We Tenri Talunru.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Sejarah Bola Subbi’e atau Bolampare’e Bone

Bola Subbie atau Bolampare'e atau rumah berukir dibangun pada masa pemerintahan ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri antara tahun 1871-1895. Di Istana ini sang...

Jenderal Bugis Penggebrak Meja Presiden

Andi Muhammad Jusuf Amir, adalah seorang Jenderal Bugis yang pernah Menggebrak Meja Presiden di rumah Cendana. Nama lengkapnya adalah Andi Muhammad Jusuf Amir, lahir...