No menu items!
0.9 C
Munich
Kamis, 26 November 20

Ratu Bone ke-10 We Tenrituppu, 1602-1611

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

WE TENRITUPPU, 1602-1611. Ia menggantikan ayahnya menjadi mangkau di Bone.

We Tenrituppu inilah yang mula-mula mengangkat Arung Pitu (tujuh pemegang adat) di Bone.

Ketujuh Matowa (Kepala Wanuwa) yang ditunjuk, adalah:

Matowa Tibojong (Arung Tibojong), Matowa Ta’ (Arung Ta’), Matowa Tanete (Arung Tanete), Tanete dipecah menjadi Tanete Riattang dan Tanete Riawang, Matowa Macege (Arung Macege), Matowa Ujung (Arung Ujung) dan Matowa Ponceng (Arung Ponceng).

We Tenrituppu berkata kepada Arung Pitue:

“Saya mengangkat kalian sebagai Arung Pitu untuk membantu saya dalam menyelenggarakan pemerintahan di Bone.

Hal ini saya lakukan karena saya adalah seorang perempuan yang tentunya memerlukan bantuan.

Namun perlu kalian tahu bahwa saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian tidak bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak bisa mewariskan kepada anak cucu, kalau saya tidak mengetahuinya.

Kacuali apabila duduk semua turunan Mappajunge kemudian direstui oleh Mangkau’ Bone.

Pada masa pemerintahan We Tenrituppu di Bone, Karaenge ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa agama Islam. Sepakatlah Tellumpoccoe (Bone, Soppeng, dan Wajo) untuk menghalangi, sehingga Karaenge ri Gowa kembali ke kampungnya.

Satu tahun kemudian datang lagi Karaenge ri Gowa ke Padang-padang, dihalangi lagi oleh Tellumpoccoe.

Bertemulah di sebelah timur Bulu’ Sitoppo dan terjadilah perang yang berakhir dengan kekalahan Tellumpoccor.

setahun kemudian datang lagi Karaenge ri gowa ke Soppeng. Tetapi tidak ada lagi bantuan dari Bone dan Wajo, sehingga Soppeng dikalahkan dan masuklah agama Islam di Soppeng. Datu Soppeng yang menerima Islam bernama Beowe.

Setelah Soppeng menerima Islam, datang Karaenge ri Gowa ke Wajo dan kalahlah orang Wajo.

Arung Matowa Wajo yang bernama La Sangkuru yang menerima Islam di Wajo. Sejak itu seluruh orang Wajo memeluk Islam.

Tahun berikutnya setelah orang Wajo masuk Islam, Arumpone We Tenrituppu pergi ke Sidenreng untuk menanyakan tentang Islam.

Ternyata begitu sampai di Sidenreng langsung masuk Islam. Di Sidenrenglah beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia. Oleh karena itu dinamakanlah We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng.

Semasa hidupnya We Tenrituppu kawin dengan La Paddippung Arung Barebbo, kemudian melahirkan anak bernama La Pasoro. Inilah yang kawin dengan We Tasi, lahirlah La Toge Matinroe ri Kabuttue.

La Toge kawin dengan We Passao Ribulu, lahirlah We Kalepu yang kawin dengan Daeng Manessa Arung Kading.

Kemudian We Tenrituppu bercerai dengan Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To Lewoe Arung Sijelling, anak Arung Mampu Riawa. Dari perkawinan ini lahirlah anaknya yang bernama La Maddussila, We Tenri Tana, We Palettei, La Palowe.

La Maddussila Arung Mampu yang juga digelar Mammesampatue (memakai nisan batu). Pergi ke Soppeng dan kawin dengan We Tenri Gella, saudara Datu Soppeng yang bernama Beowe.

Dari perkawinan ini lahirlah La Tenribali yang kawin di Bone dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Bubungeng I Dasajo.

We Bubungeng dan La Tenri Bali melahirkan anak yaitu: La Tenrisenge’ Toasa, inilah yang kemudian menjadi Datu Soppeng. Yang kedua bernama We Yadda Matinroe ri Madello, kemudian menjadi Datu juga di Soppeng.

We Tenritana Arung Mampu Riawa kawin dengan LebbiE ri Kaju. Inilah yang melahirkan We Tenri Sengngeng yang kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung Mampu Mammesampatue dengan isterinya We Tenri Gella.

Inilah yang melahirkan La Patotonge, La Pasalappoe, La Pariusi Daeng Mangatta. La Pariusi Daeng Mangatta inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah menjadi Arung Matowa Wajo.

La Pallempae atau La Pasompereng Petta I Teko kawin dengan Karaenge ri Gowa. Dari perkawinannya lahirlah We Yama dan We Alima. We Alima kawin dengan Karaenge ri Gowa Tumenanga ri Pasi.

Lahirlah I Baba Karaeng Tallo. La Pasompereng diasingkan oleh Kompeni sebab perselingkuhan isterinya dengan Sule Datue di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani. Dia membunuh Sule datue di Soppeng maka diasingkanlah ke Selong.

Anak terakhir dari We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng adalah: We Palettei Kanuwange, kawin dengan pamannya La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo. Tidak ada keturunannya, sehingga Matinroe ri Tallo kawin lagi dengan anak Datu Ulaweng.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...