No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Ratu Bone ke-21 We Bataritoja, 1724-1749

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

WE BATARITOJA, DATU TALAGA ARUNG TIMURUNG, SULTANAH ZAINAB ZULKIYAHTUDDIN, 1724-1749.

We Bataritoja kembali menjadi Mangkau’ di Bone menggantikan saudaranya La Panaongi To Pawawoi.

Selain terpilih kembali menjadi Mangkau’ di Bone untuk kedua kalinya, Bataritoja juga kembali menjadi Datu di Luwu dan Soppeng.

Bataritoja menikah dengan sepupu tiga kalinya La Oki yang tinggal di Ajattappareng.

Akan tetapi La Paulangi Petta Janggoe sepupu satu kali La Oki mengawinkan dengan anaknya yang bernama We Tungke.

Oleh karena itu, Bataritoja membatalkan pernikahannya dengan La Oki. Pada tahun 1716 Masehi. Karena itu Bataritoja kawin dengan Arung Kaju yaitu Daeng Mamutu.

Karena Bataritoja sangat dekat dengan Kompeni Belanda, membuat arung-arung tetangganya banyak yang kurang senang.

Oleh karena itu Bataritoja lebih banyak tinggal di Ujung Pandang dari pada di Bone. Sementara suaminya Arung Kaju yang diangkat sebagai Maddanreng (wakil) berniat merebut kekuasan isterinya.

Setelah Bataritoja yang pernah juga menjadi Ratu Bone ke-17 ini mengetahui maksud jahat dari suaminya itu, iapun segera menceraikan suaminya tersebut. Bahkan mantan suaminya tersebut diusir untuk meninggalkan Bone.

Dalam tahun 1735 M. La Maddukkelleng Arung Peneki yang juga sebagai Sultan Pasir di Kalimantan berniat untuk kembali ke negerinya di Peneki.

Tetapi pada saat itu, La Maddukkelleng belum bisa menginjakkan kakinya di wilayah TellumpoccoE (Bone, Soppeng dan Wajo) karena kesalahan yang pernah diperbuatnya.

Pada saat itu, Wajo masih merupakan wilayah kekuasan Bone yang ditaklukkan pada masa pemerintahan La Tenritatta Arung Palakka.

Sedangkan La Maddukkelleng meninggalkan Wajo dan lari ke Kalimantan karena memperbuat kesalahan terhadap Bone pada masa pemerintahan La Patau Matanna Tikka.

Arung Kaju mantan suami Bataritoja yang diusir untuk meninggalkan Bone, pergi ke Tanah Mandar bersama Karaeng Bonto Langkasa sambil menunggu kedatangan La Maddukkelleng dari Tanah Pasir Kalimantan.

Karaeng Bonto Langkasa juga tidak senang dengan Karaenge ri Gowa karena dinilai sangat dekat dengan Kompeni Belanda sebagaimana Bataritoja.

Dengan demikian, Arung Kaju menjalin kerja sama dengan Karaeng Bonto Langkasa dan La Maddukkelleng. Kerja sama tersebut bermaksud untuk melepaskan Wajo dari kekuasan Bone.

Sementara Karaeng Bonto Langkasa ingin menghilangkan pengaruh Kompeni Belanda di Gowa dan Bone, sehingga menjalin kerja sama dengan Arung Kaju Daeng Mamutu yang memang berniat merebut kekuasan dari mantan isterinya Bataritoja Datu Talaga.

Bataritoja setelah mengetahui bahwa La Maddukkelleng telah mendarat di Wajo, berangkatlah ke Ujung Pandang untuk berlindung pada Kompeni Belanda.

Diserbulah Bone oleh pasukan La Maddukkelleng, ada juga rombongan Karaeng Bonto Langkasa dan Arung Kaju yang menghasut orang Bone untuk melawan Arumpone.

Setelah membumihanguskan Bone, La Maddukkelleng meminta kembali SEBBUKATINA (persembahan) Wajo yang pernah diberikan kepada Bone pada masa pemerintahan Arung Palakka La Tenritatta.

Maka kembalilah Wajo menjadi wilayah merdeka dari kekuasaan Bone. Sehingga diangkatlah La Maddukkelleng sebagai Arung Matowa Wajo menggantikan pamannya.

Pergilah La Maddukkelleng Arung Matowa Wajo ke Gowa untuk memanggil Sitti Napisa Karaeng Langelo We Denradatu saudara Karaengr ri Gowa I Mallawangeng Gau Sultan Abdul Khair untuk diangkat menjadi Arumpone.

Akan tetapi ditolak oleh orang Bone, maka pergilah Karaeng Langelo ke Wajo dan tinggal di rumah La Maddukkelleng.

Sementara itu datang pula La Oddang Riu Karaeng Tanete bersama pasukannya bermaksud pula menjadi Arung di Bone.

Akan tetapi tidak disetujui oleh Kompeni Belanda dan Karaenge ri Gowa. Juga tidak diterima oleh Adat Bone.

Oleh karena itu dikembalikanlah Bataritoja ke Bone untuk menjadi Arumpone berdasarkan keinginan Arung Pitue di Bone.

Setelah kembali ke Bone, Bataritoja menyuruh KADHI BONE yang bernama ABDUL RASYID ke Tanah Mandar memanggil La Pamessangi untuk menjadi Arung di Belawa Orai, Alitta dan Suppa yang pernah diusir oleh Karaenge ri Gowa.

Ketika sampai di Mandar, Kadhi Bone Abdul Rasyid menyampaikan kepada La Pamessangi, bahwa dia disuruh oleh Arumpone Bataritoja memanggil kembali ke Bone untuk kembali menjadi Arung di Belawa Orai, Suppa dan Alitta.

Penyampaian itu dibenarkan oleh Matowa Belawa yang menyertai Kadhi Bone ke Balannipa menemui La Pamessangi.

La Pamessangi kembali ke Bone bersama Kadhi Bone. Ia mendarat di Jampue dan disambut oleh Pabbicara Suppa.

Pada sat itu La Pamessangi menyuruh anaknya yang bernama La Sangka untuk tinggal menjadi Datu di Suppa.

Setelah bermalam tiga malam di Suppa, datanglah orang Alitta bersama Pabbicara Suppa di Alitta untuk menemuinya.

Lalu La Pamessangi menyuruh lagi anaknya yang bernama La Posi untuk menjadi Arung di Alitta. Tiga malam di Alitta baru pergi di Belawa.

Setelah bermalam satu malam di Belawa datanglah semua orang Belawa, orang Wattang, orang Timoreng memberi ucapan selamat ditandai dengan pemberian 10 gantang beras untuk satu kampung.

Setelah empat malam di Belawa dikumpulkanlah orang Belawa dan menyampaikan, bahwa La Raga yang akan diangkat menjadi Arung di Wattangnge.

Hal ini disetujui oleh orang Belawa, berdirilah Matowae sambil berkata: ”Dengarkanlah wahai orang Belawa bahwa La Raga kita angkat sebagai Arung ri Belawa”.

Sesudah diserahkan Akkarungenge ri Belawa kepada La Raga, Petta Matowae bersama Kadhi Bone melanjutkan perjalanannya ke Bone.

Ketika Bataritoja berusia tua dan kelihatan semakin lemah, ketua adat bertanya kepadanya tentang siapa nantinya yang bakal menggantikannya untuk melanjutkan pemerintahannya di Bone.

Lalu Bataritoja menunjuk saudaranya yang bernama La Temmassonge To Appaweling.

Mendengar itu, Arung Kaju berkata : Tennakkarungi cera’ Tanae ri Bone, tennatola rajeng akkarungenge ri Bone.

Artinya: Yang bukan putra mahkota tidak bisa diangkat menjadi Mangkau’ di Bone, sedangkan Mangkau’e ri Bone tidak bisa digantikan oleh orang yang kebangsawanannya hanya dari ayah.

Karena merasa tersinggung dengan kata-kata Arung Kaju, La Temmassonge’ menunggu Arung Kaju di dekat tangga dan menikamnya sehingga meninggal dunia.

Kematian Arung Kaju dikomentari oleh Arumpone Bataritoja bahwa lantaran mulutnya Arung Kaju yang mengatakan La Temmassonge’ hanyalah cera’ sehingga dia meninggal dunia.

Dalam tahun 1749 Bataritoja Datu Talaga meninggal dunia di Tippulue sehingga dinamakan Matinroe ri Tippulunna.

Kemudian We Bataritoja  digantikan oleh saudaranya yang bernama La Temmassonge To Appaweling Arung Baringeng.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...