No menu items!
0.7 C
Munich
Senin, 30 November 20

Ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri, 1871-1895

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

We Fatimah Banri, Datu Citta, Arung Timurung, Matinroe ri Bolampare’na, memerintah di Bone dalam tahun 1871-1895.

We Fatimah Banri menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi raja di Bone. We Fatimah Banri digelar pula dengan nama Sultanah Fatimah serta We Fatimah Banri Datu Citta.

Apabila namanya ditulis lengkap yaitu We Fatimah Banri, Datu Citta, Arung Timurung, Sultanah Fatimah, Matinroe ri Bolampare’na.

Dalam tahun 1879 We Fatimah Banri menikah dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang Karaenge ri Gowa. Dari perkawinannya itu lahirlah We Sutera Arung Apala.

Setelah kawin dengan Karaeng Popo, Fatimah Banri memberikan suaminya Akkarungeng di Palakka.

Setelah We Fatimah Banri meninggal dunia tahun 1895 berupayalah Karaeng Popo untuk menggantikan isterinya sebagai raja Bone.

Untuk itu Karaeng Popo mendekati Adat Tujuh Bone agar dirinya dapat diangkat menjadi raja di Bone untuk menggantikan isterinya Fatimah Banri.

Akan tetapi maksudnya itu dihalangi oleh iparnya yang bernama La Pawawoi Karaeng Sigeri yang pada waktu itu menjadi Tomarilaleng ri Bone.

Alasannya adalah bahwa Karaeng Popo ketika isterinya masih hidup telah banyak melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh orang Bone.

Karaeng Popo bersama Jowana (pengawalnya) sering melakukan tindakan keras yang membuat rakyat kecil menderita.

Dengan demikian Adat Tujuh Bone sepakat untuk mengangkat anak dari Fatimah Banri yang bernama We Besse Sutera Bau Bone Arung Apala untuk menjadi Mangkau’ di Bone.

Pada waktu itu Besse Sutera Bau Bone baru berumur 13 tahun.

Akan tetapi kesepakatan Adat Tujuh Bone itu belum disetujui oleh Pembesar Kompeni Belanda di Ujung Pandang yang bernama Tuan Braan Manrits.

Alasannya ada kekhawatiran Bone dengan Gowa akan bersatu melawan Kompeni Belanda.

Untuk itu, pembesar Kompeni Belanda sendiri yang langsung masuk ke Bone.

Adapun kesepakatan pembesar Kompeni Belanda Tuan Braan Manrits dengan Adat Tujuh Bone, bahwa yang akan diangkat menjadi Mangkau’ ri Bone adalah saudara We Fatimah Banri sendiri yang bernama La Pawawoi.

Akhirnya La Pawawoi yang disetujui oleh Belanda menjadi raja Bone selanjutnya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...