No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Ratu Bone ke-30 We Fatimah Banri, 1871-1895

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

We Fatimah Banri, Datu Citta, Arung Timurung, Matinroe ri Bolampare’na, memerintah di Bone dalam tahun 1871-1895.

We Fatimah Banri menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi raja di Bone. We Fatimah Banri digelar pula dengan nama Sultanah Fatimah serta We Fatimah Banri Datu Citta.

Apabila namanya ditulis lengkap yaitu We Fatimah Banri, Datu Citta, Arung Timurung, Sultanah Fatimah, Matinroe ri Bolampare’na.

Dalam tahun 1879 We Fatimah Banri menikah dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang Karaenge ri Gowa. Dari perkawinannya itu lahirlah We Sutera Arung Apala.

Setelah kawin dengan Karaeng Popo, Fatimah Banri memberikan suaminya Akkarungeng di Palakka.

Setelah We Fatimah Banri meninggal dunia tahun 1895 berupayalah Karaeng Popo untuk menggantikan isterinya sebagai raja Bone.

Untuk itu Karaeng Popo mendekati Adat Tujuh Bone agar dirinya dapat diangkat menjadi raja di Bone untuk menggantikan isterinya Fatimah Banri.

Akan tetapi maksudnya itu dihalangi oleh iparnya yang bernama La Pawawoi Karaeng Sigeri yang pada waktu itu menjadi Tomarilaleng ri Bone.

Alasannya adalah bahwa Karaeng Popo ketika isterinya masih hidup telah banyak melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh orang Bone.

Karaeng Popo bersama Jowana (pengawalnya) sering melakukan tindakan keras yang membuat rakyat kecil menderita.

Dengan demikian Adat Tujuh Bone sepakat untuk mengangkat anak dari Fatimah Banri yang bernama We Besse Sutera Bau Bone Arung Apala untuk menjadi Mangkau’ di Bone.

Pada waktu itu Besse Sutera Bau Bone baru berumur 13 tahun.

Akan tetapi kesepakatan Adat Tujuh Bone itu belum disetujui oleh Pembesar Kompeni Belanda di Ujung Pandang yang bernama Tuan Braan Manrits.

Alasannya ada kekhawatiran Bone dengan Gowa akan bersatu melawan Kompeni Belanda.

Untuk itu, pembesar Kompeni Belanda sendiri yang langsung masuk ke Bone.

Adapun kesepakatan pembesar Kompeni Belanda Tuan Braan Manrits dengan Adat Tujuh Bone, bahwa yang akan diangkat menjadi Mangkau’ ri Bone adalah saudara We Fatimah Banri sendiri yang bernama La Pawawoi.

Akhirnya La Pawawoi yang disetujui oleh Belanda menjadi raja Bone selanjutnya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...