No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Ratu Bone ke-4 We Banrigau, 1470-1510

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

WE BANRIGAU, 1470-1510, menggantikan ayahnya La Saliyu Korampeluwa sebagai ratu di Bone.

We Banrigau digelar pula Bissu Lalempili’ (dalam bilik) dan Arung Majang.

Ketika menjadi ratu di Bone, We Banrigau menyuruh Arung Katumpi yang bernama La Datti untuk membeli Bulu Cina (gunung Cina) senilai 90 ekor kerbau jantan.

Akhirnya gunung yang terletak di sebelah barat Kampung Laliddong itu benar-benar dibelinya.

Kemudian disuruhlah Arung Katumpi untuk menempati gunung tersebut dan sekaligus menjaganya.

Karena jennang (penjaga) gunung Arumpone dibunuh oleh orang Katumpi, maka digempurlah Katumpi oleh orang Bone sehingga dirampaslah sawahnya yang ada di sebelah timur dan barat Kampung Laliddong.

Saudaranya yang bernama La Tenrigora itulah yang diserahkan Majang dan Cina, maka La Tenrigora disebut sebagai Arung Majang dan Arung Cina.

Sedangkan anak pertamanya yang bernama La Tenrisukki dipersiapkan untuk menjadi raja di Bone.

Setelah kurang lebih 18 tahun lamanya dipersiapkan untuk memangku kerajaan di Bone, maka dilantiklah La Tenrisukki menjadi raja di Bone dan menempati Saoraja Bone.

Makkaleppie bersama anak bungsunya yang bernama La Tenrigora memilih untuk bertempat tinggal di Cina.

Suatu saat ketika berada di Cina, We Banrigau Makkaleppie naik ke atas loteng rumahnya.

Tiba-tiba ada api yang menyala di atas loteng (menurut keyakinan orang disebut = api dewata).

Setelah api itu padam, maka We Banrigau Makkaleppie tidak nampak lagi di tempat duduknya.

Oleh karena itu, We Banrigau Makkaleppie Daeng Marowa dinamakan Mallajange ri Cina.

La Tenrisukki yang menggantikan ibunya sebagai raja Bone kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama We Tenrisongke, anak dari La Mappasessu dengan We Tenrilekke.

Dari perkawinan ini lahirlah La Uliyo Bote-e. Dan La Panaongi To Pawawoi yang kemudian menjadi Arung Palenna.

La Panaongi kawin dengan We Tenriesa’ Arung Kaju saudara perempuan We Tenrisongke. Dari perkawinan ini lahirlah La Pattawe Daeng Sore Matinroe ri Bettung.

Anak La Tenrisukki yang lain adalah La Pateddungi To Pasampoi kawin dengan We Malu Arung Toro melahirkan anak perempuan yang bernama We Tenrirubbang Arung Pattiro.

La Tenrigera’ To Tenrisaga Macellae Weluwa’na menjadi Arung di Timpa. Inilah yang kemudian kawin dengan We Tenrisumpala Arung Mampu, anak dari La Potto To Sawedi Arung Mampu Riaja dengan isterinya We Cikodo Datu Bunne.

Dari perkawinan ini lahirlah We Mappewali I Damalaka. Inilah yang kawin dengan anak sepupunya yang bernama La Gome To Saliwu Riwawo, lahirlah La Saliwu Arung Palakka dan juga Maddanreng di Mampu.

La Saliwu kemudian kawin dengan Massalassae ri Palakka yang bernama We Lempe, lahirlah La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng.

Selanjutnya La Tenrisukki melahirkan La Tadampare (meninggal dimasa kecil).

Berikutnya We Tenrisumange I Da Tenri Wewang kawin dengan La Tenrigiling Arung Pattiro Maggadinge anak dari La Settia Arung Pattiro dengan isterinya We Tenribali.

Lahirlah We Tenriwewang Denrae yang kemudian kawin dengan sepupunya La Uliyo Bote-e.

Anak berikutnya adalah We Tenritalunru I Da Tenripalesse. Kemudian We Tenrigella kawin dengan La Malesse Opu Daleng Arung Kung.

Lahirlah We Tenrigau yang kemudian kawin dengan La Uliyo Bote-e, lahirlah We Temmarowe Arung Kung.

Inilah yang kawin dengan La Polo Kallong anak La Pattanempunga, turunan Manurunge ri Batulappa.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...