No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Sejarah Bendera Samparajae

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

BENDERA SAMPARAJAE Terbuat dari kain berwarna biru sutra, berbentuk travesium, pinggirannya berwarna merah, terdapat hiasan bunga berdaun empat. Bentuk bunga bersegi empat, dua daun bunga berwarna daun emas. Dua daun lainnya berwarna besi. Kedua daun ini disebut BRANI yang berarti “BERANI” dan berubah menjadi musuh dalam pertempuran.

BENDERA SAMPARAJAE, Berfungsi sebagai bendera angkatan laut Kerajaan Bone. Mempunyai arti mencerminkan sikap dan kekuatan serta semangat yang dimiliki orang Bone.

Di era Pemerintahan Bupati Bone ke-18  Dr.H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi,M.Si. mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara di Lingkup Pemerintah Kabupaten Bone menggunakan PIN SAMPARAJAE yang diperkuat dengan Peraturan Bupati Bone Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Bone Nomor 24 Tahun 2015 Tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone.

Tindak lanjut perubahan peraturan itu kemudian Bupati Bone mengeluarkan Surat Edaran Nomor 061/283/II/ORGANISASI Tentang Penggunaan Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone.

Di mana dalam surat edaran itu terdapat penggunaan PIN SAMPARAJAE bagi Seluruh PNS di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Bone.

SEJARAH SINGKAT BENDERA SAMPARAJAE

Setelah Perjanjian Bongaya tahun 1669 tempat pembuatan perahu pinisi yaitu Ara ikut terimbas. Kekuasaan beralih kepada leluhur Bone seperti Puang Rangki, Puang Lompo. Para raja Bone tak puas kalau tidak menggunakan perahu buatan Ara dan Lemo-Lemo Mandar sebagai tumpangan dinasnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Dalam catatan harian raja Bone ke-22 La Temmassonge Toappewaling (1749-1775) tertulis bahwa mereka sering memesan perahu di Bulukumba. Dalam catatannya tertulis tanggal 9 Juni 1753 berangkat ke Pattingaloang melihat perahu pesanannya dari Bulukumba seharga 40 real.

Kemudian Tanggal 25 Maret 1755 La Temmassonge memerintahkan lagi membeli Satu Ajowa atau 2 ekor kerbau seharga 16 real atau diperkirakan setara dengan 5 ekor kerbau pada saat itu.

Perahu itu dipergunakan berlayar melewati Sungai Walennae masuk ke Danau Tempe apabila hendak ke Parepare atau ke Sulawesi Utara melalui sungai dan laut.

Di Parepare La Temmassonge membentuk pasar-pasar sementara sebagai tempat barter dan menjalin hubungan ekonomi untuk saling membantu antar kampung. Selain kepentingan armada Ellung Mangenre memuat hasil-hasil bumi dari pedalaman Bone. La Temmassonge pandai berdagang. Ia menjalin semacam ekonomi saling menghidupi antara satu dan yang lainnya. Dapat dikemukakan La Temmassonge mengajarkan cara hidup saling membantu antar tetangga dan warga sekitar yakni saling sipatuo.

Perahu perang itu dikerjakan oleh Daeng Mangali tidaklah terlalu besar namun untuk kepentingan perang menjaga kawasan laut kerajaan Bone sangat andal pada masa itu.

Perahu perang itu dinamai Ellung Mangenre dari sinilah pada lambang Kabupaten Bone terdapat gambar JANGKAR melambangkan sifat kebaharian yang perkasa dari rakyat Bone .

Seperti yang telah dibuktikan oleh sejarah Perahu Ellung Mangenre milik kerajaan Bone dengan Bendera Samparajae sebagai lambang kebesaran kerajaan didalamnya terlukis gambar Jangkar.

Sehingga dapat ditarik kesan bahwa sifat pelaut ini merupakan khas dari pada penduduk Bone.

Dari sini pula berawal terciptanya bendera Samparajae yang juga mengandung unsur historis. Kesemuanya menggambarkan tata kehidupan yang khas serta mengandung unsur-unsur historis, kultur, patriotik, sosiologi, ekonomis, dan agraris terutama yang melambangkan kepribadian.

Samparajae adalah bendera kerajaan Bone dimasa lalu yang erat hubungannya dengan Perahu Perang Ellung Mangenre yang diawali Raja Bone ke-22 Latemmassonge Toappewaling Matinroe ri Mallimongan Makassar sekarang. Kemudian dipergunakan raja-raja Bone selanjutnya.

Oleh karena itu SAMPARAJAE mempunyai arti mencerminkan sikap, kekuatan, dan semangat yang dimiliki orang Bone di manapun ia berada.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...