No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

La Maddaremmeng Raja Bugis Anti Perbudakan

Raja Bugis atau Raja Bone ke-13, La Maddaremmeng, dikenal taat menjalankan agama Islam dan menerapkan aturan Islam dengan ketat. Dia menentang perbudakan karena dianggapnya semua manusia itu sama utamanya umat Islam sesungguhnya adalah orang yang merdeka.

Ketika kerajaan Gowa resmi menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tanggal 22 September 1605 M, sejak itu seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan yang di bawah penguasaannya pun harus ikut. Masa itu Gowa dipimpin oleh Sultan Alaudin, raja Gowa ke-14, Namun, persekutuan kerajaan dalam ikrar Tellumpoccoe, yakni Bone, Soppeng, dan Wajo tidak menerima begitu saja.

Ajakan masuk Islam oleh Gowa dianggap sebagai upaya menanamkan kekuasaan di wilayah kerajaan itu. Akhirnya, selama empat tahun, Gowa menyerang tiga kerajaan itu. Perang ini dikenal dengan nama Musu Selleng (Peperangan Islam). Sidenreng dan Soppeng diislamkan pada 1690, Wajo pada 1610 dan Bone pada 1611.

Perkembangan Islam di Bone begitu pesat, Raja Bone ke-13, La Maddaremeng Matinroe ri Bukaka periode 1631-1644, menerapkan aturan-aturan Islam dengan ketat, tak hanya dalam wilayahnya melainkan ke kerajaan tetangga seperti Wajo dan Soppeng.

La Madderemeng, mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan budak (ata). Menurutnya, semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Bila seseorang mempekerjakannya maka harus memperoleh nafkah sewajarnya.

La Maddaremmeng juga menghukum berat para penyembah berhala atau menyakralkan tempat dan benda-benda tertentu, pelaku zina, pencurian, miras, dan berbagai bentuk kemungkaran lainnya. Dan Inilah sejarah awal penerapan syariat Islam secara formal di Bone dan daerah sekitarnya.

Maka terjadilah perlawanan dari para bangsawan Bone bahkan perlawanan tersebut dipimpin langsung oleh Ibu La Maddaremmeng sendiri yaitu Datu Pattiro we Tenrisoloreng. Beliau menolak ajaran Islam versi anaknya karena dianggapnya keras dan tidak toleran, ibunya lebih tertarik dengan ajaran Islam versi kerajaan Gowa-Tallo karena lebih sufistik dan klop dengan ajaran kepercayaan pra-Islam di Bone.

Selain pembebasan budak, La Madderemeng juga menghancurkan berhala dan tidak mengijinkan kepercayaan leluhur yang tidak sesuai syariat Islam. Namun, tindakan itu tak begitu disenangi rakyat dan kalangan istana, bahkan ibunya sendiri, We Tenrisoloreng Datu Pattiro.

Kepatuhan La Maddaremmeng dalam menjalankan ajaran Islam dan mengimplementasikannya dalam pemerintahannya. Bahkan diusahakan pula agar kerajaan tetanggnya seperti Soppeng, Wajo dan Ajattapareng menirunya, khususnya dalam memerdekakan hamba sahaya, kecuali yang memang budak turun temurun, sedang mereka inipun harus diperlakukan manusiawi.

Baginda bertindak keras tanpa pandang bulu terhadap siapapun yang melanggar kebijaksanaannya. Meski begitu, tak sedikit pula bangsawan dalam Kerajaan Bone sendiri yang menentang penghapusan perbudakan.

Dengan dalih menciptakan stabilitas keamanan dalam negeri Bone dan penentangan terhadap penghapusan perbudakan, Gowa di bawah pemerintahan Karaengnge’, Sultan Malikus Said kembali menyerang Bone tahun 1644. Ini berarti Gowa sendiri tidak mau dan tidak menyetujui penghapusan perbudakan.

Kerajaan tetangga yang merasa tertekan dengan aturan La Maddaremmeng secara perlahan juga menggalang kekuatan dengan kerajaan Gowa. Pada tahun 1640, We Tenrisoloreng Datu Pattiro ibunda sang raja (ibunda La Maddaremmeng) melakukan perjalanan dan menuju Makassar untuk meminta perlindungan pada Sultan Malikussaid, raja Gowa ke-15 (periode 1639-1653) pengganti Sultan Alaudin yang mangkat.

Beberapa kali utusan kerajaan Gowa menuju Bone untuk meminta penghentian aturan tersebut, namun tak pernah digubris oleh La Madderemeng. Akhirnya, perang pun kembali berkobar. Gowa didukung Wajo, Soppeng, dan Sidenreng menghimpun pasukan dalam jumlah besar dan menyerang Bone.

Pada 1644, Bone ditaklukkan. La Maddaremeng ditangkap dan ditawan di Makassar. Sementara adiknya La Tenriaji yang mendukung segala aturan La Madderemeng, mengasingkan diri untuk menghindari pertumpahan darah yang lebih besar.

La Maddaremmeng menghadapi perang tersebut dengan dibantu saudaranya, La Tenriaji Tosenrima, namun serangan Gowa secara besar-besaran tersebut tak dapat ditahan pasukan Bone, Arumpone akhirnya menyingkir ke daerah Larompong.

Arumpone La Maddaremmeng ditawan Di Cimpu, lalu dibawa ke Gowa, diasingkan di suatu kampung bernama Sanrangang Tahun 1644. Rakyat dan Ade Pitu Bone akhirnya mengangkat La Tenriaji To Senrima sebagai Arumpone untuk melanjutkan perjuangan melawan Gowa.

La Maddaremmeng dikembalikan ke Bukaka dan di sanalah Raja Bone ini meninggal, hingga digelari Matinroe ri Bukaka kompleks perkuburan Kalokkoe di pinggiran kota Watampone.

Sepeninggal La Maddaremmeng terjadi kekosongan takhta di kerajaan Bone saat itu, menunjuk Karaeng Patingaloang sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa sekaligus paman dari Sultan Malikussaid menjadi raja. Namun, permintaan tersebut ditolak. Dan akhirnya Sultan Malikussaid menjadi raja Bone sekaligus Gowa.

Beberapa tahun kemudian, La Tenriaji muncul dan menghimpun kekuatan. Dewan adat Bone (Ade Pitu) mengangkat La Tenriaji Tosenrima sebagai raja Bone ke-14 Tahun 1644 tanpa sepengetahuan Gowa. Sultan Malikussaid bersama Karaeng Patingalloang dibantu Wajo, Soppeng, dan Sidenreng bersatu untuk memerangi Bone.

Bone kalah dan ratusan orang Bone menjadi tawanan termasuk La Tenriaji Tosenrima. Sekutu kerajaan Gowa, kemudian meminta pembagian rata tawanan dari Bone untuk dijadikan budak. Di Gowa, praktik dan sistem perbudakan berlangsung sejak lama.

Di Makassar penduduk-penduduk taklukan dijadikan budak. Para budak itu digunakan oleh pedagang atau tuan tanah sebagai pendayung, pengangkut beban, dan pekerja di lahan pertanian.
Maka tak heran, sistem budak ini menjadikan Makassar sebagai pusat perdagangan budak, baik dari Kalimantan, Timor, Manggarai, Solor, dan Tanimbar.

Demikian jejak langkah perjuangan La Maddaremmeng Raja Bone ke-13 sang penghapus perbudakan, hingga saat ini perbudakan (ata) di Sulawesi Selatan tidak ada lagi. Perjuangan La Maddaremmeng dan La Tenriaji Tosenrima dilanjutkan oleh raja-raja Bone selanjutnya.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Sigajang dalam Perspektif Bugis Makassar

Bugis memang punya ciri khas dan kaya akan budaya. Suku yang awalnya mendiami dan beranak pinak di jasirah Selatan Sulawesi ini kini menyebar hingga...