No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Mengurai Terminologi Bugis ” Seppa Sikadong “

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Bahasa bugis mempunyai kosakata yang cukup banyak. Kosakata tersebut dituturkan dengan berbagai dialek, idiolek, logat, dan sosiolek. Bahkan ada di antara kosakata bugis itu yang sifatnya ambigu, di mana mempunyai arti ganda, tidak jelas dan membingungkan sehingga meragukan atau sama sekali tidak dipahami orang lain. Karena ketidakjelasannya bahkan kelompok penuturnya pun menjadi bingung.

Penyebab ambigu itu sendiri di antaranya struktur kalimat yang tidak tepat, serta pemakaian kalimat yang tidak tepat. Sebelum kita membahas dan mengurai terminologi bugis ” Seppa’ Sikadong terlebih dahulu kita cermati pengertian dialek, idiolek, logat, dan sosiolek.

DIALEK adalah ragam bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau daerah tertentu. Meskipun memiliki Idiolek masing-masing, para penutur dalam suatu wilayah tertentu memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan penutur lainnya.

LOGAT adalah cara mengucapkan kata (aksen) atau lekuk lidah yang khas, yang dimiliki oleh masing-masing orang sesuai dengan asal daerah ataupun suku bangsa. Logat dapat mengidentifikasi lokasi di mana pembicara berada, status sosial-ekonomi, dan lain lainnya.

IDIOLEK adalah ragam bahasa yang unik pada seorang individu. Hal ini diwujudkan dengan pola pilihan kosakata atau idiom (leksikon individu), tata bahasa, atau pelafalan yang unik pada setiap orang.

Sementara SOSIOLEK dari sosial dan dialek adalah ragam bahasa yang terkait dengan suatu kelompok sosial tertentu. Sosiolek terjadi pada berbagai kelompok masyarakat menurut kelas sosial, usia, serta pekerjaan.

Nah, apakah itu Seppa’ Sikadong ?

Seppa Sikadong adalah salah satu ragam kosakata bugis yang jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Namun istilah ini hanya digunakan pada konteks tertentu seperti pada benda tajam (badik/kawali) dengan pengucapan sedikit berbeda yakni sippa rikadong.

Yang membedakan keduanya adalah huruf (i) yakni Seppa – Sippa. Perbedaan itu disebabkan selain huruf lontara bugis tidak mempunyai konsonan juga karena faktor logat atau aksen. Jadi sedikit saja salah mengucapkan kata maka maknanya bisa berbeda.

Misalnya :
Seppa’ = memasukkan barang ke tempat / lubang terdalam tidak bisa lagi didorong masuk. Contohnya, memasukkan badik pada sarungnya dengan pas. Hanya bisa ditarik tapi tidak dapat didorong lagi kelebih dalam.

Seppa = terkoyak bagian tengah, sisi pinggir yang terkoyak tidak bersatu tetapi sisi lainnya tetap terhubung.

Sippa = merupakan alur retakan.

Sikadong = saling menerima, baku cocok, keduanya saling mengangguk tanda setuju.

Sippa sikadong = adalah retakan pada tengah bilah Badik/kawali dari punggung Badik/kawali. Jenis pamor badik seperti ini selain bernilai seni juga tergolong cukup langkah, tuahnya dipercaya cocok untuk kerezekian dan memudahkan segala urusan.

Dilihat dari maknanya seperti tersebut di atas, seppa’ – seppa – dan sippa, ketiganya menjadi kata simbolik bertuah. Sebab dari terpisah menjadi bersatu, meski robek, terkoyak namun tidak terpisah, pertemuan kedua belah pihak menghasilkan sesuatu yang pas-pas.

Seperti diketahui, Badik/kawali bagi masyarakat bugis mempunyai kedudukan yang tinggi. Tidak hanya berfungsi sekadar sebagai senjata tikam, melainkan juga melambangkan status, pribadi, dan karakter pembawanya.

Kebiasaan Mattappi atau membawa Badik/kawali di kalangan masyarakat terutama suku bugis merupakan pemandangan yang lazim ditemui sampai saat ini terutama di Bone. Dahulu, di Bone manakala ada orang bepergian dengan tidak membawa badik (mattappi) dianggap sebagai orang sombong.

Kebiasaan tersebut bukanlah mencerminkan bahwa suku bugis adalah masyarakat yang gemar berperang atau suka mencari keributan melainkan lebih menekankan pada makna simbolik yang terdapat pada Badik/kawali tersebut. Meskipun demikian kalau dipermalukan terutama menyangkut harga diri, ia akan terbangun dan mengajak “siakatenning jari” atau duel. Ketika itu, tidak ada jalan lain selain cappa kawali / ujung badik yang bicara.

Pentingnya kedudukan Badik/kawali di kalangan masyarakat bugis dan makassar membuat masyarakat berusaha membuat/mendapatkan badik yang istimewa baik dari segi pembuatan, bahan baku, pamor maupun tuah yang dipercaya dapat memberikan energi positif bagi siapa saja yang memiliki atau membawanya.

Jadi makna yang terkandung dalam terminologi bugis ” Seppa’ Sikadong ” antara lain :
1. sesuatu yang mengarah kesempurnaan
2. Sesuatu yang memiliki keseimbangan/keselarasan
3. Sesuatu yang saling menerima
4. Sesuatu yang terpisah dalam
kesatuan
5. Sesuatu yang dilakukan dengan bijak
6. Sesuatu yang menjadi ciri dan identitas
7. Sesuatu yang simbolik/pelambang
8. Sesuatu yang bernilai tuah bagi yang mempercayainya.
9. Dll.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...