No menu items!
Minggu, 12 Juli 20

Sejarah Tanah Bangkalae Bone

Situs Tanah Bangkalae merupakan suatu tempat dipersatukannya tiga tanah yang secara adat didatangkan dari tiga Kerajaan Besar di Sulawesi, yaitu Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa.

Hasil penyatuan dan percampuran ketiga tanah tersebut maka terjadilah perubahan warna dari masing-masing warna aslinya. Setelah dipadukan ketiga tanah tersebut serta merta berubah menjadi warna kemerah-merahan dalam bahasa Bugis disebut bangkala, dari sinilah sehingga disebut “Tanah BangkalaE” sampai sekarang

Karena memberikan makna yang diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa selanjutnya ketiga tanah tersebut dinamakan “Tanah Ri Tappa Dewata” yaitu, tanah yang dibentuk oleh Allah yang Maha Kuasa.

Dengan dipersatukannya ketiga tanah Kerajaan tersebut dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan bersama Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa dalam mewujudkan sebuah bentuk perdamaian dan kerja sama dalam menata kerajaan masing-masing.

Situs Tanah Bangkalae sejak awal masa pemerintahan Raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka (1696-1714). Ketika itulah Kerajaan Bone, Luwu, dan Gowa menyatakan bersatu dalam persaudaraan, sehingga dinyatakan tidak ada lagi permusuhan.

Setelah itu, di tempat inilah setiap Raja Bone (Mangkau) secara turun temurun dilantik oleh Dewan Adat/Ade Pitu (Adat Tujuh) sejenis DPR sekarang.

Dengan demikian sejak raja Bone ke-16 hingga Raja Bone ke-33 dilantik di situs Tanah BangkalaE. Pelantikan Raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka dilantik di tempat ini tanggal 6 April 1696. Setelah pemugaran, pada tanggal 27 November 2004, Tanah Bangkalae diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan.

Lokasi situs Tanah Bangkalae ini berada di tengah kota, tepatnya di kawasan Simpang Tujuh Kota Watampone, tak jauh dari rumah jabatan Bupati Bone.

Must read

Kawasan Peruntukan Pariwisata Kabupaten Bone

Peruntukan pariwisata di Kabupaten Bone terdiri pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan. Hal ini berdasarkan Rancangan Perda Kabupaten Bone Nomor 2 Tahun 2013 Tentang...

Sejumlah Seniman Jadi Juri Lomba Festival Aksara Lontara’ 2020

Sejumlah seniman senior akan mengambil peran sebagai juri dalam kegiatan lomba serangkaian Festival Aksara Lontara' 2020. Lomba ini digelar selain memeriahkan Festival Aksara Lontara', sekaligus...

Cara La Patau Membangun Benteng Cenrana

Situs Cenrana Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone merupakan peninggalan La Patau Matanna Tikka raja Bone ke-16. La Patau Matanna Tikka lahir pada Tanggal 3 November 1672...

Sejarah Situs Cenrana Kabupaten Bone

Sejak berabad-abad yang lalu wilayah Cenrana memainkan peranan penting dalam pembentukan sejarah budaya di Sulawesi Selatan. Cenrana sebagai kelanjutan sungai Walennae memiliki lembah-lembah sungai yang...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More articles

Latest article

Filosofi Uddani Bali Uddani

Banyak hikmah yang diperoleh dalam kehidupan selama ini, namun terkadang kita sendiri tidak pernah menyadarinya. Seringkali hal-hal sepele saja kita sendiri yang membesar-besarkan. Keburukan...

Sejarah Kerajaan Islam Samudera Pasai

KERAJAAN SAMUDERA PASAI 1. Sejarah: Kerajaan Samudera Pasai terletak di Aceh, dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini didirikan oleh Meurah Silu pada tahun 1267...

Aksara Lontara dari Gulungan yang Mendunia

Walaupun penggunaan aksara Latin telah menggantikan Lontara, tulisan ini masih dipakai dalam lingkup kecil masyarakat Bugis dan Makassar. Dalam komunitas Bugis, penggunaan Lontara terbatas dalam upacara...

Merawat Bugis Melalui Modal Budaya

Banyak sumber untuk menggali nilai-nilai budaya Bugis, di antaranya melalui nyanyian tradisonal yang mungkin sekali pada saat ini sudah mulai tidak diingat kembali dan...