No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Demonstrasi Ala Bugis Masa Lalu

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Bagi sebagian orang demonstrasi kerap menjadi momok yang menakutkan. Ketakutan atau minimalnya antipati terhadap aksi demonstrasi adalah kewajaran, sebab saat ini demonstrasi diidentikkan dengan aksi kekerasan, anarkis, pengrusakan, dan aneka ragam tindakan yang mengabaikan nilai sopan santun dan etika.

Tanpa bermaksud menggeneralisasi, tetapi secara umum demonstrasi hari ini tidak jarang dibingkai dengan warna buram. Ada kepedihan, penderitaan, kepentingan sesaat, dan berbagai fragmatisme lainnya. Lalu apakah demonstran harus dihakimi, bahwa apa yang dilakukan itu merupakan malapetaka dan dosa sosial. Rasanya juga tidak adil kalau sepenuhnya kesalahan itu harus ditimpakan kepada aktivis demonstran.

Toh di lain sisi ada pemegang kekuasan di sana yang berjalan dengan penuh kecongkakan, telinga mereka sudah tuli dengan jerit penderitaan, matanya rabun tingkat tinggi, karena sudah tidak dapat melihat ribuan masyarakat yang merintih kelaparan, mulutnya bungkam untuk memberikan harapan, indera tangan dan kakinya lumpuh karena sudah tidak bisa berkarya untuk meningkatkan citra dan harga diri bangsa yang sudah terkoyak parah.

Kiranya tulisan ini kelihatannya merupakan luapan emosional, “saya mohon maaf”. Tapi itulah yang terasa, ada kenyataan pahit di negeri ini yang harus ditelan terpaksa.

Sudahlah, karena memang pada dasarnya, saya tidak ingin menyalahkan siapapun. Dalam tulisan yang sederhana ini, saya hanya ingin memunculkan alternatif demosntrasi yang pernah dipentaskan rakyat Bone dahulu kala. Saat itu proses peralihan dari Kerajaan Bone menjadi Kabupaten untuk selanjutnya bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dikisahkan, pada tahun 1951, Presiden RI pertama Ir Sukarno berkunjung di Kerjaan Bone, Sukarno saat itu diterima dirumah berukir atau yang dikenal Bola Subbi’e (Gedung Perpustakaan Umum Daerah Bone sekarang).

Kedatangan Sang Proklamator itu, secara khusus dalam rangka mengajak Kerajaan Bone yang dipimpin Raja Bone La Mappanyukki, untuk bergabung dengan NKRI.

Ajakan Sukarno kepada Kerajaan Bone untuk bergabung dengan NKRI tidak langsung disanggupi oleh Raja Bone La Mappanyukki, karena sang raja harus menjunjung kehendak rakyatnya.

Ajakan Sukarno itupun teresebar luas pada rakyat kerajaan Bone saat itu, akhirnya sekitar 3000 orang sebagai refresentasi rakyat Bone, berkumpul dialun-alun kerjaan Bone, (sekarang, Lapangan Merdeka Watampone ).

Tujuan rakyat Bone berkumpul dialun-alun kerajaan untuk menggelar demonstrasi menyampaikan keinginan agar kerajaan Bone bergabung dalam NKRI. Menariknya penyampaian aspirasi ribuan rakyat Bone itu, dikemas dalam gerakan yang sangat santun dan sopan, baik formulasi gerakan maupun tutur kata. Rakyat Bone saat menyampaikan aspirasi menggunakan pakaian-pakaian kebesaran mereka, pakaian yang sopan dan rapi.

Dengan mengenakan sarung, dan baju adat, lalu mereka duduk bersila sembari menunduk memandang menembus lapisan bumi, itu sebagai pertanda betapa mereka menghormati pemimpinnya. Dalam kondisi damai yang mendalam dan penuh penghormatan kepada raja mereka, rakyat menyampaikan aspirasinya tentang keinginan rakyat bergabung dengan NKRI.

“O…puang’ku narapini kapang wettunna, to siame’ Sukarno, persidenna Indonesia, (Wahai rajaku yang kami hormati, kemungkinan memang sudah saatnya kita bersatu bersama Sukarno, Presiden Indonesia” demikian inti penyampaian rakyat Bone kepada rajanya.

Demonstrasi rakyat Bone kala itu yang dikemas dengan kedamian yang mengharu biru, rupanya tidak kalah saktinya dengan demonstrasi berdarah yang lazim dilakukan saat ini. Walaupun begitu damainya, demonstrasi itu menjadi cikal bakal terbentuknya Kabupaten Bone.

Tiga tahun berselang setelah demo yang santun dan tidak pernah kita jumpai lagi dizaman edan ini. Negara Bone yang berdaulat sebagai kerjaan besar kala itu akhirnya resmi bergabung dengan NKRI. Selanjutnya bergabungnya Bone itu ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 29 Tanggal 4 Juli Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi.

Nah… sekarag mari kita semua merenung sambil membandingkan model demonstrasi rakyat Bone dan demonstrasi berdarah yang sering ditonton bersama. Mohon akhir renungan itu dengan kesejatian hati, tanya nurani mana yang benar, baik, dan bermanfaat. Malu untuk mengikuti sesuatu hal yang salah adalah kebaikan yang abadi, berani mengikuti kebenaran adalah jiwa kesatria sejati. (Anwar Marjan, Bugis Warta)

Berita sebelumyaPesona Perempuan Bugis
Berita berikutnyaBelajar Navigasi Bugis
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...