No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Contoh Kata Sandang dalam Bahasa Bugis

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Seperti halnya dalam bahasa Indonesia, bahasa Bugis juga memiliki jenis kata seperti kata sandang, kata benda, kata kerja, kata depan, dan lainnya

Contoh kata sandang dalam bahasa Bugis, yaitu La, We, I, Wa, dll.

Contoh kata benda dalam bahasa Bugis, yaitu uwae, anre, kasoro, beppa, kopi, sokko, dll.

Contoh kata kerja dalam bahasa Bugis, yaitu , manre, mallempa, mabbule, mallaleng, maruwwae, matinro, makkenru, maddoja, dll.

Contoh kata depan dalam bahasa Bugis, yaitu ri, ko, pole.

Nah, mari kita kembali pada pokok masalah, Apakah arti LA dalam bahasa Bugis ?

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita mendengar dan membaca La Mellong, La Mappa, La Baco, bahkan di depan nama raja-raja Bone didahului dengan La dan We.

Kata LA dalam bahasa Bugis merupakan kata sandang, biasanya digunakan untuk panggilan manusia, benda mati atau makhluk hidup lainnya yang bertujuan untuk meninggikan martabat.

Kata LA hanya digunakan bagi jenis kelamin laki-laki. Namun tidak semua laki-laki bisa menggunakan LA di depan namanya.

Kata LA juga memberikan makna seorang atau tunggal pada kata sesudahnya.

Kata LA juga bermakna gelar yang diberikan kepada seseorang karena memiliki kelebihan, kecakapan khusus dibanding orang sekitarnya.

Kata LA juga digunakan untuk sebutan gelar pada suku Bugis khususnya raja-raja Bone yang pernah memerintah.

Kata LA juga menunjukkan gelar, Arung yang bermakna bangsawan dan negarawan.

Contoh Penggunaan LA:
– Ummasa sebagai raja Bone menjadi La Ummasa
– Mellong karena keahliannya sebagai pembicara dan penengah menjadi La Mellong.

Namun kata LA biasa juga dipelesetkan dengan berlawanan makna yang menunjukkan sifat dan prilaku buruk seseorang. Misalnya Labuntalli, Ladongo, Lakonja, dll. namun penulisan LA tidak terpisah dengan kata yang mengikuti.

Selanjutnya kata WE hanya digunakan bagi jenis kelamin perempuan. Namun tidak semua perempuan bisa menggunakan WE di depan namanya. Bagi Anak Gadis atau perempuan biasa disebut TENRI.

Seperti halnya LA, maka Kata WE juga memberikan makna seorang atau tunggal pada kata sesudahnya.

WE juga bermakna gelar yang diberikan kepada seseorang karena memiliki kelebihan. Juga digunakan untuk sebutan gelar pernah sebagai ratu atau memerintah di kerajaan Bone. Selain itu, juga menunjukkan gelar, Arung yang bermakna bangsawan dan negarawan.

Contoh Penggunaan WE
– Ratu Bone We Tenrituppu
– Ratu Bone We Tenriawaru
– Ratu Bone We Imaniratu
– Dll.

Sebagai sambahan, silakan juga baca di bawah ini.

Kata sandang adalah suatu kata yang tidak memiliki arti atau makna khusus yang digunakan sebagai penjelas kata benda yang diletakkan sebelum kata benda. Makna kata sandang sendiri tergantung dengan makna kata yang ada di belakangnya.

Di dalam bahasa Indonesia, kata sandang memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Membendakan suatu kata atau frase.

Contoh:

-Yang rajin belajar pasti akan menjadi pintar.
_Yang rajin belajar maksudnya orang-orang yang rajin belajar.

2. Membentuk kata benda atau kata ganti orang.

Contoh:

– Para hadirin mengikuti acara seminar dengan sangat antusias.
– Para hadirin bermakna hanya orang-orang yang hadir.

Ada beberapa kata sandang yang dikelompokan berdasarkan fungsinya. Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis kata sandang.

A. Kata sandang yang menyatakan jumlah tunggal

Kata sandang seperti sang, sri, hang, dang, hyang memberikan makna seorang atau tunggal pada kata sesudahnya.

Contoh:

1. Sang

Sang biasa digunakan untuk panggilan manusia, benda mati atau makhluk hidup lainnya bertujuan untuk meninggikan martabat atau menyindir.

Contoh:

– Sang raja memberikan tahtanya kepada ahli waris. (meninggikan martabat)
– Sang kodok sepertinya tidak mengorek lagi hari ini. (menyindir)
– Sang saka merah putih berkibar di langit Indonesia.

2. Sri

Kata sandang Sri digunakan sebagai penyandang nama manusia yang kedudukannya lebih tinggi.

Contoh:

– Sri Sultan Hamengku Buwono meninggalkan keraton untuk melihat rakyatnya.
– Sri baginda memerintahkan seluruh rakyatnya untuk datang ke acara pernikahan anaknya.

3. Hang

Kata sandang hang juga digunakan untuk menghormati seseorang.

Contoh:

– Hang Tuah bertemu dengan Hang Bae untuk berunding.
– Hang Jebat merupakan pahlawan pembela kebenaran orang-orang Melayu.

4. Dang

Penggunan kata sandang “Dang” sama seperti “Hang”, tetapi digunakan khusus untuk wanita.

Contoh:

– Dang Shinta dilamar oleh Hang Jebat.
– Sungguh elok paras Dang Siti sehingga membuat semua pria di kampungnya memperebutkannya.

5. Hyang

Khusus untuk kata sandang Hyang digunakan untuk menyebut dewa dan dewi.

Contoh:

Umat Hindu di Indonesia menyembah tuhan mereka, Hyang Widhi.

6. Yang

Kata sandang “Yang” biasanya digunakan sebagi pembentuk atau pengganti nama Tuhan.

Contoh:

– Yang Maha Pengampun, Ampunilah segala dosa-dosaku.
– Kejadian ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
– Serahkaan semua masalahmu kepada Yang Maha Adil.

B. Kata sandang yang menyatakan jumlah jamak/kelompok.

Kata sandang seperti para, umat, dan kaum menyatakan kelompok orang tertentu.

1. Para

Kata sandang “para” digunakan untuk menegaskan sekelompok manusia yang memiliki suatu kesamaan tertentu.

Contoh:

– Para dokter sedang mengoperasi seorang pasien kanker di ruang operasi.
– Para manula yang terlantar di rawat oleh panti jompo.
– Para pembalap memacu sepedanya dengan cepat pada putaran terakhir.
– Para emak-emak mengeluh harga pangan naik.

2. Umat

Kata sandang “umat” digunakan biasanya digunakan untuk menyatakan kelompok yang memiliki kesamaan dalam bidang agama.

Contoh:

– Umat Islam memiliki hari Raya Idul Fitri sebagai hari yang suci, sedangkan Umat Kristen memiliki hari Natal.
– Umat Nabi Muhammad SAW di Indonesia memperingati Isra’ Miraj dengan khusyuk.
– Untuk menghormati umat Hindu yang sedang menyepi, Umat Islam di Bali mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara.

3. Kaum

Kata sandang “kaum” digunakan untuk orang-orang yang memiliki pandangan atau ideologi yang sama.

Contoh:

– Kaum kafir di Azab oleh Allah SWT karena perilakunya yang sangat menyimpang.
– Kaum wanita pada zaman dahulu dipandang sebelah mata oleh kaum laki-laki.
– Kaum menengah ke bawah tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh kaum kaya raya.

C. Kata sandang sebagai penunjuk kata ganti orang/kata benda yang bermakna netral atau seimbang.

Kata sandang seperti “Si” dan “Yang” biasanya digunakan untuk menunjukan suatu kenetralan atau keharmonisan pada kata yang disandangnya.

1. Si

Kata sandang “Si” digunakan untuk mengiringin nama seseorang, hewan dan membentuk kata sifat menjadi kata benda.

Contoh:

– Si Baci mengajak Minah pergi ke sekolah bersama.
– Si gendut, Si manis, Si kurus, Si tampan
– Si kancil sangat pintar sehingga dia bisa menipu buaya.

2. Yang

Kata sandang “Yang” digunakan sebagai pembentuk kata benda dari frase atau kata yang dikhususkan sebagai kata ganti orang atau manusia.

Contoh:

– Yang mengalami kecelakaan itu adalah tetangga dekatku.
– Aku tak melihat orang yang memanggil namaku dari belakang.
– Baco bertemu dengan orang yang telah ditunggu-tunggu olehnya.
– Aminah berpisah dengan orang yang paling dikagumi.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...