Kearifan Bugis Werekkada

1305

Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra Bugis, hingga saat ini masih dihayati oleh masyarakat yang berlatar Bahasa Bugis. Jenis sastra ini merupakan warisan budaya Bugis yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Werekkada mengandung bermacam-macam petuah yang dapat dijadikan pegangan dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan, baik kehidupan duniawi maupun ukhrawi. Dalam wérékkada ditemukan petunjuk tentang pendidikan budi pekerti, nilai-nilai moral, dan keagamaan.

Sementara itu, sastra daerah merupakan bukti sejarah kreativitas masyarakat daerah. Karenanya, sastra daerah berkedudukan sebagai wahana ekspresi budaya yang di dalamnya terekam antara lain pengalaman estetik, religius, dan sosial politik masyarakat etnis yang bersangkutan.

Di samping itu, karya sastra mengandung nilai-nilai yang dapat memperbaiki pandangan hidup, mempertajam akal, dan memperhalus budi, sehingga dapat membuat kehidupan menjadi lebih beradab dan dapat membuat kita lebih peka dalam menghadapi berbagai perkembangan dan perubahan di dalam kehidupan.

Sastra mengandung ilmu, kehidupan, dan nada keindahan. Oleh karena itu, sastra dapat menjadi media pembelajaran tentang ilmu, dan kehidupan.

Kekayaan nasional berupa sastra Indonesia dan sastra daerah itu sangat beragam. Keanekaragaman tampak dalam bahasa yang digunakannya, yaitu bahasa daerah yang jumlahnya sangat banyak. Keanekaragaman itu tampak pula dalam khazanahnya dan perkembangan yang dialami oleh sastra itu.

Di samping keragaman, dalam sastra Indonesia dan sastra daerah juga terdapat kesamaan. Kesamaan ini pun patut mendapat perhatian karena kesamaan dan keragaman ini terkait dengan kebudayaan Indonesia secara keseluruhan juga memiliki keadaan demikian.

Manfaat sastra daerah bagi masyarakat tentu saja amat besar. Berbagai ajaran moral dapat disampaikan melalui sastra. Dalam berbagai upacara, sastra dimanfaatkan sebagai hiburan. Selain itu, apa yang disajikan oleh sastra itu sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia karena sastra itu sendiri mengandung nilai budaya, moral, hukum dan sebagainya.

Wérékkada adalah sastra lisan Bugis yang mengandung pesan-pesan atau petuah-petuah agar selalu bertingkah laku baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan ciptaan Tuhan lainnya. Tak berlebihan bila dikatakan wérékkada merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu mendapat perhatian.

Wérékkada merupakan cerminan kehidupan dalam masyarakat lama. Dalam hal ini, manusia tunduk kepada peraturan-peraturan dan tradisi. Hal ini dilakukan karena mereka menghendaki kehidupan yang stabil, kukuh, dan harmonis.

Ciri manusia sebagai individu dalam masyarakat adalah hidup dalam kebersamaan. Segala macam masalah menjadi masalah bersama dan harus diselesaikan bersama pula. Dalam masyarakat seperti itu ditemukan nilai-nilai yang menjadi pandangan dalam kehidupan bersama.

Nilai-nilai yang dianggap baik itu adalah nilai-nilai yang dapat menjadikan manusia dipandang sebagai manusia ideal dalam masyarakat. Berbagai bentuk peninggalan-peningglan leluhur dalam bentuk lisan harus dimanfaatkan dengan baik, karena menyimpan banyak nilai-nilai kearifan lokal yang sulit ditemukan di dalam bukti atau dokumen tertulis.

Fungsi sastra, yaitu menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu. Sehingga karya sastra hendaknya membuat pembaca merasa nikmat dan sekaligus dapat memetik pelajaran.

Karya sastra yang menyenangkan tentu saja bukan pengalaman yang biasa, melainkan pengalaman bersifat seni dan pengalaman besar tentang pandangan hidup, renungan tentang baik buruk, moral yang tinggi, dan sebagainya. Oleh karena itu, pengalaman jiwa yang tinggi itu dapat memperkaya jiwa dan batin pembaca sehingga berguna bagi kehidupannya. Itulah guna dan fungsi hakikat karya sastra pada khususnya dan karya seni pada umumnya.

Teks sastra dikatakan berkualitas apabila memenuhi keinginan pembaca. Betapa pun hebat sebuah karya sastra, jika tidak dapat dipahami oleh pembaca boleh dikatakan teks tersebut gagal.

Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang sekaligus sebagai warisan budaya masyarakat Bugis yang banyak mencerminkan kearifan lokal.

Kearifan lokal yang menjadi fokus utama meliputi bawaan hati yang baik, konsep pemerintahan yang baik (good governance), demokrasi, motivasi berprestasi, kesetiakawanan sosial, kepatutan, dan penegakan hukum.

Kearifan itu memiliki kedudukan yang kuat dalam kepustakaan Bugis dan masih sesuai dengan perkembangan zaman. Kearifan lokal yang tercermin dalam wérékkada antara lain kejujuran, keteguhan, dan siri atau harga diri.

Kejujuran

Kejujuran merupakan landasan pokok dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat mendasar di dalam kehidupan. Tanpa kejujuran, mustahil akan tercipta hubungan yang baik dengan sesama manusia. Untuk mengemban suatu amanah atau menjadi seorang pemimpin, kejujuran itu sangat dibutuhkan seperti yang tertera dalam wérékkada berikut.

Makkedai Kajao Laliddong: Aga sio, Arumponé, muaseng tettaroi nrebba alebiremmu, patokkong pulanai alebbireng mubakurié, aja’ natatteré-teré tau tebbe’mu, aja’ napada wenno pangampo waramparang mubakurié?”
Makkedai Arumponé: Lempué Kajao Enrengngé accaé”
Makkedai Kajao Laliddong: Iatona ritu Arumponé, Tania to ritu”
Makkedai Arumponé: Kéga palé, Kajao?”
Makkedai Kajao Laliddong: Ia inanna waramparangngé Arumponé, tettaroéngngi tatteré-teré tau tebbe’é, temmatinropi matanna arungngé ri esso ri wenni, nawa-nawai adécéngenna tanana, natangngai olona munrinna gau’é, napogau’i. Maduanna, maccapi mpinru ada arung mangkau’é. Matellunna, maccapi duppai ada arung mangkau’é. Maeppana, tengngallupangnge suro na ada tongeng”

Terjemahan Bebas

Berkata Kajao Laliddong: Apa gerangan, wahai Arumpone, yang menurut pendapatmu tidak membiarkan rebah kemuliaanmu, yang senantiasa menegakkan kemuliaan yang engkau pelihara, supaya tidak bercerai-berai rakyatmu, tidak seperti penghambur harta benda yang engkau simpan baik-baik?”
Berkata Arumpone: Kejujuran bersama kepandaian, nenek!”
Berkata Kajao Laliqdong: “Itulah kiranya Arumpone, tetapi juga bukan demikian”
Berkata Arumpone: Yang manalah kiranya, wahai Nenek?”
Berkata Kajao Laliddong: Adapun sumber segala harta benda, Arumpone, yang tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai, ialah tidak tidur mata seorang raja (pemimpin) siang dan malam merenungkan kebaikan negerinya; ditinjaunya pangkal kesudahan sesuatu perbuatan, barulah dilakukan; Kedua, seorang raja yang memerintah harus pandai merangkai kata; Ketiga, seorang raja yang memerintah harus pandai menyambut kata; Keempat, duta negerinya tidak pernah lupa mengatakan perkataan benar”

Wérékkada di atas yang disampaikan melalui dialog antara Arumpone dengan Kajao Laliddong menekankan tentang kejujuran dalam menjalankan amanah yang dipercayakan oleh orang banyak atau masyarakat.

Menurut Arumpone, kemuliaan seseorang bukan dinilai dari jabatan atau harta benda yang dimiliki, melainkan yang memelihara semua itu adalah kejujuran.

Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan bahwa kesuksesan seorang raja atau pemimpin tidak terlepas dari para duta-duta negerinya atau para pembantunya yang tidak pernah lupa mengatakan perkataan benar. Maksudnya hanya orang-orang jujur saja yang selalu mampu mengucapkan kata-kata benar.

Jaminan suatu kejujuran adalah seruan yang inti dasarnya adalah melarang mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Dengan kata lain, orang yang tidak suka mengambil sesuatu yang bukan miliknya adalah orang-orang jujur.

Misalnya, bila kita menemukan ada kayu yang disandarkan disuatu tempat, itu berarti kayu itu sudah ada pemiliknya. Begitu juga kayu yang sudah ditata ujung pangkalnya juga sudah ada pemiliknya. Jadi wajarlah kalau barang-barang seperti itu dilarang untuk diambil.

Makkedai Arumponé: Aga tanranna namaraja tanaé, Kajao?
Makkedai Kajao Laliddong: Dua tanranna namaraja tanaé, Arumponé. Séuani, malempui namacca arung mangkau’é. Maduanna, tessisala-salaié ri lalempanua”
Makkedai Arumponé: Aga ttula pattaungeng, Kajao?”
Makkedai Kajao Laliddong: Naia ttulaé pattaungeng Arumponé.
Séuani nakko matanré cinnai arung mangkau’é.
Maduanna, nakko nateriwi waram-parang tomabbicaraé.
Matellunna, nakko sisala-salai taué ri lalempanua. Tanranna toparo, nakko maéloni baiccu tana marajaé.

Terjemahan Bebas

Berkata Arumponé: Apa tanda kebesaran suatu negeri, wahai Nénék?”
Berkata Kajao Laliddong:Dua tanda negeri menjadi besar, Arumponé:
Pertama, raja yang memerintah jujur lagi pandai. Kedua, tidak terjadi silang sengketa dalam negeri”
Berkata Arumponé: Apa yang menggagalkan panen (tahunan) wahai
Nénék?”
Berkata Kajao Laliddong: Adapun yang menggagalkan panen (tahunan) Arumponé, ialah pertama, jika raja yang memerintah terlalu tinggi pengharapan. Kedua, jika penegak hukum sudah mau menerima suap. Ketiga, jika terjadi silang sengketa dalam negeri, itu pula tandanya jika suatu negeri besar akan menjadi kecil”

Dalam kutipan dialog di atas Kajao Laliddong menegaskan bahwa negeri bisa besar kalau pemimpinnya jujur dan pandai. Kalau orang-orang pandai tidak jujur, bisa jadi kepandaiannya disalahgunakan sehingga dapat merugikan orang lain, dan dalam lingkup yang lebih luas lagi bisa merugikan negaranya sendiri.

Kejujuran merupakan landasan pokok dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan merupakan falsafah salah satu faktor yang sangat mendasar di dalam kehidupan. Selanjutnya tidak terjadi silang sengketa dalam negeri.

Hal yang sering juga menimbulkan silang sengketa adalah ketidakjujuran. Kalau salah satu pihak merasa didzalimi, dibohongi, atau diperlakukan dengan tidak jujur, pada saat itulah timbul kesalahpahaman serta silang sengketa dan tidak tertutup kemungkinan bisa menimbulkan kekacauan dalam negeri.

Selanjutnya Kajao Laliddong mengatakan bahwa yang menggagalkan panen adalah jika raja yang memerintah terlalu tinggi pengharapan. Maksudnya adalah pemimpin yang mengharap-kan sesuatu di luar kemampuannya sehingga untuk mendapatkannya bisa saja menghalalkan segala macam cara termasuk cara-cara ketidakjujuran.

Selanjutnya penegak hukum sudah mau menerima suap. Kalau penegak hukum mau menerima suap berarti penegak hukum sudah tidak jujur. Kalau penegak hukum tidak jujur bisa jadi berat sebelah, dan tidak tertutup kemungkinan yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Hal seperti ini bisa menimbul-kan kekacauan di dalam negeri yang sekaligus mengerdilkan negeri bukan memakmurkan atau membesarkan negeri.

Makkedai Arumponé: Aga tanranna asawéng asé, Kajao?”
Makkedai Kajao Laliddong: Tellu tanranna nasawéng asé Arumponé. Séuani, komalempui arung mangkau’é. Maduanna, nakko mappémmaliwi arung mangkau’é, enrengngé tomabbicaraé. Matellunna, mattau séuwapi tauéri lalempanua.

Terjemahan Bebas

Berkata Arumpone: “Apa tandanya jika panen padi akan berhasil, wahai Nenek?”
Berkata Kajao Laliddong: Ada tiga tandanya jika panen padi akan berhasil baik, Arumpone.
Pertama, jika raja yang memerintah jujur.
Kedua, jika berpantang (pemali) raja yang memerintah beserta penegak hukum dalam negeri.
Ketiga, bersatu seluruh rakyat dalam negeri”

Kutipan dialog di atas menggambarkan bahwa kejujuran itu sangat luar biasa pengaruhnya. Panen padi akan berhasil dengan baik apabila raja yang memerintah jujur. Maksudnya kalau panen padi berhasil maka kehidupan rakyat sejahtera karena penghasilan mereka meningkat.

Jadi kalau raja yang memerintah jujur, maka rakyat sejahtera dan tenteram. Jika raja dan penegak hukum berpantang, maksudnya raja dan penegak hukum jujur pantang menerima sogokan, pemerintahan bersih dan jujur maka rakyat di dalam negeri tenteram dan bersatu.

Makkedai torioloé: Naia riasengngé nawa-nawa patuju, sanrépi ri awaraningengngé, namadécéng. Naia awaraningengngé, sanrépi ri nawa-nawa patujué, namadécéng. Naiaro gau’é duanrupaé, lempu manengpa natettongi, namadécéng”

Makkedai tomatoaé: Nakko engka muéloreng napogau taué, rapangngi lopi. Maélopo ttonangiwi, mupatonangianngi taué. Ianaro riaseng malempu makkuaé.

Terjemahan Bebas

Berkata orang tua-tua: “Adapun yang dimaksudkan dengan pikiran yang bermanfaat, ialah harus ia bersandar pada keberanian, barulah ia akan baik. Adapun keberanian itu haruslah bersandarkan pikiran yang bermanfaat, barulah ia akan baik. Adapun perbuatan dua jenis itu, semuanya harus tegak pada kejujuran, barulah ia akan baik”

Kata orang tua-tua : Sekiranya ada sesuatu yang engkau kehendaki dilakukan oleh orang lain, andaikanlah hal itu sebagai perahu. Jika engkau sendiri bersedia menumpanginya, barulah engkau menyuruh orang lain menumpanginya, yang demikian itulah yang disebut jujur”

Kutipan kata-kata bijak orang tua-tua dahulu di atas menggambarkan bahwa semua pekerjaan akan baik apabila bersandar pada kejujuran. Pikiran yang bermanfaat dan keberani-an menjadi baik, jika bersandar pada kejujuran.

Selanjutnya orang tua-tua mengatakan bahwa jadikanlah takaran dirimu sendiri apabila ada sesuatu hal yang engkau kehendaki dilakukan oleh orang lain. Jangan perintahkan orang lain melakukan apabila engkau tidak sanggup melakukannya. Demikian itulah yang disebut kejujuran. Jadi, jika menginginkan agar semua aktifitas berjalan baik dan berhasil, maka harus bersandar pada kejujuran.

Orang tua berpesan kepada anak-anaknya bahwa cara mendidik anak-anak adalah memberikan contoh perilaku kejujuran, karena anak-anak akan meniru apa yang sering dilakukan orang tuanya. Orang tua juga menyadari bahwa untuk berbuat jujur itu tidak mudah, harus melatih diri atau membiasakan diri untuk berbuat jujur.

Kejujuran itu ibarat burung liar kalau tidak diketahui penjinaknya sangat sulit untuk menangkapnya. Penjinak kejujuran itu adalah kewaspadaan, ketelitian, dan kehati-hatian. Untuk menjadi orang jujur harus waspada, teliti, dan hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata.

Orang yang memiliki tiga hal tersebut selalu terlindungi, seolah-olah berada di dalam kotak besi tidak ada yang bisa mengganggu. Tuhan senantiasa melindungi.

Orang-orang jujur memang selalu berkata benar dan sulit terpengaruh ke arah yang bertentangan dengan kata hatinya. Orang jujur memang memiliki rasa malu yang sangat tinggi dan tabah menghadapi berbagai cobaan.

Di samping itu, biasanya pikiran-pikirannya cemerlang dan ramah dalam pergaulan tidak membeda-bedakan orang. Orang-orang yang takut kepada Dewata (Tuhan) pasti selalu berkata jujur, berbuat baik, dan tidak akan menipu orang lain.

Selain itu, ia selalu hati-hati dalam bertindak dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Orang berani memang tidak takut tampil di depan untuk mengayomi. Begitu juga tidak takut tinggal di belakang untuk menjaga dan melindungi. Ia juga siap menerima berita baik ataupun berita buruk, serta tidak gentar berhadapan dengan musuh.

Keteguhan

Keteguhan pendirian dalam bahasa Bugis disebut getteng. Kata getteng meliputi banyak pengertian, di antaranya, tegas, tangguh, setia pada keyakinan, dan taat asas. Kalau memperhatikan sumber keteguhan itu, kita akan menemukan nilai luhur yang mendahuluinya, yakni sikap jujur dan keberanian. Tidak mungkin ada keteguhan selama kita diliputi rasa keragu-raguan.

Keragu-raguan timbul sebagai akibat perbuatan yang tidak diyakini kebenarannya. Keteguhan ini dapat dilihat dari tingkah laku sehari-hari orang yang memiliki harga diri, keyakinan dan tanggung jawab.
Orang yang mempunyai rasa harga diri tercermin dalam tindakannya yang selalu menepati janji. Menaati keputusan yang telah ditetapkan adalah penjel-maan watak orang yang tetap pendirian.

Berikut dikemukakan beberapa wérékkada yang menggambarkan kearifan lokal Masarakat Bugis dalam bentuk keteguhan.

Makkedai Kajao Laliddong: Ia ritu ade’é, Arumponé, péasseriwi arajanna arung mangkau’é; ia tonasappoi pangkaukenna toppégau’, ia tona nasanrési to madodongngé. Naia bicaraé, iana passarangngi assisalangenna to mangkagaé. Naia rapanngé, iana passéajingngi tana masséajinngé.

Nakko marusa’ni Arumponé ade’é, temmasse’ni ritu arajanna arung mangkau’é, masolang toni tanaé. Narékko temmagettengngi bicaraé, masolangni ritu jemma tebbe’é. Narékko temmagettengni rapangngé, ianaritu Arumponé mancaji assisalangeng; gaégaénna ritu mancaji musu, musuéna ritu mancaji assiuno-unong. Saba’ makkuannanaro Arumponé, nariéloreng riatutui ade’é kuétopa bicara, enrengngé rapangngé, sibawa warié.

Terjemahan Bebas

Berkata Kajao Laliqdong: Adapun adat itu, Arumpone, ia memperkukuh kebesaran raja yang memerintah, ia juga yang mencegah perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab, juga menjadi sandaran orang lemah. Adapun hukum itu ia memisahkan perselisihan orang yang bertengkar. Adapun rapang (aturan perumpamaan yang diambil dari peristiwa yang sudah pernah terjadi) itu ialah yang mempersaudarakan negeri yang berkerabat.

Jika rusak adat itu Arumpone, tak akan kukuh lagi kebesaran raja yang memerintah. Jika sudah tidak tegas lagi peradilan maka binasalah rakyat jelata. Jika rapang sudah tidak tegas lagi Arumpone, itulah menjadi sumber pertentangan. Kejadian serupa itu, menjadi pangkal permusuhan dan permusuhan menjadi pangkal saling membunuh. Oleh sebab itu Arumpone, maka adat, hukum (bicara), rapang (undang-undang), dan wari (aturan perbedaan pangkat kebangsaan) itu dipelihara”

Dari kutipan wérékkada di atas kita mendapat gambaran bahwa sejak dahulu orang-orang tua masyarakat Bugis sudah menekankan betapa pentingnya sikap ketegasan kepada anak cucunya. Mereka juga berpesan agar anak cucunya senantiasa menjaga dan memelihara adat, karena adat itu merupakan sumber kekuatan pemerintahan.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya di sini adalah ketegasan dalam peradilan. Sejak dahulu para leluhur masyarakat Bugis sudah menegaskan kepada anak cucunya betapa pentingnya ketegasan dalam peradilan atau dengan kata lain betapa pentingnya penegakan hukum. Hukum harus ditegakkan dengan seadil-adilnya agar tidak menimbulkan ketidakpuasan bagi masyarakat yang bersengketa.

Ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam wérékkada di atas mengenai pertentangan, permusuhan, dan pembunuhan sering kita saksikan terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini akibat kurang tegasnya pengambil kebijakan.

Hukum bisa menjadi sumber malapetaka apabila tidak ditegakkan dengan baik. Orang bisa saling membunuh apabila hukum tidak dilaksanakan dengan adil. Hal ini sudah disadari oleh para leluhur masyarakat Bugis sejak dahulu. Gambaran ini dapat dilihat dalam kutipan wérékkada di atas.

Makkedatopi torioloé: Nakko mappauko, inngerangngi ade’é, enrengngé rapangngé, muéngngerangtoi gau’ muasengngé patuju, naia muparanrengi ada, mupasitai ponna cappa’na adaé nainappa mupoada. Apa iaritu ada madécénngé, enrengngé gau’ madécénngé ade’pa natettongi namadécéng, enrengngé napatuju. Muparionronai gau’mu iamaneng, enrengngé ada-adammu. Apa’ munitu muaseng patuju gau’mu enrengngé ada-adammu natannia onrona naonroi, salamui.

Terjemahan bebas

Berkata juga orang tua-tua: Jika engkau berkata, ingatlah adat serta hukum perumpamaan dan ingat pula perbuatan yang engkau anggap benar, dan itulah yang engkau pakai sebagai landasan kata; lalu cocokkanlah pangkal dan ujung perkataan itu, barulah engkau mengatakannya.

Sebab adapun kata-kata yang baik serta perbuatan yang baik itu, pada adatlah ia berdiri, maka ia akan baik serta bermanfaat. Tempatkanlah semua per-buatanmu serta perkataanmu pada tempat-nya yang benar. Demikian, walaupun engkau menganggap perbuatan dan perkataan itu benar tetapi jika ia tidak pada tempatnya yang benar, maka ia akan salah juga.”

Kutipan werékkada di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa para leluhur masyarakat Bugis teguh pada keyakinan ber-pegang pada adat dan hukum. Setiap langkah dan ucapannya senantiasa berlandaskan pada adat dan hukum.

Setiap kata dan perbuatannya nanti dianggap baik kalau berlandaskan pada adat dan hukum. Mereka hati-hati dalam bertindak, setiap apa yang akan dilakukan dia melihat dan memikirkan ujung dan pangkal perbuatan itu apakah baik atau tidak, apakah menguntungkan atau tidak baru bertindak. Kesemuanya itulah yang akan disampaikan kepada anak cucunya melalui werékkada ini.

Makkedatopi Arung Bila: Agguruiwi gau’na towaranié, enrengngé ampéna. Apa’ ia gau’na towaranié, seppuloi wuwangenna. Séua mua jana. Jajini aséra décénna. Ia muaro nariaseng maja céddié, apa’ matéi. Naému topéllorengngé maté muto. Apa’ désa temmaté sininna makkényawaé. Naia décénna towaranié, séuani, tettakkini napoléi ada maja, enrengngé ada madécéng. Maduanna, dé najampangiwi karébaé. Naéngkalinga muisa, naé napasiloangngi sennang. Matellunna, temmataui ri palao riolo. Maeppana, temmataui ripaonro ri munri. Malimanna, temmataui mita bali. Maenenna, ri asirii. Mapitunna, rialai passappo ri wanuaé. Maruana, matinului pajaji passurong. Masérana, rialai paddebba tomawatang, bettuanna nakko engka tomatojo iana risuro nrekko’i.

Terjemahan bebas

Berkata lagi Arung Bila: Pelajarilah tingkah orang berani serta sifatnya. Sebab perbuatan orang berani itu ada sepuluh jenis. Hanya satu kejelekannya, jadi sembilan kebaikannya. Dikatakan jelek yang satu itu karena ia meninggal. Tetapi biar orang penakut mati juga. Karena semua yang bernyawa tidak ada yang tidak mati. Adapun kebaikan orang berani, yaitu Pertama, tidak terkejut mende-ngar kabar buruk maupun kabar baik. Kedua, tidak menghiraukan kabar itu. Ia tetap mendengarnya, tetapi ia menyertainya dengan kete-nangan. Ketiga tidak takut ditempatkan di depan. Keempat tidak takut ditempatka di belakang. Kelima tidak takut melihat lawan. Keenam disegani. Ketujuh dijadikan pe-lindung negeri. Kedelapan rajin melaksanakan perintah. Kesembilan dijadikan penakluk orang kuat, artinya kalau ada orang keras kepala dialah yang diminta menunduk-kannya.

Kutipan werékkada di atas memperlihatkan para leluhur masyarakat Bugis sangat mengagumi orang-orang pemberani dan meng-harapkan anak cucunya meniru atau mempelajari sifat-sifatnya. Pada umumnya orang-orang pemberani tegas, teguh pada keyakinan tidak mudah goyah. Orang-orang pemberani selalu siap menghadapi berbagai tantangan. Mereka para pemberani konsisten dengan sikapnya, tidak gentar menerima kabar baik maupun kabar buruk. Selalu siap mau ditempatkan di depan atau di belakang.

Dari ungkapan di atas dapat diketahui, bahwa orang pemberani menurut pandangan orang Bugis ialah bukan saja yang berani berkelahi, tetapi yang teguh pendirian dan tak mempercayai kabar sebelum ada bukti, berani membela negaranya, kesatria memberantas kesewenang-wenangan, dan rajin melaksanakan tugas yang dipercayakan.

Makkedai La Baso’: Aga palorong wélareng, paddaung raung kaju?”
Makkedai Tomaccaé ri Luwu: Ripariajangngi ri ajangngé, riparilaui ri laué riparimaniangngi rimanianngé, ripariasé’i ri asé’é ripariawai ri awaé.

Aga pasawé tau, Nénék, pabbija olokolo’?“Iana ritu gettengngé. Eppa gau’na gettengngé. Séuani, tessalaié janci enrengngé tessorosi ulu ada. Maduanna tellukkaé anu pura enrengngé teppinraé assituruseng. Matellunna narékko mabbicarai, parapi napajajiwi.

Aru sabbinna gettengngé. Séuani, teppalebbié ada. Maduanna, tekkurangngié ada. Matellunna palettu’é passurong. Maeppana, poadaé ada patuju. Malimanna pogau’é gau’ patuju. Maenenna, pogau’é gau’ makkenna tuttureng, enrengngé ada-adanna. Mapitunna, ssaroi masé ri silasanaé. Maruana pakkatuai aléna ri silalennaé.

Terjemahan bebas

Berkata La Baso’: Apa yang menjalin persaudaraan, dan mendatangkan kemakmuran?”
Berkata Tomaccae ri Luwu: Ditempatkan di Barat yang Barat, ditempatkan di Timur yang Timur, ditempatkan di Selatan yang Selatan, ditempatkan di atas yang atas, di bawah yang bawah”

Apa yang membanyakkan orang, Nenek; mengembangbiakkan hewan? Ia itu ketegu-han hati. Empat jenis keteguhan itu. Pertama, tidak mengingkari janji dan tidak melangkahi persetujuan. Kedua, tidak mengurai barang jadi, serta tidak mengubah kesepakatan. Ketiga, jika ia mengadili, nanti berhenti setelah putus”

Delapan bukti keteguhan itu. Pertama, tidak menambah-nambah perkataan. Kedua, tidak mengurangi perkataan. Ketiga, melaksanakan suruhan. Keempat, mengucapkan perkataan yang benar. Kelima, melakukan perbuatan yang bermanfaat. Keenam, melaksanakan pekerjaan yang berpatutan dengan kata-katanya. Ketujuh, membantu orang lain sewajarnya. Kedelapan, merendah-rendah sepatutnya”

Kutipan wérékkada di atas menggambar-kan keteguhan para leluhur masyarakat Bugis. Keteguhan itu akan diwariskan kepada anak cucunya lewat wérékkada yang dituturkan secara turun temurun, yang pertama pada kutipan di atas adalah sikap konsisten menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kedua adalah konsisten terha-dap keputusan yang pernah ditetapkan dan menuntaskan semua pekerjaan yang telah direncanakan, tidak bekerja sepotong-sepotong.

Menurut mereka para leluhur bahwa apabila kesemuanya itu dilaksanakan dengan baik akan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat dan bangsanya. Rakyat akan sejahtera dan ternak akan berkembang biak dengan baik.

Siri (harga diri)

Siri adalah suatu sistem nilai sosio-kultural dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyara-kat. Secara singkat ia adalah pandangan hidup yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok, terutama negara.

Berikut ditampilkan beberapa wérékkada yang berkaitan dengan siri.
Makkedai torioloé: Limai wuwangenna sappona wanuaé tennauttamaiwi toppégau’ bawang. Séuani, lempu silaong ade’. Maduanna, rapanngé nasilaong getteng. Matellunna, waranié nasilaong acca. Maeppana, malaboé nasilaong palecé. Malimanna ripassaniasai éwangeng pammusué, naripassilaong ada madécéng namalemma. Aja’ tawedding naottong uluada balitta. Ianaro gau’ limaé wuwangenna ri assappoang wanua, aja’ naengka sakibanra tanaé.

Terjemahan bebas

Berkata orang tua-tua, Lima jenis pagar negeri sehingga tidak dimasuki orang yang berbuat sewenang-wenang. Pertama, kejujuran yang disertai adat. Kedua, ibarat yang disertai ketabahan. Ketiga, keberanian disertai kepandaian. Keempat, tidak bathil disertai keramahan. Kelima, diper-siapkan peralatan perang disertai kata-kata yang baik dan lemah lembut. Hendaknya jangan kita ditekan dengan janji-janji oleh lawan. Itulah lima jenis tingkah laku pemagar negeri, sehingga negeri tidak mempunyai celah.

Kutipan wérékkada di atas meng-gambarkan para leluhur masyarakat Bugis menitipkan pesan kepada anak cucunya agar senantiasa menjaga harkat dan harga diri negerinya agar tidak dimasuki oleh orang-orang yang akan mengacau. Jujur disertai adat, karena adat itulah yang memperbaiki orang banyak.

Sedangkan orang jujur biasanya Tuhan berpihak kepadanya sehingga patut diperhitungkan. Ibarat disertai ketabahan. Bagi yang orang tabah biasanya tidak ada pekerjaan yang sulit dikerjakan, karena mereka telaten dan tidak cepat bosan.

Berani disertai kepandaian. Orang berani biasanya pandai melihat situasi dan penuh perhi-tungan. Tidak sembarang bertindak, mereka memikirkan dengan cermat langkah-langkah apa yang ia tempuh sebelum bertindak. Walaupun sudah mempersiapkan alat-alat perang, mereka tetap ramah dan lemah lembut. Di balik semua itu, harus tegas jangan mau ditekan dengan janji-janji dari pihak lawan.

Tebbarang tau riala paréwa ri tanaé” Iapa nariala paréwa ri tanaé eppai mengkaiwi. Séuani, malempui. Maduanna kanawa-nawapi. Matellunna sugi-pi. Maeppana waranipi.

Naia tanranna tomalempué, Séuani ri asalaié naddampeng. Maduanna ri parennuangié tennapacékoi. Matellunna temmangoaiéngi natania olona. Maeppana tennasesse’ décéngngé narékko alénami podécéngngi.

Naia tanranna tokanawa-nawaé, eppa toi. Séuani méloriwi gau’ patujué. Maduanna méloriwi ada patujué. Matellunna moloié roppo-roppo naréwe’. Maeppana molaélaleng namatike’.

Naia tanranna tosugié, eppa toi. Séuani sugi ada-adai. Maduanna sugi nawa-nawai. Matellunna sugi akkarésoi. Ma-eppana sugi balancai.

Naia tanranna towaranié, eppa toi. Séuani, tettaténré napoléi ada maja ada madécéng. Maduanna, temmangkalingai karéba naéngkalinga toi. Matellunna, temmétaui ripaddiolo enrengngé ripaddimunri. Maeppana, temmataui mita bali.

Terjemahan bebas

Tidak sembarang orang dijadikan alat negara. Seseorang dapat dijadikan alat negara, jika ia memiliki empat hal. Pertama ia jujur. Kedua, ia berfikir panjang. Ketiga ia kaya. Keempat, ia pemberani.

Adapun tanda orang jujur, pertama orang yang bersalah kepadanya, dimaafkan. Kedua, ia dipercaya dan tidak mengkhianat. Ketiga, tidak serakah terhadap yang bukan haknya. Keempat, tidak menuntut kebaikan jika hanya dia sendiri menikmatinya.

Adapun tanda orang yang berfikir panjang ada empat pula jenisnya. Pertama, ia menyukai perilaku yang benar. Kedua, ia menyukai perkataan yang benar. Ketiga, jika menghadapi semak belukar, ia kembali. Keempat, jika ia melalui jalan, ia berhati-hati.

Adapun tanda orang kaya, empat pula jenisnya. Pertama, kaya perkataan. Kedua, kaya pikiran. Ketiga, kaya akan pekerjaan. Keempat, kaya belanja.

Adapun tanda orang berani, empat pula jenisnya. Pertama, ia tidak gentar menerima perkataan jelek dan perkataan baik. Kedua, tidak mendengar berita tetapi didengarkan juga. Ketiga, tidak takut ditempatkan di depan atau di belakang. Keempat, tidak takut menghadapi lawan”

Kutipan di atas menggambarkan para leluhur masyarakat Bugis yang memiliki harkat dan martabat dan akan diwariskan kepada anak cucunya. Menurut mereka hanya orang-orang yang bermartabat yang dapat dijadikan alat negara. Orang-orang bermartabat sekurang-kurangnya memiliki kriteria seperti yang disebutkan dalam wérékkada di atas.

Orang jujur di manapun berada pasti disenangi oleh orang lain. Mudah berkomu-nikasi dan bekerja sama dengan berbagai pihak karena dipercaya oleh orang lain. Tidak banyak tuntutan secara pribadi, selalu memahami hak dan kewajibannya.

Mereka bertindak dan ber-tutur sapa dengan sopan, tidak serampangan. Mereka memilki banyak ide dan kreatif. Tidak ada pekerjaan yang sulit baginya. Tidak mudah terjebak dengan berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Selalu siap dimana saja akan ditempatkan.

Makkedai torioloé: Narékko balio ada, issengngi gaué siturué ade’é, enrengngé sara’é, kuaé rapangngé, maka mottongngeng énngi adanna taué, naia mupatettongi pabali ada. Apa’ iaritu natania balinna adanna taué mubalingngi, nacawa-cawaino, napoasseng toni déna tomacca ri wanuaé.

Terjemahan bebas

Berkata orang tua-tua: “Jika engkau akan menjawab perkataan orang lain, ketahuilah terlebih dahulu adat baru menjawab. Carikanlah perbuatan yang sesuai dengan adat, syariat agama, serta hukum perumpamaan yang dapat mengatasi perkataan lawan. Itulah yang engkau jadikan landasan dalam menjawab perkataan orang lain. Apabila engkau salah menjawab pertanyaan mereka, engkau akan ditertawai dan mereka menganggap sudah tidak ada lagi orang pandai di dalam negeri.

Kutipan wérékkada di atas menggambarkan bahwa orang tua-tua masyarakat Bugis berpesan kepada anak cucunya agar senantiasa menjaga harkat dan martabat negerinya dengan berusaha semaksimal mungkin menjawab segala pertanyaan yang diajukan oleh negeri lain.
Ia mengingatkan anak cucunya agar tidak dipermalukan oleh orang lain, sebab apabila tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, mereka menganggap sudah tidak ada lagi orang pandai di dalam negeri.

Oleh karena itu orang tua-tua berpesan agar adat dan syariat agama dijadikan sebagai landasan untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan orang lain. Orang tua-tua beranggapan bahwa adat dan syariat agama merupakan landasan jawaban yang paling baik.

Matinroé Ritanana berpesan kepada anak cucunya agar senantiasa menjaga harkat dan martabatnya dengan mempertahankan empat hal yang ada pada dirinya, yaitu pikiran, keadilan, harga diri, dan perbuatan baik. Pikiran yang dimaksud di sini adalah pikiran positif atau prasangka baik. Hindari sifat pemarah karena akan mengacaukan pikiran. Usahakan selalu bersikap adil dan menghindari kesewenang-wenangan. Rasa malu atau harga diri harus dipertahankan, jangan serakah. Apabila sifat serakah sudah dimiliki pasti akan merugikan orang lain, karena hak-hak mereka pasti akan dilanggar dan jangan suka mempergunjingkan orang lain, karena tidak tertutup kemungkinan ada fitnah.

Makkedai Arung Bila: Naia barangkau’na makkarésoé, tellu toi wuwangenna. Séuani, nakkarésoangngi lise’ bolana. Maduanna, nakkarésoiwi séajing sempanuanna. Matellunna, nakkarésoinna pakkasiwianna ri ade’é, enrengngé ri arajangngé.

Iatonaro gau’é tellué wuwangenna riaseng onro ri ade’. Apa’ taniasa riaseng onro appongeng madécéngngé. Bettuanna madécéngngé abbijangenna. Onro gau’ mi sa naseng ade’é onro. Apa’ pettui adaé, makkedaé ia bicaraé dé buluna, dé lompo’na. Dé ri awa, dé ri wawo.

Berkata Arung Bila,: Mengenai perbuatan tingkah laku, tiga pula bahagiannya. Pertama, bekerja untuk isi rumahnya. Kedua, bekerja untuk negeri dan sanak keluarganya. Ketiga, bekerja untuk baktinya kepada raja. Ketiga perbuatan itulah disebut kedudukan pada adat. Sebab bukanlah asal-usul yang baik disebut kedudukan. Artinya yang baik keturunannya. Kedudukan yang hanya berhubungan dengan perbuatan yang oleh adat disebut onro. Sebab setelah diputuskan, bahwa peradilan (hukum) tidak ada gunungnya, tidak ada lembahnya. Tidak ada di atas, tidak ada di bawah.

Kutipan wérékkada di atas menggambar-kan leluhur orang-orang Bugis sangat menjaga harkat dan martabatnya sebagai pemimpin dan bertanggung jawab di dalam rumah tangganya. Pertama, bekerja untuk isi rumahnya, maksudnya adalah ia sebagai kepala rumah tangga harus bertanggung jawab bekerja untuk menghidupi keluarganya. Kedua, bekerja untuk negeri dan sanak keluarganya, maksudnya ia bekerja di samping untuk keluarganya juga memberi pemasukan untuk negeri dan membantu sanak keluarganya yang lain. Ketiga, bekerja untuk baktinya kepada raja, maksudnya ia bekerja sebagai sumbangsihnya kepada pemegang tampuk pemerintahan.

Jika disimpulkan seluruh pernyataan-pernyataan di atas, sebagai berikut :

Wérékkada atau petuah-petuah leluhur merupakan salah satu jenis sastra lisan Bugis yang hingga saat ini masih tetap hidup dan dihayati, terutama mereka yang berlatar belakang budaya Bugis dan penutur bahasa Bugis. Dalam telaah susastra Bugis ini diungkapkan tiga kearifan lokal yang terdapat dalam wérékkada, yaitu:

  1. Kejujuran. Kejujuran ini merupakan salah satu faktor yang sangat mendasar di dalam kehidupan khususnya dalam menjalin hubungan sesama manusia.
  2. Keteguhan.
    Keteguhan ini adalah gambaran dari tingkah laku sehari-hari seseorang yang memiliki sikap tegas, tangguh, setia pada keyakinan, taat asas, dan memiliki harga diri yang tinggi.
  3. Siri.
    Siri atau harga diri adalah pandangan hidup yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok dalam budaya Bugis.

Itulah salah satu sastra lisan “Werekkada” warisan leluhur orang Bugis yang disampaikan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Petuah-petuah leluhur yang terkandung dalam wérékkada pada dasarnya masih relevan dengan kehidupan sekarang yang juga menjadi salah satu pencerminan kearifan lokal masyarakat Bugis.

Karena itu, kearifan lokal sebagai jati diri bangsa perlu direvitalisasi, khususnya bagi generasi muda dalam percaturan global saat ini dan di masa mendatang.