No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Sejarah Sumur Laccokkong Kabupaten Bone

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Sumur Laccokkong salah satu sumur yang dijadikan sebagai sumur kerajaan pada masa kerajaan Bone. Sumur tua ini terletak di Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone.

Nama Laccokkong tidak lepas dari sosok raja Bone ke-3 La Saliyu Korampelua yang memerintah di kerajaan Bone pada tahun 1368-1470 Masehi.

Pada waktu La Saliyu semasa bayi dibawa dari Saoraja Palakka, dalam perjalanan rombongan pengawal sang pangeran menemukan sebuah mata air. Karena letih dalam perjalanan, maka pimpinan rombongan pengawal mengisyaratkan untuk berhenti.

Tampak pula sang pangerang La Saliyu Korampelua menengadah layaknya seorang bayi butuh air susu ibu. Maka diambilkanlah seteko air dari mata air tersebut lalu dibasuhkan ke wajah La Saliyu sembari meneteskan ke mulutnya sedikit demi sedikit.

Serta merta sang pangerang membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya pertanda rasa hausnya pun hilang ia pun tersenyum sambil memegang rambutnya yang tegak lurus itu, yaitu maccicca-cicca, seperti rambut landak.

Gerakan La Saliyu mendongakkan kepala ini disebut “cokkong” maka sejak itu mata air tersebut dinamakan Bubung Laccokkong, yaitu Sumur Laccokkong. Bahkan daerah tempat ditemukannya mata air itu juga dinamakan Kampung Laccokkong, termasuk ketika La Saliyu memindahkan Pasar Palakka ke daerah ini sehingga dinamakan pula Pasar Laccokkong.

Berdasarkan catatan lontara, La Saliyu menggantikan pamannya La Ummasa menjadi raja Bone sejak berusia satu malam (masih bayi). Kalau ada sesuatu yang akan diputuskan maka To Suwalle yang memangkunya menjadi juru bicaranya. Kemudian yang bertindak selaku Makkedang Tana adalah To Sulewakka.

Ketika memasuki usia dewasa, barulah La Saliyu Korampeluwa mengunjungi orang tuanya di Palakka. Tiba di Palakka, kedua orang tuanya sangat gembira dan diberikanlah pusaka yang menjadi miliknya, termasuk Pasar Palakka. Sejak itu Pasar Palakka dipindahkan ke suatu tempat yang disebut Laccokkong.

La Saliyu Karampeluwa dikawinkan oleh orang tuanya dengan sepupunya yang bernama We Tenri Roppo anak pattola (putri mahkota) Arung Paccing.

Dari perkawinan itu lahirlah We Banrigau atau Daeng Marowa, We Pattana Daeng Mabela yang digelar MakkaleppiE kemudian menjadi Arung Majang.

Sementara orang Bukaka sebagian dibawa ke Majang. Mereka itulah yang menjadi rakyat Makkaleppie yang mendirikannya Sao Lampe-e di Bone, yang diberi nama Lawelareng.

Oleh karena itu, La Saliyu digelarlah sebagai  Makkaleppie Massao Lampe-e Lawelareng. Bagi orang banyak menyebutnya Puatta Lawelareng.

Pada masa pemerintahannya, La Saliyu Korampeluwa sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki sifat-sifat rajin, jujur, cerdas, adil, dan bijaksana. Ia juga dikenal pemberani dan tidak pernah gentar menghadapi musuh. Konon sejak masih bayi tidak pernah terkejut bila mendengarkan suara-suara aneh atau suara-suara besar.

La Saliyu Korampeluwa pulalah yang memulai mengucapkan ada passokkang yang disebut Osong terhadap musuh, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh arung-arung terdahulu seperti yang tercatat dalam Galigo.

La Saliyu Korampelua pulalah yang membuat Bate (bendera) yang bernama, Cellae ri Abeo dan Cellae ri Atau, yakni Merah di Kiri dan Merah di Kanan, serta bendera khusus raja yaitu Woromporonge.

Pada waktu itu orang Bone terbagi atas tiga bagian dan masing-masing bahagian bernaung di bawah bendera tersebut.

Yang bernaung di bawah bendera Woromporonge adalah Arumpone sendiri dan orang Majang sebagai pembawanya.

Sementara yang bernaung di bawah bendera Cellae ri Atau adalah orang Paccing, Tanete, Lemolemo, Melle, Macege, Belawa pembawanya adalah Kajao Paccing.

Sedangkan yang bernaung di bawah bendera Cellae ri Abeo adalah orang Araseng, Ujung, Ta, Katumpi, Padaccenga, Madello, dan pembawanya adalah Kajao Araseng.

Untuk memperluas wilayah kerajaannya, La Saliyu Korampeluwa menaklukkan negeri-negeri sekitarnya seperti Pallengoreng, Sinri, Anrobiring, Melle, Sancereng, Cirowali, Bakke, Apala, Tanete, Attang Salo, Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu Riattang Salo, Parigi, dan Lompu.

Pada masa pemerintahannya La Saliyu mempersatukan orang Bone dengan orang Palakka yang menjadikan Palakka sebagai wilayah bawahan dari Bone.

Selanjutnya beberapa negeri berikutnya menyatakan diri bernaung di bawah pemerintahannya, seperti Limampanuae ri Alau Ale’ (Lanca, Otting, Tajong, Ulo, dan Palongki).

Datang pula Arung Baba Uwae yang bernama La Tenri Waru menemui menantunya menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone. Begitu pula Arung Barebbo dan Arung Pattiro yang bernama La Paonro menemui iparnya menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone, juga Arung Cina, Ureng, dan Pasempe.

Arung Kaju yang bernama La Tenri Bali  juga datang bergabung di samping datang untuk menyatakan diri bergabung dengan Bone, sekaligus melamar anak Arumpone yang bernama We Banrigau dan dutanya diterima.

Selanjutnya bergabung pula Arung Ponre, Limae Bate ri Attangale’, Aserae Bate ri Awangale’ datang bergabung dengan Bone. Boleh dikata pada saat pemerintahan La Saliyu seluruh negeri-negeri disekitarnya menyatakan diri bergabung dengan Bone.

La Saliyu Korampelua dikenal sangat mencintai dan menghormati kedua orang tuanya. Hamba sendirinya dikeluarkan dari Saoraja dan ditempatkan di Panyula.

Sementara hamba yang didapatkan setelah menjadi raja ditempatkan di Limpenno. Orang Panyula dan orang Limpenno-lah yang mempersembahkan ikan. Dia pula yang menjadi pendayung perahunya dan pengusungnya jika La Saliyu Korampelua Arumpone bepergian jauh.

Setelah genap 72 tahun menjadi  raja di Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan bahwa :

“Saya mengumpulkan kalian untuk memberitahukan, bahwa mengingat usia saya sudah tua dan kekuatan saya sudah semakin melemah, maka saya bermaksud untuk memindahkan kekuasaan saya sebagai Mangkau (raja) di Bone”

“Pengganti saya adalah anak saya yang bernama We Banrigau Daeng Marowa yang digelar Makkaleppie”

Mendengar itu, semua orang Bone menyatakan setuju. Maka dikibarkanlah bendera Woromporonge.

Setelah itu berkata lagi La Saliyu Arumpone:

“Di samping saya menyerahkan kekuasaan, juga saya serahkan perjanjian yang telah disepakati oleh orang Bone dengan Puatta Mulaiye Panreng untuk dilanjutkan oleh anak saya”

Tak lama setelah menyampaikan pesan-pesannya, hanya selang satu malam, La Saliyu Korampelua meninggal dunia.

Berdasarkan Lontara Akkarungeng ri Bone, La Saliyu Korampelua semasa hidupnya mempunya dua isteri, yaitu We Tenri Roppo Arung Paccing dan We Tenro Amali.

Adapun anak La Saliyu Korampelua dari isterinya We Tenri Roppo Arung Paccing, adalah  We Banrigau Daeng Marowa Makkaleppie.

We Banrigau kawin dengan sepupunya yang bernama La Tenri Bali Arung Kaju. Dari perkawinan itu lahirlah:
1. La Tenri Sukki,
2. La Panaungi To Pawawoi Arung Palenna,
3. La Pateddungi To Pasampoi,
4. La Tenri Gora Arung Cina juga Arung di Majang,
5. La Tenri Gera’ To Tenri Saga,
6. La Tadampare (meninggal di masa kecil),
7. We Tenri Sumange’ Da Tenri Wewang, dan
8. We Tenri Talunru Da Tenri Palesse.

Jadi cucu La Saliyu Korampelua dar isterinya We Tenri Roppo Arung Paccing sebanyak 8 orang.

Sementara, anak La Saliyu Korampelua dari isterinya We Tenro Arung Amali yaitu : La Mappasessu yang kawin dengan We Tenri Lekke’. Dan tidak mempunyai anak.

Demikian sejarah Sumur Laccokkong yang sudah berusia 651 tahun itu sejak ditemukannya tahun 1368 Masehi. Sumur tersebut tidak pernah kering meskipun musim kemarau tetap memancarkan airnya yang jernih dan digunakan masyarakat setempat sebagai air minum.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...