No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Nilai Dibalik Percakapan Antara Kajao Dengan Raja Bone

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Kajao Lallidong  adalah seorang penasihat pribadi raja Bone saat kerajaan Bone mencapai puncak kejayaannya. Nama aslinya adalah Lamellong, namun karena keahliannya diberi gelar Kajao Lallidong, artinya cendekia dari Kampung Lalliddong.

Puncak ketenarannya pada masa pemerintahan Raja Bone VII La Tenrirawe Bongkange. Dan pada masa itu pula tata pemerintahan di kerajaan Bone mulai terbentuk dengan baik. Ditandai dengan lahirnya konsep Pangadereng, yakni ade, bicara, rapang, dan wari.

Dari kata “Kajao” artinya adalah seorang yang berpengatahuan luas di zamannya, ahli tata negara dan ahli pemerintahan.

Kajao Lallidong berani meluruskan pendapat, memberikan nasihat, saran-saran yang berguna kepada raja Bone (Arumpone) dalam menjalankan pemerintahan.

Nasihat dan saran-saran Kajao Lallidong mengandung mutu dan nilai yang tinggi sehingga selalu mendapat perhatian Arumpone (Raja Bone).

Kajao Lallidong selaku penasihat pada masa pemerintahan  Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’e tahun 1535-1560 serta dimasa pemerintahan Raja Bone ke-7 La Tenrirawe Bongkange, tahun 1560-1564.

Untuk lebih jelasnya, berikut petikan percakapan antara Kajao Lallidong dengan raja Bone La Tenrirawe Bongkange perihal persoalan pemerintahan.

Kajao Laliddong berkata:

Wahai, Arumpone, Apakah yang menyebabkan sehingga kemuliaan raja itu tidak jatuh, kerajaannya senantiasa teguh berdiri, rakyatnya tidak bercerai-berai dan harta benda tidak terhambur?”

Jawab Arumpone :“Kejujuran dan kepintaran, Kajao!”

Itu juga, tapi sebenarnya bukan juga, karena semua itu ada empat pokok penyebabnya,” Lalu Kajao Lallidong menambahkan.

“Pertama, kalau ada yang hendak dikerjakan oleh Baginda, sebaiknya tidak tidur siang dan malam memikirkan akibat pekerjaan itu. Baru dikerjakan jika sudah ditetapkan dan kesudahan pekerjaan itu adalah kebaikan.

Kedua, hendaklah mengeluarkan perkataan yang benar, menyesuaikan pembicaraan dengan sepantasnya, sanggup menghadapi pembicaraan orang dan dapat memberikan jawaban yang tepat.

Ketiga, menepati janji serta tidak undur dari apa yang telah diucapkan.

Keempat, pesuruh raja tidak lalai dan tidak pelupa akan apa yang disuruhkan kepadanya.

Arumpone bertanya:

“Lalu apa pokok dari kepintaran itu, Kajao?”

“Jujur, itulah pokoknya!” jawab Kajao

“Apa saksinya?” “Seruan! (Obbie)”

“Apakah seruan itu?”, kejar Arumpone.

“ Seruan itu adalah
1. Jangan mengambil barang yang bukan milikmu.
2. Jangan mengambil tanaman yang bukan kau tanam.
3. Jangan mengambil kayu yang sudah dipotong-potong (Wattawali), kalau bukan engkau yang potong.

Sebab jika itu terjadi, musuh akan mudah masuk ke dalam negeri dan sulit diusir keluar,” jawab Kajao tenang.

Senang mendengar jawaban Kajao, Arumpone bertanya lagi,

“Baik. Lalu apakah yang menyebabkan runtuhnya sebuah kerajaan besar, Kajao?”

“Ada lima tandanya suatu kerajaan besar akan runtuh.

1. Raja dalam negeri itu sudah tidak mau dinasehati lagi atau ditegur akan kesalahannya.
2. Kalau tidak ada lagi orang pandai dalam negeri.
3. Kalau Pabbicara (hakim) makan suap.
4. Kalau rakyat berbuat sesuka hatinya lantaran tak ada lagi yang ditakutinya.
5. Kalau raja sudah tidak suka lagi memberikan pengasihan atau pengampunan kepada rakyatnya sebagaimana mestinya.”

Arumpone terdiam sejenak.

“Oh Begitu. Lalu apa tandanya suatu daerah kecil akan menjadi besar?”

“Juga lima tandanya,” jawab Kajao.

“Pertama, rajanya jujur dan pintar.

Kedua, rajanya menerima petunjuk dari penasihatnya.

Ketiga, bermufakat dengan orang-orang tua dalam negeri.

Keempat, tenrilukai bicarae (apa yang telah diputuskan tidak boleh dibatalkan lagi).

Kelima, bersatu hati rakyat dalam negeri.”

Penasaran, Baginda Arumpone melancarkan pertanyannya lagi, “Kajao, tadi adalah tanda kerajaan yang baik. Tapi kalau kerajaan yang tidak baik, apa tanda-tandanya?”

“Juga ada lima tandanya. Jawab Kajao

Pertama, terlalu banyak keinginan rajanya.

Kedua, pabbicara (hakim) makan suap.

Ketiga, rajanya suka murka jika ripakainge (dinasihati).

Keempat, jika raja tidak melarang putra-putranya dan kawan-kawannya berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Dan terakhir, kalau tidak memperkuat putusan yang telah diambil orang-orang tua dalam negeri!”

“Apa pula tandanya padi berhasil dalam negeri, Kajao?”

“Ada lima tandanya.

Pertama, jika raja jujur.

Kedua, jika pabbicara (hakim) jujur dalam memutuskan perkara dan tidak makan suap.

Ketiga, tak ada pencurian dalam negeri.

Keempat, jika benar putusan suatu perkara.

Kelima, jika rakyat dalam negeri bersatu,” jawab Kajao merendah.

Penasihat pribadi raja Bone seperti Kajao Lallidong sebenarnya dimiliki pula oleh beberapa kerajaan  lainnya di Sulawesi Selatan, seperti raja Sidenreng dengan Nene’ Mallomo, raja Luwu dengan Maccae, dan raja Gowa dengan Ahli Nujum Boto Lempangang. Namun yang paling dikenal saat ini adalah Kajao Lallidong.

Percakapan antara Kajao Lallidong dengan raja Bone ini baiknya diresapi dan dengan jernih ‘ditarik’ di kekinian negeri kita atas multi persoalan terus melanda. Inilah salah satu tujuan melihat kembali kearifan lokal, ketika terjerembab baru kita menyadari.

Bandingkan sekarang, pemerintahan sudah didukung teknologi canggih, tapi negara masih terseok-seok lantaran moral pemerintah yang runtuh dengan sistem aturan dan kebijakan tumpang tindih.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...