No menu items!
20.9 C
Munich
Minggu, 20 September 20

Sejarah Adat Tujuh Bone

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

We Tenrituppu menggantikan ayahnya menjadi Arumpone. Inilah Mangkau’ yang mula-mula mengangkat Arung Pitu (tujuh pemegang adat/ade’ pitu) di Bone, yaitu:

1. Matowa Tibojong (Arung Tibojong),
2. Matowa Ta’ (Arung Ta’)
3. Tanete Riattang (Arung Tanete Riattang)
4. Tanete Riawang (Arung Tanete Riawang)
5. Matowa Macege (Arung Macege),
6. Matowa Ujung (Arung Ujung)
7. Matowa Ponceng (Arung Ponceng).

Kepada Arung Pitue, ratu Bone We Tenrituppu berpesan:

”Saya mengangkat Arung Pitu untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan Bone. Hal ini saya lakukan karena sebagai seorang perempuan tentunya memerlukan bantuan.

“Namun saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian tetap tidak bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak bisa mewariskan kepada anak cucu, kalau saya tidak mengetahuinya. Kecuali apabila duduk semua turunan Mappajunge kemudian direstui oleh Mangkaue”.

Pada masa kekuasaan We Tenrituppu (1602-1611), Karaenge ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa Agama Islam.

Sepakatlah Tellumpoccoe (Bone, Soppeng, dan Wajo) untuk menghalangi, sehingga Karaenge ri Gowa kembali tanpa hasil. Setahun kemudian ia datang lagi ke Padang-padang, namun tetap dihalangi Tellumpoccoe. Akhirnya terjadilah perang di sebelah timur Bulu Sitoppo dengan kekalahan Tellumpoccoe

Gowa melanjutkan penyebaran Agama Islam, Soppeng dengan mudah dikalahkan tanpa bantuan Bone dan Wajo, sedang Datu Soppeng Beowe dan rakyatnya menerima Islam (1609), setelah itu Wajo pun ditaklukkan.

Arung Matowa Wajo La Sangkuru dan rakyatnya juga menerima Islam (1610). Kemudian di Bone sendiri baru resmi memeluk Islam pada masa pemerintahan Raja Bone ke-11 La Tenriruwa (1611).

Sementara itu, We Tenrituppu pergi ke Sidenreng untuk mencari tahu tentang Islam dari Addatuang Sidenreng La Patiroi dan di sanalah ratu Bone We Tenri Patuppu masuk Islam. Beliau sakit yang menyebabkan meninggal dunia hingga digelari Matinroe ri Sidenreng (1611).

Dalam Lontara Akkarungeng ri Bone disebutkan, bahwa We Tenrituppu kawin dengan La Paddippung Arung Barebbo, hingga lahirlah anaknya La Pasoro, inilah yang kawin dengan We Tasi, lahirlah La Toge Matinroe ri Kabuttue.

La Toge kawin dengan We Passao Ribulu, lahirlah We Kalepu yang kawin dengan Daeng Manessa Arung Kading. Setelah We Tenrituppu bercerai dari Arung Barebbo, maka kawin lagi dengan To Lewoe Arung Sijelling, anak Arung Mampu Riawa.

Dari perkawinannya itu lahirlah La Maddussila, We Tenritana, We Palettei, La Palowe. La Maddussila Arung Mampu juga digelar Mammesampatue (memakai nisan batu).

Pergi ke Soppeng dan kawin dengan We Tenrigella, saudara Datu Soppeng Beowe. Dari perkawinan ini lahirlah La Tenribali yang kawin di Bone dengan sepupu satu kalinya We Bubungeng I Dasajo.

We Bubungeng dan La Tenribali melahirkan anak La Tenri Senge’  Toasa Datu Soppeng. Yang kedua bernama We Yadda MatinroE ri Madello juga Datu Soppeng.

We Tenritana Arung Mampu Riawa kawin dengan Lebbie ri Kaju yang melahirkan We Tenrisengngeng, yang kawin dengan La Poledatu Rijeppo saudara Datu Soppeng anak La Maddussila Arung Mampu Mammesampatue dengan istrinya We Tenrigella. Inilah yang melahirkan La Patotonge, La Pasalappoe, La Pariusi Daeng Mangatta.

La Pariusi Daeng Mangatta inilah yang menggantikan Petta I Tenro menjadi Arung Mampu Riawa yang juga pernah menjadi Arung Matowa Wajo.

La Pallempae atau La Pasompereng Petta I Teko kawin dengan Karaenge ri Gowa. Dari perkawinannya lahirlah We Yama dan We Alima. We Alima kawin dengan Karaenge ri Gowa Tumenanga ri Pasi. Lahirlah I Baba Karaeng Tallo.

La Pasompereng diasingkan oleh Kompeni sebab perselingkuhan isterinya dengan Sule Datue di Soppeng yang bernama Daeng Mabbani. Dia membunuh Sule Datue di Soppeng maka diasingkanlah ke Selong.

Anak terakhir dari We Tenrituppu adalah ; We Palettei Kanuwange, kawin dengan pamannya La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo. Tidak ada keturunannya, sehingga kawin lagi dengan anak Datu Ulaweng.

Dengan demikian Arung Pitu atau biasa disebut Ade Pitu dibentuk oleh
We Tenrituppu ratu Bone ke-10 tahun 1602-1611. Beliau memerintah selama kurang lebih sembilan tahun.

Berita sebelumyaSejarah Songkok To Bone
Berita berikutnyaJejak Kota Tua Bone
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...