No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Jejak Kota Tua Bone

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Sekitar abad 10 Masehi Bone hanya sebuah wilayah kecil di tepi Teluk Bone. Awalnya hanya seluas 4 km persegi. Letaknya sedikit lebih tinggi dibanding daerah sekitar sehingga disebut Tanete. Namun Bone purba berada dalam wilayah kerajaan Wewangriu Zaman La Galigo.

Bone adalah nama bugis kuno yang berarti Pasir. Karena tanahnya berpasir warna kekuning-kuningan. Sehingga Bone dahulu disebut Tanah yang berpasir. Sebutan itu berakhir pada zaman Belanda tahun 1940-an.

KOTA KAWERANG

Ketika kerajaan Bone berdiri pada tahun 1330 M. Ada 7 wanua bergabung manjadi persekutuan yaitu :
1.Wanua Ponceng,
2. Wanua Taneteriattang,
3. Wanua Tanete Riawang,
4. Wanua Ta,
5. Wanua Macege,
6. Wanua Ujung, dan
7. Wanua Tibojong.

Ketujuh wanua ini bersatu dalam panji Worongporonge. Bendera Bintang Tujuh menandakan tujuh negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone pertama bergelar Matasi Lompo’e.(Penguasa/penjaga Laut dan tanah ).

Tetapi awal terbentuk kerajaan Bone ada beberapa wanua lain yang tidak bergabung dan cukup disegani pada waktu itu seperti Biru, Cellu, dan Majang. Sedang Bukaka atau Ciung kemungkinan masuk dalam wanua Tanete Riawang.

Kerajaan ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota Kawerang. Berada dalam wanua Tanete Riattang di tepi sungai Bone.

Sungai yang ramai digunakan oleh penduduk Bone sebagai alur transportasi penting untuk menghubungkan wanua lain. Hulunya ada dua dekat Anrobiring di Palakka dan Pallengoreng sedang muaranya di Toro Teluk Bone.

Kota Kawerang sebagai pusat pemerintahan berasal dari nama tumbuhan yang disebut Awerang yang banyak tumbuh disekitar sungai Bone.

(Sekarang terletak di jalan Manurunge Watampone.). Sejenis ilalang dan biasa tumbuh pada tanah lembab dan berair. Tingginya kurang lebih dua meter.

Mempunyai bunga jambul putih. Karena dominan tumbuh di daerah tersebut maka penduduk menyebut kampung Kawerang yang berasal dari kata Engka-Awerang. Kemudian berubah sebutan menjadi Kawerang.

Sama dengan kampung-kampung lain seperti Kajuara karena Engka-Ajuara dan Kading karena Engka-Ading serta Palanga karena Engka-Lengnga.

Kota Kawerang inilah Istana Raja Bone Pertama Manurunge ri Matajang berdiri. Istana menghadap sungai (letaknya sekarang diduga sekitar Jalan raya di belakang kantor Korem 141 Toddopuli).

Dalam lontara dikatakan bahwa istana itu berdiri dengan cepat sebelum bulisa’ nya mengering. Bulisa’ adalah sisa kulit kayu yang masih basah.

Bahkan di tempat ini pulalah Tujuh Matoa bermusyawarah membentuk satu ikatan dalam pemerintahan Bone. Sistem pemerintahan ini disebut juga kawerang sesuai tempat musyawarah dilaksanakan.

Sistem Kawerang masing-masing matoa tetap menjadi penguasa di wilayahnya dan sekaligus menjadi dewan pemerintahan kerajaan Bone. Dan ini hanya berlangsung sampai Raja Bone ke-9 La Pattawe Matinroe Ri Bettung Kabupaten Bulukumba.

Kawerang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bone awalnya hanya seluas sekitar sungai. Kemudian lambat laun berkembang seluruh wanua Tanete Riattang termasuk wanua Tibojong di seberang sungai.

Seiring kemajuan kerajaan Bone batas wilayah wanua Tanete Riattang kira-kira sekarang adalah batas Kantor Korem 141 Tddopuli membelok ke jalan Thamrin sampai sungai dan jalan Manurunge.

Pada Pemerintahan Raja Bone pertama lebih memfokuskan pada pembuatan aturan-aturan kemasyarakatan dan hukum ditegakkan.

Juga menjalin hubungan dengan Kerajaan-kerajaan tetangga yang besar dan lebih tua seperti Kerajaan Awampone, Pattiro, Palakka, dan Cina. Sebagai politik Assiajingeng untuk meredam kembalinya zaman Sianrebale.

Permaisuri Raja Bone I adalah Manurunge Ri Toro mempunyai anak 4 orang,m yaitu La Ummasa, I Pattanra wanua, We Tenri Salogo, dan We Aratiga. Kemudian anaknya bernama La Ummasa menggantikan ayahnya sebagai Raja Bone ke-2.

Pada zaman Raja La Ummasa Raja Bone ke-2 berkuasa (1365-1368). Kota kawerang berkembang, baik jumlah penduduk maupun permukiman, sehingga kota meluas seluruh wilayah Tanete Riattang dan arah perkembangan kota mulai begeser ke Wanua Macege sebagai kampung industri pembuatan alat-alat pertanian dan senjata, utamanya Parang Cege.

Parang Cege (bangkung Cege), adalah parang yang bentuknya lebar. Macege berarti tempat pembuatan parang. Bahan baku besi didatangkan dari Kelling dekat Lampoko.

Raja Bone ke-2 La Ummasa yang hobbi dan ahli dalam pembuatan alat senjata dari besi. Mendirikan Istana di wilayah Macege sehingga ramai penduduk bermukim utamanya dekat kediaman Baginda di Lassonrong.

Disekitar sumur Lassonrong.

Lassonrong berasal dari nama istana raja La Ummasa mempunyai beranda di belakang istana dan istana di kelilingi gundukan tanah liat di atasnya pagar bambu yang runcing sebagai benteng.

Inilah yang disebut Sonrong. Karena itu, Lassonrong berarti istana yang mempunyai beranda belakang dan pagar benteng. Di beranda belakang istana tempat mallanro atau menempa besi milik Baginda.

Pada masa pemerintahan La Ummasa banyak melakukan pengembangan wilayah baik dengan peperangan maupun dengan cara perkawinan.

Baginda menaklukkan Wanua Biru di Selatan , Wanua Cellu di Timur dan Wanua Anrobiring dekat Macege dan juga Wanua Majang.

Tahun 1368 Raja La Ummasa mangkat dan dimakamkan di Jeppee. Kampung yang ditumbuhi pohon Jeppe. Pohonnya besar dan tinggi menjulang. Sekarang wilayah itu sekitar jalan Ahmad Yani Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone

Semasa hidupnya La Lmmasa bergelar Petta Panre Bessie dan juga bergelar Petta To Mulaiye Panreng (Yang pertama di makamkan) gelar anumerta.

Baginda La Ummasa juga yang pertama bergelar Mangkau. Mengambil tradisi leluhurnya ketika Bone purba sebagai kerajaan Wewangriu bergelar Mangkau.

La Ummasa mempunyai anak dua bernama To Suwalle dan To Salawakkang. Tetapi tidak menjadi Raja. Justru yang menggantikan La Ummasa adalah kemanakannya. Anak Raja Palakka bernama La Saliyu Korampelua. Raja termuda dalam sejarah Kerajaan Bone.

La Saliyu Korampelua sebagai raja Bone ke-3 (1368-1470), dikisahkan, penculikan dirinya ketika masih bayi. Usianya baru beberapa hari.

Atas perintah Raja Bone La Ummasa untuk menggantikannya karena anak La Ummasa tidak memenuhi syarat menjadi Raja.

Lalu hasil musyawarah Matoa Pitu yang pantas menjadi Raja adalah anak Raja Palakka La Pattikkeng sebab Ibunya adalah Saudara La Ummasa anak dari Manurunge Anak Pattola.

Hanya antara Raja Palakka La Pattikkeng dengan Raja Bone masih dalam pertikaian. Itulah sebabnya terjadi penculikan yang dipimpin oleh To Suwalle dan To Salawakkang.

Kisahnya perjalanan pulang dari Palakka setelah menculik bayi La Saliyu oleh sepupunya, anak dari La Umasa sempat beristirahat disuatu telaga untuk memercikkan air dan membasuh muka bayi La Saliyu.

Bayi itu bergerak bangun (Cokkong) maka disebutlah sumur itu Lacokkong dan kemudian menjadi tradisi turun temurun setiap anak raja yang dilahirkan wajib mandikan air Lacokkong.(Baca : Sejarah Sumur Laccokkong)

Selain itu, disebut Laccokkong, dahulu sesudah La Ummasa Raja Bone Ke-2 daerah ini adalah daerah yang subur untuk pertanian.

Artinya siapapun yang berada di wilayah itu, hidupnya akan makmur sehingga penghidupannya bangkit atau Cokkong.

Masa pemerintahan Lasaliyu, Kota Kawerang melebar ke Tanete Riawang. Karena di tempat itu berdiri Pasar hadiah dari Ayah La Saliyu Raja Palakka.

Pasar tersebut sekarang menjadi Pusat pertokoan di dekat Tanah Bangkalae sebagai Pusat kota Watampone.

Dan Istana Raja Bone ke-3 La Saliyu Korampelua berdiri berdampingan dengan Pasar.

Kemudian di depan istana La Saliyu dibuat alun-alun yang selanjutnya alun-alun itu dijadikan tempat perjanjian persaudaraan Bone, Luwu,Gowa pada masa pemerintahan raja Bone ke-16 La PatauMatanna Tikka, yang kemudian alun-alun itu disebut Tanah Bangkala.

Dahulu Tanah Bangkalae berfungsi sebagai tempat berkumpul masyarakat mendengarkan informasi dari Raja atau Pejabat Istana.

Kemudian akhirnya menjadi tempat pelantikan Raja-Raja Bone yang dimulai dari Raja Bone ke- 4 We Banrigau. Tanah Bangkalae dijadikan pula pusat Bone. Possi Tanah.

Maka perkembangan kota Kawerang meluas mulai Wanua Tanteriatang, Macege utamanya Lassonrong, Tibojong dan Wanua Taneteriawang disebut To Kawerang, maksudnya orang kota.

Adapun batas wanua Tante riawang Termasuk taman bunga dan sampai batas Bukaka dan batas di laccokkong sekarang.

Ketika Raja Bone Lasaliyu masih kanak-kanak, maka kedua sepupunya melaksanakan pemerintahan dengan tugas masing-masing, yaitu :

To Suwalle bertugas mewakili raja Bone urusan pemerintahan ke dalam sebagai Tomarilaleng kedalam sebagai Tomarilaleng I Kerajaaan Bone.

To Salawakka bertugas mengatur urusan pemerintahan keluar dan ini merupakan Makkedangnge Tanah I dari Kerajaan Bone.

Dalam pelaksanaan sehari-hari keduanya dibantu oleh para Matoa dari tujuh Wanua, setelah menanjak dewasa Raja Lasaliyu mengendalikan pemerintahan, namun tetap dibantu oleh kedua kakak sepupunya.

Pada saat berangkat berperang atau kunjungan daerah (kerajaan palili) selalu membawa bendera, Panji Worongporonge, dan Cellae. Juga baginda membagi Bone dalam tiga wilayah sesuai dengan pembagian bendera yaitu:

Bendera Worongporonge, membawahi Negeri Matajang, Mataangin (Maroanging), Bukaka, Bukaka tengah (kampong tengngae), Kawerang , Pallengoreng dan Mallayirang (Mallari) dikoordinasikan oleh Matoa Matajang.

CellaE ri Atau, yaitu yang memakai umbul merah di sebelah kanan dari bendera Worongporonge dipergunakan oleh rakyat dari : Paccing, Tanete (dekat Palenggoreng), Lemo-Lemo ( Desa Carebbu ), Masalle (dekat Melle), Macege, dan Belawa (dekat Maccope). Dikoordinasikan oleh To Suwalle digelar Kajao Ciung.

CellaE ri Abeyo, yaitu Negeri yang memakai umbul merah di sebelah kiri dari Worongporonge: Araseng, Ujung, Ponceng, Ta, Katumpi, Padacenga (desa Padaidi dekat Passippo) dan Madello (dekat desa Mico). Dikoordinasikan oleh To Salawakka digelar Kajao Araseng.

Dalam Lontara disebutkan, bahwa raja La Saliyu Korampelua menaklukkan Negeri Pallengoreng (sebelah selatan Biru), Sinri (dekat Majang), Sancoreng (Ponre), Cerowali, Apala, Bakke Tanete(cina), Attang Salo(dekat Katumpi), Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu(dekat Cerowali), Parippung, dan Lompu, Limampanuwa ri Lau-Ale.

Dan pada masa itu Palakka disatukan dengan Kawerang. Juga beberapa wanua datang bergabung secara sukarela. Sehingga kerajaaan-kerajaan tua seperti Cina, Pattiro, Awampone, Barebbo dan Palakka sudah bergabung dengan Bone.

La Saliyu Korampelua membuat perkampungan di sebelah utara Kawerang dekat sungai Panyula dan Limpenno (muara sungai dekat Toro) sebagai tempat pelabuhan bagi perahu-perahu kerajaan ditambatkan bersama tempat tinggal pendayung dan petugas perahu raja.

DARI KOTA KAWERANG MENJADI KOTA LALEBBATA.

Raja Bone ke-6 La Uliyo Botee (1535-1560) adalah pendiri benteng kota sekaligus peletak sistem perkotaan yang tangguh sebagai kota yang mandiri dan modern pada zamannya.

La Uliyo Botee dikenal pandai cermat dalam perencanaan. Pada masa berkuasa baginda didampingi seorang penasihat terkenal Kajao Laliddong yang sering dijuluki Lamellong.

Kajao Laliddong yang dipercayakan mengarsiteki sekaligus pimpinan proyek (pimpro) dalam pembangunan kolosal membangun benteng kota.

Sehingga ada ungkapan ceritera rakyat Bone bahwa “Cicengmi narenreng tekkenna Kajao Laliddong natepui bentenge”, artinya sekali saja ditarik tongkatnya Kajao Laliddong maka jadilah benteng.

LALEBATA KOTA BENTENG

Benteng atau dalam bahasa bugis Lalebata ini dibuat dari tanah liat diambil dari Bukit Bukaka. Benteng ini rata-rata tingginya 5 meter.

Tebal dinding atas kurang lebih 2 meter dan tebal dinding bawah (pondasi)15 meter. Sepanjang dinding luar benteng ditanami pohon bambu dan berbagai jenis pohon berfungsi untuk menahan dan mengikat tanah benteng.

Bahan pembuatannya diambil dari sebagian tanah Bukaka. Tapi dinding benteng bagian Utara dan Timur di samping dari tanah liat juga diambil dari tanah di sekitar atau di dalam wilayah benteng untuk dijadikan persawahan.

Teknik pada pembangunan benteng tidak memakai alat perekat tetapi teknik sederhana, yaitu susun timbun yang mengikuti kontur tanah.

Bukan terbuat dari batu merah atau dinding dari batu gunung yang sudah dipahat. Walau ada sebagian benteng memakai batu utamanya dibagian pintu utama keluar.

Bentuk benteng Bone awalnya segi empat panjang. Kemudian raja berikutnya melakukan penambahan tinggi benteng dan dipertebal dinding benteng oleh Raja Bone ke-6 La Tenrirawe Bongkange.

Hal inilah nama Kota Kawerang berubah menjadi Lalebata. Sesuai bentuk kota yang baru dengan adanya benteng dan meluas hampir semua wilayah wanua pitu masuk dalam area benteng.

Pada 1631 Raja Bone ke-13 La Madderemmeng berkuasa (1631-1644) mengalami pelebaran Benteng sebelah Timur dan Utara dan menambah bastion-bastion dekat Salekoe.

Bentuk sudut benteng melingkar sebagai bastion dan dipasang meriam-meriam besar. Apalagi suasana politik ketika itu memanas dengan kebijakan La Maddaremmeng menerapkan penghapusan perbudakan.

Model Benteng berubah dari segi empat panjang menjadi trapesium. Selain ada pintu Utama Benteng (Seppa Benteng) juga disetiap sisi benteng ada pintu-pintu untuk akses masuk bagi penduduk.

Benteng ini dibuat sebagai alat pertahanan juga sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena sumber kekuasaan berada di istana maka peletakan benteng juga berperan untuk pertahanan pusat-pusat hunian dan sumber daya yang ada disekitarnya.

JEJAK BENTENG

Jika menyelusuri Benteng dimulai dari sudut sebelah selatan kota, benteng berdiri di atas jalan Kalimantan sekarang terus ke Timur melewati pinggir Jalan Kawerang melalui persawahan dekat sungai Bone.

Di tempat itu berdiri bastion. Lalu ke Timur lagi dekat Jalan Pramuka disebut Riattang Benteng. Kemudian membelok ke Utara dan di sudut benteng itu terdapat Bubung Loppoe (sumur besar) digunakan untuk persediaan air bagi prajurit Bone.

Ke Utara benteng melalui persawahan dekat masjid Jalan Bajoe dan disebut Seppa Bentenge. Dan membelok ke arah Barat di atas jalan, pada sudut benteng membulat sebagai bastion tetapi ada pula pelebaran benteng dekat Salekoe juga berdiri Bastion-bastion.

Di atas jalan menuju Bukaka membelok ke utara kira-kira 200 meter ke arah barat menuju Bukaka dekat Bubung Lagarowang. Komplek kuburan Kalokkoe juga masuk dalam kawasan benteng yang disebut Awang Benteng.

Dari Bukaka menuju ke Selatan antara Jalan Makmur dengan Jalan Benteng adalah bekas benteng dan bertemu di Jalan Kalimantan dekat Kantor Dinas Kesahatan.

Benteng-benteng ini hancur akibat peperangan, utamanya pada perang Bone dengan Belanda. Pada tahun 1920-an benteng-benteng ini umumnya diambil tanahnya dijadikan jalan raya, seperti bagian Selatan kota Watampone benteng itu dijadikan menjadi jalan Kalimantan sekarang dan begitu pula Lapangan Persibo ditimbun dari tanah benteng yang dahulu adalah persawahan.

WATAMPONE

Ibukota Lalebata kerajaan Bone berakhir tahun 1905. Ketika Tentara Belanda menaklukkan Bone dengan hasil musyawarah pada tanggal 24 Agustus 1905.

Kota Lalebata berubah menjadi Watampone pada musyawarah Ade’ Pitu bersama Hindia Belanda di Bola Subbie Istana Raja La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Bola Subbie merupakan istana kebanggaan Kerajaan Bone berukir dan besar menghadap Taman Raja atau sekarang Taman Bunga.

Kemudian Istana Bola Subbie dipindahkan ke Makassar dan berdiri di depan Karebosi sebagai tanda penaklukan Bone.

Dan kembali ke Bone pada tahun 1922 atas permintaan Rakyat Bone dan Raja La Mapanyukki. Tetapi sayangnya Istana Bola Subbie itu tidak utuh lagi.

Watampone yang berarti pusatnya Bone. Zaman pemerintahan Hindia Belanda penataan kota dibangun. Area kota ditata mulai wilayah ekonomi, agama, dan pendidikan, pemerintahan dan kalangan bangsawan.

Jalan-jalan dibuat, pohon asam dan kenari ditanam di pinggir jalan. Taman ditata seperti Koning Plein atau Taman Raja sekarang jadi Taman Bunga, kemudian berganti nama Taman Arung Palakka.

Dan bangunan-bangunan berciri kolonial didirikan. Istana raja Bone Bola Soba dibangun untuk menggantikan Istana Bola Subbie, selanjutnya Bola Subbie dijadikan sebagai Kantor Dewan Ade’ Pitu.

Bola Soba kemudian dipindahkan di Jalan Veteran sebagai markas Marsose dan didirikan Rumah Pejabat Hindia Belanda dengan sebutan Tuan Petoro Bottoa (Controler Residen). Dan Tangsi-tangsi militer serta juga Rumah Sakit.

Tahun 2016 Bone telah berusia 686 tahun tetapi jauh dari usia itu Tanah Bone telah ada dengan penduduknya. Sudah tiga kali pergantian nama Ibukota sejak tahun 1330 sampai sekarang . Tetapi penduduknya masih tetap dan senang menyebut ibukotanya dengan sebutan Bone.

Kota Watampone telah menyimpan sejarah panjang dengan penduduknya, tetapi tidak memperlihatkan suatu kota sarat sejarah masa lalu apalagi sebagai ibukota kerajaan Bugis terbesar.

Oleh karen itu saatnya sekarang bangunan-bangunan tua bersejarah dan situs-situs perlu dipertahankan dan dilindungi sebagai identitas Kota Tua Bone.

Jika sekarang mau bangun Bone mestinya atau paling tidak pelajari dulu sejarahnya, agar yang dibangun itu bernilai edukatif, yakni bisa memberikan informasi dan pembelajaran kepada generasi.

Berita sebelumyaSejarah Adat Tujuh Bone
Berita berikutnyaJejak Bugis di Belanda
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...