No menu items!
13.9 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Lontara Kutika

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Bagi masyarakat Bugis Makassar pernikahan adalah suatu hal yang sakral yang merupakan suatu pengukuhan dua pasang manusia yakni Pria dan Wanita yang diikat dalam satu kesatuan utuh yang diharapkan selalu bersama hingga akhir hayat.

Sehingga pernikahan juga hendaknya butuh perencanaan yang kuat karena ini merupakan pertaruhan masa depan.

Tempeddingngi sia laosiwali cinnaé, lao tungke’ uddanié ritosipurénréngngé

Artinya :Jangan pernah membiarkan keinginan dan kerinduan pergi dalam kesendirian

Ada satu hal yang kerap menjadi perhatian serius bagi masyrakat Bugis Makassar dalam proses pernikahan yakni penentuan hari pernikahan. Hal ini sering diberikan ruang khusus untuk selalu berhati-hati dalam memilih hari yang baik untuk pelaksanaan acara pernikahan terutama dalam acara akad nikah.

Di mana akad nikah sesuatu yang sakral, sementara hari untuk acara pesta pernikahan tidak menjadi hal yang penting.

Salah satu yang menarik pada suatu perencanaan pernikahan yang sudah pasti adalah manakala kedua belah pihak baik pihak Pria dan pihak Wanita telah setuju melakukan ikatan pernikahan adalah pada proses penentuan hari “H” yakni hari penentuan akad Nikah.

Mau luttu massuajang, uki siputanrai, namusilolongemmua.

Artinya walaupun terbang entah ke mana, kalau jodoh ketemu jua

Kutika Bilangeng Duappulo

Salah satu lontara tua yakni Kutika “ Bilangeng Duappulo ” (Hitungan kalender 20 Hari) yang berhubungan dengan pernikahan dalam masyarakat Bugis makassar.

Dalam Tulisan Roger tol yang berjudul “ Rolled up Bugis stories : A PARAKEET’S SONG OF AN OLD MARRIAGE CALENDAR ” yang disampaikan pada Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia di Melbourne pada tanggal 1- 3 July 2008.

Dalam tulisan tersebut pada halaman 14 sampai dengan halaman 17 memuat Kutika Bilange Duappulo. Di mana Kutika Bilangeng Duappulo ini menjadi satu dengan Sure’ Baweng.

Kutika Bilangeng Duappulo berarti Hitungan Kalender 20 Hari yang menjelaskan hari baik dan buruk dalam melaksanakan acara pernikahan.

Dalam Kutika Bilangeng Duappulo disebutkan 20 nama hari, yaitu sebagai berikut :

1. Pong
2. Pang
3. Lumawa
4. Wajing
5. Wunga Wunga
6. Telettu’
7. Anga
8. Webbo
9. Wagé
0. Ceppa
11. Tulé
12. Aiéng
13. Beruku
14. Panirong
15. Maua
16. Dettia
17. Soma
18. Lakkara’
19. Jepati
20. Tumpakale

Dari 20 Hari yang harusnya ada dalam Kutika Bilangeng Duappulo hanya ada 12 nama hari yang disebutkan dalam tulisan Roger Tol.

Dari Tulisan Roger Tool tersebut terlihat ada beberapa teks dalam gulungan lontara’ tersebut banyak yang hilang atau terpotong dan mungkin terhapus yabg disebkan usia gulungan lontara. Walaupun ada kecenderungan gulungan lontara ini adalah hasil penulisan ulang sehingga hanya bagian-bagian inti saja yang ditulis.

Namun dari 12 hari yg disebutkan ini sudah memberikan penjelasan yang cukup dan sangat baik sebagai acuan bagi masyarakat Bugis Makassar dahulu khususnya dalam kegiatan acara pernikahan

Adapun isi Lontara Kutika Bilangeng Duappulo, digambarkan sebagai berikut :

Makkedi Kunaéng Loloé, aléna Kajangenngé dé, bissu terru’ akasaé napasadda’é rakile’ : Masagala mua palé’ missengngi péjeppuiwi esso riulorenngéngi ri lino najaji tau, iana ritu esso nabottinganngé ri lino najaji tau namasiga makkéwiring, nawa-nawanna ri laleng woroané makkunra, tennaullé naguliga, ina to pajajianna.

Apa’ kua i essona parukuseng rigamminna, riala riabbottingeng, téa appudu makkalépu nawa-nawa ri lalenna.

Apa’ kua i essona, parukuseng rigamminna, ia ritu gumawana,riala riabbottingeng, masiga sipéso luséq, temmakkatta sipuppureng.

Apa’ kua i essona parukuseng rigamminna, ariabonéa , riallaringeng maraka anaq, makkunrai maloloé, atarawijana, riala riabbottingeng, masiga i najajiang anaq, masiga to i mapparukuseng.

Apa’ kua i esso na parukuseng rigammeinna, ia ritu ri ceppana, riala riabbottingeng, masiga assitoppong élo’, tessa i porenreng to i

Apa’ kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu ri tuléna, riala riua bottingeng, téa i mattengnga tau oroané maloloé.

Apa’ makkua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu aresena, riala riabbottingeng, téa i tessakkarupeqa dallé simula jajina.

Apa’ kua i essona parukkuseng rigammeinna, ia ritu béruku nna, riala riabbottingeng, masiga ncajiang ana’, parukuseng rigammeinna.

Apa’ kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu pitironna, , riala riabbottingeng, masajang pulana mui dallé simula jajinna.

Apa’ kua i esso na parukuseng rigammeinna, ia ritu Tanu’u’Ana, maua riala riabbottingeng, situ ju élo taué, masiga ncajiang ana’, makkunrai oroané, masiga maparukuseng.

Apa’ kua i essona, parukuseng rigammeinna ia ritu dettiana, riala riabbottingeng, téa i teppangkagareng sumange’na wali-wali.

Apa’ kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu’u ri somana, riala riabbottingeng, pada maserro élo siporenrengi lusé to i.

Apa’ kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ritu ri tuléna, riala riabbottingeng, masiga paliweng cinna, oroané makkunrai, masiga sitoppong élo.

Apa’ kua i essona parukuseng rigammeinna, ia ri ajeppattinna, riala riabbottingeng masiga ncajiang anaq, temmalala luséq to i ia ritu pakkalénna, téa i tetturu béla.

Apa kua i wettu parukjuseng rigammeinna baweng ronnang kuleppessang ri madduppa pettangngé.

Terjemahan bebas:

Kemudian berbicara Kunéng Loloé, yang berasal dari Kajang,, para Bissu Maha Tahu, Diikuti dengan suara petir yang begemuruh :

” Jarang memang kita, tahu dan mengerti, hari-hari yang telah turun, ke dunia manusia, untuk mengetahui hari-hari baik dan buruk dalam acara pernikahan. Dan pada umumnya banyak pasangan, dengan cepat bisa setuju apabila menentukan hari pernikahannya.

Seharusnya dalam menentukan ini adalah meminta nasihat kepada orang tua atau tetua yang pandai mengenai hari, untuk melaksanakan pernikahan. Jangan tergesa-gesa dalam menentukan, dan benar-benar berpikir jernih.

Inilah beberapa pesan hari-hari yang baik dan buruk dalam melaksankan pernikahan, yaitu:

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Lumawa, pasangan ini akan selalu berbahagia dan sehidup semati.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Webbo, Istri tidak pandai bertahan dan menunggu bila ditinggalkan, dan tidak pandai untuk mengurus anak-anak.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Wage , pasangan ini cepat memiliki keturunan, dan cepat hidup bahagia bersama-sama.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Ceppa, pasangan ini akan meningkat satu sama lain, dan diliputi asmara cinta yang selalu bergelora.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Tule, pasangan ini selalu memilki kepastian dan tidak mudah putus asa. Bila mengambil hari ini,

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Ariéng pasangan ini tentu banyak kebahagiaan, dan rezeki pun selalu meningkat.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Béruku, pasangan dengan cepat akan mendapatkan keturunan , dan selalu dalam kebersamaan baik suka dan duka.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Panirong, pasangan ini ini diliputi kebahagiaan yang tidak terkira , selalu memiliki keberuntungan,

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Maua, pasangan ini akan saling selalu saling mengasihi, dengan cepat memiliki keturunan, Dan Istri pandai dalam hidup bertentangga.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Dettia, Pasangan ini pasti diliputi dengan suasana yang kurang baik dan sering mengalami permasalahan dan benturan dalam rumah tangga. mereka karena karakter dari kedua belah pihak selalu dilupti hawa panas.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Soma, Pasangan ini akan saling mencintai, Sakinah dan penuh dengan gelora asmara.

Seperti jatuh pada hari Tule, setiap keinginan pasangan ini akan cepat terkabulkan, serta dalam rumah tangga pasangan ini selalu saling menghargai, menghormati dan mengenal satu sama lain.

Ketika hari untuk pernikahan, jatuh pada hari Jépati, Pasangan ini cepat memiliki keturunan dan mereka bahagia serta tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena cinta mereka.

Itulah Waktu-Waktu yang baik, untuk melaksanakan pernikahan. Inilah pesan dan nasihat kusampaikan hingga terbenamnya matahari ”

Betapa pentingnya pernikahan dalam masyarakat Bugis Makassar sehingga hal penting itu dituliskan dalam sebuah naskah-naskah kuno.

Lontara’ Kutika Bilangeng Duappulo yang menjadi satu dengan ‘Lontara Sure’ baweng’ merupakan contoh satu dari sekian banyak naskah-naskah tua yang menjelaskan proses adat istidat masyarakat Bugis Makassar dalam memberikan pentingnya arti pernikahan.

Semoga naskah-naskah semacam ini menjadi inspirasi generasi Bugis Makassar untuk lebih mencintai dan menjaga adat istiadat dan Budaya sehingga ikut andil dalam melestarikannya.

Dan yang terpenting adanya upaya bagi generasi Bugis Makassar untuk lebih mempelajari khazanah budaya dalam rangkaian edukasi terutama bidang penelitian dan penyelamatan naskah-naskah tua.

Karena itu sangat disayangkan bila peneliti-peneliti asing yang lebih banyak berperan serta dan banyak di antaranya menggunakan kata sesuai intonasi dan aksen mereka sendiri sehingga turut mempengaruhi keaslian bahasa daerah yang sebenarnya.

Rujukan :

1. Artikel ini ditamplikan peringatan 17 tahun Biennial Conference of the Asian Studies Association of Australia di Melbourne pada tanggal 1- 3 July 2008.

2. Machmud, A. Hasan, Silasa: Kumpulan Petuah Bugis-Makassar, 1994.

3. Rogel Tol , ROLLED UP BUGIS STORIES : A PARAKEET’S SONG OF AN OLD MARRIAGE CALENDAR,

4. Nurul Ilmi Idrus Bugis Practices of Gender, Sexuality and Marriage, Thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy at The Australian National University, May 2003.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...