No menu items!
4.4 C
Munich
Rabu, 25 November 20

Sejarah Lapangan Merdeka Watampone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sekitar Abad 10 Masehi Bone hanya sebuah wilayah kecil di tepi Teluk Bone.

Luas kawasan wilayah berkisar 4 kilometer persegi dengan kontur topografi lebih tinggi di sekitarnya.

Sehingga nama “Tanete” menjadi sebutan yang khas pada 3 kecamatan sekarang ini, yaitu Tanete Riattang, Tanete Riattang Timur, dan Tanete Riattang Barat

Dari catatan lontara, di masa Bone purba Tanete tersebut berada pada wilayah Wewangriu Zaman Lagaligo.

Bone adalah nama Bugis kuno yang berarti Pasir. Karena tanahnya berpasir warna kekuning-kuningan sehingga disebut Bone.

Kota Kawerang saat kerajaan Bone berdiri di Tahun 1330 M terdapat 7 (tujuh) Wanua bergabung menjadi persekutuan yakni :
1.Wanua Ponceng,
2.Wanua Tanete Riattang,
3.Wanua Tanete Riawang,
4.Wanua Ta,
5.Wanua Macege,
6.Wanua Ujung; dan
7.Wanua Tibojong.

Ketujuh Wanua bersatu dalam Panji “Woromporongenge” yaitu bendera bintang 7 yang menandakan tujuh negeri di bawah kepemimpinan Raja Bone Pertama Manurunge ri Matajang yang bergelar Mata silompoe (Penguasa Penjaga Laut dan Tanah) .

Awal terbentuknya kerajaan Bone ada beberapa wanua lain yang tidak bergabung dan cukup disegani pada waktu itu seperti Biru, Cellu, dan Majang, sedang Bukaka dan Ciung masuk dalam dalam Wanua Tanete Riawang.

Kerajaan ini mulai membangun wilayahnya dengan ibukota Kawerang. Berada dalam Wanua Tanete Riattang di tepi sungai Bone.

Sungai tersebut ramai digunakan penduduk Bone sebagai alur transportasi penting untuk menghubungkan Wanua lain.

Hulunya ada dua, yakni dekat Anrobiring di Palakka dan Pallengoreng sedang muaranya di Toro Teluk Bone.

Kota Kawerang sebagai pusat pemerintahan berasal dari nama tumbuhan Awerang yang banyak tumbuh disekitar sungai Bone (Sekarang terletak di Jalan Manurungnge).

Awerang adalah sejenis ilalang dan kerap tumbuh pada tanah lembab dan berair. Tingginya kurang lebih 2 meter, mempunyai bunga jambul putih.

Karena dominan tumbuh di daerah tersebut penduduk menyebut kampung Kawerang yang berasal dari kata Engka Awerang, kemudian berubah menjadi Kawerang.

Kawerang sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Bone pada awalnya hanya sekitar sungai, kemudian lambat laun berkembang Wanua Tanete Riattang termasuk wanua Tibojong.

Pada zaman Raja La Ummasa Raja Bone ke-2 berkuasa ( 1366-1398 ) Kota Kawerang berkembang, baik jumlah penduduk maupun permukiman.

Sehingga kota meluas seluruh wilayah Tanete Riattang dan arah perkembangan kota mulai bergeser ke wanua Macege.

Dahulu Macege dikenal sebagai kampung industri pembuatan alat-alat pertanian dan senjata, utamanya Parang Cege.

Macege adalah tempat pembuatan Parang yang bentuknya lebar. Macege berarti tempat pembuatan Parang.

LAPANGAN MERDEKA DOELOE

Lapangan Merdeka pada masa Raja Bone ke-32 La Mappanyukki,  merupakan Lappa atau Alun-alun kota/tanah lapangan.

Pada waktu itu pembesar kompeni Belanda di Celebes Selatan bernama Tuan L.J.J. Karon serta Raja Belanda di Nederland pada waktu itu bernama A.C.A de Graff.

Menggunakan alun-alun tersebut sebagai tempat melaksanakan pesta kerajaan Hindia Belanda.

Seperti perayaan untuk memperingati kelahiran Putri Beatrix, atau acara pesta kerajaan Hindia Belanda serta pesta penyambutan pemerintahan baru Kerajaan Hindia Belanda pada saat itu.

TAMAN BUNGA DOELOE

Tahun 1931, di bawah pemerintahan raja Bone ke-32 La Mappanyukki, Taman Bunga merupakan hutan kecil yang banyak di tumbuhi tanaman Bambu, Jati, Dan Cendana (Cenrana).

Ada juga tanaman buah tropis seperti, ketapi (bugis: settung), Jamblang (Coppeng) dan ceremai (Jaramele’).

Tumbuhan itu tempat istirahat dan berteduh manakala ada acara pesta kerajaan Hindia Belanda yang dilaksanakan di Lapangan Merdeka.

Bahkan pada saat sebelum pelantikan Raja Bone ke-32 La Mappanyukki, mereka berkumpul di tempat tersebut sebelum dipayungi untuk berangkat pada tempat pelantikan kerajaan di Tana Bangkalae.

LAPANGAN MERDEKA KINI

Di masa sekarang Lapangan Merdeka sangat wajar kalau diperindah karena memang menyimpan catatan sejarah.

Lapangan Merdeka Watampone dengan luas + 6.700 m2 atau 1,6 Ha, berbentuk bujur sangkar.

Lapangan ini berfungsi selain untuk upacara dan berbagai perayaan lainnya juga sebagai sarana rekreasi warga Bone dari segala kalangan dan usia.

Bahkan Lapangan Merdeka Watampone menjadi sebuah ikon baru selain sejarah dan budaya Bone.

Menurut sejarah dan cerita orang tua, Alun-alun ini dinamakan Lapangan Merdeka karena di sinilah tempat awal rakyat kerajaan Bone menyatakan keinginannya bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dahulu di sebelah utara alun-alaun sekarang area Taman Bunga berdiri sebuah TUGU yang betuliskan ” MERDEKA 1957″  sebagai tanda bergabungnya kerajaan Bone dengan NKRI.

Mudah-mudahan ke depannya Tugu Merdeka tersebut bisa dibangun kembali supaya bisa menjadi sumber edukasi sejarah bagi generasi.

Karena tugu tersebut merupakan salah satu prasasti sejarah yang dimiliki kabupaten Bone.

Sebelumnya, awal tahun 1950, Presiden RI pertama Ir. Sukarno berkunjung di Kerajaan Bone, Sukarno saat itu diterima dirumah berukir atau yang dikenal Sao Subbi’e atau Bola Subbi’e.

Saat ini Bola Subbie digunakan sebagai Gedung Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Bone di Jalan Merdeka Watampone Kabupaten Bone.

Kedatangan Sang Proklamator itu, secara khusus dalam rangka mengajak kerajaan Bone yang dipimpin La Mappanyukki untuk bergabung dengan NKRI. (La Mappanyukki Raja Bone ke-32 lahir 1885-meninggal 18 April 1967).

Ajakan Sukarno kepada kerajaan Bone untuk bergabung dengan NKRI tidak langsung disanggupi oleh raja Bone La Mappanyukki. Karena sang raja harus menjunjung kehendak rakyatnya.

Ajakan Sukarno itupun tersebar luas pada rakyat kerajaan Bone saat itu. Akhirnya tujuh tahun kemudian, yakni tahun 1957 sekitar 3000 orang sebagai representasi rakyat kerajaan Bone pada saat itu, berkumpul di alun-alun (sekarang, lapangan merdeka Watampone ).

Tujuan rakyat Bone berkumpul dialun-alun kerajaan untuk menggelar demonstrasi menyampaikan keinginan agar kerajaan Bone bergabung dalam NKRI.

Menariknya, penyampaian aspirasi ribuan rakyat Bone itu, dikemas dalam gerakan yang sangat santun dan sopan, baik formulasi gerakan maupun tutur kata.

Rakyat menyampaikan aspirasi menggunakan pakaian-pakaian kebesaran mereka, pakaian yang sopan, dan rapi.

Mereka mengenakan sarung dan baju adat, lalu mereka duduk bersila di alun-alun. Sembari menunduk memandang menembus lapisan bumi.  Itu sebagai pertanda betapa mereka menghormati pemimpinnya.

Dalam kondisi damai yang mendalam dan penuh penghormatan kepada raja mereka, rakyat menyampaikan aspirasinya tentang keinginan bergabung dengan NKRI.

“O…PUANGKU NARAPINI KAPANG WETTUNNA, TOSIAME’ SUKARNOE, PERSIDENNA INDONESIA, (Oh .. rajaku yang kami hormati, kemungkinan memang sudah saatnya kita bersatu bersama Sukarno, Presiden Indonesia” demikian inti penyampaian rakyat Bone kepada rajanya).

Tugu Merdeka yang dahulu berdiri di Taman Bunga ” Merdeka 1957″ sebagai prasasti bergabungnya Kerajaan Bone dalam NKRI”Demonstrasi rakyat Bone kala itu yang dikemas dengan kedamaian mengharu biru, rupanya tidak kalah saktinya dengan demonstrasi berdarah yang lazim dilakukan saat ini.

Dengan damainya demonstrasi itu pada akhirnya menjadi cikal bakal terbentuknya kabupaten Bone.

Dua tahun berselang setelah demo yang santun dan tidak pernah kita jumpai lagi di zaman edan ini. Bone yang berdaulat sebagai kerajaan besar kala itu akhirnya resmi bergabung dengan NKRI.

Bergabungnya kerajaan Bone itu ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 29 Tanggal 4 Juli Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, termasuk Bone.

Akhirnya, sebagai orang Bone di manapun jua berada tentu merasa bangga, punya KAMPUNG HALAMAN yang banyak menyimpan sejarah.

Tentu tidak lepas dari segala kekurangan dari berbagai bidang pembangunan, namun tidak bisa juga kita tutup mata kalau banyak keberhasilan  diperoleh sekarang ini.

Ibarat pertumbuhan dan perkembangan kita sebagai manusia, tidak merasakan perubahan perubahan pada diri, ketika kita waktu kecil/anak-anak kemudian tumbuh menjadi dewasa.

Demikian juga kita sebagai orang Bone tentu tidak merasakan perkembangan seketika, namun pada saat kita meninggalkan Bone meskipun hanya seminggu maka kerinduan pun menggelora ingin kembali karena Rindu kampong halaman.

Bone besar dan kesohor di mana-mana karena orang Bone dikenal memiliki kemampuan dan kecerdasan serta teguh dalam keyakinan kukuh dalam kebersamaan (Sumange’ Teallara’).

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...