No menu items!
14.8 C
Munich
Minggu, 20 September 20

Perang Bone Kedua Tahun 1825

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Perang Bone adalah operasi militer yang dilakukan Belanda atas Kerajaan Bone pada Januari 1825, dan dilaksanakan oleh Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen baru meninggalkan Celebes setelah ekspedisi terdahulu atas Bone dilancarkan secara besar-besaran atas batas pemerintahan Hindia Belanda.

Di mana waktu itu pasukan Belanda menaklukkan Pangkajene dan Labakkang, menduduki Tanete dan mengembalikan penguasa terguling ke atas tahta.

Dengan 25.000 orang, mereka mengendalikan wilayah subur antara Tanete-Maros dan juga menduduki Bantaeng dan Bulukumba di bagian selatan.

Mayor Wachs menaklukkan mereka di dataran Maros dan mengalahkan telak orang Bone setelah pertumpahan darah.

Di sisi lain benteng milik pemerintah Maros, Bantaeng, dan Bulukumba tak cukup kuat untuk mengalahkan serangan berdarah tersebut dan seluruh Celebes terancam kalah.

Ekspedisi besar-besaran dilancarkan di bawah pimpinan Mayor Jenderal Jozef van Geen di saat bersamaan ia diangkat sebagai Komisaris Pertama Urusan Celebes dan Tobias dan Van Schelle, dan pegawai negeri sipil disertakan untuk membantunya.

Pasukan ekspedisi itu terdiri atas 4100 orang, di mana 2200 adalah serdadu, 1100 pasukan dari Sumenep dan 800 jiwa dari pasukan penolong dari sejumlah negeri di Celebes yang menjadi antek Belanda.

Armada tersebut dipimpin oleh Kapten Pietersen dan terdiri atas 7 kapal perang, 3 perahu meriam dan perahu panjang bersenjata.

Pada tanggal 20 Januari 1825, Van Geen menerima jabatan komando tinggi dan seminggu kemudian tibalah kapal Louisa bersama komandan dan staf dari Makassar.

Teluk Bone dipelajari dengan baik dan pantainya dijelajahi dengan letak seperti itu, taruna kelas I Jan Carel Josephus van Speijk menandainya. Ekspedisi berlanjut ke Bantaeng dan Bulukumba dan semua benteng ditaklukkan.

Armada tersebut melanjutkan perjalanan ke Bone, di mana angkatan perang Kerajaan Bone telah berkumpul di Sinjai.

Dalam serangan itu, di sayap dipimpin oleh Mayor Gey van Pittius dan orang Bone melawan.

Laskar passiuno, pasukan berani mati Kerajaan Bone berkelompok di mana-mana dan menebar ancaman untuk memotong jalur tentara Belanda untuk pulang.

Namun laskar Kerajaan Bone akhirnya mundur setelah dihalau panah api dari perahu-perahu Belanda yang dipimpin oleh Zoutman.

Awalnya, pasukan Belanda mendarat di pantai Bajoe, 27 Maret 1825. Di sana sudah berdiri 5.000 orang Bone yang siap menyerang pasukan tersebut.

Akan tetapi Van Geen hanya mengizinkan roket ditembakkan ke arah para laskar Bone yang menunggang kuda. Tembakan roket itu agar menimbulkan kepanikan kepada laskar Bone.

Tembakan roket disertai bola api itu membuat pasukan Bone harus mundur. Ia menarik diri ke daerah pegunungan.

Di daerah itu terdapat 7.500 pasukan cadangan Kerajaan Bone. Namun serangan mendadak dengan kekuatan besar tentara Belanda memberondong melintasi rawa dan hutan, akhirnya laskar Bone berguguran.

Sementara itu, Van Geen mengizinkan husar Resimen VII menyerang di sayap, sementara Mayor Gey van Pittius mencoba mengatur perhatian atas Bone, di mana musuh menarik diri di daerah pegunungan itu.

Selanjutnya Tentara Belanda bergerak ke pusat kekuatan Bone yang masih ada di Sinjai dan mereka harus ditaklukkan. Namun saat itu laskar Bone sudah tidak ada.

Pada tanggal 22 Maret 1825 pasukan Belanda naik kapal ke Bajoe. Dan Bajoe berhasil dikuasai dan dijadikan sebagai pangkalan militer.

Lalu dijaga dengan senjata berat. Setelah pasukan Bone datang untuk menyerbu dihalau dengan senjata berat tanpa ampun.

Pada tanggal 30 Maret 1825, pasukan Belanda bergerak dan berhasil mencapai kubu pertahanan Bone di Watampone.

Namun Watampone sudah ditinggalkan oleh penduduknya. Ratu Bone We Imaniratu juga telah mengungsi dan sebagian laskar Bone bergabung dengan Suppa.

Laskar Bone sudah mengetahui, bahwa Tentara Belanda akan menyerang Suppa, maka ia datang untuk membantu.

Selanjutnya Pasukan Belanda dipimpin Van Geen mengumandangkan proklamasi penguasaan Kerajaan Bone.

Sementara Le Bron de Vexela memimpin pasukan dalam jumlah besar ke Makasaar untuk membantu kekuatan persenjataan Belanda.

Pada tanggal 20 Juni 1825 armada bantuan Belanda tersebut bergerak menuju Suppa. Sebelumnya menultimatum Sultan Suppa untuk menyerahkan diri.

Setelah melalui pertimbangan matang dan demi keselamatan rakyat Suppa, maka Sultan Suppa menyerahkan diri, senjatanya dilucuti dan ini menandai berakhirnya perang Bone kedua tersebut.

Rujukan:

1. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indië. Drie delen. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

2. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts. Hoorn

3. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...