No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Penyebab Hijrahnya Bugis ke Tanah Melayu

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Sejak dahulu orang Bugis cenderung keluar dari kampung halamannya untuk mencari kehidupan dan perkampungan baru. Kegiatan seperti ini disebut sebagai merantau. Kegiatan merantau telah menjadikan hubungan sejarah, ikatan darah dan tali temali kebudayaan yang sangat erat sepanjang sejarahnya antara masyarakat Bugis dengan Semenanjung Tanah Melayu.

Kedatangan orang Bugis ke Tanah Melayu telah berlangsung sejak zaman kesultanan Melayu Melaka. Pada abad ke-17 sudah terdapat pemukiman orang Bugis di Semenanjung Tanah Melayu, namun kedatangan mereka dalam jumlah yang besar terjadi pada kolonial Inggeris khususnya akhir abad ke-19.

Kedatangan Bugis ke Tanah Melayu berlanjut hingga sekarang. Meskipun jumlah populasi mereka tidak dapat diketahui dengan tepat, namun kehadiran mereka dapat dilihat mayoritasnya di dua buah negeri di Semenanjung Tanah Melayu, yaitu Johor dan Selangor.

Di Johor, peranan mereka sebagai penebang hutan dan membuka lahan baru untuk perkampungan sehingga merupakan aspek penting yang membentuk persejarahan negeri Johor.

Keberadaan masyarakat Bugis tersebar di beberapa permukiman di Johor seperti Benut, Sungai Karang, Serkat, Ayer Masin, Ayer Baloi, Sungai Pinggan, Jeram Batu, Sungai Kluang, Minyak Beku, Sungai Punggur, Pengerang, Muar, GelangPatah dan sekitar Pekan Nenas.

Bahkan ada beberapa kampung yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat Bugis. Kampung Parit Makkuaseng ialah salah sebuah kampung di Benut, Pontian, 90% penduduknya adalah terdiri daripada masyarakat Bugis. Kampung Lepau di Pengerang 100% penduduknya terdiri dari masyarakat Bugis.

Sejak dari awal kedatangan masyarakat Bugis ke Semenanjung Tanah Melayu, khususnya ke Johor, mereka telah berhasil menempatkan nama suku mereka dalam sejarah, sehingga keberadaan masyarakat Bugis di Johor dapat dikatakan lebih menonjol daripada etnik lainnya.

Kajian mengenai sejarah kedatangan masyarakat Bugis ke Semenanjung Tanah Melayu, khususnya ke Johor sebenarnya bukanlah suatu fenomena sejarah yang baru. Ia memang sudah lama berlangsung. Dalam masyarakat Bugis, belayar, mengembara, berdagang dan merantau merupakan suatu tradisi utuh dalam kehidupan mereka.

Sebagai suku bangsa yang terkenal dalam aktivitas pelayaran, pelaut Bugis telah mengembangkan suatu kebudayaan maritim sejak beberapa abad yang lalu. Perahu-perahu mereka dari jenis pinisi dan lambo telah mengarungi perairan Nusantara untuk berdagang dan merantau.

Istilah “sompe” dalam masyarakat Bugis juga berarti merantau, adalah sebagai faktor pemicu di kalangan mereka untuk meninggalkan kampung halamannya sekiranya mereka merasa tertekan.

Terjadinya penghijrahan besar-besaran pada abad ke-17 dan awal abad ke-18 di kalangan masyarakat Bugis Sulawesi Selatan adalah karena salah satu akibat dari rasa tertekan tersebut. Mereka telah berhijrah ke Sumbawa, Lombok, Bali, Jawa, Sumatera, dan Borneo (Kalimantan), dan Andalas (Sumatera).

Passompe’ adalah proses pemindahan penduduk Bugis ke luar Sulawesi Selatan dengan tujuan merantau, mencari pengalaman hidup dan kehidupan baru di daerah lain dengan berlayar.

Di kawasan Borneo penduduk Bugis di Pontianak dan Mampawa dan di Pulau Laut, Pagatan, Pasir, Kutai (Samarinda), Bolongan dan Gunung Tabur, mereka mengendalikan perdagangan di kawasan lembah sungai.

Kedatangan masyarakat Bugis ke Semenanjung Tanah Melayu dalam jumlah yang besar berlaku pada zaman kolonial Inggeris yaitu di akhir abad ke-19 dan berlanjut sehingga sekarang. Kebanyakan masyarakat Bugis telah memilih Johor sebagai destinasi penghijrahan. Mereka telah membangun daerah permukiman di beberapa kawasan di Johor.

Peranan mereka sebagai pembuka permukiman di luar bandar adalah aspek yang penting dalam sejarah negeri Johor itu sendiri hingga sekarang.

Faktor-Faktor Penghijrahan

Sebagai masyarakat yang mempunyai keandalan dalam ilmu pelayaran, masyarakat Bugis dapat bergerak ke seluruh pelosok rantau Asia Tenggara. Kedatangan masyarakat Bugis ke Johor atau ke Semenanjung Tanah Melayu kemudian menjadikan kawasan-kawasan tersebut sebagai kawasan tumpuan perantauan mereka disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.

Penghijrahan yang disebabkan oleh kekurangan tanah, kekurangan sumber makanan atau kelebihan penduduk tidaklah menjadi faktor penyebab dalam tradisi merantau masyarakat Bugis. Bahkan wilayah Sulawesi menghasilkan cukup banyak padi. Walaupun penghasilan padi memang tidak dapat diproduksi baik disebabkan oleh pengairan atau irigasi yang terbatas.

Sebelum tahun 1930-an tidak ada pengairan di sana. Namun pembangunan pengairan baru mulai betul-betul ada sesudah tahun 1965. Sekitar tahun 1930-an semua sawah di Sulawesi adalah sawah tadah hujan, yang sangat tergantung pada sifat musim hujan setiap tahun.

Sekiranya hujan kurang maka penghasilan padi pun akan kurang. Keadaan ini barangkali menjadi lebih tampak setelah penduduk mulai bertambah ramai dan sesudah semakin banyak hutan ditebang, yang mengakibatkan pengaliran air sungai menjadi kurang teratur.

Meskipun keadaan pertanian dan petani memang kurang baik sejak dari dahulu namun ia bukanlah merupakan faktor pendorong yang kuat untuk penghijrahan penduduk. Buktinya, tanah yang termasuk paling tandus dan paling sedikit penghasilannya di Sulawesi Selatan yaitu KabupatenTakalar dan Jeneponto hampir tidak ada penduduknya yang pergi merantau di tempat yang jauh.

Faktor internal yang mempengaruhi puncak penghijrahan orang Bugis ke luar adalah karena keadaan politik yang tidak stabil. Sebelum Belanda memasuki ke pedalaman tanah Bugis, wilayah-wilayah itu sudah lama dalam keadaan kacau balau terjadi peperangan antara kerajaan tetangga.

Sehubungan dengan itu apa sebenarnya yang menjadi faktor pendorong kepada orang-orang Bugis untuk pergi berhijrah?

Tidak ada keamanan di tempat tinggal mereka menyebabkan kebanyakan kegiatan ekonomi mereka tidak dapat dijalankan. Di kalangan bangsawan-bangsawan Bugis sesama sendiri seringkali terjadi sengketa karena masing-masing menganggap dirinya lebih berhak mewarisi suatu kerajaan. Keadaan seperti ini menyebabkan banyaknya terjadi pertumpahan darah, perang saudara dan peperangan antara daerah-daerah.

Terpuncak permusuhan antara Gowa dengan Bone dan meningkatnya ketegangan antara VOC dengan Gowa telah menyebabkan terjadinya perang Makassar. Pergolakan politik akibat Perang Makassar tersebut telah menjadi faktor pendorong penghijrahan orang Bugis keluar dari Sulawesi Selatan.

Pada pertengahan abad ke-17, Gowa menjadi salah satu kerajaan terkuat dan terbesar dalam sejarah Nusantara. Begitu tersohornya kekuatan dan kejayaan Gowa sehingga orang-orang di Indonesia Timur sukar mempercayai bahawa VOC berani menentang kekuasaan kerajaan Gowa.

Namun kerja sama yang tidak disangka-sangka antara VOC dengan orang-orang Bugis yang merupakan musuh Gowa, mengakibatkan kerajaan Gowa tertumpas. Pada tahun 1669, Sombaopu, yaitu benteng ibu kota kerajaan Gowa yang sangat kuat dan yang menjadi simbol kemegahan kerajaan Gowa, jatuh ke tangan musuh.

Setelah tumbangnya Gowa, pemimpin baru yang merajai kekuasaan di Sulawesi Selatan ialah Arung Palaka yaitu pahlawan Bugis Bone-Soppeng berjaya mendominasi kekuasaan wilayah Sulawesi.

Akibat pergolakan di Sulawesi Selatan yang melibatkan pihak Belanda dengan kerajaan Bugis lainnya ini telah memberi implikasi terhadap migrasi besar-besaran dalam masyarakat Bugis pada akhir abad ke-17.

Perang Makassar telah meninggalkan akibat terhadap perkembangan tahun-tahun berikutnya. Pertikaian pendapat yang serius dalam kalangan bangsawan Kerajaan Gowa-Tallo, antara kelompok yang menginginkan perdamaian yang kemudian mengakibatkan berlakunya permbelotan dari kalangan pemimpin berpengaruh kerajaan tersebut. Pada November 1667 Perjanjian Bungaya ditandatangani oleh pihak yang berperang untuk mengakhiri perperangan yang berlaku.

Pada akhir tahun 1670, dengan hancurnya Kota Tosora yang mengakibatkan keruntuhan kerajaan Bugis Wajo, juga telah menambahkan peningkatan arus penghijrahan dalam kalangan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan.

Sehubungan dengan itu jumlah perantau Bugis dari Wajo setelah tahun 1670 menjadi lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok lainnya. Pembagian kuasa antara Arung Palakka dengan VOC telah menimbulkan rasa tidak puas hati dalam kalangan masyarakat setempat sehingga mereka melancarkan pemberontakan, namun tidak berhasil.

Akibat dari kegagalan ini juga menjadi faktor pendorong terjadinya migrasi besar-besaran di kalangan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan ke negeri petantauan.

Di samping itu setelah Perjanjian Bongaya dan setelah Belanda berjaya menundukkan Makassar, telah terjadi perubahan dalam bidang perdagangan. Belanda telah memperoleh hak monopoli dalam perniagaan di Sulawesi dan hal ini telah menutup peluang bagi orang-orang Eropah yang lain lalu mereka meninggalkan tempat tersebut. Kemudian dengan itu berlakulah penyempitan kekuasaan Makassar ke atas kerajaan-kerajaan sekitarnya.

Semua bandar dan kawasan yang bertetangga yang dahulunya hak Makassar telah menjadi hak kompeni Belanda. Kompeni Belanda ini juga mempunyai kuasa untuk menjadikan mata uang Belanda menjadi uang yang sah diberlakukan di seluruh Sulawesi. Berawal dari sinilah berlakunya monopoli kuasa Belanda di Sulawesi Selatan pada masa itu.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...