No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Menggagas Pembentukan Lembaga Adat Desa di Kabupaten Bone

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Lembaga adat dibentuk untuk melestarikan dan mengembangkan adat isitiadat dan nilai sosial masyarakat yang bertujuan memperkukuh jatidiri individu dan masyarakat dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.

Selain itu, keberadaan lembaga adat mendukung pengembangan dan pelestarian budaya daerah, menjaga dan memelihara adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat yang bersangkutan, terutama nilai-nilai etika, moral dan adab yang merupakan inti dari adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat. Kesemuanya itu membutuhkan keberadaan lembaga adat.

Selain itu, dengan adanya lembaga adat ini yang pengurusnya adalah para tokoh adat diharapkan dapat mengayomi masyarakat yang ada di sekitarnya serta selalu mengupayakan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif melalui upaya pendidikan formal dan nonformal dalam rangka melestarian adat budaya daerah.

Lembaga adat sebagai mitra pemerintah, sehingga pengurus lembaga adat dapat berkoordinasi, memberikan informasi atau masukan kepada pemerintah daerah melalui komunikasi dengan lembaga-lembaga yang ada terutama dalam hal pelestarian adat istiadat daerah, sosial budaya, agama serta organisasi kemasyarakatan lainnya.

Keberadaan lembaga adat dan tokoh adat tersebut diharapkan dapat menyatukan persepsi yang positif antara masyarakat, mencegah timbulnya perpecahan, menciptakan persatuan dan kesatuan dan yang lebih penting adalah dalam rangka menciptakan dan membangun persepsi pembangunan daerah.

Lembaga adat daerah dapat memfasilitasi dan mendorong terbentuknya Lembaga Adat Desa. Adapun tatacara pembentukan Lembaga Adat Desa, sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa.

Berikut Tatacara Pembentukan Lembaga Adat Desa:

Lembaga Adat Desa atau sebutan lainnya yang selanjutnya disingkat LAD adalah lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat istiadat dan menjadi bagian dari Susunan Asli Desa yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat Desa.

Lembaga Adat Desa (LAD) dapat dibentuk oleh Pemerintah Desa dan masyarakat Desa.

Persyaratan Pembentukan Lembaga Adat Desa :

1. Berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Aktif mengembangka nilai dan adat istiadat setempat yang tidak bertentangan dengan hak asasi manusia dan dipatuhi oleh masyarakat;
3. Berkedudukan di Desa setempat;
4. Keberadaannya bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat Desa;
5. Memiliki kepengurusan yang tetap;
6. Memiliki sekretariat yang bersifat tetap; dan
Tidak berafiliasi kepada partai politik.

Ketentuan lebih lanjut tentang pembentukan Lembaga Adat Desa diatur melalui Peraturan Desa (Perdes).

Tugas Lembaga Adat Desa :

Lembaga Adat Desa (LAD) bertugas membantu Pemerintah Desa dan sebagai mitra dalam memberdayakan, melestarikan, dan mengembangkan adat istiadat sebagai wujud pengakuan terhadap adat istiadat masyarakat Desa.

Fungsi Lembaga Adat Desa :

1. Melindungi identitas budaya dan hak tradisional masyarakat dan unsur kekerabatan lainnya;
2. melestarikan hak ulayat, tanag ulayat, hutan adat, dan harta dan/atau kekayaan adat lainnya untuk sumber penghidupan warga, kelestarian lingkungan hidup, dan mengatasi kemiskinan di Desa;
3. Mengembangkan musyawarah mufakat untuk mengambil keputusan dalam musyawarah Desa;
4. Mengembangkan nilai adat istiadat dalam penyelesaian sengketa pemilikan waris, tanah dan konflik dalam interaksi manusia;
5. Pengembangan nilai adat istiadat untuk perdamaian, ketentraman dan ketertiban masyarakat Desa;
6. Mengembangkan nilai adat untuk kegiatan kesehatan, pendidikan masyarakat, seni dan budaya, lingkungan, dan lainnya; dan
7. Mengembangkan kerja sama dengan Lembaga Adat Desa lainnya.

Jenis dan Kepengurusan Lembaga Adat Desa

Jenis dan kepengurusan Lembaga Adat Desa yang menyelenggarakan fungsi ditetapkan dengan Peraturan Desa (Perdes) dan berpedoman pada Peraturan Bupati/Peraturan Walikota.

Demikian Tatacara Pembentukan Lembaga Adat Desa, sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa.

Bone Dahulu

Sejak dahulu Kabupaten Bone dikenal sebagai pusat peradaban Bugis yang memiliki adat istiadat yang kuat. Selain itu daerah ini selalu menjadi barometer dalam mengukur tingkat keutuhan dan keuletan baik dari sisi politik, ekonomi, maupun sosial kemasyarakatan lainnya.

Akan tetapi dewasa ini nilai-nilai sejarah dan budaya itu sudah mulai tergerus seiring perkembangan zaman. Hal itu juga kehadiran teknologi informasi yang baru saja merambah Kabupaten Bone turut menjadi andil yang seyogianya dipergunakan untuk media penyebaran hal yang positif namun dari pantauan penulis masih banyak di antara mereka yang belum memahami bagaimana menggunakannya.

Seingat penulis keberadaan internet di Bone berawal tahun 2005 dan itupun harus menggunakan telkomnet instan dari PT. Telkom dengan menngunakan jaringan kabel telepon. Penulis kadang harus merogoh kocek sampai 3,5 juta setiap bulan. Apa boleh buat demi untuk mengetahui apa itu internet dan perkembangan dunia luar.

Seiring perkembangan teknologi, saat ini ISP dalam menyediakan sambungan ke internet tidak hanya menggunakan sarana kabel telepon, tapi juga secara wireless (tanpa kabel) dan fiber optik, fiber optik bisa memberikan kualitas koneksi lebih baik dibandingkan dengan kabel telepon.

Untuk saat ini layanan ISP yang paling banyak digunakan adalah yang menggunakan teknologi wireless, karena teknologi ini yang paling murah harga perangkat maupun biaya berlangganan dan paling mudah dalam pemasangan dan penggunaannya.

Contoh dari ISP dengan layanan wireless adalah kita bisa menggunakan modem GSM atau CDMA sebagai perangkat untuk bisa terhubung ke internet dengan di hubungkan dengan komputer atau laptop melalui konektor USB. Kemudian kita menggunakan SIM Card atau kartu perdana GSM atau CDMA untuk berlangganan internet ke Internet Servise Provider, dalam hal ini operator seluler bertindak sebagai ISP.

Saat ini sungguh mudah mengakses yang namanya internet. Sebuah warkop tanpa akses internet bagaikan minum kopi pahit tanpa gula dan memang begitu adanya. Sekarang akses internet sangat mydah dengan beli secangkir kopi ikut pula jaringannya. Murah kan?.

Kita kembali ke LAPTOP, keberadaan internet memunculkan medsos yang semakin memudahkan interaksi antara satu dan yang lainnya. Pertukaran informasi budaya antar suku dan daerah terjadi dan laris manis.

Tapi sayang kebanyakan pengguna masih sebatas men-share. Masih banyak pengguna medsos belum bisa memilah apakah yang dishare itu berdampak atau tidak (budaya share). Hal ini juga sangat mempengaruhi eksistensi budaya.

Budaya adalah perilaku istiadat masa lalu yang berkembang hingga saat ini di mana di dalamnya ada yang dapat diimplementasikan di masa kekinian namun ada pula yang tidak. Budaya masa lalu yang sesuai kehidupan sekarang itulah yang disebut kearifan lokal.

Nah, untuk melestarikan kearifan lokal inilah diperlukan kehadiran lembaga adat. Lembaga ini tidak hanya mengurusi budaya namun bisa menjadi penengah apabila terjadi permasalahan di masyarakat. Persoalan antar individu sering terjadi yang berujung merugikan keduanya. Padahal mungkin bisa saja keduanya menjadi baik dan damai tanpa melalui institusi hukum. Di sinilah peran lembaga adat di desa.

Di Bone ini ada Dinas Kebudayaan yang dibentuk sejak tahun 2016. Semestinya bisa memfasilitasi dan mendukung terbentuknya Lembaga Adat Desa. Dapat dimulai dengan menyusun lebih dahulu perbupnya sebagai landasan hukum yang mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa.

(Mursalim)

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...