No menu items!
11.8 C
Munich
Jumat, 18 September 20

Sejarah Canggoreng Maddetto

Must read

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Membicarakan tentang kacang seakan tidak ada habisnya. Selain karena gurih menyenangkan juga bentuknya yang mungil gempal tak lekang jemu untuk dinikmati. Bahkan makanan yang satu ini sering dikonotasikan salah satu bagian terpenting pada bagian vital perempuan, yaitu klitoris atau “cigi-cigi” kata orang Bugis (red: maafkan daku).

Begitu populernya simungil buruan ini, ia bahkan menjadi majas perbandingan sebagaimana peribahasa bagai kacang lupa kulitnya, artinya orang yang dahulunya miskin setelah menjadi kaya lupa akan asal usulnya. Seseorang yang menjadi sombong, tidak tahu diri dan lupa akan asal usulnya.

Canggoreng Maddetto

Kacang dalam bahasa Bugis disebut “canggoreng” yang berasal dari kata kacang dan goreng. Namun orang Bugis menyebutnya dalam bentuk akronim, yaitu canggoreng. Itulah uniknya bahasa Bugis. Padahal secarah harfiah kacang goreng artinya kacang yang sudah digoreng.

Uniknya lagi ditambah kata “maddetto” yang artinya mengeluarkan bunyi sebelum merekah. Ketika kacang goreng dibuka kulitnya ia menimbulkan bunyi “tok” sehingga disebut “canggoreng maddetto”. Entah makanan yang satu ini karena rasanya gurih atau orang Bugis yang memang unik.

Tahukah Anda kapan mulai populer istilah Canggoreng Maddetto?

Di masa kerajaan Bone dipimpin La Mappanyukki yang memerintah selama 15 tahun (1931-1946). Ia bertemu Soekarno di Bola Subbie bekas istana raja Bone ke-31 Lapawawoi Karaeng Sigeri. Istana tersebut pernah dihancurkan Belanda ketika Perang Bone tahun 1905.

Maksud kedatangan presiden pertama RI tersebut tahun 1950 untuk mengajak Bone bergabung dengan NKRI. Tujuh tahun kemudian dalam tahun 1957 rakyat kerajaan Bone menggelar unjuk rasa (demo) di alun-alun kerajaan (Lapangan Merdeka Watampone sekarang).

Demo yang dikenal paling beradab sepanjang sejarah itu menuntut agar kerajaan Bone bergabung Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendemo sebanyak 3.000 ribu dengan memakai sarung dan songkok recca itu duduk bersila di alun-alun, lalu menyampaikan aspirasinya di hadapan raja La Mappanyukki.

Aspirasi rakyat Bone tersebut disetujui ade pitu dan raja Bone. Itulah sebabnya alun-alun itu disebut alun-alun merdeka atau Lapangan Merdeka sekarang. Artinya sebuah moment sejarah yang pernah terjadi yaitu bergabungnya kerajaan Bone dalam pangkuan NKRI.

Sementara dalam unjuk rasa itu para pedagang dari kampung Bukaka menjajakan dagangannya seperti burasa, sokko bajabu, sawa’, baje, pisang dan kacang di sekitar alun-alun tempat berlangsungnya unjuk rasa. Namun yang paling laris adalah pisang dan kacang goreng atau “utti na canggoreng maddetto”.

Bahkan sampai sekarang menjelang malam tiba, di saat matahari menuju peraduan, pisang plus canggoreng maddetto itu masih bisa kita dapati di sekitar Kantor Pos kota Watampone.

Itulah kilasan sejarah tentang canggoreng maddetto yang populer hingga saat ini. Untuk itu harus dipertahankan dan diperlukan kreasi dan inovasi anak muda ” Festival Canggoreng Maddetto” agar dapat mengangkat nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal serta kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Lagu Bugis Seddi Pariama

Seddi Pariama Lagu Bugis dengan judul Seddi Pariama diciptakan oleh Mursalim. Seddi Pariama artinya sepuluh tahun atau satu dekade. Lagu ini mengisahkan tentang budaya Bugis di...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...