Mantra Bugis Penghindar Hujan

1826

Seperti biasanya saat warga Bugis hendak melangsungkan hajatannya selain mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan juga tak pernah luput memperhatikan hari pelaksanaannya.

Misalnya hajatan pernikahan, di mana sebelumnya pelaksanaannya didahului dengan  berembuk bersama keluarga terdekat untuk membicarakan dan menetapkan hari yang dianggap baik.

Dalam masyarakat Bugis pernikahan suatu hal yang sakral dan merupakan moment pengukuhan dua insan pria dan wanita yang diikat dalam satu kesatuan utuh yang diharapkan selalu bersama hingga akhir hayatnya.

Demikian sakralnya pernikahan itu bagi warga Bugis sehingga hendaknya butuh perencanaan yang kuat karena ini merupakan pertaruhan hidup masa depan.

Kutika Bilangeng Duappulo, salah satu lontara tua yang memuat hitungan kalender 20 hari yang berhubungan dengan pernikahan dalam masyarakat Bugis. Di mana dalam lontara itu menjelaskan hari baik dan buruk dalam melaksanakan acara pernikahan/hajatan.

Seperti disebutkan sebelumnya sewaktu duduk berembuk dalam merencanakan hajatan/pernikahan itu, tidak terlepas membicarakan keadaan cuaca yang juga turut menentukan suksesnya hajatan.

Dalam menghindarkan hujan misalnya ketika pesta/hajatan tengah berlangsung ada saja kebiasaan Bugis, salah satunya dengan menancapkan ranting kayu ke tanah yang tentunya disertai mantra-mantra. Berikut contoh mantranya:

e … kulla-kulla
riawakko labe
riattakko lalo
riajako lesse
rialauko luttu

Na kulesse ri tengnga
Na de tosidduppa mata
ri engkamu maccingara

Terjemahan dalam bahasa Indonesia kurang lebih seperti ini:

hai … kunang-kunang
di utara kau melintas
di selatan kau lewat
di barat kau menghindar
di timur kau terbang

ku menghindar di tengah
agar kita tidak bertatapan
karena kau sedang marah

Dalam artian kunang-kunang di sini adalah “petir” pertanda biasanya akan turunnnya hujan. Di mana kunang-kunang yang disimbolkan sebagai petir menggunakan cahaya mereka untuk mempertahankan diri.

Kunang-kunang mengeluarkan sinar yang memberikan tanda pada musuh bahwa mereka bukan makanan yang lezat. Dalam mantera itu diharapkan petir tidak membawa hujan yang bisa mengganggu acara hajatan.

Bagi orang Bugis mendung disertai kilat/petir bergemuruh adalah sebuah peristiwa alam yang diyakini tidak bisa terhindarkan. Namun dengan doa kepada pencipta serta mantra-mantra bisa saja tidak turun hujan untuk sementara.

Doa dan mantra penghindar hujan yang sifatnya sementara itu biasa disebut “mappanini bosi” atau mantra “penghindar hujan”.

Bahkan kerapkali mantra-mantra itu diungkapkannya dan dilagukan seperti halnya mantra lainnya, yaitu “Panini Bosi” atau “Penghindar Hujan”.

Nini nini bosi
angkanna matuju
natuju orai
mallimporo bekku jawa

mappadue-due aje
ana’na datue
riattanna bulu paja
pajatokko bosi
wellang tokko esso

Adapun terjemahannya dalam bahasa Indonesia yaitu:

hindar-hindar hujan
sampai matuju
tertuju ke barat
beterbanganlah tekukur jawa

sambil duduk kaki menggelantung
buah hati permaisuri
di selatan gunung paja/henti
berhenti pulalah hujan
bersinar jua dikau matahari.

Itulah khazanah budaya Bugis hingga saat ini masih sering kita saksikan sewaktu mereka melaksanakan hajatan dengan tujuan tidak ingin acaranya itu terganggu karena hujan.