No menu items!
14.4 C
Munich
Senin, 21 September 20

Attoriolong Naskah Kuno Bugis

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Naskah Kuno Bugis yang biasa disebut “attoriolong” yang banyak memuat seluk beluk kehidupan Bugis di masa lampau. Naskah asli attorioling ditulis dalam huruf lontara. Contoh attoriolong adalah I La Galigo.

La Galigo adalah salah satu naskah kuno Bugis dari Sulawesi Selatan yang merupakan naskah klasik terpanjang di dunia melebihi Mahabharata dan Odisseus.

Panjang naskah I La Galigo adalah 360.000 bait, sedangkan Mahabharata 156.000 bait. Awalnya I La Galigo berupa nyanyian yang dianggap keramat. Naskah ini menjadi saksi zaman tentang kehidupan sosial orang Bugis kuno, di mana menurut para ahli, naskah ini ditulis pada abad ke-13 sampai ke-15.

Naskah La Galigo ditulis dalam bahasa Bugis kuno dengan huruf Lontara tua, namun saat ini telah ditulis kembali dan sudah banyak diperedaran. Diterbitkan dalam bahasa yang telah diterjemahkan dan disesuaikan dengan zaman saat ini, namun tidak mengurangi makna dan pesan ceritanya.

Naskah I La Galigo bertahun-tahun tersimpan rapi di Universitas Leiden Belanda, dan selama tujuh tahun sejak 2004-2011, naskah La Galigo ini dipentaskan di 13 kota di sejumlah negara, namun sementara di tanah kelahirannya yaitu Sulawesi Selatan kurang dikenal. Berkat pementasan di beberapa negara tersebut bahkan La Galigo menjadi milik dunia.

Sure’ Galigo, I La Galigo, atau Galigo, atau disebut juga La Galigo adalah sebuah epik mitos penciptaan dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan yang ditulis antara abad ke-13 dan ke-15 dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno, ditulis dalam aksara Lontara Bugis kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima dan selain menceritakan kisah asal usul manusia, juga berfungsi sebagai almanak praktis sehari-hari.

Epik ini dalam masyarakat Bugis berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan tradisional Bugis penting.

Versi tertulis hikayat ini yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, di mana versi-versi yang sebelumnya telah hilang akibat serangga, iklim atau perusakan. Akibatnya, tidak ada versi Galigo yang pasti atau lengkap, namun bagian-bagian yang telah diawetkan berjumlah 6.000 halaman atau 300.000 baris teks, membuatnya menjadi salah satu karya sastra terbesar.

Lirik-lirik dalam sure’ (naskah) La Galigo dilukiskan dalam syair lagu. Hal ini dilakukan agar mudah diingat. Dalam lirik dan syair itu banyak menceritakan pesan dan petuah serta kehidupan sosial Bugis di masa lampau.

Demikian cerdasnya Orang Bugis Masa Lampau, dengan segala keterbatasan dan fasilitas yang ada namun mampu memikirkan kebutuhan generasi dan anak cucunya.

Jadi La Galigo adalah sebuah buku yang memuat “attoriolong” yang memuat kehidupan sosial Bugis masa lampau. Dengan adanya itu generasi Bugis ke kinian dapat mengetahui asal-usul dan budayanya. Dengan dasar itu kemudian generasi Bugis selanjutnya banyak menciptakan lagu-lagu yang sarat dengan petuah seperti yang saya rilis pada tanggal 1 Januari 2018 lalu “Lagu Ininnawa Sabbarae” yang tak lekang masa itu.

La Galigo sebagai Kitab Sakral Orang Bugis adalah sebuah sastra. Di mana karya sastra tidak hanya dinikmati sebagai bentuk dialektik antara teks dengan pembacanya. Lebih dari itu, karya sastra juga menjadi bagian penyampaian kondisi sebuah masyarakat di masa lampau dengan perubahan dari pertemuan kebudayaan.

Inilah yang tercermin dalam La Galigo, salah satu karya sastra teks Bugis kuno berbentuk epik yang ditulis di abad ke-13 yang saat ini menjadi kitab sakral Bugis. Dari naskah La Galigo ini bisa diketahui kondisi masa-masa awal masuknya Islam di tanah Bugis.

Sastra La Galigo tidak hanya dinikmati sebagai sastra tapi juga sebagai sarana Islamisasi bagi orang Bugis. Islamisasi yang memanfaatkan sastra ini dilakukan tanpa menyingkirkan unsur-unsur lama orang Bugis. Namun, menyesuaikan unsur Islam dengan sistem kebahasaan Bugis yang menjadikan Islam dapat diterima dengan baik.

Sebelum menerima agama Islam, orang Bugis di Sulawesi Selatan telah menganut sebuah kepercayaan kuno yakni kepercayaan terhadap Dewata Seuwae (Tuhan Yang Tunggal). Sebelum itu, orang Bugis telah menganut sebuah kepercayaan kuno yakni kepercayaan terhadap Dewata Seuwae (Tuhan Yang Tunggal). “Orang Bugis biasa menyebutnya Dewata Sisinae. Bahkan sisa-sisa kepercayaan terhadap Dewata Seuwae ini dapat dilihat pada masyarakat To Lotang di Amparita, Kabupaten Sidenreng Rappang.

Dewa-dewa dalam kepercayaan Bugis Kuno sebagaimana dikisahkan dalam La Galigo berdiam di dunia atas (Boting Langi) dan dunia bawah (Buri Liu). Tapi seiiring masuknya Islam dari Asia Barat, menggeser kepercayaan Dewata Sisinae dengan konsep Allah Subhanahu Wa Taala, melalui ajaran-ajaran tauhid.

Pengucapan doa-doa dan ayat Al-quran pun juga disesuaikan pengucapan bahasa Bugis. Dalam praktik ibadah seperti mandi, berwudhu, salat, dan zikir dimasukkan sebagai bagian mantra Bugis. Strategi yang bersifat akomodatif ini menyebabkan Islam mudah diterima dengan warna tersendiri di kalangan orang Bugis.

Sebagian masyarakat Bugis, hingga kini, naskah La Galigo diyakini sebagai kitab sakral yang tidak boleh dibaca tanpa didahului sebuah ritual tertentu seperti menyembelih hewan. Umumnya naskahnya dibaca dengan cara dilagukan pada saat akan membangun rumah, musim tanam, pesta pernikahan, atau doa tolak bala, dan kegiatan kultur lainnya. Kegiatan “massure” salah satu bagian dari La Galigo.

Olehnya itu, sebelum memeluk Islam orang Bugis menjadikan La Galigo sebagai “kitab ajaran” sebagaiman kitab Qur’an yang lebih sempurna saat ini.

Untuk membuyarkan suasana berikut ini contoh kata Mutiara Bugis yang dikembangkan dari attoriolong yang bukan mustahil bisa melahirkan galigo-galigo selanjutnya.

1. Senge’ka rimula wenni
kubali senge’ki rigiling tinroku
Artinya :
Kenanglah aku ketika malam mulai gelap
Niscaya akan ku kenang pula dirimu
Ketika aku terjaga di pertengahan malam

2. Sompe’ki topada sompe’
Tapada mamminanga
Tosilabuang
Tapada malani laleng
nasseddingie atitta
Tosilolongeng

Artinya :
Marilah kita menempuh jalan yang dapat menyatukan hati kita,
Agar kita dapat mencapai sebuah kesepakatan.

3. Resopa tammangingngi naletei pammase dewata seuwwa’e
Artinya :
Rahmat Allah akan turun kepada orang-orang bekerja keras tanpa kenal sifat menyerah.

Gelombang laut yang maha besar tak manpu menggerakkan air yang dalam. Begitu pula iman bila dangkal permukaaannya gampang disambar ombak dan terombang-ambingkan. Namun apabila iman terhujam dalam, gelombang macam apapun tak akan manpu menggoyahkannya. Orang-orang yang benar-benar beragama, kebal terhadap segala macam cobaan dan tekanan. Hidupnya seimbang sehingga manpu menghadapi hari-harinya dengan tenang.”

4. Duwami riala sappo unganna panasae belo kanukue
Duwami riyala sappo lempu’e sibawa paccingnge.

Artinya:
Dua yang yang dijadikan pagar adalah kejujuran dan kesucian. Pagar diri setiap orang sebenarnya sudah cukup bila ia memiliki keduanya, yaitu ia dapat memelihara sifat jujur dan perbuatannya bersih dari noda dan pelanggaran.

Malempu adalah makkebolai ada tongenge ri alena naiyya sampoengngi ada tongengnge bellewe.
Artinya:

Jujur itu adalah terdapatnya perkataan yang benar dalam diri seseorang dan yang merusak kejujuran adalah pekataan dusta, atau sifat yang suka berkata bohong. Bahkan ada ungkapan yang lain tentang pengharapan yang tinggi atas berlansungnya suasana kejujuran dalam sebuah masyarakat

Tennapodo mannennungeng lempue tettong tungke tenri girangkirang.

Artinya ; Semoga kekal suasana kejujuran dalam masyarakat, berdiri dengan kukuh tanpa ada yang menandinginya. Ini menandakan bahwa masyarakat Bugis sungguh sangat menyukai kejujuran dan berharap akan berada di dalam suasana itu terus-menerus.

Teppadaki makkatenning paccimang riawa bakkaweng nipa’e (Pada sitarongekki’ siri’, iyaregga ripada jagai sirita).
Artinya:
Kita harus saling menghargai, saling hormat menghormati, saling menjaga diri supaya tidak terjadi saling menyakiti dan saling mengumbar aib.” Itulah pokok harga diri manusia yang biasa disebut sipakatau atau saling memanusiakan. Sehingga terjadi keharmonisan hidup ditengah-tengah masyarakat.

”Sagala-sagala tongeng iyapa nasagala tallepi mannessae (Macca-macca tongeng iayapa natentu amaccangenna engkapa maddupa rigau’na).
Artinya :
Orang itu benar-benar pintar jika ia dapat membuktikan dengan kerja nyata atas kepintaran atau ilmu yang diketahuinya itu.

Taro-i sirimu ri onrong sitinajae
Artinya :
Tempatkanlah sirimu (harga dirimu) pada tempat yang sepatutnya.

Upappada tinuluku rappe’ natuddu’ solo’ temmappangewaku ( De upangewai, kegi-kegi maelo natiwi, kuwana lao. Agi-agi maela napugau detona kupangewai apa pura uwerenni akkateppereng).

Artinya: Aku tidak akan membatahnya di mana aku dibawa di situlah kau berada. Apapun yang dikerjakan aku tidak memprotesnya karena aku telah memberikan kepercayaan kepadanya.

Polo pang polo panni, Rekko elo ajjoareng tempeddingngi tenripugau
Artinya:
Walaupun paha dan tangan terancam patah jika itu merupakan kehendak pimpinan (panutan mereka), pantang tidak dilaksanakan). Tapi tentunya ini didasari bahwa orang diberikan kepercaan itu memilki tanggung jawab

Massimangnga nasompereng passompe’ tebbolai padoma na sompe’ ( Massimangnga naparenta atau na atoro’ tau temmissengngengngi laleng ripoasalamakengnge).

Artinya :
Aku menyerah (tidak akan dapat menerima) diatur atau diperintah oleh orang yang bodoh tidak mengetahui jalan yang dapat menyelamatkan kita dari bencana dan bahaya. Jelasnya loyalitas diberikan kepada orang yang berada dalam kebenaran dan memperjuangkan kebenaran. Janganlah memeberikan loyalitas kepada orang yang salah dan meperjuangkan kesalahan, karena kita mengendarai lopi sebbo’ (perahu bocor), yang sudah jelas akan membinasakan kita di dunia mapun di akhirat.

Mauni buaja bulu nalise’ ampeloi teawa’ nalureng
Mauni tomacca namaja sipa’na teawa naparenta.
Artinya :
Meskipun orang itu cerdas tapi tidak memilki sipat yang baik maka sya tidak ingin diperintah atau dituntun olehnya. Jadi kecerdasan harus bersanding dengan akhlak yang baik baru dapat diterima baik di tengah-tengah masyarakat.

Siapa yang disebut orang cerdas?

Tau magello akkalennna dena napaccaireng, saba sampoenggi akalengnge iyanaritu sipa’ paccairengnge.
Artinya:
Orang cerdas adalah orang yang bagus akalnya (terarah pemikirannya), tidak suka marah, karena yang menutupi akal pikiran manusia adalah sifat suka marah. Jadi orang cerdas adalah orang yang memiliki akal pikiran yang baik. Seperti ia dapat bersabar dalam menghadapi persoalan yang genting, tahan banting terhadap ujian hidup, proaktif mencari solusi yang dapat menyelasaikan urusannya dengan baik.

Wennang pute mappesona ejae mamminasa bali sipuppureng
Narekko gau’ mapaccing muwa, iyamua ripujie ripugau, waranika mewako siamateng.

Artinya :
Jika perbuatanmu adalah perbuatan suci (benar), perbuatan baik, maka aku berani mati berjuang bersamamu. Jadi syarat keberanian adalah bersanding dengan kebenaran dan kesucian perlakuan. Bila tidak, maka keberanian itu adalah keberanian yang buta. Berani karena benar takut karena salah.

Narekko mateko rilalenna tongengnge, mate risantangikotu mbe’
Artinya :
Jikalau kau mati dalam mempertahankan kebenaran, maka matimu berada dalam kelezatan (mati dalam santan). ”

Iyasiya minasakku pattana waliengngi assimellerengnge
Iyasiya teppaja uwammenasai passibali-baliengngi assipojingnge.
Artinya :
Masalah yang tak pernah pupus dari idamanku adalah terwujudnya perasaan saling menyayangi di antara kita.

Engkako ritu sompereng deceng munawa-nawa lise’pa murewe.
Mabelakotu lao sappai decengnge, iyapa mulisu mulolongeppi muwakkattaiyye.
Artinya :
Kau telah pergi jauh mencari kebaikan (keberuntungan), janganlah kembali sebelum dicapai apa yang dicita-citakan.

Sipanrasa-rasa memeng jemmae inappae siempe mabere’.
Pada resomemeppa tauwwe inappae silolongeng sitiwi lao rimadecengnge, rialebbirengnge.
Artinya :
Dengan kerja sama yang baik orang-orang akan bersama-sama memperoleh kebaikan, keberuntungan dan kemuliaan.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...