No menu items!
19.8 C
Munich
Senin, 21 September 20

Cara Orang Bugis Menjaga Lisan

Must read

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Disadari atau tidak, mahluk yang satu ini (manusia) memang gemar melakukan sesuatu hal yang buruk. Mulutnya sebagai alat makan minum dan bicara kerap disalahfungsikan untuk menghina bahkan menjelek-jelekan yang lainnya. Kepandaian mereka kerap hanya digunakan sebagai kecerdikan dan memperdayai orang sekitarnya.

Akal pikirannya yang semestinya digunakan kepada hal-hal lebih bermanfaat tapi digunakan hanya mencela, mengejek, mengumpat, menjelek-jelekkan, mengatai-ngatai, dan sejenisnya. Celakanya lagi celaan itu hanya untuk kepentingan tertentu. Bahkan orang-orang seperti ini hanya disibukkan terhadap hal-hal yang lebih banyak menuntut. ” lomi ande delo eco” kata sindiran Bugis.

Lebih lanjut Tuah Bugis mengatakan: Naiya accae ripatoppoki jekko, agato aliri, narekko teyai mareddu’, mapoloi. Artinya: kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercabut, ia akan patah. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan.

Ini adalah kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa malapetaka. Iya, ilmunya tinggi tapi buta paham.

Untuk jelasnya, mari kita cermati pesan-pesan Bugis di bawah ini:
Limai awangenna narilolongeng deceng, yanaritu:
1. pakatunai alemu ri sulesanae;
2. saroko mase risulesanae;
3. makkareso patujue;
4. moloiyye roppo roppo narewe;
5. molae laleng namatike’ nappa sanre’ ri Alla Taala.

Maksudnya :

Lima jenis sifat manusia menghasilkan kebaikan, yaitu:
1. merendahkan diri sepatutnya,
2. mencari kawan/sahabat sepatutnya,
3. berbuat/bekerja yang baik dan benar,
4. kembali apabila menghadapi rintangan,
5. waspada dalam perjalanan sambil berserah diri kepada Allah SWT.

Nah, ternyata sesuatu yang kita anggap biasa-biasa saja bisa berujung petaka kepada kita dan juga orang lain yang ikut-ikutan dengan apa yang kita lakukan.

Para ulama juga kerap mengingatkan, bahwa kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Neraka bagi manusia yang suka mencela dan mengejek. Jadi intinya terkutuklah bagi orang yang selalu mencela, mengejek, mengumpat, menjelek-jelekkan, mengatai-ngatai, dan sejenisnya. Apalagi celaannya itu hanya untuk kepentingan tertentu.

Jika ada orang lain yang mengajak kita mencela hanya untuk mencela dan menutut yang tidak jelas, pikir lebih dahulu. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan dan segera menghindar. Bahkan jika perlu mengingatkan mereka untuk menghentikan apa yang mereka lakukan agar terhindar dari harapan sesaat belaka.

Oleh karena itu mari kita jaga lisan, jangan dikotori dengan perkataan-perkataan yang tidak perlu apalagi yang menambah perbendaharaan dosa kita selama hidup di dunia. Namun semuanya kembali kepada cara berpikir kita masing-masing.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Apakah Anda masih menggunakan buku dan pena untuk mencatat hal hal penting?

Ketika tangan sedang menggunakan suatu alat maka otak juga menggunakannya. Mencatat dengan tangan adalah cara yang ampuh untuk memaksimalkan kemampuan otak untuk mengingat informasi. Mencatat...

Lagu Anak : Gembira di Desa

Lagu Anak: GEMBIRA DI DESA Sungguh indah alam di desa Kampung halamanku berseri-seri Bila malam menjelang tiba Kududuk menanti bulan purnama Ayah Bunda pun bernyanyi Menghibur hatiku Esok hari berganti Seruling gembala...

Adab Bersendawa yang Perlu Diketahui

Bersendawa (bugis : Mattingkaro) biasanya terjadi setalah kita selesai makan atau minum sesuatu. Bersendawa akan muncul spontan saat kita merasa kenyang. Sebenarnya hal ini...

Masjid Tua di Amerika yang Masih Berdiri Kukuh Sampai Sekarang

Seberapa besar jumlah penduduk Muslim di Amerika bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab. Pemerintah Federal sendiri tidak punya angka yang resmi, sebagian karena Jawatan Sensus...

Daftar Masjid Tua di Indonesia

Berikut ini daftar Masjid Tua dan Bersejarah di Indonesia yang dikutip dari berbagai sumber. Dan dimungkinkan masih banyak yang tidak tercatat di sini begitu...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...