No menu items!
0.7 C
Munich
Senin, 30 November 20

Cara Orang Bugis Menjaga Lisan

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Disadari atau tidak, mahluk yang satu ini (manusia) memang gemar melakukan sesuatu hal yang buruk. Mulutnya sebagai alat makan minum dan bicara kerap disalahfungsikan untuk menghina bahkan menjelek-jelekan yang lainnya. Kepandaian mereka kerap hanya digunakan sebagai kecerdikan dan memperdayai orang sekitarnya.

Akal pikirannya yang semestinya digunakan kepada hal-hal lebih bermanfaat tapi digunakan hanya mencela, mengejek, mengumpat, menjelek-jelekkan, mengatai-ngatai, dan sejenisnya. Celakanya lagi celaan itu hanya untuk kepentingan tertentu. Bahkan orang-orang seperti ini hanya disibukkan terhadap hal-hal yang lebih banyak menuntut. ” lomi ande delo eco” kata sindiran Bugis.

Lebih lanjut Tuah Bugis mengatakan: Naiya accae ripatoppoki jekko, agato aliri, narekko teyai mareddu’, mapoloi. Artinya: kepandaian yang disertai kecurangan ibarat tiang rumah, kalau tidak tercabut, ia akan patah. Di Bugis, tiang rumah dihubungkan satu dengan yang lain menggunakan pasak. Jika pasak itu bengkok sulit masuk ke dalam lubang tiang, dan patah kalau dipaksakan.

Ini adalah kias terhadap orang pandai tetapi tidak jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan (berkah), bahkan dapat membawa malapetaka. Iya, ilmunya tinggi tapi buta paham.

Untuk jelasnya, mari kita cermati pesan-pesan Bugis di bawah ini:
Limai awangenna narilolongeng deceng, yanaritu:
1. pakatunai alemu ri sulesanae;
2. saroko mase risulesanae;
3. makkareso patujue;
4. moloiyye roppo roppo narewe;
5. molae laleng namatike’ nappa sanre’ ri Alla Taala.

Maksudnya :

Lima jenis sifat manusia menghasilkan kebaikan, yaitu:
1. merendahkan diri sepatutnya,
2. mencari kawan/sahabat sepatutnya,
3. berbuat/bekerja yang baik dan benar,
4. kembali apabila menghadapi rintangan,
5. waspada dalam perjalanan sambil berserah diri kepada Allah SWT.

Nah, ternyata sesuatu yang kita anggap biasa-biasa saja bisa berujung petaka kepada kita dan juga orang lain yang ikut-ikutan dengan apa yang kita lakukan.

Para ulama juga kerap mengingatkan, bahwa kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Neraka bagi manusia yang suka mencela dan mengejek. Jadi intinya terkutuklah bagi orang yang selalu mencela, mengejek, mengumpat, menjelek-jelekkan, mengatai-ngatai, dan sejenisnya. Apalagi celaannya itu hanya untuk kepentingan tertentu.

Jika ada orang lain yang mengajak kita mencela hanya untuk mencela dan menutut yang tidak jelas, pikir lebih dahulu. Sebaiknya kita tidak ikut-ikutan dan segera menghindar. Bahkan jika perlu mengingatkan mereka untuk menghentikan apa yang mereka lakukan agar terhindar dari harapan sesaat belaka.

Oleh karena itu mari kita jaga lisan, jangan dikotori dengan perkataan-perkataan yang tidak perlu apalagi yang menambah perbendaharaan dosa kita selama hidup di dunia. Namun semuanya kembali kepada cara berpikir kita masing-masing.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...