No menu items!
0.9 C
Munich
Kamis, 26 November 20

Sejarah Tana Bangkalae Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

1. Sejarah

Situs Tanah Bangkalae merupakan suatu tempat dipersatukannya tiga tanah yang secara adat didatangkan dari tiga Kerajaan Besar di Sulawesi, yaitu Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa.

Tana Bangkalae sebelum dipindahkan

Hasil penyatuan dan percampuran ketiga tanah tersebut maka terjadilah perubahan warna dari masing-masing warna aslinya.

Setelah dipadukan ketiga tanah tersebut serta merta berubah menjadi warna kemerah-merahan dalam bahasa Bugis disebut bangkala, dari sinilah sehingga disebut “Tanah Bangkalae” sampai sekarang.

Karena memberikan makna yang diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa, selanjutnya ketiga tanah tersebut dinamakan “Tanah Ritappa Dewata” yaitu, tanah yang dibentuk oleh Allah yang Maha Kuasa.

Tana Bangkalae setelah dipindahkan dan dipugar tahun 2004

Dengan dipersatukannya ketiga tanah kerajaan tersebut dimaksudkan sebagai pertanda kesepakatan bersama Kerajaan Bone, Kerajaan Luwu, dan Kerajaan Gowa dalam mewujudkan sebuah bentuk perdamaian dan kerja sama dalam menata kerajaan masing-masing.

Adapun isi perjanjian Tana Bangkalae dilukiskan sebagai berikut:

1. Nyawa, tubu, sengereng, silabuang ribatewe, tellu ukkung siame sibaliperiwi.
2. Tessinawa rija, Tessipikki warangparang.
3. situppu bulu conga, siporio ri tanetewe
4. Sipaboneri, Sipaluwuri, Sigowari, siparajoi lettu ana’ pattola malampe-ewe.

Artinya:

1. nyawa, raga dan kenangan tertanam ditiga tanah bersatu tanpa saling menganggu.
2. Tidak saling mencelakai tidak saling mengungguli potensi.
3. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah melangkah sama-sama.
4. Bone Luwu Gowa bersatu hingga anak generasi.

Situs Tana Bangkalae sejak awal masa pemerintahan Raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka yang memerintah dalam 1696-1714.

Pada masa itulah kerajaan Bone, Luwu, dan Gowa menyatakan bersatu dalam persaudaraan, sehingga tidak ada lagi permusuhan.

Setelah itu, di tempat inilah setiap raja Bone dilantik oleh Ade Pitu sejenis DPR sekarang.

Dengan demikian sejak raja Bone ke-16 hingga Raja Bone ke-33 dilantik di Tana Bangkalae.

Raja Bone ke-16 Lapatau Matanna Tikka dilantik di Tana Bangkalae tanggal 6 April 1696. Dialah raja yang pertama dilantik di tempat itu.

Lokasi situs Tana Bangkalae ini berada di tengah kota, tepatnya di kawasan Simpang Tujuh kota Watampone, tak jauh dari rumah jabatan Bupati Bone.

2. Pemugaran dan Pemindahan Situs:

Tana Bangkalae dipindahkan dan dipugar tahun 2004 pada pemerintahan periode pertama H.Andi Muh.Idris Galigo. Ia memerintah di Bone selama dua peride, yaitu periode pertama 2003-2008 dan periode kedua 2008-2013.

Setelah dipindahkan dan dipugar kemudian diresmikan Gubernur Sulawesi Selatan H.Amin Syam pada Tanggal 2 November 2004.

Situs sejarah Tana Bangkalae ini awalnya berada di sudut kiri bagian depan Toko Internasional. Jadi hanya berpindah tempat sekitar empat meter dari tempatnya semula.

Namun disayangkan di tempatnya yang baru sebagian mengambil bahu jalan sehingga jalanan menjadi sempit dan sangat mengganggu pengguna jalan.

Solusi pemindahannya yang baik harusnya digeser lagi sekitar dua meter ke arah timur. Karena areanya masih sangat lowong.

Selain itu, sebagai situs sejarah mestinya harus dijaga kebersihannya karena setiap saat ada wisatawan domestik yang sering berkunjung.

3. Arwah Penunggu:

Toko Internasional yang sebelumnya bernama Bang Hong Liong dibangun dalam tahun 1920. Dalam usia 100 tahun bangunan yang terletak di Jalan Tana Bangkalae Watampone tersebut masih berdiri kukuh.

Toko Internasional, 10 Januari 2020

Hamid Kok si pemilik toko menuturkan ” saya lahir tahun 1949 toko ini dibangun pada saat saya masih berumur 29 tahun” tuturnya, Jumat 10 Januari 2020.

Seraya menjelaskan, awalnya Tana Bangkalae berukuran 2 x 2 meter di tengahnya terdapat lubang sedalam 2 meter yang berisi tanah warna kemerah-merahan karenanya disebut bangkala’.

“Saya tahu sedikit sejarahnya karena semasa orangtua masih hidup sering bercerita tentang keanehan tempat ini” kisah Hamid Kok.

Lanjutnya, kalau letak Tana Bangkalae itu yang di sudut toko, dan memang di situ, jadi kalau ada orang mengatakan di samping toko itu tidak benar, “tapi semasa Bupati Andi Syamsu Alam diduplikasi di situ” kisahnya sambil menunjuk hasil duplikasi Tana Bangkalae yang hanya berjarak sekitar 4 meter dari posisi aslinya.

“salah-salah jug dipindahkan pak karena mengambil bahu jalan, sebaiknya geser lagi ke arah tengah biar lebih pas, dan di sini biasa terjadi kecelakaan gara-gara itu karena dibangun di bahu jalan” tuturnya.

“Dulu pak, di Tana Bangkalae kalau tengah malam saya kerapkali mendengar bunyi gemerincing kemudian muncul sekelebat sosok bayangan putih seperti bersurban, tapi karena sudah terbiasa saya juga tak merasa takut” kisahnya.

” Jadi di sini ada penunggunya pak, kalau terdengar ramai barangkali ada pertemuan arwah dari raja Bone, Luwu, dan Gowa. Karena di sini dahulu tempat pertemuannya” kisah Hamid Kok.

Hamid Kok, Pemilik Toko Internasional, 10 Januari 2020

“Arwah-arwah penunggu itu tidak menggangu kita seperti arwah jahat lainnya. Namun akhir-akhir ini tak pernah lagi menampakkan diri karena sudah ramai lalu lintas” tuturnya.

Lanjut mengatakan, “Sampai saat ini Tana Bangkalae ini sering dikunjungi orang dari luar Bone-Luwu-Gowa sambil bawa dupa dan makanan, mungkin itu keturunan raja” ungkapnya.

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...