No menu items!
4.4 C
Munich
Rabu, 25 November 20

Sejarah Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif (Masjid Agung) Kabupaten Bone

Must read

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Kabupaten Bone yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam hal itu seiring dengan jumlah tempat peribadatan agama Islam yang ada.

Berdasarkan data Kabupaten Bone Dalam Angka tahun 2019 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Bone, bahwa di kabupaten Bone terdapat sebanyak 1.447 masjid dan sebanyak 1.584 musalla yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten Bone.

Masjid terbanyak berada di kecamatan Kahu yaitu sebanyak 103 masjid. Sementara untuk Musallah terbanyak juga berada di kecamatan Kahu yaitu sebanyak 105 mushalla. Disusul oleh kecamatan Libureng sebanyak 86 masjid dan juga sebanyak 86 mushalla. Dan yang paling kurang berada di kecamatan Salomekko yaitu 33 masjid dan 44 mushalla.

Dari sekian itu, menunjukkan Bone adalah salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang paling banyak memiliki masjid dan musallah.

Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif Kabupaten Bone terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Watampone, awalnya bernama Masjid Agung “As-Salam” Kabupaten Bone, yang ketika itu Bupati dijabat oleh H. Andi Syamsoel Alam.

Akan tetapi perubahan nama tersebut dilakukan pada periode pemerintahan Bupati Bpk. H. Andi Muh. Idris Galigo yang bermula dari cita-cita untuk menjadikan masjid ini sebagai pusat peradaban Islam di Kabupaten Bone khususnya dan di belahan timur provinsi Sulawesi Selatan pada umumnya.

Sementara itu, interior dan pemeliharaannya dimaksimalkan oleh Bupati Bone sekarang ini Bpk H.Andi Fahsar Mahdin Padjalangi.

Kata “Al-Ma’arif” bentuk jamak dari kata ma’rifah dan dari kata ‘arafah yang artinya mengenal. Makna kata ini mencakup segala yang dikenal, baik dalam konteks agama, sains, maupun adat kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat baik dalam skala lokal maupun skala kebangsaan.

Oleh karena itu, nama Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif akan mengilhami lahirnya kebajikan serta tumbuh dan berkembangnya peradaban Islam di Kabupaten Bone.

Keberadaan Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif tidak lepas dari peran besar Pemerintah Daerah Kabupaten Bone. Secara historis masjid yang berdiri berhadapan kantor Bupati ini mulai dibangun sejak tahun 80-an.

Kala itu pejabat Bupati adalah H.P.B. Harahap yang memerintah tahun 1976-1982. Selanjutnya Perampungan pembangunan pisik sarana ibadah tersebut telah selesai ketika pejabat Bupati saat itu adalah H. Andi Syamsoel Alam (1988-1993).

Pada pertengahan periode pertama masa kepemimpinan bupati H. Andi Muh. Idris Galigo, bangunan monumental tersebut mendapat perhatian yang cukup serius.

Di mana rehabilitasi besar-besaran dilakukan pada seluruh bagian masjid. Sejalan dengan itu, struktur organisasi dan personalia kepengurusan juga telah dibentuk. Pelantikan pengurus oleh Bupati H. Andi Muh.Idris Galigo berlangsung akhir Januari 2008.

Struktur organisasi ini disusun dalam dua bentuk, yaitu:

Pertama, organisasi yang mengatur internal masjid. Kenyamanan dan keamanan pelaksanaan ibadah merupakan fokus utama bagi personil yang menangani bagian ini. Pengembangan wawasan keilmuan, pembinaan generasi muda dan pelatihan keterampilan yang berdaya saing juga menjadi keniscayaan untuk dikembangkan.

Kedua, organisasi yang mengatur pelayanan umat, baik yang bersifat fisik material, seperti koperasi, kantin dan katering, balai pengobatan, maupun yang bersifat psikis/mental, seperti biro konsultasi dan rehabilitasi sosial, konsultasi hukum dan keluarga, maupun bagi keduanya, seperti pengurusan jenazah dan pengelolaan zakat.

Selanjutnya Tata Letak Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif:

Masjid ini tepatnya terletak di bilangan Jl. Ahmad Yani dan HOS Cokroaminoto Kecamatan Tanete Riattang Barat. Jadi Letak Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif ini cukup strategis. Beberapa bangunan perkantoran milik pemerintah berada di seputaran masjid tersebut.

Di sebelah utara berjejer sejumlah kantor,
seperti Kantor Bupati Bone, Kantor Kementerian Agama, Kantor Badan Koordinasi Wilayah II Provinsi Sulawesi Selatan, Kantor Catatan Sipil, Kantor Badan Pusat Statistik, Kantor Dinas Kominfo dan Persandian, Kantor Dinas Pendidikan, Rumah Sakit Umum “Tenriawaru”, dan lainnya.

Di sebelah timur, berdiri kantor Gapensi dan sederetan toko tempat usaha milik warga masyarakat. Di sebelah Barat, terdapat kampus UAIN Watampone dan Kantor Pengadilan Negeri Watampone serta sederetan toko tempat usaha dan perumahan. Di sebelah selatan, bangunan SMA Negeri 4 Watampone membentang puluhan meter ditambah sejumlah rumah warga.

Kemudian Tata letak Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif Kabupaten Bone menggambarkan pola tatanan kebudayaan Islam di mana di sekitar masjid terdapat lembaga pemerintahan yang merepresentasikan pusat pengembangan daerah serta sarana dan prasarana pendidikan, ekonomi dan sarana sosial.

Hal ini menunjukkan, bahwa terdapat relasi antara penempatan masjid sebagai pusat pengembangan agama Islam dengan sistem pemerintahan di kabupaten Bone.

Konsep tersebut sejalan dengan pola tata letak kota-kota Islam Jawa yang menggambarkan orientasi serta konfigurasi tata letak yang saling mengikat dan terpola antara masjid dan kedaton sebagai pusat pemerintahan.

Morfologi Masjid

Bangunan Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif
berdiri pada tahun 1980 di atas tanah seluas 35.000 meter persegi dengan luas bangunan 60×80 meter persegi. Lantai atas yang menjadi pusat kegiatan salat, pengajian rutin dan yang semacamnya dapat menampung kurang lebih 5000 jamaah. Masya Allah

Di tengah-tengahnya berdiri 16 tiang besar sebagai pilar bangunan. Tiang pada bagian bawah berbentuk segi empat dengan ukuran 1,2 meter pada setiap sisinya. Sedangkan bagian atas yang panjangnya kurang lebih 10 meter berbentuk bundar dengan garis tengahnya 70 cm. Pada beberapa tiang tertentu disiapkan rak, tempat penyimpanan kitab suci Al-Quran dan buku-buku doa.

Lantai dasar telah disekat menjadi beberapa ruangan. Tiga ruangan bagian depan dijadikan sebagai sekretariat Yayasan Al-Markaz Al Islami sekaligus sebagai ruang sekretariat pengurus Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif.

Terdapat pula ruangan sekretariat remaja masjid dan ruang persiapan perpustakaan masjid serta ruang bimbingan belajar atau kursus-kursus, bahkan sebelumnya terdapat ruangan untuk Radio Al Maarif pada frekuensi 100,1 Fm.

Pada bagian lain di lantai satu terdapat Sekretariat DPD Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Kabupaten Bone yang di dalamnya juga terdapat sekat untuk ruang Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Alquran (LPPTKA-BKPRMI Kabupaten Bone).

Selain itu juga terdapat ruangan untuk TK/TPA Al-Markaz Al-Ma’arif. Sementara Ruang lainnya juga dimanfaatkan untuk sekretariat Badan Amil Zakat Kabupaten Bone.

Selain itu terdapat ruangan yang cukup luas pada bagian belakang sewaktu-waktu bisa dipersewakan untuk kegiatan rapat kerja bagi instansi dan organisasi atau seminar dan acara pesta pernikahan.

Selanjutnya Sistem Pengelolaan Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif

Sistem Pengelolaan Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif adalah salah satu dari 1.447 masjid di Kabupaten Bone yang oleh pemerintah Kabupaten Bone ditetapkan sebagai Masjid Kabupaten atau Masjid Agung.

Masjid ini dikelola oleh Yayasan Al-Markaz Al-Islami di bawah koordinasi langsung Pemerintah Kabupaten Bone yang secara operasional dilaksanakan oleh Badan Pengurus Masjid yang di SK-kan oleh Bupati Bone.

Sebelumnya, Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif adalah salah satu dari tiga unit kerja bersama Radio Al-Ma’arif serta Islamic Centre yang diwadahi oleh Yayasan Al-Markaz Al-Islami Kabupaten Bone.

Terdapat beberapa organisasi/bagian dari
organisasi baik yang berada di bawah
koordinasi internal kepengurusan masjid
maupun organisasi yang tidak berada di bawah naungan langsung Yayasan Al-Markaz Al Islam yang sekretariatnya bertempat di lantai 1 Masjid Al-Markaz Al Ma’arif, di antaranya yaitu :
Sekretariat Yayasan Al-Markaz Al-Islami, Radio Al-Maarif 100, 1 Fm atau suara umat bersatu,

Selain itu, Sekretariat Remaja Masjid dan perpustakaan Al- Markaz Al Ma’arif, Sekretariat DPD Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Kabupaten Bone, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK Alquran Unit 003 Al-Markaz Al-Ma’arif, serta Badan Amil Zakat Kabupaten Bone.

Selain itu juga terdapat toko buku serta pedagang kaki lima (hanya ada pada hari Jumat dan bulan Ramadan) di pelataran masjid yang telah mendapat izin dari pengurus masjid.

Dalam pemilihan metode pengelolaan masjid, pengurus yang diberi amanah tidak berkiblat pada mazhab manajemen tertentu, akan tetapi penerapan nilai-nilai manajerial dalam prospek kepengurusannya tetap dijalankan.

Fungsi perencanaan, organizing, aktualisasi program, sampai pada kontrol terhadap segala aktivitas yang dilakukan berjalan secara alamiah.

Mengingat kepengurusan masjid Al-Markaz Al-Ma’arif berada di bawah naungan Yayasan Al- Markaz Al-Ma’arif bentukan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone, maka kontrol PEMDA dalam hal ini BUPATI dan jajarannya terhadap masjid ini menjadi sangat ketat, setiap aktivitas masjid harus sepengetahuan PEMDA.

Hal ini membawa tren positif dalam pengembangan masjid terutama pada aspek bangunannya yang terbilang mewah karena aliran dana dari pemerintah daerah sangat membantu.

Berdasarkan Buku Pola Pembinaan Kegiatan Kemasjidan dan Profil Masjid, Musalla, dan Langgar yang dikeluarkan oleh Proyek Peningkatan Sarana Keagamaan Islam Zakat dan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan urusan Haji dikemukakan, bahwa ada 3 (tiga) lingkup pembianaan kemasjidan, yaitu: pembinaan idarah, pembinaan imarah, dan pembinaan ri’ayah (pembinaan dan penjagaan).

Oleh karena itu, Cakupan pembinaan idarah di Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif Kabupaten Bone dapat diidentifikasi, antara lain dalam perencanaan kegiatan yang terkoordinasi baik dan selalu dirapatkan meskipun dalam rapat-rapat yang dilakukan tidak selalu dihadiri oleh seluruh pengurus masjid, komposisi pengurus yang termaktub dalam Surat Keputusan dari Yayasan, administrasi yang terpusat di sekretariat, keberadaaan tromol dan pengumuman keuangan secara tertulis dan disampaikan setiap salat Jumat, pengawasan, bimbingan dan bantuan dari pemerintah setempat juga sangat membantu.

Kemudian untuk Pembinaan imarah dapat diindentifikasi dalam pelaksanaan ibadah salat 5 waktu yang rutin, salat Jumat, pemusatan pelaksanaan salat tarwih, salat idul fitri, dan idul adha (jika cuaca hujan), perhatian dalam bentuk insentif pada imam dan khatib, terlihat juga aktivitas remaja masjid yang sangat menunjang pelaksanaan kegiatan di masjid.

Terlepas dari itu usaha untuk memakmurkan masjid sebagai tempat ibadah, pembinaan umat, dan peningkatan kesejahteraan jamaah setidaknya telah dilakukan.

Pembinaan ri’ayah dapat dilihat pada kemegahan arsitektur masjid yang terpola dengan baik dan terencana dan sejak dibangunnya telah dilakukan, renovasi masjid sebanyak 6 kali renovasi.

Sementara dalam hal pemeliharaan peralatan dan fasilitas masjid serta pemeliharaan halaman dan lingkungan masjid oleh pengurus menunjuk perangkat masjid bagian perlengkapan yang bertanggung jawab mengurusi hal tersebut.

Selanjutnya Peran dan Fungsi Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif

Peran dan Fungsi Masjid Sebagai representasi dari penamaan Al-Markaz Al-Ma:arif terdapat keinginan yang tulus untuk menjadikan masjid ini sebagai pusat peradaban Islam di Kabupaten Bone sebagaimana fungsi Masjid pada zaman Rasulullah.

Meski hal tersebut menjadi tujuan jangka panjang yang ingin dicapai, setidaknya proses perwujudannya telah dilakukan dalam bentuk pemanfaatan Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif dalam berbagai kegiatan peribadatan, pusat kajian Islam, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

Hal ini tidak dijalankan sendiri oleh yayasan pengelola Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif, tetapi juga melibatkan komponen keagamaan Islam lainnya yang berada di Kabupaten Bone.

Setidaknya dengan memberikan wadah sekretariat yang berlokasi di Masjid ini, antara lain DPD Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Kabupaten Bone, Badan Amil Zakat Kabupaten Bone, serta Satuan Karya Ulama Kabupaten Bone yang ikut menopang fungsi masjid dalam perwujudan pusat peradaban Islam di Kabupaten Bone.

Secara teknis fungsi dan peran Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif ini adalah fungsi
peribadatan dengan pelaksanaan salat
berjamaah 5 waktu, salat tarwih di bulan Ramadan, salat idul fitri dan idul adha
dipusatkan di masjid jika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan salat ied dilakukan di lapangan. Selain itu intensifikasi pengurusan buka puasa, zakat dan kurban juga dilakukan secara berkesinambungan.

Khusus untuk moment-moment khusus kegiatan keagamaan dilakukan dengan berkoordinasi langsung pada Panitia Hari-Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Bone yang pusat pelaksanaan kegiatannya dilakukan di Masjid Al Markaz Al Ma’arif, antara lain Manasik Haji, Maulid Nabi Besar Muhammad SAW serta Peringatan Nuzulul Quran.

Hal lain sebagai representasi fungsi
masjid ini adalah pelaksanaan agenda
kondisional yang berkaitan dengan polarisasi keagamaan Islam di Kabupaten Bone dengan menjadikan masjid ini sebagai tempat bagi mereka yang berasal dari Agama non-Islam untuk berislam (muallaf) mulai dari pernyataan keyakinan dengan Syahadat sampai pada follow up pembinaannya.

Di Masjid ini juga seringkali dijadikan sebagai tempat bagi umat Islam melangsungkan akad nikah. Selain itu, kajian keagamaan rutin dilaksanakan setiap ba’da maghrib dalam bentuk pengajian kitab kuning yang dipandu oleh imam besar Masjid Al-Markaz Al-Maarif AG. Drs. H. Mukti Bandung.

Sementara itu, orientasi pengurus untuk
intensitas komunikasi dengan masyarakat
selain dalam bidang ibadah rutin, juga
diprogramkan pelaksanaan kerja bakti yang melibatkan masyarakat sekitar masjid setiap hari minggu pagi. Juga membuka lahan masjid sebagai jalanan umum dengan memotong sebagian dari area masjid menuju jalan ke STAIN Bone dan sekitarnya.

Pembinaan remaja juga dilakukan dengan pelibatan para remaja yang bertempat tinggal di sekitar lokasi masjid maupun jamaah remaja yang rutin melaksanakan salat berjamaah di masjid ini sebagai pengurus remaja Masjid serta pelibatan dalam kegiatan keagamaan lainnya.

Sebelumnya, Fungsi pendidikan yang dijalankan di Masjid Al Markaz Al Ma’arif adalah dengan melalui jalur non formal dalam bentuk Taman Kanak-Kanak dan Taman Pendidikan Alquran (TK/TPA) dalam naungan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan TK/TPA Alquran Unit 003 Al Markaz Al Ma’arif.

Sementara fungsi dakwah selain khutbah wajib yang dilaksanakan setiap jumat, ceramah agama, tarwih pada bulan ramadhan serta ceramah-ceramah keagamaan lainnya yang dilakukan dalam rangka memperingati hari besar Islam yang pelaksanaannya dipusatkan di Masjid ini juga sebelumnya dilakukan dalam media udara dalam format-format dakwah secara terpola dan terprogram melalui Radio Al Maarif 100,1 fm Suara Umat Bersatu.

Ketersediaan aula di lantai I Masjid Al-Markaz Al-Maarif juga memberi warna tersendiri bagi fungsi dan peran masjid bagi masyarakat yang hendak memanfaatkan fasilitas ini dalam berbagai kegiatan antara lain pelaksanaan pesta pernikahan, rapat-rapat organisasi, serta pemanfaatan sebagai ruang pertemuan.

Selain fungsi-fungsi formal sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, masjid Al-Markaz Al-Maarif ini juga memiliki fungsi non-formal terkait dengan kedudukan masjid sebagai sarana umum yang terbuka bagi masyarakat.

Seringkali digunakan sebagai tempat beristirahat bagi mereka yang lelah di perjalanan bahkan sebagai sarana tempat berdiskusi kecil-kecilan oleh mahasiswa IAIN Bone yang lokasi kampusnya hanya berseberangan jalan dengan Masjid Al-Markaz Al-Maarif.

TERAKHIR:

Bone sebagai salah satu wilayah
konsentrasi pemeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan atau sekitar 99,13% berpotensi menjadikan masjid Al-Markaz Al-Maarif sebagai pusat peradaban Islam berbasis kabupaten/kota.

Masjid Al-Markaz Al-Maarif secara fisik dan infrastruktur sangat baik dengan kemegahan bangunannya serta letaknya yang berada di tengah kota menjadikannya sebagai pusat pelaksanaan kegiatan keagamaan Islam yang representatif di Kabupaten Bone.

Secara Umum Masjid Al-Markas Al-Ma’arif telah menjalankan fungsi dan perannya dengan baik.

Meskipun sekarang ini bernama Masjid Al-Markaz Al-Ma’arif dan ditetapkan masjid kabupaten, namun masyarakat Bone lebih populer menyebutnya Masjid Agung.

Itulah sejarah Al-Markaz Al-Maarif Watampone, mohon maaf atas segala kekurangan dalam paparan ini. Semoga ada manfaatnya.

Terima kasih

Wassalamu Alaikum Wr.Wb.

Berita sebelumyaSejarah Tana Bangkalae Bone
Berita berikutnyaLirik Lagu Beu Puppu
- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Muhammad Nur Atis, Ketua KKSS Kabupaten Tabalong Pulang Kampung

Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Tabalong, provinsi Kalimantan Selatan Bapak Muhammad Nur Atis berencana membentuk Kerukunan Keluarga Masyarakat Bone (KKMB) di setiap...

Sejarah Kecamatan Ajangale

As.Al.Wr.Wbr. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Ajangale. Namun, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kekhilapan. Ajangale merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten...

Kosakata Baru dalam KBBI

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tak hanya yang sering digunakan...

Sejarah Kecamatan Cenrana Kabupaten Bone

As.Al.Wr.Wb. Kali ini saya akan memaparkan sejarah singkat kecamatan Cenrana Kabupaten Bone, provinsi Sulawesi Selatan. Namun sebelumnya kami mohon maaf atas segala kekurangan. Cenrana adalah salah...

Sejarah Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone

Ass.Al.Wr.Wb.. Pada kesempatan ini, saya akan mengutarakan sejarah singkat kecamatan Awangpone Kab.Bone provinsi Sulawesi Selatan. Awangpone adalah sebuah kecamatan yang ada di kabupaten Bone. Kecamatan Awangpone...

Terpopuler

Filosofi huruf lontara

Lontara' adalah aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar. Lontara sendiri berasal dari kata lontar yang merupakan salah satu jenis tumbuhan yang ada di Sulawesi Selatan. Istilah lontara...

Contoh Percakapan Bugis

Berikut ini disajikan contoh percakapan bahasa Bugis sehari-hari beserta artinya. Agar kosakata yang disajikan dapat diucapkan dengan baik dan benar maka terdapat 3 poin...

Mengungkap Misteri Kerajaan Gaib Sungai Walenae

Sungai Walenae yang melintasi wilayah kabupaten Bone, Wajo, dan Soppeng, berhubungan erat dengan sungai Cenrana di wilayah Bone yang bermuara di Teluk Bone. Kedua...

Pepatah Bugis Klasik

Pepatah merupakan pribahasa yang berisi nasihat atau ajaran yang diwariskan dari orang-orang terdahulu. Pepatah ini biasanya diungkapkan dalam berbagai kegiatan dalam suasana riang gembira. Contoh: Baik...

Benarkah Ada Wali Tujuh di Sulawesi Selatan?

Apabila di Jawa ada istilah "Wali Songo" atau "Wali Sembilan", maka di Sulawesi Selatan dikenal istilah "Wali Pitu" atau "Wali Tujuh" yang bahkan lengkap...